Happiness For You

Happiness For You
73 Melepas Rindu



Gedung kantor tempat Rey sedang menunggu tampak ramai. Banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk gedung tersebut. Namun, saat hari semakin sore, semakin banyak orang yang berjalan keluar dari gedung karena sudah jam pulang kantor bagi para karyawan yang bekerja disana.


Di atas trotoar yang terletak di pinggir gedung tersebut sudah terlihat banyak karyawan yang sedang berdiri menunggu jemputan mereka. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan sebagian besar dari mereka memiliki pandangannya yang terarah kepada Rey yang sedang duduk di atas motornya di pinggir jalanan sekitar trotoar. Ada beberapa dari mereka yang saling berkumpul seperti berkelompok sedang mengobrol membicarakan dirinya dengan suara yang cukup keras sehingga Rey dapat mendengarnya. Tetapi Rey tidak menyimak obrolan mereka karena ia sendiri sibuk mencari orang yang sedang ditunggunya diantara kerumunan para karyawan kantor yang sedang berjalan keluar dari pintu utama gedung kantor tersebut.


Akhirnya seseorang yang ditunggunya muncul juga dan ternyata dia adalah Erika, wanita yang telah sangat dirindukannya. Tetapi seketika ia melihat sosok Erika di sana, Rey langsung buru-buru mengenakan helmnya kembali dengan bermaksud untuk menutupi wajahnya. Dibalik helmnya, ia terus memandangi wajah Erika di kejauhan. Hingga ketika Erika yang sedang berjalan menuju ke arahnya sudah semakin dekat dengannya, wajah Rey menjadi tegang. Padahal wajahnya tertutup helm dan Erika pastinya tidak dapat mengenalinya. Kemudian, langkah kaki Erika terhenti saat ia sudah sampai di atas trotoar dan ikut bergabung dengan teman-temannya yang sudah berdiri di sana sejak beberapa menit lalu.


"Hai ...." sapa Erika kepada teman-temannya menginterupsi obrolan mereka.


"Hai Erika ..." balas teman-temannya hampir serempak.


"Lagi pada ngobrolin apa sih? Seru banget." tanya Erika penasaran.


Rey yang ada didekatnya dapat mendengar suara Erika yang sedang bertanya pada temannya.


"Kita lagi ngomongin cowok ganteng yang lagi duduk di atas motor gede itu. Gila, tuh cowok kerenn abis." Kata salah satu temannya sambil menunjuk ke arah Rey.


"Iya dia keren banget, kayak pemeran pria di drakor gitu. Dari tadi kita bertiga asik memperhatikannya. Lumayan, dapat pemandangan bagus untuk dilihat sambil menunggu jemputan."


Rey yang juga dapat mendengar ocehan teman-teman Erika itu, merasa risih karena dirinya sedang dibicarakan dengan suara yang cukup keras pula. Ia pun mendumal dalam hatinya.


Tuh cewek-cewek suaranya kencang amat dan heboh bangett ... Dikira aku ga bisa dengar apa??  ... mentang-mentang aku lagi pake helm dan kupingku ketutupan ... ck, ck, ck ....


"Betul banget, tuh cowok mukanya seganteng pemain drakor. Ehh ... tapi sih kulitnya agak berwarna kecoklatan dan matanya ga sipit kayak orang korea deh. Tapi lumayanlah, dapat pemandangan indah jadi tidak bosan sambil menunggu. " Celetuk temannya yang lain.


Busedd ... Gak difilter lagi ngomonginnya. Kulitku dibilang coklat, mata ga sipit. Ya iyalah ga kayak orang Korea, aku keturunan Jepang, woiii! Rey berteriak dalam hatinya.


"Tampangnya sih kayak artis lokal tapi gayanya sekeren artis drakor. hihihi ...."


Mendengar kalimat yang ini, Rey ikut terkekeh dibalik helmnya.


Akhirnya Erika bersuara menanggapi ocehan heboh teman-temannya.


"Kalian heboh banget sihh ... Aku saja gak nyambung, drakor itu apaan?" Rey mengangguk setuju dengan Erika karena dia juga ga ngerti.


"Yaelah, kamu ketinggalan nih, ga gaol. Drakor tuh singkatan dari drama korea. Gitchuu lohh ...."


"Ohh drama korea. Tapi memang benar tuh cowok seganteng orang korea? Lagian tuh mukanya aja ketutup, tahu dia keren darimana? Mungkin cuma motornya aja yang keren. Belum tentu kan tampangnya sekeren motornya." Rey memutar bola matanya. Ia berceletuk dalam hatinya ini gara-gara ulah kakaknya yang memaksanya membeli motor sekeren ini.


