Happiness For You

Happiness For You
9 Mulai Merawatnya



Hari sudah sore dan hampir menjelang malam. Dokter Steve dan anak buah Rey sudah pergi dari rumahnya. Hanya tinggal Erika seorang yang masih berada di rumah Rey untuk menemaninya. Akhirnya Erika bersedia untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah Rey untuk merawatnya.


Saat ini, Erika sedang mengecek suhu tubuh Rey. Panas pada suhu tubuh Rey sudah agak sedikit menurun dari beberapa jam sebelumnya. Tetapi tubuhnya masih diatas 38° dan belum kembali normal sehingga Erika perlu untuk mengompresi dahinya. Dokter telah berpesan padanya untuk mengecek panas tubuh Rey secara rutin dan mengompres beberapa jam sekali untuk membantu agar panasnya cepat turun dan kembali normal. Selain itu, dokter juga berpesan bahwa memberi kompres dengan menggunakan es pada luka memar di tubuh Rey dan bengkak yang ada diwajah Rey juga diperlukan.


Pekerjaan ini cukup berat dan melelahkan bagi Erika, setelah hampir beberapa jam dia terus merawat dan mengompres luka pada tubuh Rey. Apalagi dirinya selama ini tidak pernah bekerja dan selalu dilayani dan juga karena dirinya seorang penakut yang tak kuat melihat darah ataupun luka. Tetapi karena Erika sudah terlanjur menyetujui permintaan mereka dan dia juga membutuhkan tempat berteduh selama pelariannya, Erika hanya bisa berusaha menghibur dirinya dengan menguatkan dan menyemangati dirinya agar bisa bertahan melakukan pekerjaan ini.


Sebelum pergi, anak buah Rey sudah membantunya membereskan dan membersihkan kamar tamu yang ada di rumah Rey untuk dipakainya tidur. Selain itu mereka juga membantu Erika untuk membelikannya beberapa barang keperluan sehari-hari yang dia butuhkan. Karena Erika medadak kabur dari rumah, sehingga dia tidak membawa barang apapun. Bahkan sehelai baju pun tidak. Hanya baju yang menempel dibadannya yang sedang dia pakai saat kabur.


Erika tertawa geli dan bercampur senang ketika melihat ekspresi mereka yang terlihat bingung dan terbengong melihat daftar barang yang perlu mereka beli begitu panjang dan banyak. Wajah mereka seperti seorang mahasiswa yang sedang diberikan materi ujian yang harus dipelajari dalam waktu semalam suntuk saja. Ya begitulah seorang wanita, sungguh repot dan merepotkan.


Itu saja masih belum cukup! Sisanya Erika melakukan belanja daring dengan meminjam gadget mereka untuk membeli barang-barang wanita yang sangat pribadi seperti pakaian dalam, baju dll. Karena untuk saat ini Erika masih belum berani mengaktifkan hpnya. Dia takut lokasi keberadaannya akan terlacak oleh kekasihnya.


Untung saja Erika dapat menemukan sebuah rumah untuk tinggal selama kabur. Erika berdoa dan berharap semoga dirinya akan baik-baik saja selama tinggal di rumah ketua gangster ini.


"Apakah orangtuamu tidak masalah dan tidak akan mencarimu?" Sebelum pergi meninggalkannya, Sato bertanya lagi pada Erika untuk meyakinkannya.


Sebenarnya Sato memiliki suatu kecurigaan bahwa ada sesuatu yang Erika sembunyikan. Apalagi saat dia menyuruh mereka untuk membelikannya begitu banyak barang keperluan yang dia butuhkan sehari-hari. Bukannya dia keberatan untuk membelikannya, hanya saja dia merasa aneh.


Mengapa Erika tidak pulang ke rumahnya untuk mengambil barang-barangnya itu sekaligus untuk berpamitan pada orangtuanya?


Tetapi, Sato dan Ryo hanya diam saja. Mereka tidak berani banyak bertanya karena takut Erika akan marah sehingga membuatnya berubah pikiran dan tidak mau tinggal beberapa hari lagi di rumah bos mereka untuk merawatnya.


"Tidak masalah, jangan khawatir.." Jawab Erika setengah berbohong. Erika menghela nafasnya panjang. Dia merasa sedih karena teringat kembali akan orangtua dan kekasihnya.


Bagaimana keadaan mereka saat ini. Apakah mereka baik-baik saja. Semoga ayah dan ibu tidak mencemaskanku. Dan Kak Kei, aku menunggumu untuk menemukanku dan membawaku pulang, ucap Erika dalam hatinya.


Kemudian, Ryo dan Sato memberi beberapa pesan pada Erika untuk memudahkannya ketika berhadapan dengan bos mereka.


