Between

Between
Bab 95 Tidak Ada yg Bisa Membuatku Nyaman Selain Kamu



Tanpa sadar Lana menahan nafas.


Ia benar-benar gugup.


Didepannya, Kyoya menyuapkan satu gulungan besar spaghetti ke dalam mulut.


"Hhmmm.."


Wajah Kyoya menunjukkan ekspresi tak menyangka juga kagum. Laki-laki itu tampak menikmati setiap kunyahannya.


"Bagaimana?" Lana tidak percaya dengan ekspresi yg ditunjukkan laki-laki itu.


"Wortelnya masih keras ya? Mie nya kelembekan?" tanyanya was-was.


Mungkin seperti ini rasanya menjadi peserta ajang memasak bergengsi Master Chef ketika masakan mereka dinilai para juri. Degdegan nya luar biasa, ngalah-ngalahi menunggu hasil pengumuman dari dosen penguji saat presentasi skripsi.


Kyoya menelan dengan puas.


Lalu tersenyum dengan mata berbinar. Ia mengacungkan dua jempol.


"Semuanya pas chef. Enak sekali." puji laki-laki itu.


Lana masih tidak percaya, mana mungkin resep spaghetti biasa seperti ini bisa cocok di lidah Kyoya yg rewel dan terkenal sulit.


Kyoya memperhatikan Lana yg tidak mulai makan malah bengong.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak Lana. Tapi aku bersumpah hanya mengatakan kebenaran. Ayo makanlah, keburu dingin."


Laki-laki itu menyendok lagi lalu mulai makan dengan lahap, dengan tetap berwibawa dan elegan.


Lana mengulum senyum. Kyoya terlihat jujur, syukurlah laki-laki itu tampak sangat menikmati makanannya.


Lana pun mulai mengambil garpu dan ikut makan.


Hmm, memang enak, batinnya.


Rasanya lebih enak dari spaghetti yg biasa aku masak, kok bisa ya padahal resepnya sama.


Apa karena kacang polong yg diseleksi Kyoya, atau karena keberadaan laki-laki itu yg membuat Lana jadi tak sengaja menaburkan bumbu cinta? Idih.. Lana geli sendiri dengan pikirannya.


Tak butuh waktu lama, kedua piring itu bersih tandas.


Lana mengusap perutnya yg sedikit membuncit dengan puas. Ah, kenyang sekali, enak sekali.


Kyoya sedang menghabiskan air putihnya.


Lana bangkit lalu berjalan menuju kulkas, mengeluarkan kotak tertutup berisi buah melon yg sudah dipotong Cika kemarin sore dari dalam kulkas.


"Dessertnya tuan, silahkan."


Lana meletakkan piring kecil yg sudah terisi potongan melon dingin ke tengah meja makan. Lalu duduk lagi di kursi.


Kyoya tersenyum. "Terimakasih."


Laki-laki itu mengambil garpu kecil di pinggir piring buah lalu menusuk satu potongan dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Segar dan manis."


Kyoya mengembalikan garpu di pinggir piring lalu menyorongkan piring itu ke arah Lana.


Gadis itu menggeleng. "Untukmu saja, aku sudah makan kok."


Kyoya menarik kembali piring itu agar mendekat. Lalu mulai sibuk melahap melon segar itu.


Lana merasa sekarang lah momen yg tepat.


Tanpa bersuara Lana berdiri lalu berjalan ke meja dapur.


Dengan tubuhnya, ia menutupi meja saat mengeluarkan kue dari kantong plastik. Sengaja pelan-pelan agar tidak terdengar mencurigakan.


Lana meraih korek dan beberapa batang lilin kecil sisa pesta ulang tahun beberapa tahun lalu dari atas lemari.


Sambil melirik Kyoya yg masih diam sibuk memakan melonnya, Lana mulai menusukkan tiga batang lilin di tengah kue. Lalu menyalakan korek dan menyulut ketiga lilin itu.


Oke surprise nya sudah siap.


Lana menaruh korek di atas toples gula. Lalu dengan hati-hati menunduk untuk mengangkat alas kue itu.


Gadis itu berbalik.


Kyoya masih menunduk sibuk dengan piring buahnya yg sudah hampir habis.


Lana berjalan pelan-pelan sambil bernyanyi.


"Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. Happy birthday dear Kyoyaaa.."


Kyoya menoleh dan terlihat kaget.


