
Hari ini sudah genap 3 bulan Rey menjalani operasi transpalantasi tulang sumsum belakang dari kakaknya. Dia pun melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit dengan ditemani oleh kakaknya, Kei Takahiro.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, kondisi tubuh dan kesehatan Rey semuanya bagus dan normal. Kei pun senang mendengarnya begitu juga dengan Rey.
"Adikku, lihat hasil pemeriksaanmu bagus. Kamu jangan lagi memikirkan masa depan hubunganmu dengan Erika. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu dapat melakukan apapun yang kamu mau bersama Erika. Apalagi kamu juga seorang pria dewasa, kamu bebas menentukan dan melakukan apapun bersamanya."
"Iya, kakak. Kamu benar. Selama ini aku hanya terlalu banyak berpikir dan mencemaskan sesuatu hal yang belum tentu terjadi di masa depan. Mulai sekarang, aku akan menikmati setiap momen hidupku dengan bebas leluasa tanpa banyak berpikir dan merasa cemas. Kakak juga ya, jangan lagi mencemaskan dan mengkhawatirkan diriku. Lagipula aku bisa menjaga diriku, aku juga tahu apa yang terbaik yang harus kuperbuat dalam hidupku."
"Iya, Ken."
Lalu mereka berdua masing-masing berpisah dan pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.
Namun berselang dua hari kemudian, Dokter Steve menghubungi Kei dan memintanya datang ke rumah sakit untuk menemuinya karena ada sesuatu yang ingin Dokter Steve sampaikan mengenai kondisi adiknya.
Kei pun kembali merasa kecemasan dan kekhawatirannya. Ia lalu segera pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter Steve.
"Dokter Steve, ada apa dengan adikku?" Tanya Kei dengan cemas.
"Nak Kei, tenang dulu. Kamu janganlah merasa panik dan dengarkan penjelasanku dengan baik. Setelah saya membaca dan mempelajari hasil pemeriksaan Rey lebih lanjut, saya menemukan adanya suatu kejanggalan."
"Kejanggalan? Lalu apa maksudnya itu, Dok?"
"Begini," Dokter Steve menghela nafasnya sejenak. "saya menemukan sepertinya ada sebagian kecil sel kanker yang ada pada tubuh adik anda telah aktif kembali."
Mendengar pernyataan Dokter Steve tersebut, tubuh Kei langsung melemas dan jantungnya melonjak tinggi bagaikan roller coaster.
"Dokter, apakah itu berarti adik saya .... "
"Nak Kei, tenang dulu. Sebenarnya saat ini masih terlalu dini untuk mengambil sebuah kesimpulan apapun tentang kondisi adikmu. Karena masih ada kemungkinan bahwa saya telah salah mendiagnosanya. Namun saya memberitahumu diawal dengan pertimbangan agar kamu bisa lebih memperhatikan dan menjaga kondisi tubuh adikmu. Saya juga berharap anda bisa lebih mempersiapkan dirimu dengan segala kemugkinan buruk yang mungkin akan terjadi pada adikmu. Untuk sekarang ini, selama tidak ada suatu gejala apapun yang timbul dalam dirinya, berarti dia aman dan akan baik-baik saja sampai kita melakukan pemeriksaan rutin yang selanjutnya."
"Tetapi jika itu benar, maka apakah adikku masih bisa untuk sembuh lagi?"
"Nak Kei, jujur itu sangatlah sulit. Mengingat adik anda sudah pernah menderitanya sebanyak 2 kali yang berarti ini adalah yang ketiga kalinya. Sedangkan pengobatan sumsum tulang belakang juga tidak bisa dilakukan lagi olehnya sehingga ia hanya bisa menjalani pengobatan melalui proses kemoterapi dan radiasi yang tentunya sangat menyakitkan baginya. Sehingga saya tidak menyarankannya. Karena selain kemungkinannya untuk sembuh sangatlah kecil, itu juga akan membuat kualitas hidup adik anda menjadi sangat buruk. Hari-hari yang dilaluinya akan penuh dengan penderitaan dan siksaan karena rasa sakit yang teramat sangat yang akan ia rasakan selama menjalani proses pengobatan tersebut." Kei kembali merasa tubuhnya melemas dan jantungnya serasa mau copot.