"Semoga Nona bisa bersabar dalam menghadapi Bos kami ya. Bila Nona memerlukan sesuatu atau menghadapi suatu masalah, jangan merasa segan untuk menghubungi kami." Sato berpesan pada Erika.


"Kami akan membantumu menyiapkan makanan setiap harinya." Ryo ikut menambahkan.


"Hmm ada satu lagi. Bos kami tidak suka bersentuhan dengan orang lain dan juga tidak suka sembarangan disentuh. Jadi, berhati-hatilah saat merawatnya. Hindari sebisa mungkin untuk tidak menyentuhnya." Sato kembali berbicara.


"Benar, tetapi kurasa itu adalah hal baik. Karena berarti Nona Erika akan aman saat tinggal berdua saja dengan bos kami. Hihihi" Sambil menggoda Erika, Ryo terkikik. Membuat Erika mendelik jengkel kepadanya.


"Dasar Kamu.." Sato memukul kepala Ryo sambil memarahinya.


***


Sekitar jam 7 malam Rey terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba untuk duduk dan mengambil air minum yang ada di meja sebelah ranjangnya, tetapi badannya makin terasa sakit dan juga sekitar lukanya terasa nyeri. Badannya yang masih demam juga terasa kaku dan pegal-pegal sehingga sulit untuk digerakkan. Masih dalam keadan berbaring, Rey kembali berusaha untuk menggapai minuman dengan tangannya.


Saat ini Erika sedang berada di dapur dan baru saja selesai memanaskan makan malam untuk Rey. Sore tadi, anak buah Rey telah membelikan makan malam untuk mereka berdua. Sehingga Erika hanya perlu memanaskannya saja jika ingin memakannya.


Erika tidak pernah memasak juga tidak tahu mengenai urusan dapur. Karena selama ini Erika memiliki kehidupan yang cukup sempurna. Dengan keluarga yang kaya raya dan tinggal di rumah yang cukup besar serta mewah dengan beberapa asisten rumah tangga yang akan membantunya melakukan semua keperluan hidupnya sehari-hari. Jadi Erika sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya mengurus rumah, memasak atau mungkin mengurus dirinya sendiri.


Erika menyadari hidupnya terlalu nyaman dan selalu mendapatkan kemudahan. Sehingga ia menjadi seorang wanita yang lemah dan rapuh ketika menghadapi suatu masalah. Jadi Erika berpikir dia harus berubah dan belajar hidup mandiri agar dapat menjadi seorang wanita yang kuat dan tegar saat menghadapi masalah. Dan inilah kesempatan baginya. Apalagi ada anak buah Rey yang akan membantunya.


Erika masuk ke dalam kamar Rey dengan membawa makanan yang sudah dihangatkan untuk Rey makan jika dia bangun nanti. Ternyata, saat Erika masuk dia melihat Rey sudah bangun dan sedang kesusahan untuk mengambil sebuah gelas berisi air putih di meja samping ranjangnya. Karena tangannya tak dapat menggapai gelas yang terletak agak menjorok ke bagian dalam meja. Erika segera bergegas mengambilkan gelas itu untuknya.


Rey terkejut melihat wanita itu masih ada di rumahnya. Dia juga merasa malu karena kedapatan sedang kesulitan hanya untuk mengambil sebuah gelas saja. Rey membuang mukanya dengan kesal dan marah. Dia tidak menghiraukan tangan Erika yang menjulurkan gelas minuman kepadanya.


"Jangan bersikap kekanak-kanakan, minumlah air ini." Rey tetap tidak mempedulikannya tetapi dia kembali berusaha untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Erika membantunya. Setelah berhasil duduk, Rey menatap Erika dengan tatapan tajam yang penuh kemarahan. Tetapi Erika tidak takut, melainkan merasa pria itu sungguh menyedihkan. Karena wajahnya pucat dan sedang menahan kesakitannya, tetapi dia masih saja tidak terlihat santai malah penuh antisipasi terhadap dirinya. Pria itu seperti berusaha mengintimidasi dirinya agar dia merasa takut dan segera pergi meninggalkan pria itu.


"uhuk uhukk.." Rey terbatuk karena tenggorokannya terasa sakit dan tak nyaman. Erika cepat-cepat menyodorkan sedotan ke dalam mulut Rey. Refleks, Rey menyedot dan meminumnya. Selesai minum, Erika meletakkan kembali gelas minuman itu ke meja. Rey merasa tenggorokannya menjadi lega dan rasa sakitnya telah hilang. Dia juga merasa tubuhnya terasa lebih enakan dan hatinya terasa nyaman. Rey menurunkan tatapan mata tajamnya dan menggantinya dengan tatapan mata yang melembut yang berarti bahwa dia telah menerima perlakuan Erika yang begitu baik dan peduli kepadanya.


