Happiness For You

Happiness For You
36 Kebohongan



"Apa ... ? Mengapa?" tanya Erika dengan heran.


"Tidak ada gunanya lagi kita tinggal di sini, Kei telah menemukan kita. Jadi kamu harus kembali ke rumahmu dan kembali kepada keluargamu."


"Tapi aku tidak mau ...."


"Erika ...," Rey memegang tangan Erika lembut. "Tenang saja, aku telah berbicara dengannya. Ia setuju untuk membicarakan kembali dengan orangtuamu mengenai rencana pernikahan kalian dan membatalkannya. Dan ia juga akan mengusahakan untuk mendapat ijin dari orangtuamu agar kamu masih diperbolehkan bertemu denganku."


"Aku ... aku benar-benar tidak mengerti dan tidak paham denganmu. Pada pembicaraan kita tadi, awalnya kupikir kamu cemburu terhadapnya. Lalu setelah itu kupikir itu karena kepedulian dan rasa penasaranmu padanya yang adalah kakakmu. Tetapi sekarang, aku seperti merasa kalau kamu ingin tahu bagaimana perasaanku terhadapnya karena kamu ingin membuatku kembali padanya. Jadi inikah yang kalian bicarakan saat kamu mengunjunginya dihotelnya waktu itu? Apakah dia memaksa dan mengancammu untuk membawaku pulang?"


"Erika, kamu terlalu banyak berpikir. Itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Tidak aku yakin, pasti seperti itu. Dan itulah mengapa kondisimu saat itu terlihat sungguh buruk. Itu karena kalian habis bertengkar dan dia berhasil menekanmu. Ohh Rey, kumohon jangan menyerah pada hubungan kita ini ... Kita pasti bisa menghadapinya-"


"Tidak Erika, kamu salah paham. Aku ...." Rey tampak gelagatan karena Erika telah menyadarinya kalau ia ingin menyerah pada hubungan mereka dan akan mengembalikannya pada kakaknya.


Erika langsung memeluk Rey dengan erat.


"Rey, kumohon. Jangan membawaku pulang. Aku takut tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku tidak mau berpisah darimu." Erika membenamkan tubuhnya dalam-dalam ke tubuh Rey. Lalu ia menciumi dan mencumbu tubuh Rey. "Aku milikmu Rey, dan aku akan menyerahkan seluruh diriku sepenuhnya padamu. Miliki aku sekarang juga. Rey ...." Erika semakin naik ke lehernya dan mencium bibirnya dengan panas.


"Erika ..." Nafas Rey memburu dan ngos-ngosan. "Hentikan! Hentikan Erika ... Jangan seperti ini." Rey melepaskan ciuman Erika dan juga pelukannya dari dirinya. "Aku bukanlah seorang pria brengsek yang ingin merusakmu."


"Aku tahu itu, karena itu aku mau menyerahkan diriku padamu agar kamu bertanggungjawab kepadaku dan menikahiku."


"Dengarkan aku, kamu wanita yang baik dan terpandang. Jangan memberikan dirimu semudah itu pada seorang pria termasuk juga diriku. Aku tahu ketakutanmu tapi percayalah semua akan baik-baik saja. Lihat, saat ini aku masih ada di sini bersamamu. Dan aku percaya kamu seorang wanita yang tangguh dan kuat. Walaupun suatu saat kita mungkin akan berpisah, kamu pasti bisa melewatinya. Karena kamu sudah pernah mengalaminya dan berhasil melewatinya kan, saat dirimu dan Kei berpisah dulu."


"Tidak, itu berbeda. Aku sangat rapuh, aku pasti tidak akan bisa kehilanganmu. Rey, berjanjilah padaku untuk tidak akan pernah pergi meninggalkanku."


Rey hanya diam menatapnya. "Berjanjilah ...!" Erika berteriak sambil menangis.


"Aku ... aku tidak bisa ...."


Erika langsung merasa lemas mendengar jawaban Rey itu.


"Mengapa ...?! apakah kamu ... apakah kamu berencana untuk meninggalkanku suatu saat nanti?" Rey hanya diam, tidak mengelaknya atau memberi jawaban lain. Membuat Erika kecewa dan merasa sedih. "Kalau kamu melakukannya, maka kamu adalah seorang pria yang paling brengsek yang akan memberi luka yang amat besar dihatiku-"


"Erika! Jaga ucapanmu!" Rey merasa sangat marah mendengar apa yang Erika ucapkan. Karena perkataan itu 100% benar seperti apa yang ia pikirkan terhadap dirinya. Tetapi Rey segera menyadari kemarahannya dan menguasai dirinya.