"Ya, walaupun kalau diamati bodinya cukup keren juga dan terlihat gagah sih ..." Ucap Erika sambil menatap ke arah tubuh Rey yang tertutup jaket kulit yang lalu pandangannya itu diikuti oleh teman-temannya dan secara serempak mereka mengamati tubuh Rey selama beberapa detik.


Hmm ... dia memuji bodiku. batin Rey lagi sambil senyam senyum sendiri dan merasa senang.


"Tapi kalau kutebak sih, mukanya b-aja atau mungkin sangar kayak preman geng motor gitu."


Jlebb jlebb!


Rey yang awalnya senang karena bodinya dipuji keren dan gagah, sekarang jadi meradang karena tampangnya dibilang biasa saja dan sangar oleh wanita yang telah sangat dirindukannya itu.


Hmm ... b-aja? masa aku seorang gangster yang keren gini dibilang sangar kayak preman ... Kalau saja kita ga lagi marahan, uda aku buka ni helm dan langsung memeluknya. Grrr!


"Kalau gak, dia pasti uda buka tuh helmnya dan tebar pesona di sini dengan kegantengannya. Apalagi banyak tuh cewek-cewek di sini yang lagi pada bosan menunggu. Ditambah ada aku yang cantik pula." Celetuk Erika dengan malas sambil mengibaskan rambut panjangnya yang terurai sedikit ke belakang dengan gerakan telapak tangannya yang dibuat gemulai dan memainkan senyumnya agar tampak cantik dan menggoda.


Nih anak satu ternyata narsis juga ... tapi dia memang cantik ...


Ketika Erika mengibaskan rambut panjangnya yang terurai sambil memainkan senyumnya, Rey jadi terpesona melihatnya dan ia tersenyum senang sambil mengagumi wajahnya.


"Woahh narsis narsis ... "


"Huahaha ..."


"Lagian kamu telat sih datangnya, jadi ga keburu liat mukanya. Tadi mah dia open show." lanjut temannya menimpali ucapan Erika.


"Bener yang Icha bilang. Dia tadi ga pakai helmnya dan kita sempat melihat mukanya yang ganteng bangettt itu ...."


"Eh ... eh ... jangan-jangan nih ya, dia nutupin mukanya karena ada Erika datang. Soalnya pas banget, kan, pas dia nongol tuh cowok uda pake lagi helmnya."


"Iya, benar juga, tuh. Mungkin dia takut sama Erika ..." Lalu teman-temannya tertawa dengan kompak menertawakan Erika. Rey yang mendengarnya juga merasa geli dan ingin ikut tertawa jadi ia pun menahan tawanya sampai bahunya tampak berguncang.


Wow betul banget. celetuk Rey lagi dalam hatinya. Ternyata teman-temannya pintar bisa menebaknya.


"Ihh kalian ... gak lucu deh ... Bodo amat ah! mau ganteng kayak drakor aku juga ga peduli sama tuh cowok, orang gak kenal juga." Erika melirik kesal ke arah Rey karena gara-gara dia dirinya digoda teman-temannya. Ia lalu menyadari kalau pria itu sedang ikut tertawa juga, menertawakan dirinya dan Erika memelototinya dengan kesal.


Tiin ...


Terdengar bunyi suara klakson yang pelan dan lembut dari sebuah mobil sedan berwarna hitam yang baru saja tiba dan berhenti tepat di depan Erika. Rey tahu bahwa mobil itu milik Erika dan supirnya yang datang menjemputnya.


"Sepertinya aku sudah dijemput, aku duluan ya. Bye teman-teman ...." ucap Erika berpamitan pada teman-temannya.


"Bye .... " balas teman-temannya secara serempak.


Sambil berjalan masuk ke dalam mobilnya, Erika melirik lagi sekilas kepada Rey dengan mata yang masih sedikit melotot. Rey pun mengangkat sebelah telapak tangan kanannya, seperti melambai padanya. Membuat Erika langsung memiringkan sedikit kepalanya menjauh dengan terheran dan merasa mencurigakan. Ia lalu buru-buru naik ke mobilnya, merasa seram sendiri.


Setelah Erika masuk ke dalam mobil dan mobilnya telah melaju pergi, Rey pun ikut melajukan motornya pergi dari situ dan melewati mobil Erika dengan motornya yang melaju dengan sangat kencang. Erika melihatnya dan kembali merasa penasaran. Lalu ia terus mengamatinya sampai Rey dan motornya menghilang di kejauhan.


