
Keesokan paginya Rey tampak lebih bersemangat. Rey makan dengan lahap ketika disuapi Kei dan tidak pilih-pilih makanan seperti sebelumnya. Ia juga terlihat lebih ceria dan banyak berbicara. Bahkan ia tak sabar untuk dapat segera menjalani sesi terapinya agar otot-otot di tubuhnya dapat kembali normal. Itu adalah hal baik yang membuat Kei senang melihatnya namun juga merasakan suatu keanehan.
Setelah Rey menghabiskan makanannya, Kei bertanya padanya, "Rey, apa kamu baik-baik saja?"
"Ya, aku baik. Lihat, aku bahkan menghabiskan makananku."
"Hmm ... tapi ini terasa aneh. Kupikir kamu ...."
"Aku kenapa?" Rey bertanya dengan bingung. Tadinya Kei ingin menanyakan mengenai kejadian kemarin sore antara dirinya dan Erika. Tetapi ia takut pertanyaannya itu malah akan mengingatkannya dan mengubah mood adiknya yang saat ini sedang baik, jadi ia pun mengurungkan niatnya.
"Tidak apa-apa. Kakak hanya merasa heran karena hari ini kamu memakan dengan lahap makananmu dan tidak memilih-milih makanan seperti biasanya."
"Ohh ... itu karena aku ingin bisa segera sembuh sehingga aku dapat kembali beraktivitas dengan normal. Aku sudah merasa bosan harus terus berbaring di rumah sakit. Selain itu aku juga tidak mau terus-terusan mengganggu dan merepotkanmu karena harus selalu menemani dan menjagaku serta membantuku melakukan kegiatan sehari-hariku."
"Kalau mengenai itu, kamu tidak perlu khawatir. Sebenarnya aku bisa saja menyewa seorang perawat pribadi untukmu, tetapi aku tahu pastinya kamu tidak mau dan tidak menyukainya. Lalu aku sendiri pun lebih senang jika aku bisa menjaga dan mendapingimu selama kamu sakit. Karena kamu adalah adikku satu-satunya dan kita telah lama hidup terpisah. Jadi kamu tidak perlu merasa sungkan atau tak enak hati padaku."
"Terima kasih, Kak atas perhatian dan kasih sayangmu. Kamu adalah kakak terbaik yang ada di muka bumi ini."
"Haha ... pujianmu itu membuatku malu. Kamu tahu, aku iri dengan orang-orang yang menyayangimu yang ada disekelilingmu. Dokter Steve, ayah angkatmu, dan para anak buahmu. Mereka sangat sayang dan peduli padamu walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah denganmu dan bahkan sangat mengenal pribadimu. Sedangkan aku, yang adalah satu-satunya anggota keluargamu malah memusuhimu."
"Tetapi itu juga karena ulahku yang duluan bersikap buruk padamu yang selalu memusuhimu dan suka menantangmu. Sebenarnya kakak adalah seorang pria yang bijak dan berwibawa. Banyak orang yang kagum padamu. Seperti ayah angkatku, Erika, kedua orang tuanya dan termasuk diriku. Walaupun aku berkali-kali bersikap buruk padamu, tetapi kamu masih mau memaafkan aku. Kakak masih ingat, kan dengan pembicaraan kita sewaktu aku baru selesai dikemo." Kei mengangguk mengiyakan. "Bahkan disaat aku merebut Erika yang adalah kekasihmu, kamu tidak pernah mencariku untuk menghabisiku. Padahal kalau kakak mau, untuk menghabisi diriku tentulah sangat mudah dilakukan."
"Tapi aku pernah berpikir untuk menghabisimu dan itulah mengapa aku bisa mengenal Kabuto, karena aku ingin memakai jasanya untuk melakukan hal itu padamu."
"Tapi pada akhirnya kamu tidak melakukannya. Aku juga sama sepertimu, aku pernah sangat membencimu dan juga menaruh dendam padamu. Sepertinya dalam hal ini kita imbang. Kita sama-sama pernah saling berperilaku buruk. Kakak menganggapku orang yang buruk, begitu juga aku menganggapmu buruk. Setelah itu, karena ego kita masing-masing, kita saling membalas perbuatan buruk tersebut. Untung saja kita bisa memiliki kesempatan untuk saling mengenal pribadi dari masing-masing kita dan bisa saling berdamai sebelum situasinya semakin memburuk.