Wajahnya langsung pucat. Ia memperhatikan Lana berjalan mendekat dengan kue kecil ditangannya. Api dari ketiga lilin bersinar meliuk di setiap langkah Lana.


"Happy birthday to youuu.."


Lana mengakhiri nyanyiannya sambil meletakkan kue itu ke depan Kyoya dengan hati-hati.


Lana memasang senyum manis.


Tapi kemudian senyum itu surut. Ia memperhatikan Kyoya yg diam saja.


Lana mendadak diterpa perasaan bersalah.


"M-maaf ya, kamu pasti tidak suka ada kejutan seperti ini." kata gadis itu pelan.


Kyoya memperhatikan kue itu, lalu ganti menatap Lana.


"Lalu kenapa tetap membelinya?" tanya Kyoya, wajahnya tak bisa ditebak. Lana jadi takut sudah membuat pria itu marah.


"Maaf. Aku hanya merasa, hari ulang tahun tidaklah lengkap tanpa kue." Lana memperhatikan Kyoya yg tidak tersenyum sama sekali.


Menyadari ia sudah membuat kesalahan, Lana buru-buru mengambil kue itu.


"Kalau kamu tidak suka, aku akan memakannya sendiri nanti." Gadis itu hendak menyingkirkan kue itu.


Tapi Kyoya menahan tangan Lana.


"Sekali ini saja."


Laki-laki itu menatap Lana tegas. "Jika lain kali kamu membelinya lagi, aku tidak akan mentolerirnya seperti sekarang."


Lana mengerjap, lalu mengangguk. Sambil membatin, memang tahun depan Kyoya akan merayakan ulang tahunnya bersama Lana lagi?


"Biasanya berdoa dulu sebelum meniup lilin kan?" tanya Kyoya, mulai rileks.


Lana mengangguk lagi. Lega karena laki-laki itu akhirnya mau menerima surprise Lana, yah meski dengan terpaksa sih.


Kyoya memejamkan mata, tampak damai.


Diam-diam Lana mengagumi ketampanan laki-laki didepannya itu.


Entah permintaan apa yg diucapkan Kyoya dalam hati.


Lana diam menunggu sampai laki-laki itu membuka mata.


"Doanya lama juga ya." Lana berusaha mencairkan suasana.


Kyoya tersenyum. "Karena ini doaku yg pertama kalinya di hari ulang tahunku sejak aku berumur 10 tahun."


Lana jadi bersimpati. Jadi sejak laki-laki itu berumur 10 tahun, dia tidak pernah lagi merayakan ulangtahunnya?


Kyoya menatap Lana. "Boleh aku tiup lilinnya?"


Lana tertawa kecil. "Silahkan. Ini kan kue ulang tahunmu."


Kyoya mencondongkan tubuh mendekat ke kue lalu..


Fyuuhh..


Tiga lilin kecil itu langsung padam. Asap putih meliuk-liuk ke atas dari batang lilin.


Plok plok plok.


Lana bertepuk tangan dengan ceria.


"Selamat bertambah umur Kyoya. Semoga sehat dan bahagia selalu." ucap Lana tulus.


"Terimakasih. Dua puluh tujuh tidak buruk juga." Kyoya membantu Lana mencabut lilin berwarna kuning, menaruhnya di pinggir alas kue.


"Sudah tua ya anda." ledek Lana bercanda.


Kyoya tertawa kecil.


"Mau dipotong?" Lana sudah siap dengan pisau roti ditangan.


"Sedikit saja. Kamu tahu aku tidak begitu suka manis."


Kyoya lalu menerima piring kecil berisi kue yg sudah diiris Lana.


"Berarti ini untukku?" Lana menunjuk sisa kue yg bagiannya paling besar.


Kyoya mengangguk, mulai menyendok kue ke dalam mulutnya.


"Yeeyy.." Lana menarik alas kue itu mendekat lalu langsung menyendok besar kue itu tanpa memotongnya terlebih dulu.


Lana menyuapkan kue ke mulut, langsung merem melek karena kue itu lumer dan lembut. Rasa tiramisu yg manis memenuhi rongga mulutnya.


"Enak juga ternyata." gumam Lana, menyendok lagi.


"Sangat manis." komentar Kyoya, mendorong piring kuenya yg sudah kosong ke tengah meja.


"Aku boleh mengambil minum lagi?" tanya laki-laki itu sopan.


Lana mengangguk, lalu memerhatikan Kyoya berdiri sambil memegang gelasnya yg kosong. Laki-laki itu mengisi ulang gelasnya sampai penuh dengan air dari dispenser.


