
Saat ini Kei sudah berada di depan rumah Rey. Tadi siang, setelah mendapatkan informasi dari Natalie mengenai lokasi Erika melalui gps hpnya yang berhasil terlacak, Kei segera melakukan perjalanan bersama beberapa anak buahnya menuju ke lokasi tersebut.
Kei memerintahkan anak buahnya untuk memencet tombol bel yang terdapat di depan pintu. Erika mendengar bel pintu berbunyi, ia lalu melihat dari kamera pintu dan terlihat ada beberapa pria berpakaian rapih dengan kemeja dan celana berwarna hitam sedang menuggu di depan pintu rumah. Erika berpikir bahwa rombongan itu adalah anak buah Rey. Karena Rey telah berpesan padanya bahwa disaat siang anak buahnya akan datang ke sini.
Selama ini, Erika belum dapat mengenali wajah-wajah anak buah Rey kecuali Sato dan Ryo. Yang dia tahu, gaya dan penampilan mereka memang terlihat seperti tamu yang sedang datang itu yang mengenakan pakaian serba berwarna hitam dan bertampang serius. Sehingga Erika pun segera membukakan pintu untuk mereka.
Ternyata Erika telah melakukan kesalahan besar. Saat pintu sudah terbuka, Erika baru dapat melihat para tamu yang datang dengan jelas. Penampilan mereka memang sekilas terlihat mirip dengan anak buah Rey. Tetapi jika dalam jarak dekat dan diperhatikan, rombongan pria itu sungguh terlihat berbeda. Mereka terlihat lebih berkelas dan yang pasti mereka bukanlah anggota gangster melainkan pengawal pribadi. Dan beberapa personil diantara mereka memiliki wajah yang terlihat familiar.
Namun sudah terlambat bagi Erika untuk menyadari kesalahannya karena dia sudah terlanjur keluar untuk membukakan pintu rumah.
Para rombongan pria yang berdiri di depan rumah Rey tersebut membuka barisan untuk mempersilahkan seseorang berjalan dari arah belakang mereka menuju ke tempat Erika. Erika sangat terkejut melihat sosok yang berjalan kearahnya adalah Kei, kekasihnya. Dia sungguh tak menyangka kekasihnya dapat menemukan keberadaannya dengan begitu mudah.
Erika menjadi panik melihat kekasihnya ada tepat dihadapannya. Dia ingin segera kabur dari tempat itu, namun tidak ada jalan lagi baginya untuk pergi dari situ.
"Erika.." Kei segera memeluk tubuh Erika dan semakin mempererat pelukan itu ketika Erika meronta berusaha untuk melepaskan diri dari pelukannya. "Sayang, aku sangat merindukanmu.. Mengapa kamu pergi diam-diam dariku?"
"Lepaskan aku.." Dengan setengah berteriak Erika meronta meminta untuk dilepaskan. Dan Erika berhasil melepaskan dirinya. Dia segera berbalik dan berlari menuju ke dalam rumah dan segera menutup pintu rumah. Tetapi Kei dengan sigap berhasil mengejarnya dan menahan pintu rumah itu agar tetap terbuka dan memaksa ikut masuk ke dalam rumah tersebut.
"Erika! Apa yang terjadi? Mengapa kamu menghindar dariku seperti ini?" Kei bertanya sambil memegangi bahu Erika dan mengguncang-guncangkan bahunya. "Dengar, aku tahu aku telah berbuat salah kepadamu. Tetapi itu semua hanyalah sebuah salah paham. Berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu.."
"Apa lagi yang perlu dijelaskan?" Sambil berbicara, mata Erika nampak tertuju pada seseorang yang ada di depannya. Kei berbalik badan untuk melihat arah pandang Erika. Ternyata orang itu adalah Natalie.
"Natalie..?" Dengan setengah berteriak kaget, Kei memanggil nama Natalie. Natalie berjalan mendekati mereka.
"Hai Erika, apa kabarmu? Kulihat dirimu baik-baik saja, bahkan terlihat lebih ceria ya." Ucap Natalie dengan sedikit menggoda Erika. Setelah itu, Natalie mendekat pada Kei dan memegang bahunya dengan tubuh yang sedikit menempel padanya. "Kei, kamu terlalu berlebihan. Lihat, Erika baik-baik saja." Natalie kembali berbicara dengan nada yang menggoda hingga membuat keduanya terusik.
"Dengar Sayang, ini semua hanya salah paham." Kei kembali mencoba menjelaskan. "Natalie, semua ini karena ulahmu! Sebaiknya kamu membantuku untuk menjelaskan semua kekacauan yang telah kamu perbuat ini."
"Lho, bukankah aku sudah membantumu? Kamu bisa menemukannya kan berkat bantuanku, Kei."
Erika menatap mereka dengan tatapan penuh kemarahan dan kesedihan. Dia menyadari bahwa hubungan mereka berdua benar-benar sangat dekat dan mungkin malam itu mereka sedang bersama. Bahkan kekasihnya itu sampai meminta bantuan wanita itu untuk mencarinya. Dan untuk apa pula mereka datang berdua kesini untuk mencarinya? Apakah itu untuk mempertontonkan kedekatan mereka semata?
Kei tak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu mengharapkan bantuan Natalie untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada Erika tidak akan terjadi. Erika kembali berusaha menutup pintu dan lari darinya. Namun Kei berusaha menahannya dan ia pun memaksa untuk masuk ke dalam rumah.
"Erika, aku tahu kamu marah padaku karena aku tidak datang ke acara makan malam ulang tahunmu dan meninggalkanmu sendirian di restoran itu untuk menungguku. Tetapi, malam itu aku tidak datang karena.." Kei menghentikan ucapannya. Dia tidak bisa melanjutkannya karena apa yang akan dia ucapkan hanya akan membuat Erika semakin marah dan salah paham.
"Karena kamu sedang bersama dengannya?" Erika yang melanjutkan ucapan itu. Kei tersontak kaget, tak menyangka Erika dapat menebaknya dengan benar. Kei hanya bisa terdiam. Dengan diamnya Kei, Erika tahu bahwa apa yang dia ucapkan itu benar. "Lalu bagaimana dengan pesan itu? Mengapa kamu mengirimiku pesan seperti itu?"
"Pesan itu.."Kei melirik Natalie dengan bingung. "Erika percayalah. Bukan aku yang menulis dan mengirim pesan itu.."
"Maafkan aku, akulah yang telah menulis pesan itu dan mengirimnya padamu.." Merasa bersalah atas kekacauan yang telah dia perbuat, Natalie pun membantu Kei untuk menjawabnya.
Namun apa yang diucapkan Natalie itu justru semakin memperburuk keadaan hingga membuat Erika terduduk lemas mendengar pengakuan tersebut. Pikirannya semakin bertambah kacau. Erika mengira-ngira, seberapa dekatkah hubungan mereka hingga Natalie dapat memegang hp milik Kei dan mengetik sebuah pesan dari hpnya di tengah malam? Apakah selama ini kekasihnya telah berkhianat di belakangnya dengan berselingkuh darinya? Air mata mulai berurai dari pelupuk matanya dan berjatuhan di pipinya.
"Ada apa ini?!" Disaat yang bersamaan, Rey telah tiba di rumahnya dan segera masuk ke dalam rumahnya dengan wajah penuh keheranan karena melihat banyaknya orang yang datang ke rumahnya. Apalagi setelah dirinya menemukan keadaan Erika yang sedang terduduk dengan airmata yang berurai dengan dua sosok makhluk asing didekatnya.
***