
Di rumah Rey terlihat ada seorang wanita yang berparas cantik dengan wajah yang sedikit beraksen bule. Dia memang seorang yang memiliki darah keturunan campuran. Namanya adalah Bella Amanda Rose. Bella adalah seorang model dan pernah menggunakan jasa Rey untuk menjadi bodyguardnya beberapa kali. Dan Rey cukup berjasa padanya karena dulu ia pernah menyelamatkan Bella saat mendapat serangan dari saingannya di dunia permodelan. Itulah awal mulanya mereka berkenalan dan sejak itu Bella sering menggunakan jasanya sebagai penjaga yang melindunginya. Kini Rey menghubungi dirinya untuk meminta bantuannya yang tentu saja diberikannya dengan senang hati. Rey juga menceritakan tentang kondisinya yang sedang sekarat dan memintanya untuk merahasiakannya.
Di kamar Rey, Bella duduk bersama dengan Dokter Steve sambil sedikit membicarakan tentang kondisi Rey. Sedangkan Rey masih dalam keadaan tertidur dan belum terbangun juga karena masih dalam pengaruh obat yang dokter berikan. Saat ini jam menunjukkan hampir pukul 8 malam. Itu berarti Rey sudah tertidur selama 2 jam.
Terdengar ada suara mesin mobil yang berasal dari arah luar rumah dan suara mobil itu semakin jelas terdengar.
Dokter segera melakukan sesuatu pada Rey untuk membuatnya terbangun dan setelah itu dia pergi ke suatu tempat untuk bersembunyi.
Suara mobil itu telah berhenti. Itu adalah suara dari mobil Kei. Ia dan Erika telah sampai di depan rumah Rey. Erika menempelkan jari telunjuknya pada kunci pintu rumah dan pintu terbuka. Mereka berdua lalu berjalan masuk menuju kamar Rey. Pintu kamar Rey dalam keadaan tertutup rapat. Erika mengetuk pintunya namun tidak ada jawaban. Ia lalu berdiri untuk menunggu sebentar dan mengetuknya lagi.
Selang beberapa detik, masih tidak ada suara sahutan dari dalam kamar Rey. Tetapi Erika tahu kalau di dalam kamar ada orang karena ia seperti mendengar ada suara-suara yang tidak begitu jelas. Erika memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya.
"Rey ...? Haa ... ap!!" Erika langsung berteriak kaget dan segera menutup mulutnya dengan tangannya. Kei ikut melihat ke dalam kamar. Terkejut, Kei langsung membalikkan badannya dan menutupi pandangan Erika dengan tubuhnya.
Di dalam kamar terlihat Rey sedang berbaring di atas tubuh seorang wanita dengan keadaan setengah tubuh bagian bawah mereka tertutupi selimut. Wajah wanita itu tak terlihat karena tertutupi oleh kepala Rey yang sedang menempel padanya seperti sedang mencumbunya. Dan di lantai sekitar mereka, tergeletak beberapa helai pakaian yang berserakan seperti habis dilempar secara acak.
Setelah beberapa saat, Rey menghentikan aksinya karena mendengar suara teriakan Erika yang memanggil namanya. Ia memindahkan tubuhnya ke atas kasur dan mengubah posisi tubuhnya menjadi posisi duduk tetapi dengan menghadap ke sisi yang membelakangi mereka. Rey lalu menolehkan wajahnya kearah mereka.
"Ada apa kalian datang kemari?" Tanyanya dengan muka yang tampak tidak senang karena terganggu oleh kedatangan mereka.
Erika sedang menangis dengan sesegukan dalam pelukan Kei. Erika melepaskan dirinya dari Kei dan tanpa berpijak dari tempatnya berdiri, Erika bertanya pada Rey. "Inikah kejutan yang ingin kamu berikan padaku di hari ini?" Kepalanya terus menunduk ke bawah agar arah pandang matanya juga tertuju ke bawah, karena ia tidak berani melihat ke arah Rey.