Lana masih asyik makan kue.


Sementara Kyoya kembali duduk, lalu meminum airnya hingga tinggal separuh gelas.


"Hari ini adalah hari kecelakaan yg menewaskan kedua orangtuaku."


Tiba-tiba Kyoya berkata. Menaruh pelan gelasnya ke meja.


Lana hampir tersedak kuenya.


Ia membelalak tak percaya dengan apa yg barusan didengarnya.


Lana menaruh pelan sendok kuenya, lalu balas menatap mata sendu laki-laki didepannya.


Lana langsung didera perasaan bersalah. Ia menunduk menatap kue yg tinggal separuh. Lana menyesal sudah menyuguhkan kue ini, karena tidak tahu kebenarannya.


"Karena itu kamu tidak suka perayaan ulang tahun?" tebak Lana hati-hati.


Kyoya mengangguk. "Mungkin itu salah satunya."


"Sebelum kecelakaan itu terjadi, kami sekeluarga dalam perjalanan pulang sehabis merayakan hari ulang tahunku."


Lana membekap mulut, syok mendengar cerita ini. Ia baru tahu karena selama Kyoya menjadi kekasihnya, laki-laki itu tidak pernah memberitahukan alasan mengapa ia anti pada momen ulangtahun.


Laki-laki itu menerawang. "Hari itu untuk pertama kalinya diusiaku yg kesepuluh, ayah mengajakku ke taman bermain. Kami sangat bersenang-senang. Pertama kalinya juga aku merasakan berada tinggi di langit karena naik wahana bianglala."


Lana mendengarkan dengan seksama.


"Aku masih ingat ayah membelikanku biskuit lapis eskrim yg sangat enak. Ibuku memegang tanganku erat saat ayah menantang keberanianku untuk masuk ke rumah hantu. Saat itu benar-benar menyenangkan."


"Ternyata.. Siapa yg bisa menduga, saat itu merupakan saat-saat terakhirku bersama mereka. Kalau tahu akan terjadi kecelakaan, mungkin aku tidak akan merengek terlalu banyak. Aku akan jadi anak yg lebih baik."


Kyoya menunduk. Suaranya terdengar sedih.


Mata Lana mulai berkaca-kaca. Ia seperti bisa merasakan pedihnya perasaan Kyoya.


"Ayah sudah mengajak pulang sejak sore karena tahu cuaca akan memburuk dari berita ramalan cuaca pagi harinya. Tapi aku bersikeras tak mau pulang."


"Hingga hampir petang. Karena itu di tengah perjalanan pulang, cuaca memburuk dan mungkin itu salah satu penyebab terjadinya kecelakaan."


Lana memperhatikan tangan Kyoya mengepal erat. Laki-laki itu tetap menunduk.


"Seandainya saja.. Saat itu aku tidak merengek, seandainya aku menuruti kata-kata ayahku, seandainya kami pulang lebih awal, mungkin saja.."


Kyoya menghela nafas dalam dan berat.


"Orangtuaku masih hidup."


"Kyoya.." Lana ikut sedih. Pasti laki-laki ini sangat merasa bersalah. Ia menganggap karena dirinyalah kecelakaan itu terjadi.


Kyoya mengangkat wajah, tampak matanya memerah menahan tangis.


"Bisa kau bayangkan Lana, setiap tahunnya, setiap kali hari ini datang, aku selalu teringat semua kenangan menyakitkan itu. Tapi orang-orang malah menyelamatiku dengan wajah gembira."


"Kamu sekarang mengerti kan bagaimana perasaanku?"


Bibir Lana gemetar. Ia mengangguk pelan. "M-maaf Kyoya. Aku benar-benar tidak tahu." ucap Lana sedih.


Ternyata karena alasan itulah Kyoya tadi menunjukkan ekspresi pucat seperti itu ketika melihat surprise Lana.


Gadis itu benar-benar menyesal sudah menyuguhi Kyoya kue tanpa tahu bagaimana perasaan laki-laki itu sebenarnya. Dan demi menyenangkan Lana, Kyoya memilih mengalah dan memendam rasa bersalahnya.


Kyoya terdiam. Rahangnya mengeras, sudut matanya berair.


"Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun. Hanya kamu seorang." ucapnya lirih.


Lana bangun dari kursinya dengan gedubrakan, bergegas menuju kursi Kyoya, langsung memeluk laki-laki itu erat.