Saat ini Kei telah selesai berbicara dengan Dokter Steve dan ia sudah berada diluar ruangan. Saat ia menutup pintu ruangan Dokter Steve, terlihat gerakannya sangat lesu dan wajahnya tampak pucat. Setelah itu ia melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dari situ dan berjalan pulang. Namun baru beberapa langkah berjalan, Kei merasa kakinya sangat lemas dan tidak bertenaga lagi untuk berjalan bahkan hanya untuk menopang tubuhnya saja kakinya sudah tidak kuat. Jantungnya terus mengeluarkan ritme debaran yang sangat kencang dan tak beraturan. Hingga membuat tubuhnya yang sudah lemas semakin terasa melemas. Ia lalu berdiri terdiam dengan bersandar pada tembok yang ada didekatnya dan mencoba untuk mengatur nafasnya yang terasa sesak karena dadanya yang serasa disumpal akan sesuatu sehingga terasa sangat sempit dan menyakitkan.
"Kennn ... " panggilnya lirih dan dengan suara yang bergetar. "Ken ... Ken ..." isaknya dengan tangisannya yang terdengar pilu dan menyesakkan. "Adikku ... mengapa ... mengapa kamu harus mengalami hal seperti ini ... Ken adikku ..." Kei terus bersedih dan merasa sangat ketakutan memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada adiknya jika diagnosa Dokter Steve terbukti benar. Bahwa sel kanker adiknya telah aktif kembali yang berarti penyakit kanker yang dideritanya oleh adiknya telah kambuh untuk yang ketiga kalinya.
Kei kembali berusaha berjalan dengan mengandalkan sisa-sisa kekuatan ditubuhnya sambil terus berpegangan pada tembok yang sedang dilaluinya. Tangan dan kakinya gemetar karena rasa takut dan cemasnya yang terlalu berlebihan akibat pikirannya yang terus teringat dan kembali membayangkan kejadian kelam yang pernah adiknya alami. Yang pernah sampai mengalami muntah darah hingga terlihat begitu kesakitan saat dipangkuannya dan tidak mau terbangun saat ia terus memanggilnya.
Tanaka yang sejak tadi menunggunya di luar ruangan dengan jarak agak berjauhan, langsung panik mendapati keadaan bosnya yang seperti itu dari kejauhan. Ia langsung berlari menghampiri tuannya itu.
"Tuan Keii! Apa yang terjadi?" Tanyanya panik dan kebingungan.
"Tanaka, adikku ... " Airmata Kei langsung bercucuran keluar menumpah ke pipinya. "Ken, dia ... " Jantung Kei kembali melonjak dengan hentakan yang sangat kuat hingga tubuhnya langsung melemas dan terjatuh.
"Tuan Kei ... Tuan Kei ..." panggil Tanaka sambil menepuk pelan pipi Tuannya yang tak sadarkan diri.
Dokter Steve yang sedang berada di dalam ruangan langsung keluar begitu begitu mendengar suara teriakan nama Kei disebut. Mereka lalu segera membawa Rey ke dalam ruangan untuk diperiksa. Beberapa menit kemudian Kei tersadar kembali.
"Nak Kei ... bagaimana perasaan anda sekarang?"
"Dokter ..." panggilnya lirih. "Adikku ... tolong selamatkan dia ..."
"Nak Kei, anda harus tenang. Ingatlah, apa yang kuberitahukan tadi padamu baru dugaanku saja dan itu juga masih bisa berubah."
"Tapi Dokter, aku takut ... bagaimana kalau dia ..."
"Nak Kei, kita pasti akan melakukan dan mengusahakan yang terbaik baginya. Sekarang yang terpenting kamu tenangkan pikiranmu dulu. Jangan sampai adikmu melihat keadaanmu yang seperti ini dan membuatnya menjadi panik dan mengetahuinya."