"Erika..?" Gumam Rey ragu-ragu. Rey mengingat dalam mimpinya tadi wanita yang ada di depannya ini menyebut nama 'Erika' saat dia menanyakan namanya.


"Ya.." Erika yang sedang meletakkan kembali gelas ke meja, menoleh kepada Rey yang memanggilnya dengan memperlihatkan senyum manisnya saat menjawab panggilan itu. Dia lalu menyiapkan meja portable ke atas kasur Rey dan meletakkan nampan makanan yang tadi dibawanya.


"Apakah namamu Erika?" Tanya Rey lagi untuk memastikannya.


"Iya, itu namaku.." Erika menjawab dengan bingung pertanyaan Rey itu.


Jadi tadi itu bukan mimpi.. Batin Rey.


"Makanlah, kamu pasti sudah lapar." Erika mengambil sesendok makanan dari mangkok yang berisi bubur dan mendekatkannya pada mulut Rey untuk menyuapinya makan. Rey menahan sendok itu dengan tangannya.


"Aku tidak lapar. Lagipula aku bisa makan sendiri." Rey mengambil sendok bubur itu dan memakannya. "Baiklah." jawab Erika.


"Mengapa kamu masih ada disini?" Tanya Rey sambil mengamati wajah Erika, menunggu jawaban. Dia tidak lagi melanjutkan memakan makanannya, tangannya yang masih memegang sendok hanya memainkannya di dalam mangkok bubur tersebut.


"Hmm.. aku ingin menjadi pelayanmu. Saat ini, aku sedang membutuhkan sebuah pekerjaan dan tempat tinggal. Dan kulihat kamu sedang terluka parah, sehingga kamu pasti sedang membutuhkan seseorang untuk membantumu. Aku bisa merawat dan mengurus lukamu serta membantumu dalam mengerjakan pekerjaan rumahmu. Aku akan menyuapkanmu makan, membersihkan wajah dan tubuhmu, menggantikan bajumu, mengolesi obat luka ditubuhmu.."


"Tidak.." Rey langsung melempar sendok yang masih dipegangnya dengan cukup keras sehingga mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring. Membuat Erika sedikit terlonjak karena kaget. "Aku tidak perlu itu.." Dengan tegas Rey langsung menolaknya. Dia tidak suka ada orang lain yang akan tinggal bersamanya apalagi orang itu akan merawatnya. Bahkan baru membayangkan tubuhnya akan sering disentuh saja sudah membuatnya marah. "Lagipula, aku sudah memperkerjakan seseorang untuk melakukan pekerjaan rumahku yang akan datang secara terjadwal. Jadi aku tidak membutuhkanmu lagi untuk menjadi pelayan di rumahku!" Nada bicara Rey meninggi untuk semakin mempertegas penolakannya. Merasa takut, Erika menggigiti bibir bawahnya. Dia juga merasa sedih karena penolakan itu.


Mungkinkah dia menolakku karena dia tidak mau tersentuh olehku?


Terbesit dibenak Erika akan pesan Sato padanya tadi. Erika menggelengkan kepalanya karena merasa aneh terhadap pria ini.


"Kumohon, aku sedang sangat membutuhkan sebuah pekerjaan." Setelah keberaniannya terkumpul, Erika kembali mencoba berbicara lagi. "Ijinkan aku membantu merawat dan mengobati lukamu. Hanya untuk beberapa hari saja, hanya sampai lukamu sembuh karena lukamu itu cukup parah. Bahkan hanya untuk mengambil gelas minuman saja kamu kesusahan.. "


Ya, memang benar apa yang diucapkan Erika. Selama beberapa hari ini Erika membutuhkan sebuah pekerjaan dan tempat tinggal. Rey yang sedang terluka parah juga membutuhkan seseorang untuk merawatnya.


"Sudah kubilang aku tidak.." Awalnya Rey masih tetap berkeras ingin menolaknya, tetapi Rey melihat tatapan Erika padanya. Tatapannya penuh perhatian dan ketulusan. Dia pun tersadar bahwa apa yang diucapkan wanita itu benar. Hampir seluruh tubuhnya penuh luka dan memberikan rasa sakit jika ia bergerak. Sehingga tubuhnya tidak dapat bergerak dengan leluasa dan sulit untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.


Kini, dihadapannya ada seorang wanita yang dengan berbaik hati dan secara tulus mau membantunya. Pantaskah baginya untuk menolaknya bahkan berbuat kasar padanya?


