
Butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai ke kota TanBay. Cika membuka kaca jendela dan aroma laut yg asin tercium samar-samar.
Lana tersenyum menyaksikan deretan pantai berselimutkan beraneka macam hotel maupun cottage sepanjang jalan.
TanBay memang kota yg berada di pinggir laut Utara. Kota yg memiliki deretan pantai indah dan laut yg biru. Dan disinilah Lana akan berlibur. Untuk mengembalikan cahaya jiwa nya yg meredup. Mengisi ulang batrei semangatnya yg sudah habis. Lana benar-benar bertekad untuk menikmati setiap momen liburan ini. Besok ia harus pulang dengan hati riang.
Cika memutar kemudi berbelok ke sebuah bangunan megah berplakat besar Five Star Hotel. Lana kembali antusias.
Lana maupun Cika tahu hotel ini adalah hotel mahal dan mewah karena termasuk bintang lima. Tapi demi misi liburan Lana yg lebih penting, biaya tak menjadi masalah. Lana dan Cika pun terpaksa menguras tabungan mereka untuk bisa menginap semalam di sini. Toh hotel ini punya view dan pelayanan yg worth it.
Cika memarkir mobil nya di tempat parkir hotel bagian luar. Parkiran hampir penuh. Banyak orang berlalu lalang di sekitar mereka. Ternyata cukup ramai, padahal ini bukan akhir pekan. Cika sengaja memilih hari weekday untuk menghindari kerumunan tapi ternyata ia salah, TanBay tidak pernah sepi.
"Kita sudah sampai. Are you ready?" Cika melirik Lana nakal.
Lana tersenyum. "Ready. Yuk turun dan lihat view kamarnya. Aku sangat penasaran."
"Siap bos." Cika mematikan mesin mobil.
...***...
Lana maupun Cika sama-sama melongo. Tidak mampu percaya kalau ini nyata.
"Cika, apa petugas itu tidak memberikan kartu kamar yg salah?" gumam Lana.
Cika menggeleng. "Ini benar kamar kita Lana. 7130."
"Tapi kenapa.. " Lana mengernyit bingung. "pemandangannya begini?"
Yg terhampar di depan mereka bukanlah pantai maupun laut yg indah. Melainkan jalan raya yg penuh kendaraan berlalu lalang. Juga rumah-rumah yg terlihat kecil serta gedung lainnya yg berlomba menutupi langit.
Cika meremas pagar teralis dengan geram.
"Sialan si Tejo! Dia menipu kita, awas saja kalau nanti ketemu di kantor."
Cika berbalik masuk ke dalam kamar.
"Kau mau kemana?" tanya Lana yg masih berdiri di teras.
"Aku mau komplain. Aku mau ganti kamar yg menghadap ke pantai."
"Memang bisa?" tanya Lana.
"Entah, kalau tidak dicoba, mana tahu kan."
Lana pun akhirnya mengikuti Cika keluar kamar.
Lana sedang duduk di sofa di lobi, asyik mengamati indahnya lampu gantung besar yg mewah. Sementara Cika sedang berdebat dengan petugas di meja penerimaan. Cika tampak menggebu-gebu, entahlah apakah mereka bisa mendapat kamar yg lain. Toh kamar dengan view jalan raya saja mahalnya bukan main, apalagi kamar dengan view menghadap pantai.
Lana ganti mengamati para pengunjung yg lalu lalang. Lobi hotel sangat luas, besar dan berinterior indah. Ada tulisan Five Star Hotel di dinding dengan ornamen bernuansa laut.
Cika mengutuk Tejo, rekan kerjanya di NusaDua. Tejo lah orang yg dimintai tolong oleh Cika untuk memesan kamar via online. Karena Cika maupun Lana belum pernah memesan via online. Takut salah, eh malah kena tipu.
Lana tersenyum menenangkan. "Kalau pun tidak bisa ganti kamar juga ga papa kok Cika. Kita turun ke pantai saja."
Cika menepuk lengannya. "Ah iya benar. Kamu kan sengaja beli bikini seksi untuk dipakai hari ini. Setelah dapat kabar apapun itu, habis ini kita ke pantai yuk."
Lana mengangguk bersemangat.
"Eh Lana, fotoin aku dong. Sambil nunggu, lama juga ternyata. Fotoin aku di sana ya, perlihatkan tulisan itu." Cika menunjuk ornamen Five Star Hotel di dinding.
Lana berkata okey. Menerima ponsel Cika dan mengikuti gadis itu mendekat ke plakat.
Cika berpose berbagai gaya. Mulai dari gaya kalem, centil sampai gaya norak dan konyol. Lana sampai harus menahan tawa dan malu karena Cika sedang bergaya bak pawang ular meliuk aneh, membuat banyak orang melirik ke arahnya sambil berbisik-bisik.
Cika berpose sekali lagi, kali ini gaya kupu-kupu terbang ke surga. Lana meringis sambil melihat ke layar ponsel memastikan tidak blur.
Dan saat itulah dia melihat sosok itu.
Di antara banyak orang yg berlalu lalang, mengapa matanya bisa tahu keberadaannya di ujung sana.
Lelaki itu berdiri diam beberapa meter dari tempat Lana berada. Lelaki itu juga menatap Lana, seperti terkejut dan heran mengapa Lana bisa ada di tempat ini.
Lana menahan nafas, berusaha menelan ludah dengan susah payah. Lelaki itu terlihat sama, tetap tampan dan menawan seperti sebelumnya. Aneh, hanya dengan melihat sosok itu, jantung Lana berdegup semakin cepat. Perutnya juga terasa tegang.
Cika yg menyadari Lana tidak fokus ke arahnya, menghampiri sahabatnya itu untuk protes.
"Kenapa melamun sih? Aku sudah pose bagus tadi, pose lebah terbang. Gak kamu foto ya?" Cika memberengut.
Tapi demi melihat Lana tidak menjawab dan fokus melihat ke arah lain, Cika pun menoleh mengikuti arah mata Lana.
"Astaga Oh My God!" Cika membekap mulutnya, memekik tanpa sadar. Kaget luar biasa.
"Ke-kenapa dia ada di sini?" gumam Cika panik. "Dia melihat ke arah kita, Lana. Bagaimana ini? "
Belum sempat Lana menjawab, lelaki itu berjalan menuju tempat mereka.
"Dia kesini Lana. Gawat, kita harus bagaimana." Cika pucat, tapi Lana jauh lebih pucat.
Mereka berdua hanya bisa berdiri mematung. Sementara lelaki itu semakin dekat.
Tanpa senyum, hanya menatap tajam.
Ya, lelaki itu adalah Koijima Kyoya.
...***...