Kei berpikir bahwa apa yang dokter katakan itu benar. Dia tidak boleh seperti ini. Dia harus kuat dan tetap tegar apalagi ketika berhadapan dengan adiknya nanti. Jangan sampai adiknya melihatnya dan jadi mempertanyakannya lalu mengetahuinya.
"Tuan Kei, apa perlu saya menghubungi adik anda dan memintanya untuk datang kemari?"
"Tanaka, aku sangat ingin melihat adikku saat ini. Kamu jemput dia di restoran dan bawa dia ke sini."
"Baik Tuan."
Kei lalu dirawat inap di rumah sakit. Karena ketakutan dan kecemasannya itu membuat tekanan darahnya tiba-tiba melonjak dengan sangat tinggi. Belum lagi dia juga mendapat serangan shock karena pengalamannya melihat keadaan adiknya yang sangat kesakitan dan kemudian tergeletak tidak bergerak dipangkuannya. Hal itu semakin memperburuk keadaannya. Sehingga dia harus mendapat perawatan dan pengawasan yang baik di rumah sakit.
Tanaka segera berlari menuju ke tempat mobilnya sedang terparkir dan langsung mengemudikannya menuju restoran Hiro tempat Rey bekerja.
Begitu tiba di restoran, Tanaka langsung berjalan menuju ke area dapur dan membuka pintu untuk mencari Rey.
"Tuan Rey!" Teriaknya begitu melihat penampakan Rey yang sedang ada di dapur dan sedang sibuk menyiapkan suatu masakan.
Rey langsung menghentikan kegiatannya dan menengok ke arah sumber suara. Awalnya Rey sempat akan marah ketika ia mendapati bahwa itu adalah Tanaka yang sedang memanggilnya dengan sebutan 'Tuan'. Seluruh rekan kerjanya yang ada di dapur langsung menatapnya dan dengan tatapan yang kaget karena mereka mengenali sosok Tanaka yang adalah asisten dari bos besar mereka dan pemilik restoran ini. Sehingga itu secara tidak langsung bahwa Tanaka sedang memproklamirkan identitas Rey yang sebenarnya.
"Tanaka, apa yang kamu-" Namun Tanaka tidak peduli ketika Rey berkata dengan nada sedikit menghardiknya dan dengan melotot marah kepadanya. Ia langsung menyela ucapan Rey tersebut.
"Tuan Rey, kakak anda tadi pingsan. Dia sekarang sedang berada di rumah sakit dan dia ingin bisa segera melihat anda."
"A-apa?" Rey langsung terkejut mendengarnya.
Rey langsung melepas celemek yang dikenakannya dan melemparkannya begitu saja ke atas meja dapur. Ia tidak mempedulikan lagi orang-orang yang disekelilingnya yang sibuk mengamatinya dengan keheranan dan terkejut. Ia juga tidak ijin atau berpamitan pada siapapun yang ada disitu juga kepada atasannya.
Setelah sudah berada di luar ruangan, sambil berjalan dengan sedikit berlari, Rey bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kakakku bisa tiba-tiba pingsan padahal tadi pagi dia masih baik-baik saja?" Rey bertanya dengan panik dan keheranan.
"Mungkin itu karena ia telah kelelahan bekerja dan masih harus memikirkan berbagai urusan pekerjaannya yang sedang memiliki masalah." Jawab Tanaka berbohong.
Selama diperjalanan, Rey terlihat cemas dan khawatir. Tanaka melihatnya jadi merasa bersalah. Ia lalu berusaha menenangkannya.