"Terimakasih sudah menceritakannya padaku." ucap Lana pelan.


"Kyoya, kamu adalah anak baik. Percayalah, orangtuamu sudah memaafkanmu. Melihat dirimu yg sekarang, mereka pasti amat sangat bangga." Lana mendekap tubuh Kyoya yg menunduk. Lana bisa merasakan pundak laki-laki itu mulai gemetar.


"Jadi mulai sekarang maafkanlah dirimu Kyoya. Orangtuamu pasti tidak ingin kamu terus hidup dengan menyiksa diri dan dipenuhi perasaan bersalah seperti ini."


Lana mengusap punggung Kyoya lembut. Laki-laki itu terdengar menangis pelan.


"Semuanya akan baik-baik saja." bisik Lana.


Gadis itu mengusap pipinya yg basah.


Kyoya menegakkan tubuh lalu memeluk Lana erat. Laki-laki itu menelusupkan wajahnya ke perut Lana. Menumpahkan perasaannya yg terpendam hampir 16 tahun lamanya.


Lana tersedu-sedu sambil mengusap-usap kepala Kyoya lembut. Laki-laki itu memeluk semakin erat. Lana balas mendekap dengan penuh sayang.


...***...


Trek,


Lana menaruh dua cangkir kopi cappucino panas ke atas meja ruang tamu. Lalu menghempaskan pantat ke sofa empuk di sebelah Kyoya.


Laki-laki itu memandang lurus ke layar televisi yg sedang menayangkan film horor keluaran lama. Lana tahu Kyoya tidak benar-benar melihat tivi.


"Sungguh memalukan." gumam Kyoya.


Lana yg hendak membuka bungkus keripik rumput laut mengurungkan gerakannya. Lana menoleh dan mendapati Kyoya sedang mengernyit.


"Menangis seperti tadi dipelukanmu, benar-benar memalukan." Kyoya bersandar ke sofa sambil menutup wajah dengan kedua tangan.


Lana tertawa kecil.


"Ada seseorang yg pernah berkata kepadaku, kita semua pasti pernah melalui hal yg berat, kadang menangis itu memang diperlukan. Jadi tidak apa-apa Kyoya."


Lana mengulurkan tangan untuk mengusap lengan laki-laki itu lembut. "Aku jadi tahu sisi lain dari CEO MT Corporation."


"Kamu terlihat imut saat menangis." goda Lana.


Kyoya menurunkan tangan. Karena kulit laki-laki itu yg putih mulus, wajahnya tampak semerah tomat matang.


Lana tertawa lagi. Padahal di layar tivi hantu boneka yg menyeramkan muncul mengagetkan, tapi tidak begitu membuat Lana takut lagi. Lana sudah pernah menonton film ini, jadi ia lumayan hafal alur filmnya.


Kyoya memilih mengabaikan Lana lalu membungkuk untuk meraih bungkus popcorn karamel di atas meja.


Setelah bertangis-tangisan bersama, Kyoya mengucapkan terimakasih lalu memilih menyendiri duduk di sofa ruang tamu.


Lana memberikan Kyoya waktu untuk menenangkan diri.


Dari pintu kaca, Lana melihat langit yg ternyata sudah gelap, sudah hampir pukul tujuh malam.


Lana menebak-nebak apakah Kyoya akan segera pamit pulang atau laki-laki itu masih ingin disini karena hadiah spaghetti bolognese yg ia inginkan sudah tercapai. Hati Lana terasa berat, ingin laki-laki itu agar tetap disini sebentar lagi saja.


Kyoya tiba-tiba bertanya dimana remote tivi, ia meminta ijin ingin menonton film horor.


Lana tersenyum sambil mengangguk, dalam hati berteriak senang karena Kyoya tidak akan pulang sekarang.


Lana mengambilkan remote yg tersimpan di laci bawah buffet tivi, menyerahkannya pada Kyoya. Lalu bertanya apa laki-laki itu mau kopi.


Begitulah, kini mereka menonton film horor dari tivi kabel. Lana mempersilahkan Kyoya memilih film yg ditayangkan di beberapa channel. Kyoya memilih film horor ttg boneka yg dikutuk.


"Terimakasih Lana. Aku merasa sangat ringan. Ternyata bercerita bisa mengangkat beban yg terasa berat." Laki-laki itu menatap tulus.


Lana tersenyum. "Sama-sama."


Lana menunduk. "Sayangnya aku belum punya keberanian sepertimu untuk menceritakan kisah hidupku padamu."