Brengsek. Dia benar. Dengan keadaanku yang seperti ini, aku memang membutuhkan seseorang untuk membantuku. Rey mengumpat dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu aku akan segera pergi dari rumahmu.." Erika sudah berdiri dan ingin segera beranjak pergi.


"Tunggu! Jangan pergi, aku.." Buru-buru Rey mencegah Erika untuk tidak pergi. Rey telah berubah pikiran dan dia bersedia menerima Erika tinggal di rumahnya untuk membantu dan merawatnya. Tetapi sesaat kemudian muncul keraguan dalam dirinya karena gengsi dan harga dirinya yang tinggi sehingga dia menggantungkan ucapannya. "Kupikir aku.." Rey berbicara lagi tetapi tetap tidak bisa terucapkan.


"Jangan memaksakan dirimu kalau kamu memang keberatan.." Rey segera memegang tangan Erika untuk menahannya.


"Tidakk, aku.." Rey terdiam lagi dengan tatapannya yang masih tertuju pada Erika. Erika juga diam, sambil membalas menatapnya. Dalam hatinya, Erika tersenyum geli melihat sikapnya itu. Terlihat sekali gengsinya sangat besar hingga sulit baginya untuk berkata-kata. Sambil terus menatapnya, dengan sabar Erika menunggunya. Erika juga berusaha menahan tawa dan senyumnya.


"Aku...aku..membutuhkanmu.." akhirnya Rey bisa menyelesaikan kata-katanya. Erika pun mengangguk dan memperlihatkan senyum gembiranya yang sudah daritadi ia tahan.


Selama ini, Rey sudah terbiasa hidup sendiri dan tidak pernah membutuhkan bantuan orang lain. Apalagi dengan profesinya sebagai ketua gangster, dia dapat memerintahkan anak buahnya untuk melakukan berbagai hal yang dia inginkan. Sehingga sangat sulit baginya untuk meminta bantuan pada seseorang.


Rey menganggap bahwa Erika adalah wanita yang berbeda. Biasanya orang akan takut bila harus berada didekatnya. Bahkan hanya dengan tatapannya saja sudah bisa membuat nyali orang menciut dan langsung berlari ketakutan. Tetapi wanita ini, dia masih saja berani kembali ke rumahnya setelah ia mengusirnya. Bahkan dengan agak memaksa menawarkan diri untuk menjadi pelayannya.


Erika sendiri sebenarnya merasa takut dengan Rey yang suka berbuat kasar dan juga selalu memiliki tatapan mata yang tajam menusuk. Hanya saja saat ini Erika membutuhkan tempat untuk berteduh dan juga karena ada permintaan dari Sato dan Rey.


"Jadi Bos, berapa banyak gaji yang akan aku terima?" Tanya Erika dengan terkekeh karena dia memang bermaksud untuk menggoda bos barunya itu.


Rey menatapnya dengan sebal. Lalu, dengan serius dia bertanya, "Sebutkan saja jumlah yang kamu mau."


"Mmm, bayaranku tentunya akan sangat mahal. Kamu harus membayarku dengan makan pagi, siang, malam juga berbagai makanan kecil dan camilan favoritku. Selain itu kamu juga harus memberiku sebuah kamar yang ada di rumahmu untuk aku gunakan sesukaku. Lalu.." Rey mengangkat tangannya ke atas sebagai isyarat untuk Erika berhenti berbicara.


Lalu Rey berkata, "Terserah padamu saja.."


Erika tersenyum lebar padanya.


Tatapan mata Rey melembut dan sekilas tersungging senyuman tipis dibibirnya. Walaupun hanya sekelibat, namun senyum tipis itu nampak dimata Erika dan membuat jantungnya sedikit berdebar. Semakin lama debaran yang Erika rasakan semakin kencang. Karena mereka saling bertatapan kala itu. Erika lalu menyendok sesuap bubur untuk mengalihkan debaran jantungnya.


"Boleh?" Tanya Erika sebelum menyuapi Rey. Rey mengangguk mengiyakan dan dia membuka mulutnya agar Erika dapat menyuapinya. Lalu dengan lembut, dia mengambil sendok itu.


"Berikan padaku, aku bisa makan sendiri." Ucap Rey.


Ternyata benar apa yang Dokter Steve katakan. Hati Rey mulai melunak. Akankah nantinya di kemudian hari, hati Rey benar-benar berubah menjadi lebih lembut dan terbuka untuk dapat merasakan dan memperoleh kebahagiaan di dalam hidupnya. Sehingga hidupnya yang gelap dan kelam dapat berubah menjadi cerah dan bahagia?


***