Kurasa, dalam hati setiap orang terkadang akan ada masanya kegelapan datang dan meliputi diri kita. Namun karena sifat dasar manusia adalah baik, maka ketika kesadaran itu muncul, kegelapan pun dapat dikendalikan. Hati kita bisa kembali terang dan terbebas dari kegelapan.
Pada kasusku, untungnya aku memiliki seseorang yang menjadi cahaya hidupku dan telah menyadarkanku dari kegelapan. Sayangnya aku malah menyakitinya dengan terlalu dalam ...."
Kei mengamati Rey sejenak, keningnya berkerut seperti sedang keheranan dan ia menatap Rey dengan penuh keanehan. Ia lalu bertanya,
"Ken, apa kamu baik-baik saja?"
Dipandang aneh seperti itu, Rey pun memprotes kakaknya.
"Kakak!" Raung Rey dan dengan ekspresi wajah jengkelnya.😰
Kei pun menertawakan kejengkelan adiknya. Lalu ia mendekati tubuh Rey dan merangkulnya. "Adikku, ternyata kamu sudah makin dewasa. Pikiran dan ucapanmu sungguhhh bijak."
"Tentu saja. Kakak saja yang baru menyadarinya, kalau aku tuh pria tampan yang dewasa dan juga bijak." Rey mengulum senyumnya untuk menahan tawanya.
"Iya adikku yang tampan dan bijaksana. Hmm ... " 🤔 Kei meletakkan kedua jari tangannya di dagu dengan sebelah lengannya lagi dilipat di depan dadanya. "Ternyata patah hati memang bisa membuat orang berubah menjadi lebih bijak dan dewasa .... " Lalu tiba-tiba wajah serius Kei berubah menjadi sebuah tawa yang menggoda adiknya.
"Grrr! Itu enggak lucu Kak Kei! Selera humormu sungguh buruk sekali ...." wajah Rey langsung berubah menjadi serius mode on dan memberengut.
"Iya ... iya ... jangan marah ... Aku hanya merasa senang untuk bisa melihat ekspresimu ketika aku menggodamu. Itu masih terlihat lucu dan menggemaskan, seperti adik kecilku dulu."
"Kamu masih saja menjadi kakak yang suka usil dan jahil padaku yang sudah sebesar ini ...."
"dan menjadi adikku yang pemarah. Mmm ... dulu kecil kamu tidak pernah marah jika aku jahili ...." timpal Kei.
"Karena saat itu aku masih kecill dan belum tahu apa-apa. Kalau aku sudah lebih besar, pasti aku akan melawanmu dan membalasmu ...." balas Rey dengan wajah yang dibuat berpura-pura kesal sedikit.
"Kita berdua pasti akan sering berantem sehingga membuat orangtua kita marah-marah terus sama kita ...," Rey menganggukan kepalanya tanda setuju. Mereka berdua lalu terkekeh bersama. "Ahhh ... aku jadi merindukan masa-masa saat dulu kita masih bisa berkumpul bersama. Seandainya saja ayah dan ibu kita masih ada dan bisa berkumpul bersama dengan kita lagi saat ini."
"Kakak, jangan bersedih. Setidaknya kita masih bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dan berkumpul bersama lagi."
"Iya, kamu benar." Tatap Kei dengan senyuman penuh sukacita. "Jadi ... apakah kamu sudah siap untuk memulai hidup barumu sebagai adikku, Ken Takahiro?"
Mendengar ucapan Rey itu, wajah Kei langsung berubah menjadi serius dan menegang.
"Ada apa Ken? Apa kamu ingin menolakku lagi dan tidak mau menjadi adikku?"
"Bukan itu, hanya saja aku tidak mau menggunakan nama itu lagi. Tetapi walaupun aku tidak mau kembali memakai nama itu, aku tetap adalah adikmu dan selamanya akan menjadi adikmu. Karena persaudaraan kita terhubung dengan darah, bukan oleh sebuah nama keluarga."