Rey hanya diam saja. Dia tadi sudah membalikkan wajahnya kembali membelakangi sisi mereka dan sekarang ia tidak menolehkan wajahnya ataupun berbalik untuk menghadap ke arah Erika yang sedang bertanya kepadanya. Dia malah asik membelai rambut wanita yang ada didekatnya sambil memainkannya. Seperti yang suka ia lakukan juga pada Erika.
"Mengapa kamu datang ke rumahku dan dengan lancang masuk ke kamarku tanpa seijinku? Apakah kekasih lamamu tidak memberitahumu kesepakatan yang telah kubuat dengannya? Pergilah, dan jangan mengusikku lagi!" Teriak Rey dengan marah dan nada suara yang membentak. "Aku sudah cukup memberimu kenangan indah dan manis. Anggap itu sebagai hadiah untukmu karena pernah menjadi bagian dalam hidupku. Aku harap kamu segera tersadar dan terbangun dari mimpi indahmu tentangku. Lupakanlah segala hal tentang diriku. Dan jangan kembali datang kepadaku atau menggangguku lagi." tambahnya.
"Mengapa ... mengapa kamu begitu kejam memperlakukanku seperti ini. Apa kesalahanku?"
"Kamu tidak melakukan kesalahan, hanya saja aku sudah bosan bermain-main denganmu. Apalagi kamu terlalu menganggap serius hubungan kita dan selalu mendesakku untuk menikahimu. Aku kejam?Hhh, sepertinya kamu telah melupakan seperti apa diriku yang sebenarnya. Aku memang seorang yang jahat dan berhati dingin. Kamulah yang begitu bodoh dan naif sehingga gampang tertipu dan masuk dalam jebakanku."
Erika tersontak mendengar jawaban Rey yang sungguh sangat menyakitkan untuk didengarnya. Ia benar-benar tak menyangkanya bahwa pria yang sangat dicintainya dan yang ia pikir juga sangat mencintainya akan melakukan hal menyakitkan seperti ini padanya. Dan setelah apa yang ia lakukan padanya selama dua hari lalu.
Tanpa bisa ditahan lagi, tangis Erika langsung pecah. Airmatanya mengalir begitu deras hingga dengan segera membanjiri kedua pipinya. Erika merasa harga dirinya runtuh dan seakan dunianya telah berakhir. Ingin rasanya ia menghilang selamanya dari muka bumi.
"Kamu benar-benar telah menghancurkan hatiku dan juga hidupku. Saat ini, hatiku benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat. Bagaikan ribuan panah menusuk hatiku dengan sangat tajam dan sangat dalam. Mengapa tidak kamu siksa saja tubuh fisikku dengan kekejamanmu itu hingga aku benar-benar tersiksa sampai mati dan menghilang dari dunia ini sehingga aku tidak perlu mengalami penderitaan yang berkepanjangan sepert ini ...." Erika terus menangis karena rasa sakit hati yang dirasakannya hingga tubuhnya terasa lemas dan akan terjatuh, namun Kei segera memegangi tubuhnya.
Lama tidak ada jawaban. Erika tahu, sama seperti biasanya Rey hanya akan mendiamkannya. Ia lalu memberanikan diri untuk melihat ke arah mereka. Dan pemandangan yang dilihatnya itu semakin membuatnya terkejut. Wanita itu dan Rey sedang berpelukan dengan wajah yang saling menempel. Rey terlihat sedang membenamkan wajahnya ke leher wanita itu dan wanita itu terlihat sedang mencumbunya juga. Padahal yang dilakukan Bella sebenarnya adalah membisikkan sesuatu pada Rey yaitu "Rey, bertahanlah sedikit lagi ... Tenang saja, aku akan melakukan aksiku dengan baik."
Setelah selesai membisikkan kata-katanya, Bella menatap kearah Erika dengan tatapan mata yang terlihat menggoda dan senyuman yang terkesan sedang mengejeknya.
Dengan airmata yang terus bercucuran, Erika berlari pergi meninggalkan mereka.