"Erika ..." Suara Rey kembali melembut. "Sayang, kumohon hargai usahaku untuk membuat hari ini spesial. Jangan marah dan jangan merusak momen indah kita ini dengan diakhiri oleh pertengkaran yang terjadi diantara kita. Saat ini aku merasa lelah dan ingin beristirahat ...."


"Maaf ... tapi aku terlalu takut dan terbawa oleh emosiku"


"Iya aku tahu .... "


Rey kembali merengkuh tubuh Erika ke dalam pelukannya. Ia mengecup kening Erika dengan lembut dan mengelus kepala serta punggungnya dengan penuh kasih. Ekspresi Rey tak terbaca. Antara kesedihannya, kerinduannya, dan hasratnya. Seolah itu adalah sebuah pelukan terakhir yang dia berikan pada Erika.


Setelah itu Erika membalasnya dengan mencium dahi Rey dan bibirnya. Namun Rey menahan bibirnya dan menuangkan hasratnya.


Sebuah ciuman panjang yang panas dan penuh kasih diantara dua insan yang saling mencinta dan saling berbalas perasaan cintanya masing-masing. Penuh dengan perasaan yang meluap-luap. Sungguh indah dan sangat manis untuk diingat dan dikenang.


Setelah itu mereka berdua saling menatap penuh cinta dan saling tersenyum bahagia. Lalu mereka berdua bergandengan tangan dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam kamar, Rey mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah surat untuk menuangkan seluruh perasaannya yang sedang dia rasakan saat ini juga.


Setelah menulis suratnya, Rey memasukkannya dalam sebuah amplop yang bertuliskan 'Untuk : Erika'. Lalu ia meletakkannya di dalam laci lemari yang ada di samping ranjangnya.


***


Keesokan paginya dengan berat hati Rey harus mengatakan suatu kebohongan pada Erika agar ia mau pulang kembali ke Jakarta dan kembali ke rumahnya.


"Aku telah membuat sebuah kesepakatan dengannya." Erika ingin membuka mulutnya untuk bertanya dengan marah, tetapi Rey segera menghentikannya. "Tapi ... itu sebuah kesepakatan yang baik untuk kita semua."


"Kesepakatan apa itu?" tanya Erika dengan rasa penasarannya.


"Jika mereka mau aku membawamu pulang kembali ke rumahmu, maka orangtuamu harus memberiku ijin agar aku masih bisa bertemu denganmu lagi."


"Benarkah? Lalu apakah mereka memberikannya? Dan apakah itu berarti mereka juga akan menyetujui hubungan kita ini?" Rey mengangguk.


"Tapi, bagaimana mungkin semudah itu mereka memberikannya?"


"Hmm ... baiklah ...."


Rey terpaksa mengatakan semua kebohongan itu pada Erika agar Erika mau percaya dan menurutinya.


Erika dan Rey kembali ke perkebunan dengan menyewa sebuah mobil sewaan. Rey meninggalkan motornya di villa. Saat diperjalanan, Rey mengatakan kalau ia sudah menyiapkan sesuatu untuk Erika.


Mereka telah tiba di perkebunan. Dan setibanya di sana, Rey menyuruhnya beristirahat dulu. Karena saat sore hari Rey ingin mengajaknya pergi ke daerah kota untuk makan malam di sebuah restoran yang ada di sana.


Hari sudah hampir menjelang sore. Erika sedang berbaring-baring setelah terbangun dari tidur siangnya. Tadi ia sempat tertidur sebentar karena merasa sangat ngantuk dan kecapaian setelah dari perjalanan pulang mereka. Setelah itu, Erika melihat jam di hpnya sudah menunjukkan pukul 16.15 wib. Ia lalu bersiap untuk mandi dan sedikit mempercantik diri karena malam ini Rey akan mengajaknya untuk makan malam di sebuah restoran yang ada di Kota Bandung.


Saat ini Erika telah selesai mandi dan sedang bingung memilih baju yang akan dikenakannya. Karena pakaian yang dibawanya kebanyakan adalah pakaian yang biasa untuk dikenakan sehari-hari. Ia lalu melihat sebuah dress putih yang dipakainya saat pertama kali bertemu dengan Rey dalam keadaan mabuk di sebuah bar. Dress putih itu ia kenakan untuk menghadiri acara makan malam romantis nya bersama Kei yang saat itu masih menjadi kekasihnya. Namun acara itu batal dan hancur karena kekasihnya yang tidak juga datang hingga restoran akan ditutup.


Tok Tok


Terdengar bunyi suara ketukan pada pintu kamarnya. Erika buru-buru merapihkan sedikit barang-barangnya yang berantakan dan melemparkan semua pakaiannya secara acak ke dalam tas dan lemari bajunya.


