
Lana membalas tatapan sedih Ethan dengan mata yg sulit ditebak. Entah simpati atau mencibir, mencela kalau semua yg dialami Ethan tidak cukup berat dibanding yg Lana alami. Bahwa mungkin saja itu hanya cerita yg dilebih-lebihkan. Agar Lana bisa berlapang dada memaafkan dan melupakan semua sakit hati dan amarah itu.
Toh itu bukan salah Ethan, bukan kemauan laki-laki itu untuk pergi. Dia dipaksa keadaan dan situasi keluarganya.
Tiba-tiba Lana dilanda berbagai macam emosi yg melebur dan menghantam bagai ombak. Lana ingin ikut sedih dan simpati tapi disisi lain dia menjadi bertambah murka. Ingin rasanya dia menarik Ethan ke masa lalu, memaksa Ethan menyaksikan sendiri apa saja yg telah Lana alami. Mimpi buruk itu bisa saja tidak pernah terjadi andai Ethan membuat satu saja perbedaan kecil saat itu, yaitu memberi kabar. Karena keputusan fatal Ethan itulah, kepergiannya yg tanpa kabar itulah, Lana menanggung semuanya sendirian.
...***...
Flashback ke masa lima tahun lalu,
Masa dimana Lana dan Ethan adalah mahasiswa Fortec University semester 7 yg sedang mempersiapkan diri menuju semester akhir untuk skripsi dan lainnya agar bisa lulus.
"Lana, kau sudah mengumpulkan tugas dari Pak Fredi?" Suara pria terdengar dari balik pintu kamar mandi.
Lana yg sedang sibuk mencatat di notesnya hanya menjawab singkat 'udahlah'. Lana membalik buku berisi tulisan tangan berantakan milik pria yg bertanya itu. Lalu melanjutkan menyalin tulisan itu di notesnya sendiri. Gara-gara rapat BEM yg molor karena tidak kondusif mencari kesepakatan siapa ketua BEM selanjutnya, Lana jadi tertinggal mata kuliah hari itu.
"Belum selesai juga nyalinnya?" Pria itu keluar dari kamar mandi lalu duduk bersila di sebelah Lana. Aroma wangi sabun tercium di hidung Lana.
"Sudah disiram yg bersih?" Tanpa mengalihkan mata, Lana bertanya alih-alih menjawab.
"Udah dong by." Pria itu mencubit gemas pipi Lana. "Bisa-bisa kamu ngambek seminggu cuma gara-gara aku gak siram bersih. Ya padahal juga udah aku siram."
Lana berkelit dan merajuk, "Iih Ethan, kecoret nih."
Ethan tertawa kecil, lalu membiarkan pacarnya itu menyelesaikan menyalin catatannya.
Ethan duduk menghadap Lana, kepalanya disangga dengan tangan. Matanya menelusuri sosok Lana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lana yg fokus dan serius tidak menyadari Ethan sedang mengulum senyum disebelahnya.
Ethan mengakui, Lana adalah gadis yg cantik. Dia sangat beruntung primadona kampus ini menerimanya menjadi kekasih. Selain cantik, Lana juga pintar dan seksi. Meski bukan seksi yg bohay tapi tubuhnya berisi di tempat yg tepat.
Tanpa sadar Ethan menelan ludah ketika matanya menatap gundukan di dada Lana. Gadis itu memakai kaos lengan pendek warna pastel dan celana jins panjang. Rambutnya diikat ekor kuda, menampilkan leher putihnya yg jenjang.
Saat ini mereka berdua sedang berada di kamar kos Lana. Kebetulan mereka sama-sama sudah selesai berkegiatan di kampus yg sangat jarang bisa pas timingnya. Kadang Lana sudah bisa pulang, Ethan masih sibuk jadi asdos. Kadang Ethan sudah free, Lana yg masih rapat BEM. Mereka berdua memang sangat sibuk karena termasuk mahasiswa aktif dan berprestasi.
Karena itu, rencananya mereka akan makan malam bersama setelah Lana selesai menyalin buku catatan Ethan. Yah bagi anak kos sih, beli nasi goreng dibungkus lalu dimakan sama-sama di kosan sudah termasuk mewah.
Lana menutup bukunya kelewat keras saking senangnya akhirnya bisa bersantai karena sudah selesai mencatat. Ethan terlonjak kaget.
Lana menoleh, mendapati pacarnya salah tingkah.