"Aku tahu, kamu masih membenci mendiang kakek yang telah mengusir dan tidak mau mengakuimu. Tetapi, beliau telah tiada jadi lupakanlah rasa bencimu itu."
"Bukan seperti itu Kak, aku mungkin bisa melupakan perlakuan buruknya dan membuang rasa benciku terhadapnya. Aku juga telah memaafkannya. Tetapi, ..." Rey terdiam sejenak dan matanya menitikkan setetes airmata kesedihannya. "aku ... aku tidak bisa untuk menggunakan nama itu lagi karena ibu sendiri yang membuang nama itu dan mengubah namaku. Dan, aku akan terus menggunakan nama ini."
" .... " Kei ingin membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi iya merasa kebingungan.
"Kakak masih bisa memanggilku dengan nama Ken, karena aku tidak membenci nama kecilku itu. Aku hanya tidak ingin menggunakan nama keluarga ayah."
"Baiklah ... Ken ..." Kei sendiri sedikit kebingungan memutuskan untuk memanggilnya dengan nama apa. Tetapi ia tetap memanggil adiknya dengan nama Ken karena baginya itu adalah nama asli adiknya yang juga pemberian dari orangtuanya pada adiknya sejak lahir. "Aku menghargai keputusan dan keinginanmu itu karena itu adalah hakmu. Sehingga aku tidak akan memaksa atau menuntutmu untuk memakai kembali nama itu. Apalagi ibu kita sendirilah yang mengubah namamu, jadi kupikir jika memaksamu mengubahnya kembali berarti aku sedang menentangnya. Tetapi, aku akan tetap memanggilmu dengan nama yang diberikan padamu dari sejak lahir." Rey memberinya sebuah anggukan.
"Ohh iya, kakak hampir saja kelupaan. Mengenai kepulanganmu dari rumah sakit ini, kakak sudah mengurusnya ke rumah sakit dan sedang mempersiapkan kamar untukmu di apartemenku. Jadi kemungkinan lima hari lagi kamu baru bisa keluar dari rumah sakit."
"Lima hari? Lama sekali ...."
"Ya itu karena kondisimu masih dalam tahap pemulihan sehingga masih harus dalam pengawasan dokter. Selain itu juga kan tubuhmu belum kembali sehat, beberapa organ-organ ditubuhmu juga belum dapat berfungsi dengan baik." Setelah mendengar penjelasan kakaknya, Rey pun terpaksa menerimanya. "Lagipula kamarmu juga belum selesai disiapkan. Ohh ya, apakah kamu ingin ruangan kamarmu terlihat sama persis seperti yang ada di rumahmu?"
Sebenarnya Rey merasa agak sedikit keberatan untuk pindah dari rumahnya dan harus tinggal bersama kakaknya di apartemennya. Tetapi ia ragu dan bingung untuk mengatakannya.
"Hmm ... Kak Kei, bolehkah jika aku tetap tinggal di rumahku saja?" tanya Rey pada akhirnya. Kei menatapnya dengan kecewa dan ingin mengatakan sesuatu untuk menjawabnya tetapi Rey langsung menambahkan lagi ucapannya. "Itu bukan karena aku tidak ingin tinggal denganmu, hanya saja aku sudah terbiasa tinggal sendiri dan merasa lebih nyaman jika tinggal di rumahku sendiri. Lagipula kalau aku pindah, maka rumahku akan kosong sehingga lama-lama akan rusak karena tidak ada yang merawatnya."
"Tapi kita kan satu keluarga, jadi kita harus tinggal bersama kecuali jika kelak kamu sudah menikah dan berkeluarga. Untuk kenyamanan, kakak jamin kamu pasti merasa nyaman tinggal di sana karena akan ada banyak fasilitas yang bisa kamu gunakan. Dan aku juga tidak akan bawel atau banyak mengaturmu. Kamu dapat tinggal dengan bebas di sana. Soal rumahmu, jangan takut akan menjadi rusak karena aku akan menugaskan seseorang untuk mengurus dan merawatnya dengan rutin."