Tok Tok Tok


Kembali terdengar bunyi ketukan di pintu kamarnya.


"Erika?" Itu suara Rey yang memanggil namanya.


"Iya, tunggu sebentar." Teriak Erika menyahutinya.


Beberapa menit kemudian, setelah keadaan kamarnya cukup rapih dan pakaiannya sudah tidak berantakan lagi, Erika membukakan pintu kamarnya.


Begitu pintu kamar terbuka, Rey mendongakkan matanya ke sekitar seperti mencari sesuatu. Ia lalu mencium aroma harum sabun dan shampo yang masih terasa menyegarkan.


"Maaf agak lama membukanya, karena aku tadi baru selesai mandi." ucap Erika sedikit berbohong karena malu kalau ketahuan apa yang sedang diperbuatnya tadi. Rey melirik ke arah kepala Erika yang masih terdapat lilitan handuk untuk membungkus rambutnya yang masih basah. Rey menatapanya dan tersenyum. Erika menyadari arah pandang Rey yang tertuju pada kepalanya. Ia merasa malu dan buru-buru melepaskan handuknya. Rambut basahnya pun tergerai dan jatuh disekitar bahunya.


"Erika, kamu terlihat sangat cantik dan hmm ... wangii ...." Rey memuji sambil memandang kagum padanya. Membuat Erika tersipu malu karenanya.


"Ini ...." Rey memberikan sebuah kotak hadiah yang berukuran cukup besar berwarna silver dengan hiasan pita bernuansa pink dan ungu.


"Apa ini?" tanya Erika sambil mengambil kotak tersebut.


"Buka saja dan lihat apa yang ada di dalam kotak itu."


Erika membukanya dan matanya langsung berbinar dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman dengan gembira. "Woahh Rey, gaun ini sangat cantik dan nampak kekinian. Sepatunya juga, sangat serasi dengan gaunnya."


Ternyata di dalam kotak itu berisi gaun yang terdiri dari dua lapisan. Dengan lapis pertama terusan berlengan spaghetti berbahan satin polos berwarna rosegold dengan panjang selutut yang sebagai lapisan dalamnya. Lalu yang kedua adalah lapisan luarnya berbentuk seperti kardigan panjang tanpa lengan yang berukuran panjang sama dengan lapisan dalamnya. Dengan bahan terbuat dari tile berwarna rosegold yang bermotif akar dan ditempeli manik-manik mutiara berwarna senada. Selain itu juga ada sepasang sepatu berbahan jelly berwarna transparan dengan ketinggian 7cm yang dikelilingi manik-manik berwarna rosegold.


Erika mencoba sepatunya dan ukurannya sangat pas dikakinya. "Bagaimana kamu bisa tahu ukuran sepatuku?"


"Aku melihatnya dari histori belanja online mu."


"Ohh jadi kamu membeli ini semua di toko online? Dan kamu pasti menggunakan akunku ketika memesannya."


"Bingo."


"Hmm itu pasti Ryo yang memberitahumu dan itu karena aku lupa untuk keluar dari akunku setelah berbelanja dengan menggunakan tab miliknya. Betapa teledornya aku."


"Tapi tenang saja, aku menggunakan kartu kreditku untuk membayarnya ..."


"Iya aku tahu, lagipula bukan itu yang aku permasalahkan."


"Lalu?" tanya Rey bingung. Erika hanya diam saja dan memandangnya dengan malu.


Rey sekarang menyadarinya. Ia memang sempat kaget dan merasa malu sendiri ketika menelusuri barang-barang yang pernah Erika beli. Karena banyak benda yang sangat pribadi seperti pakaian dalam bagian atas dan bawah yang dibelinya. Kurang lebih ia jadi tahu ukuran dan motif yang dipakai Erika. Rey juga langsung menginterogasi Ryo dan menyita tab tersebut. Untung saja Ryo mengaku tidak pernah menelusuri daftar barang-barang belanjaannya Erika karena memang ia tidak tertarik untuk melakukannya dan juga tahu diri untuk menjaga privasi wanita milik bosnya.


Wajah Rey juga sedikit memerah karena juga ikut merasa malu. Ia lalu dengan canggung berkata, "Cepatlah berganti pakaianmu karena kita akan segera berangkat." Erika mengangguk dan terus memandangi Rey.


"Ada apa?" tanya Rey lagi.


"Aku ingin ganti baju ... Tapi apakah kamu masih ingin di sini untuk ...."


Rey langsung menyadarinya. Ia langsung bangkit berdiri dan berbalik badan. "Aku keluar dulu untuk berganti pakaianku dan bersiap diri." Ucapnya sambil melenggang keluar dari kamar Erika.