Kyoya menatap Lana, tahu kisah apa yg dimaksud oleh gadis itu.


Kyoya mengusap kepala Lana lembut. Membuat gadis itu mengangkat kepala.


"Its okey. Suatu hari keberanian itu akan datang. Aku akan sabar menunggu."


Lana tersenyum, lalu menyodorkan bungkus keripik seaweednya.


"Mau?"


"Boleh." Kyoya mengambil sedikit. Ganti ia menawari Lana popcorn karamelnya. Gadis itu mengambil segenggam penuh.


Mereka lalu fokus menonton film sambil asyik nyemil. Sesekali mereka menyeruput kopi.


"Lana." panggil Kyoya, meletakkan bungkus popcorn yg sudah kosong ke atas meja.


"Hm?" Tanpa mengalihkan mata dari tivi, Lana menjawab.


Kyoya memutar tubuhnya agar menghadap Lana.


"Jika aku akhirnya menikah dengan Hana, menurutmu bagaimana?"


Uhuk, uhuk..


Lana tersedak keripiknya. Kyoya tadi bilang apa? Menikah?


Kyoya bangkit dari sofa, berjalan ke dapur untuk mengambilkan Lana air putih. Laki-laki itu kembali tak lama kemudian, membantu Lana minum sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Maaf sudah membuatmu kaget."


Lana menaruh gelas di meja. "Iya nih, pertanyaanmu lebih horor dari film yg kita tonton."


Kyoya meringis.


Laki-laki itu menatap Lana. "Apa kamu tahu, aku melakukan pertunangan ini dengan terpaksa. Sangat menyiksa harus berpura-pura terlihat bahagia, padahal aku sama sekali tidak bahagia."


Lana mengerjap. Menebak-nebak apa maksud Kyoya menceritakan hal ini.


Kyoya menunduk memandangi cincin di jarinya. "Jika kepura-puraan ini terus dilanjutkan, aku jelas akan menikah dengan Hana. Menurutmu, haruskah aku melakukannya? Sampai sejauh itu?"


Lana terdiam. Membayangkan Kyoya dan Hana di altar suci dengan memakai busana pengantin, hati Lana berdenyut menyakitkan.


Tapi toh ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hidup Kyoya sangat rumit. Lana tidak mau terjun ke dalam lubang memusingkan itu lagi, meski ia masih mengharapkan kebersamaan mereka.


"Kyoya.. Aku percaya yg namanya takdir. Kita bisa saja bersikeras ingin memilih pasangan yg kita mau, tapi kalau takdir berkata lain?"


"Coba pikirkan, di situasi saat ini jika kita kembali bersama, berita orang ketiga sebagai penghancur hubungan kalian pasti gempar di seluruh media. Publik pasti akan mengutukku. Menurutmu apa kita bisa bahagia jika hubungan ini penuh konflik?"


Kyoya menyandarkan kepala ke sofa. Menatap langit-langit rumah.


"Aku tahu. Sejujurnya setiap hari aku selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Sisi baik dan buruk yg bisa terjadi jika aku memintamu kembali."


"Aku masih ingat, betapa lemah dan bodohnya diriku. Membuatmu hampir saja terekspos. Padahal katanya aku yg paling berkuasa, tapi aku bahkan tidak bisa melindungimu."


Lana tahu maksud Kyoya. "Tidak apa-apa Kyoya. Kuakui aku berutang kata terimakasih pada Hana. Tapi .. bisa kebetulan sekali, Hana tiba-tiba muncul di situasi berita skandal itu ya."


Rahang Kyoya mengeras. "Campur tangan ibuku. Keluargaku sama mengerikannya dengan film horor ini, Lana. Itu juga menjadi salah satu pertimbanganku untuk mengajakmu kembali."


Lana terdiam. Apa keluarga Koijima seperti keluarga orang kaya di drama-drama ya. Yg sadis dan penuh konflik.


Kyoya menegakkan tubuh, lalu menoleh menatap Lana.


"Tapi jika memang sudah waktunya bagiku untuk menikah, gadis yg kuinginkan adalah kamu. Tidak ada yg bisa membuatku nyaman selain kamu, Lana."


Lana tersanjung. Menikahi Kyoya, seperti cerita dongeng yg indah.


Tapi Lana tahu betul, pemeran utama wanita yg hanyalah seorang gadis jelata di dongeng itu harus rela berdarah-darah dan tersiksa seumur hidupnya.


...***...