Semua alasan yang Rey berikan telah dibantahkan oleh kakaknya. Sehingga Rey pun tidak bisa lagi menolaknya dan menuruti kemauan kakaknya untuk pindah ke apartemennya.
"Jadi bagaimana? Apakah kamu mau desain kamarmu seperti kamar lamamu?"
"Terserah kakak saja, asalkan tidak tampak seperti kamar wanita. Ohh ya dan aku lebih suka yang simpel saja dan bersih."
Kei tertawa dan mengangguk kepadanya.
"dan juga tanpa peralatan medis disekelilingnya. Aku bosan dengan penampakan kamarku yang tidak jauh berbeda dengan kamar pasien yang ada di rumah sakit."
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan membuatkan kamar yang pastinya akan kamu sukai." Rey lalu memberinya sebuah senyuman. "Ternyata kamu banyak bicara dan bisa bawel juga ya." Kei mulai iseng dan menggoda adiknya lagi.
"Masa sih? Apa aku terlihat seperti itu?"
"Iya, beda banget dibanding dulu. Kalau ditanya, suka hanya menjawab satu patah kata saja, kadang malah cuma diam, tidak menjawab apapun." Rey pun tertawa mendengarnya. "Padahal waktu kecil dulu, kamu sangat aktif dan lincah. Aku sampai membayangkan kalau kamu sudah tumbuh besar pasti kamu jadi seorang yang suka berbicara, nakal, dan populer diantara para wanita .... " Kei terkekeh.
"Dulu kecil aku memang pernah jadi anak nakal. Kenakalan yang biasa anak lelaki suka lakukan seperti memanjat pohon bersama teman-temanku. Tetapi pernah suatu ketika, tiba-tiba sakitku kumat saat sedang di atas pohon, lalu aku pun pingsan dan terjatuh. Kata mereka ibu langsung histeris dan menangis ketakutan karena kepalaku terluka dan berdarah. Setelah itu ibu menjadi lebih mencemaskan diriku dan benar-benar mengawasiku dengan berlebihan. Ibu juga melarangku melakukan banyak hal, ini dan itu. Lama kelamaan, teman-temanku jadi takut mengajakku bermain dan tidak pernah lagi mau bermain denganku. Aku pun menjadi sendirian, tanpa teman. Dan akhirnya aku pun tersadar bahwa aku seorang anak yang berbeda dari mereka. Aku lemah dan tubuhku berpenyakit. Selain itu aku adalah satu-satunya yang ibu miliki jadi aku harus menjaga diriku agar selalu dalam keadaan baik-baik saja. Terkadang hal itu membuatku lelah hingga membuatku berpikir, seandainya saja ada kakak yang juga tinggal bersama kita, tentu ibu tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku secara berlebihan, juga tidak perlu takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada diriku."
"Itulah mengapa kamu terbiasa menutupi rasa sakitmu dan perasaanmu, karena kamu tidak mau membuat ibu cemas?" Rey mengangguk.
"Setiap kali jika aku sedang merasa kesakitan ibu akan langsung menangis dengan cemas dan ketakutan. Hal itu membuat rasa sakitku seperti bertambah menjadi dua kali lipat lebih sakit karena aku juga merasakan kepedihan di hatiku. Jadi lebih baik aku tetap diam dan menahan rasa sakitku."
"Ibu pasti sangat menyayangimu makanya dia terlalu mengkhawatirkan dan mencemaskanmu. Tetapi Ken, kamu jangan seperti itu lagi ya kalau kepadaku. Walaupun aku juga sangat menyayangimu, tapi aku tidak seperti ibu yang terlalu lemah hatinya sehingga selalu menangis ketika kamu kesakitan."
"Tetapi kakak juga jangan seperti ibu, yang selalu mencemaskan dan mengkhawatirkan aku. Juga jangan memperlakukanku sebagai seorang yang lemah. Karena aku sudah besar sekarang dan telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang kuat. Walaupun mungkin fisikku lemah, tapi aku tidak suka orang memperlakukanku seperti seorang pria yang lemah."
"Iya ... iya, aku tahu."
***