Happiness For You

Happiness For You
38 Mengantar Erika Pulang



Di dalam mobil, Rey menelepon Ryo untuk menanyakan keberadaan mereka karena ia akan menjemput mereka untuk pulang kembali ke perkebunan. Ryo memberitahukan posisi mereka yang masih berada di pasar malam.


Setibanya di sana, Erika malah tertarik untuk turun melihat-lihat keramaian pasar malam yang ada di Bandung. Ia lalu mengajak Rey untuk turun.


"Rey, aku ingin turun melihat-lihat keramaian di pasar ini. Sepertinya di sana banyak jajanan dan juga hiburan yang seru dan menarik. Ayo kita turun menyusul mereka."


"Tidak Erika. Lihat pakaianmu yang agak terbuka dan penampilanmu juga terlalu mencolok diantara para pengunjung pasar lainnya."


"Please ... Aku tidak pernah mengunjungi tempat seperti ini dan aku sangat ingin melihat dan merasakan hiruk pikuk yang ada." Wajah Erika terlihat memelas dan seperti anak kecil yang sedang merajuk minta dibelikan es krim.


"Baiklah .... " ucap Rey akhirnya menurutinya. Saat akan membantu Erika turun, Rey teringat sesuatu. Ia lalu menahan Erika untuk turun. "Tunggu sebentar. Aku perlu pergi untuk membeli sesuatu dulu. Kamu tunggu aku di mobil." Rey menutup pintu mobilnya, mengunci mobilnya dengan menekan kunci remote dan berlari pergi. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa sebuah bungkusan plastik.


"Ini, pakailah." Rey menyodorkan bungkusan plastik itu yang berisikan sepasang sandal bersol rendah untuk Erika.


"Terima kasih." ucap Erika sambil mengambil dan mengganti sepatunya dengan sandal tersebut. Mereka lalu berjalan masuk ke dalam pasar.


Area yang dijadikan sebagai pasar malam itu cukup besar dan terbuka. Semakin menambah rasa dingin angin yang bertiup pada malam hari di Kota Bandung. Gaun yang dipakai Erika berterbangan terkena tiupan angin tersebut. Rey lalu melepaskan blazer nya dan memakaikannya pada Erika untuk melapisi pakaiannya yang tipis dan menutupi sebagian tubuhnya yang terbuka.


Erika menatap tubuh Rey yang hanya mengenakan sehelai kaos saja. "Aku tidak merasa dingin, ini kamu pakai saja .... " Rey menahan blazer yang akan Erika lepaskan.


"Kamu pakai itu atau kita pulang." ucap Rey. Karena Erika yang meminta untuk ke tempat itu dan tidak mau pulang, jadi Erika pun terpaksa harus menurutinya.


Rey dan Erika telah tiba di tempat Ryo dan Sato sedang duduk. Mereka lalu bergabung dan ikut duduk di sana. Erika menanyakan pada mereka jajanan apa saja yang enak dan menarik untuk dicicipi. Mendengar cerita mereka, membuat Erika semakin antusias dan ingin membelinya. Rey memberikan mereka sejumlah uang dan memerintahkan mereka untuk membelikannya.


Saat duduk, angin malam yang terus bertiup membuat tubuh Rey yang hanya mengenakan sehelai kaos kedinginan. Tetapi ia menahan dan menutupinya.


Mereka telah kembali dengan membawa banyak jajanan. Erika langsung terlihat bersemangat untuk mencicipinya. Jajanan itu terdiri dari leker, jagung bakar, beberapa gorengan seperti cireng dan tahu sumedang, ada juga sate dan masih banyak lagi.


"Mmm leker ini enak sekali. Renyah dan manis. Rey, kamu harus mencobanya juga. Ini." Erika memberikan sepotong leker kepada Rey.


"Tidak, aku tidak mau." jawab Rey.


"Ayolah, kamu harus mencobanya setidaknya sepotong saja. Karena ini enak sekali." Rey mengambilnya dan memakannya. Erika senang melihatnya. Lalu Erika memaksanya untuk memakan jajanan yang lain.


"Rey, kamu harus coba tahu sumedang dan cirengnya. Dan sate ini. Juga ini." Akhirnya setelah mencoba beberapa makanan yang bagi Rey semua rasanya sama yaitu terasa hambar, Rey pun menolaknya.


"Tidak, aku kenyang. Aku mau pergi ke toilet dulu." Rey merasa tubuhnya tak enak, ia pun pergi melipir ke tempat yang agak jauh dan sepi untuk meminum obatnya. Saat berjalan, darah menetes keluar dari hidungnya. Ia segera menahan darahnya dengan tangannya dan mengusapnya dengan sapu tangannya. Lalu ia semakin mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai dan meminum obatnya. Wajahnya memucat dan tubuhnya melemas. Rey duduk sebentar di sana untuk mengistirahatkan tubuhnya dan menunggu hingga obat itu bereaksi pada tubuhnya.


"Rey, ada apa? kamu tidak apa-apa, kan?" Tiba-tiba Erika dan kedua anak buahnya muncul.


"Tidak ...." jawab Rey dan dengan segera ia memasukkan sapu tangan yang tadi ia gunakan untuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya ke saku celananya.