"Tuan Rey, anda tidak perlu merasa panik dan khawatir. Kakak anda tadi sudah tersadar dari pingsannya. Hanya saja ia ingin untuk bisa segera melihat anda." Rey hanya mengangguk. Tetapi hatinya tetap saja merasa kalut. Karena ia tahu kakaknya itu sangat kuat dan tangguh. Tidak mungkin kalau hanya karena kelelahan bekerja dan memiliki masalah di kerjaannya dirinya sampai pingsan seperti itu. Apalagi ia sampai ingin melihatnya dengan segera. Pastinya ada sesuatu yang telah terjadi dan mungkin sesuatu itu hal yang tidak baik. Bisa jadi itu dikarenakan kakaknya sedang sakit parah dan selama ini telah menutupinya dari dirinya.
"Tanaka, mengapa kamu tidak menghubungi ponselku saja untuk mengabariku tentang kakakku? Aku kan bisa langsung mengendarai motorku ke sana dan bisa lebih cepat sampai."
"Saya tidak tahu, kakak anda yang menyuruh saya untuk menjemput anda dan tidak membiarkan anda pergi sendiri dengan mengendarai motor anda."
Kei kembali bersedih memikirkan nasib adiknya yang mungkin akan kembali merasakan sakitnya karena sel kanker yang kembali aktif ditubuhnya. Ia sungguh takut jika itu benar-benar terjadi, maka kemungkinan besar kali ini ia akan benar-benar kehilangan adiknya dan tidak bisa lagi untuk menyelamatkannya.
Apalagi ia masih ingat dengan pembicaraan adiknya yang merasa ketakutan akan kondisi dirinya yang mungkin tidak bisa memiliki akhir yang bahagia bersama kekasihnya, Erika. Lalu kegembiraan dan kelegaan yang adiknya rasakan saat akhirnya mengetahui kalau dia baik-baik saja dan mulai berani melepas ketakutannya serta berani untuk mengejar kebahagiaannya. Kei kembali merasa hatinya terperih dan airmatanya pun kembali mengalir keluar.
"Kakak ..." panggil Rey begitu ia masuk ke dalam ruangan tempat Kei dirawat. Kei buru-buru mengusap airmatanya yang telah kembali tumpah dan membasahi pipinya.
"Ken ... " panggilnya. "Ken, adikku ...," suaranya kembali tercekat karena tangisannya kembali mendesak ingin keluar. Ia lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk.
"Kakak, ada apa? Mengapa kamu menangis? Katakan padaku, mengapa kamu terlihat seperti sangat bersedih seperti ini?"
Kei mencoba membuat dirinya tenang.
"Tidak, Ken. Tidak apa-apa." Rey tahu ada sesuatu yang terjadi yang kakaknya tutupi darinya. Tetapi ia juga tidak mau memaksakan kakaknya untuk memberitahunya. Karena dia juga merasa tidak suka jika seseorang memaksanya melakukan sesuatu yang tidak ia mau.
"Kemarilah, Ken." Rey lalu berjalan menghampirinya dan duduk di bangku yang ada di dekatnya. Rey lalu memegangi tangan kakaknya yang terjulur padanya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Kei padanya. Membuat Rey bertanya balik padanya dengan keheranan.
"Kakak, harusnya aku yang bertanya pada kakak. Apakah kakak baik-baik saja?" Kei mengangguk.
"Kakak, cepatlah sembuh dan jangan sakit lagi. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada dirimu dan jangan pernah tinggalkan aku sendirian. Ok?" Ucap Rey sambil memejamkan matanya dan merasakan genggaman tangan kakaknya yang ia tempelkan pada pipinya.
Kei kembali menangis meratapi adiknya namun ia kembali buru-buru mengusap airmatanya lagi.
Tanaka yang ikut ada di sana sampai menjauh sedikit dari mereka karena tak tahan melihat keharuan dan kesedihan diantara keduanya. Melihat perhatian dan kasih sayang dari kedua kakak adik yang saling terpisah lama dan hanya berkesempatan untuk bertemu sebentar saja. Namun sang adik harus mengalami keadaan yang menyedihkan karena kondisi kesehatannya dan kakaknya yang harus berusaha menutupi kondisinya tersebut dan juga harus menahan rasa sedih serta takutnya akan kehilangan adiknya.
