
Saat ini pukul sepuluh malam.
Jalanan sangat sepi. Mobil melaju dengan kecepatan stabil, sangat aman dan nyaman.
Lana melirik Roger yg menyetir dalam diam. Hanya terdengar alunan pelan musik slowpop dari speaker depan.
Sementara Kyoya juga tidak bicara. Sejak mobil meninggalkan rumah duka, Kyoya duduk bersandar dan mulai memejamkan mata.
Lana tidak bisa tidur, karena merasakan jemarinya hangat oleh genggaman lelaki itu.
Meski tahu kursi penumpang temaram dan nyaris gelap, Lana menduga Roger bisa melihat tangan mereka.
"Maaf aku tertidur."
Kyoya duduk tegak. Tetap menggenggam jemari Lana.
Lana tersenyum.
"Tidak apa-apa. Anda pasti sangat lelah. Silahkan lanjutkan istirahatnya. Kita masih setengah perjalanan."
Kyoya menatap Lana cemas.
"Kamu terlihat jauh lebih lelah, kenapa tidak tidur?" Kyoya menambahkan. "Roger menyetir sangat aman. Jadi istirahatlah."
"Saya sudah mencoba memejamkan mata tapi tidak bisa terlelap. Saya akan segera tidur jika sudah sampai di rumah."
Lana hendak menarik tangannya dari genggaman Kyoya karena sungkan dengan Roger, tapi Kyoya menahannya.
Kyoya mencondongkan kepala ke telinga Lana, "Apa perlu aku bantu agar kamu cepat tidur?" bisiknya menggoda.
Lana segera menarik diri dan tersenyum geli. "Sepertinya itu bukan ide yg baik."
Kyoya ikut tertawa,
"Lalu menurutmu ide yg baik itu yg seperti apa?" Kyoya menatap Lana sambil menaikkan satu alis. Kembali menggoda gadis itu
Lana seketika tersipu menyadari maksud dibalik pertanyaan Kyoya. Lana menggigit bibirnya.
Kyoya mendekat dan berbisik tajam.
"Hentikan. Jangan gigit bibirmu. Aku tidak mau Roger melihat dari kaca spion bagaimana aku melu*matmu. Apalagi aku bukan orang yg mudah menahan diri."
Mendengar itu Lana langsung patuh, dia tidak lagi menggigit bibirnya.
Lana berbisik maaf.
Kyoya mengusap kepala Lana, "Good girl." Lalu duduk tegak, melihat ke depan. Tangan mereka masih bertaut.
Tidak ada yg bicara untuk beberapa menit sampai akhirnya terdengar suara dari kursi depan.
"Nos paenitet si rudis sum, numquam te vidi sicut hoc ante domine (Maaf jika saya lancang bicara, saya tidak pernah melihat anda seperti ini sebelumnya, Pak)."
Lana mengira sedang mendengar lirik lagu dari speaker ketika menyadari suara itu ternyata berasal dari Roger.
"Gratias tibi Roger, valeo (Terimakasih atas perhatianmu Roger, aku baik-baik saja)." Kyoya bersuara.
Lana mengerjap, dua lelaki ini sedang bicara apa? Kenapa mereka memakai bahasa yg Lana sama sekali tidak bisa memahaminya.
Bahasa apa itu.
Roger mengemudi dengan stabil, matanya melirik sekilas ke belakang lewat spion depan.
"Cur haec puella domine? Estne haec domina operarius MT Corporation? (Mengapa gadis ini sir? Bukankah nona ini adalah karyawan MT Corporation?)." tanya Roger sopan.
Kyoya menjawab, nada suaranya terdengar santai namun tegas.
"Verum. Cum illo non debeo esse alius (Benar. Bersamanya aku tidak perlu menjadi orang lain)."
Lana sama sekali tidak bisa menebak apa yg sedang mereka bicarakan. Meskipun Lana mendengar namanya disebut.
"Recte dicis. Quoniam induxi illum in vitam meam, curabo illum. Facilis accipis (Kau benar. Karena aku yang membuatnya masuk ke dalam hidupku, aku yang akan mengurusnya. Kau tenang saja)."
Sekilas nada suara Kyoya berubah. Genggaman tangannya juga menguat, seolah tidak ingin membiarkan orang lain merebut Lana.
"Baiklah sir."
Roger bicara lagi lalu kemudian diam hanya fokus menyetir.
Melihat dua lelaki ini tidak berbicara bahasa alien lagi, Lana mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Kyoya.
"Ada peribahasa yg mengatakan, jika ada tiga orang, jangan bicara yg tidak dimengerti oleh salah satu diantaranya. Itu tidak sopan."
Kyoya tertawa kecil.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak pernah mendengar ada peribahasa seperti itu."
Lana cemberut. "Ada kok. Ngomong-ngomong, tadi anda berdua membicarakan saya ya? Walau tidak mengerti sama sekali, saya sempat mendengar nama Lana disebut."
Kyoya menoleh menatap Lana dan tersenyum menggoda. "Roger bertanya kenapa Miss Lana cantik sekali."
Lana refleks memukul pelan lengan Kyoya.
"Mana mungkin." Lana tersipu malu.
Dengan kepalanya Kyoya menunjuk ke kursi pengemudi. "Kalau tidak percaya, tanya saja padanya."
Lana dengan polosnya pun menurut. Dia mencondongkan tubuh ke depan dan bertanya serius, "Apa itu benar?"
Roger terkejut tapi langsung bisa menguasai diri. Dia menjawab sopan. "Yg dikatakan Pak Koijima benar nona."
Lana menekap mulutnya, makin tersipu.
Untung saja mobil remang-remang, jadi Roger tidak tahu betapa merahnya wajah Lana.
Tapi Kyoya tahu dan dia tak dapat menahan tawanya.
Lana cemberut,
"Kenapa tertawa? Pasti bohong kan? Kalian sedang bersekongkol mengerjaiku ya."
Kyoya berhenti tertawa, ia menggenggam kedua tangan Lana lalu mencium punggung tangannya.
"Tu pulcherrima femina (kamu adalah wanita tercantik)." ucap lelaki itu sambil menatap Lana mesra.
Lana mengerjap bingung,
"Artinya?"
Kyoya duduk tegak dan memasang wajah menggoda lagi. "Tanya saja ke Roger apa artinya."
Lana memukul pelan lengan Kyoya, kesal.
Kyoya hanya tertawa.
Bersama Lana benar-benar membuat Kyoya bahagia. Dia bertekad tidak akan membiarkan siapapun mengambil Lana darinya. Dia berjanji akan melindungi dan membuat Lana bahagia.
Roger diam-diam melirik lagi ke belakang dari kaca spion.
...***...
Begitulah pertemuan pertama dan kisah terjadinya hubungan kekasih antara Lana dan sang CEO.