"Apa kamu kedinginan?" Erika lalu memegang telapak tangannya yang terasa dingin. "Pakai ini." Erika segera melepas blazer Rey yang sedang dipakainya dan memakaikannya ke tubuh Rey.


"Kamu pakai saja. Aku masih kuat untuk menahan dinginnya."


"Tidak, aku mau pulang saja." jawab Erika. "Ayo kita pulang."


"Tapi kamu ...." Erika menggeleng. "Tidak, aku sudah puas melihat-lihat dan mencicipi jajanannya." Rey mengangguk dan mereka berjalan pulang. Untung saja obat itu sudah bekerja. Rasa tak enak dan lemas yang tadi Rey rasakan telah hilang dan tubuhnya sudah kembali normal.


***


Saat akan berjalan pergi dari ruang makan, Erika memanggilnya.


"Rey, apakah kamu sudah selesai sarapannya?" Rey mengangguk. "Mengapa kamu makannya sedikit sekali? Nanti kamu bisa merasa lapar saat diperjalanan."


"Tidak, aku sudah kenyang." jawabnya.


Selama diperjalanan, Rey memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Tetapi beberapa kali ia terbangun karena terbatuk.


"Apakah kamu sakit?" Tanya Erika sambil menaikkan tangannya ke jidat Rey untuk mengecek suhu tubuhnya, tetapi Rey segera memegangi tangan Erika untuk menghalanginya menyentuh jidatnya.


"Tidak, hanya tenggorokanku saja yang sedikit meradang karena salah makan." Jawabnya berbohong.


"Ohh apa karena jajanan di pasar malam kemarin?"


"Bukann ...." Erika tahu Rey berbohong padanya karena Rey tidak mau membuatnya merasa bersalah telah memaksanya memakan jajanan itu. Tetapi Erika tidak memaksanya untuk berkata jujur yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadi pertengkaran diantara mereka.


"Baiklah, tapi kalau kamu merasa sakit atau ada sesuatu yang tak nyaman di tubuhmu segera beritahu kami ya dan jangan menutupinya." Rey mengangguk mengiyakan.


Mereka akhirnya telah tiba di Jakarta saat siang harinya dan mereka langsung menuju rumah Erika untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya. Namun saat mereka telah sampai di depan rumahnya, Erika terlihat enggan untuk turun dari mobil karena ia harus berpisah dari Rey.


"Turunlah, orangtuamu sudah menanti kepulanganmu." tutur Rey sambil melihat ke arah rumah Erika. Pagar rumahnya sudah dibuka dengan lebar. Di halaman dalam rumahnya terlihat ayah dan ibu Erika yang sudah berdiri untuk menyambut kepulangan Erika.


"Tapi aku takut." jawab Erika sambil melihat ke arah orangtuanya


"Jangan takut, mereka tidak akan memarahimu. Percayalah padaku. Mereka sangat menyayangimu dan juga merindukanmu."


"Bukan itu, tapi aku takut mereka melarang kita untuk bertemu... dan aku juga masih belum mau berpisah darimu."


"Kita masih bisa bertemu. Ingat janji kita, malam ini aku akan memberimu sebuah kejutan lagi. Aku akan menunggumu di tempat yang telah kita sepakati."


Erika lalu memeluk tubuh Rey dengan kencang seolah tak mau berpisah. Rey mengecup kening Erika.


"Ayo ... turunlah ...." ucapnya lembut.


Erika memberi Rey kecupan di pipi, di keningnya, dan terakhir di bibirnya.


"Bye. Aku turun. Sampai jumpa nanti malam." Tanpa menengok lagi Erika turun dari mobil dan segera berlari.


Menyadari bahwa ini mungkin terakhir kalinya bagi mereka untuk bertemu, Rey ingin memberinya kesan yang baik dengan mengucapkan suatu kalimat indah padanya. Tapi ia ragu, karena itu nantinya hanya akan menambah rasa sedih bagi Erika. Namun hatinya tak bisa menahannya untuk tidak mengucapkannya. Rey pun menurunkan jendela mobilnya dan memanggilnya.


"Erika ..." panggil Rey sesaat Erika sudah sampai di depan gerbang rumahnya dan akan masuk ke dalam. "Aku mencintaimu ...." ucap Rey pelan seperti sedang menggumam saja. Ia lalu melambaikan tangannya yang dibalas oleh Erika juga dengan lambaian tangannya. Sepertinya Erika tidak dapat mendengar apa yang Rey katakan. Dia hanya menebaknya saja dan mengira kalau yang Rey ucapkan adalah 'aku menunggumu' Lalu Rey segera menutup jendela mobilnya dan memerintahkan Ryo untuk segera melaju pergi.


"Uhukk ... uhukk ..." Rey terbatuk lagi.


Ryo dan Sato hanya berani mengamati bosnya dalam diam dan tidak berani untuk bertanya padanya. Mereka tahu dan dapat melihatnya kalau bos mereka saat ini sedang sakit dan menutupi sakitnya.


Setelah Rey turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya, Ryo segera menelepon dokter Steve dan memintanya untuk segera datang ke rumah bos mereka untuk memeriksakan keadaannya.


***