***


Keesokan harinya, saat hari masih siang, Rey pergi lagi dengan mengendarai motornya. Seperti biasa, anak buah Kei mengikutinya dan melapor padanya. Kei memiliki feeling yang kurang baik karena Rey pergi di saat siang hari dan sepertinya dia tahu apa yang akan adiknya lakukan. Kebetulan saat itu ia sedang memiliki waktu senggang, jadi ia memutuskan untuk mengikutinya juga.


Ternyata dugaan Kei benar. Saat ini Rey sedang ingin menemui bos besarnya, Tuan Yoshiro. Kini, dia telah sampai di depan gedung kantor bosnya tersebut. Untung saja Kei masih bisa keburu untuk menyusul adiknya. Sesampainya di sana, Kei segera turun dari mobilnya dan segera menghadang adiknya yang sudah akan masuk ke dalam gedung. "Berhenti Ken! Jangan masuk!" teriaknya untuk mencegah Rey masuk ke dalam gedung kantor tersebut.


"Kak Kei?" Rey melihat dengan tatapan tak percaya dan terkejut karena melihat sosok kakaknya yang sedang berada didepannya. "Bagaimana kakak bisa tahu kalau aku sedang ada di sini? Apa kakak memata-matai dan mengikutiku?"


"Maaf Ken, aku memang melakukannya. Aku mengkhawatirkan dirimu."


"Kakak!" Rey meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangannya untuk menuangkan kekesalannya. Lalu ia menghempas kuat kedua tangannya itu secara berbarengan ke samping tubuhnya. Matanya memerah dan rahangnya mengeras. Berbagai emosi negatif muncul berbarengan dalam dirinya. Ia merasa marah, tersinggung dan juga kecewa terhadap kakaknya.


"Mengapa kamu memata-mataiku? Aku bukan anak kecil lagi. Aku juga bukan seorang tahanan yang akan kabur atau seorang penjahat yang ingin melakukan suatu perbuatan buruk dan membahayakan banyak orang."


"Aku tahu, dan bukan itu maksudku mengikutimu. Sudah kubilang, kalau aku mengkhawatirkan keadaanmu karena kamu baru sembuh, Ken. Belum lagi kamu ngotot untuk membawa motor sport saat berpergian. Lalu sekarang, kamu mendatangi bos mafiamu yang menakutkan itu. Apakah dia yang memerintahkanmu untuk datang?"


"Tidak." Rey menurunkan tatapannya jauh ke depan, menolak menatap kakaknya.


"Jadi, kamu sendirilah yang ingin menemuinya?" Rey mendiamkannya. Kei menduga kalau Rey ingin meminta pembebasan dirinya dari bosnya itu. "Jangan bilang kalau kamu ingin meminta pembebasan dirimu dari mereka?" Rey terkesiap mendengar pertanyaan kakaknya, tetapi ia tetap tidak menanggapi kakaknya. Ia tak menyangka kalau kakaknya bisa mengetahui apa yang sedang ingin ia lakukan. Kei tahu kalau yang ditanyakan itu benar, karena ia menangkap pergerakan mata Rey yang sedang menghindarinya, berputar di dalam kelopak matanya. "Ken, tatap aku dan jawab aku!"


"Baguslah kalau kakak sudah bisa menebaknya. Jadi, kakak menyingkirlah dan jangan ikut campur urusanku." Rey kembali melangkahkan kakinya menuju ke dalam gedung.


"Tidak Ken! Kamu tidak boleh melakukannya. Biarkan aku yang menggantikanmu untuk menemui bosmu dan menyelesaikan masalah ini."


"Ini adalah masalahku, kakak jangan -"


"Apakah aku tidak berhak atas apa yang akan terjadi pada hidupmu? Setelah apa yang kulakukan untukmu ... Tolonglah kamu hargai segala pengorbananku untukmu, jangan selalu membuatku takut dan berada dalam kesulitan karena ulahmu yang egois dan keras kepala itu." Kei merasa sesak, ia sampai harus menarik nafasnya kuat-kuat agar bisa menghirup udara segar dan melegakan dadanya.


Mendengar penuturan kakaknya itu, Rey merasa sangat marah tetapi juga merasa sangat bersalah. Perlahan, Rey berjalan mundur sebagai tanda bahwa ia mengalah dan mempersilahkan kakaknya untuk melakukan apa yang kakaknya mau.


"Tunggu aku di sini." Kei memegang bahunya sambil lalu untuk kemudian berjalan masuk dan menemui Tuan Yoshiro. Rey hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya merasa kesal dengan dirinya sendiri dan dengan situasi yang ia miliki yang selalu menyulitkannya dan harus ia hadapi dalam hidupnya.


***