Melihat apa yang sedang terjadi di depannya, Kei serasa memori ingatannya saat kecil dulu sedang diputar kembali. Memori disaat ia melihat ayahnya dan wanita selingkuhannya yang kemudian menjadi ibu tirinya sedang bercumbu mesra di ruang kerja ayahnya.
Kei lalu menatap tajam dan mengintimidasi kepada Bella sehingga membuat nyali Bella mengkerut dan menjadi salah tingkah. Karena Bella mengenal sosok Kei Takahiro yang adalah pebisnis muda dengan reputasi baik dan tak main-main.
Lalu Kei beralih menatap tubuh belakang Kei dengan keheranan. Mengapa tiba-tiba sikap pria itu berubah drastis hingga memperlakukan Erika dengan begitu kejam dan tak berperasaan seperti ini. Dan perselingkuhan itu, terlihat seperti sengaja dibuatnya. Hal itu terlihat dari gerak gerik dan bahasa tubuh mereka yang daritadi Kei amati. Bagaimanapun, seseorang yang ketahuan sedang berhubungan intim pasti akan mengalami keterkejutan saat dilihat orang lain. Tetapi wajah mereka terlihat biasa saja bahkan terlalu tenang. Dan seolah mereka memang dengan sengaja ingin mempertunjukkannya keintiman yang palsu itu. Kei berpikir dia harus berurusan dengan pria itu lagi nanti. Karena saat ini yang terpenting yang harus ia lakukan adalah menyusul Erika dan menenangkannya.
Setelah mereka pergi, Rey langsung tumbang dan tubuhnya terbaring dengan lemah. Dadanya terasa sakit dan sesak. Nafasnya terasa berat dan ia merasa kesulitan untuk bernafas. Kesadaran dirinya pun perlahan-lahan menghilang.
"Dokter ... Dokter ... tolong dia ....." Bella berteriak memanggil Dokter Steve. Dokter Steve yang daritadi bersembunyi segera keluar mendatangi Rey dan memeriksanya. Dokter lalu memasangkan masker oksigen kembali pada hidung Rey untuk membantunya bernafas.
Ciiittt ....
Terdengar suara bunyi rem yang berdecit dengan sangat kencang dari jalan raya di luar rumah. Mendengar suara berdecit itu, mata Rey langsung membuka lebar dan kesadarannya telah kembali.
"Erikaa ...!" teriaknya. Rey langsung melepaskan masker oksigen yang sedang dipakainya dan berusaha untuk turun dari ranjang.
"Rey ...! Berhenti, kamu tidak boleh bangun." Dokter Steve berusaha menahan tubuh Rey. Tapi Rey tidak mendengarkannya, ia memberontak dan mendorong tubuh dokter dengan kasar. Lalu dengan tubuh sempoyongan ia memaksa untuk melangkah pergi keluar jalanan.
"Aku harus keluar melihatnya ... " Tetapi saat baru berjalan beberapa langkah, tubuh Rey terjatuh dengan posisi terduduk. Ia mencoba untuk bangun lagi tapi tubuhnya terlalu lemah dan tidak memiliki tenaga untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Tangis Rey pun merebak. Disela tangisnya itu, Rey berkata "Dokter, aku harus melihatnya ...." ucap Rey dengan berlinangan airmata. "Bantu aku, kumohon." Rey memandangi Dokter Steve dengan tatapan memohon dan tampak pilu.
Dokter pun merasa iba dan hatinya tak kuasa untuk menolaknya. Selama ini ia melihat Rey selalu menutupi perasaannya dengan memasang wajah yang tampak begitu dingin dan tak berperasaan. Tetapi sekarang Rey kembali menunjukkan emosi dan perasaan hatinya yang sesungguhnya. Dirinya saat ini sedang menangis dan berlinangan airmata sambil memohon padanya. Membuatnya kembali teringat dengan Rey kecil dulu, saat ibunya tiada. Begitu lemah dan begitu rapuh tapi berkemauan keras untuk mencari ibunya.
Dokter Steve dan Bella membantu Rey untuk berdiri dan memapah tubuhnya berjalan menuju keluar rumahnya.
***