Setelah beberapa saat, momen kesedihan dan keharuan diantara mereka sudah mulai berkurang. Rey lalu kembali bertanya pada kakaknya.
"Kakak, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku tahu kakak adalah orang yang kuat dan tangguh yang jarang sakit apalagi langsung tumbang seperti ini."
"Memangnya aku tidak boleh kalau sampai sakit dan pingsan? Kakakmu ini juga seorang manusia, yang punya kelemahan dan bisa sakit juga."
"Haha ... iya sih. Tapi doker bilang kakak kenapa? Kakak tidak sedang sakit parah, kan?"
"Aku hanya kelelahan bekerja dan terlalu berlebihan memikirkan masalahku."
"Masalah apa itu? Apakah ada hubungannya denganku?" Tanya Rey bermaksud untuk menggodanya. Namun terbesit dimata Kei sedikit rasa kagetnya atas pertanyaan Rey dan tertangkap oleh Rey.
"Tidak, hanya masalah kerjaan saja."
Jawaban Kei tersebut semakin menambah kecurigaan dan keheranannya. Ia merasa kakaknya seperti sedang berbohong dan sedang menutupi sesuatu darinya. Karena biasanya kakaknya pasti akan menjawabnya dengan membalas menggodanya.
"Ini adalah rumah sakit tempat Dokter Steve bekerja dan sepertinya rumah sakit ini berlokasi jauh dari kantormu. Mengapa kakak bisa dibawa ke rumah sakit ini? Memangnya tadi kakak pingsannya saat lagi di mana?" Tanya Rey penuh selidik.
"Ehmm ... kakak memang kebetulan sedang bertemu dokter Steve untuk mengambil hasil tes kesehatanmu yang tertinggal. Lalu tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan tubuhku melemas dan kemudian pandanganku menggelap. Begitulah."
"Ohh, lalu apakah Dokter Steve ada mengatakan sesuatu hal padamu yang berkaitan dengan kondisiku saat kamu mengambil hasil tesku itu?"
"Tidak ... tidak ada." jawab Kei sambil menghindari tatapan Rey saat menjawabnya. "Ken, mengapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu sedang mencurigaiku?"
"Mencurigai kakak? Mencurigai akan apa?"
"Itulah yang kakak mau tanyakan padamu. Apa yang sebenarnya kamu curigai pada kakakmu yang baru saja pingsan ini?"
Rey menatap lama kakaknya, kakaknya juga melakukan hal yang sama kepadanya.
Lalu Rey menjawab, "Mungkin saja kakak sedang berbohong padaku. Mungkin sebenarnya kakak baru mendengar suatu kabar buruk tentang kondisiku."
"Ken, bukankah kita berdua sudah sama-sama mendengarnya dari dokter beberapa hari lalu bahwa kondisimu baik-baik saja? Bahwa tubuhmu semuanya sehat dan normal. Atau kamu pernah mengalami suatu gejala pada tubuhmu yang membuatmu curiga? Ken, jujurlah padaku. Apa kamu pernah merasakan suatu rasa tidak nyaman ditubuhmu?"
"Tidak, Kak. Tidak ada. Lupakan saja yang aku tanyakan tadi. Aku hanya iseng bertanya saja. Kakak jangan mencemaskanku lagi. Aku tidak merasa ada suatu keanehan apapun ditubuhku. Percayalah."
"Iya Ken, kakak percaya. Tapi jika suatu saat kamu memang mengalaminya, beritahu kakak ya?"
"Iya, Kak. Sekarang kakak beristirahatlah dengan baik."
"Kamu jangan kembali ke tempat kerjamu lagi dan temanilah aku di sini."
"Baik, Kak. Sekarang kakak tidur, ya." Kei lalu menurutinya, ia memejamkan matanya dan berpura-pura tidur. Padahal pikirannya masih saja memikirkan keadaan adiknya. Saat ini saja ia menahan adiknya karena ia ingin bisa lebih berlama-lama dengan adiknya sehingga bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan adiknya. Adiknya yang malang dan sangat disayanginya.
***