"Hayoo, habis ngelamunin apa?" goda Lana, menoel-noel pinggang Ethan. Ethan berkelit geli. "Pasti mikir jorok ya?"
Ethan menangkap kedua tangan Lana, menatap gadis itu tepat di manik mata. "Kalau iya trus kenapa?" tantang laki-laki itu.
Lana sekarang yg jadi salah tingkah. Matanya melirik ke samping, tak mau balik menatap Ethan. "Umm.. Ya gak papa sih." jawab Lana pelan.
Ethan menggenggam tangan Lana semakin erat. "Bener gak papa?"
Lana diam, mencoba mencerna apa maksud pertanyaan Ethan itu. Dia memberanikan diri menatap mata Ethan. Mata hitam itu tampak berkabut.
"By.." Melihat Lana yg diam saja, Ethan menarik pelan tangan Lana sehingga gadis itu tertarik mendekat. "Kita sudah pacaran hampir satu tahun, Aku pdkt ke kamu malah sejak ospek. Kamu masih gak percaya sama aku?"
Lana menunduk. "Bukan gitu by." Lana merasakan genggaman Ethan memanas.
"Trus kenapa kamu selalu menolak?"
Lana ragu-ragu menjawab, "Kalau soal kissing atau sekedar pelukan, aku sih fine-fine aja. Tapi kalau lebih dari itu.."
Ethan bergerak mendekat. "By.. Aku pasti tanggungjawab, kamu tenang aja." Jemari pria itu mengelus punggung tangan Lana. "Aku benar-benar cinta mati sama kamu. Aku mau ngelakuin itu cuma sama kamu by."
Lana menelan ludah dengan susah payah. Ada sensasi aneh di perutnya. Melihat Ethan saat ini, yg begitu maskulin dan tampan. Tatapan matanya yg memuja, sentuhan yg lembut dan hangat, bibir yg sensual. Lana tahu hati kecilnya menginginkan hal itu juga.
Ethan kini duduk berhadapan dengan Lana. Mata mereka bertatapan dengan intens. Deru nafas yg hangat menerpa wajah Lana.
"Kamu cantik by, aku sangat beruntung bisa jadi pacarmu." Jemari Ethan menyapu lembut pipi Lana. Seluruh tubuh Lana berdesir.
"Kita coba ya by, kamu mau?" pinta Ethan lembut, selembut sentuhan tangannya menyapu bibir Lana yg gemetar.
Lana mengerjap, lalu mengangguk.
Tanpa bicara lagi, Ethan langsung memagut bibir Lana. Lana agak tidak siap, tapi kemudian melebur menikmati hangatnya bibir Ethan. Mereka berciuman dengan intens dan panas.
Tangan Ethan membelai sisi wajah Lana, sementara tangan Lana merangkul leher Ethan dan meremas rambut hitam pria itu.
Mereka saling menggigit dan mengerang penuh nikmat. Ethan semakin dalam memagut, tubuhnya semakin erat menempel. Membuat Lana mendesah sambil memejamkan mata.
Mereka berciuman cukup lama hingga terasa panas dan sakit, lalu keduanya saling melepas dan terengah. Mata keduanya berkabut.
Ethan bergerak untuk membuka kaos yg dipakai Lana, tapi refleks gadis itu menahan dengan kedua tangannya.
Lana menatap manik mata laki-laki itu yg bersinar bagai anak kucing yg tidak berdaya.
Mau tak mau Lana tertawa kecil melihat kegigihan laki-laki itu untuk merayunya. Biasanya Lana jauh lebih gigih tapi entah ada apa dengan malam ini, dia luluh begitu saja.
"Kamu duluan." Lana menunjuk kaos hitam Ethan.
Dengan luwes laki-laki itu langsung menarik lepas kaosnya lalu melemparnya begitu saja ke belakang. Lana terkesiap melihat tubuh Ethan yg bertelanjang dada. Kulit kecoklatan, kalung bertali hitam dengan bandul taring bergoyang di lehernya.
Lana diam dan menurut saat tangan Ethan bergerak melepas kaos pastel yg dipakainya. Begitu kaos itu meluncur ke atas melewati kepala Lana, wajah gadis itu memerah. Dia memalingkan wajah karena malu duduk berhadapan dengan Ethan hanya memakai bra saja.
Ethan menelan ludah melihat pemandangan dua gundukan berenda bunga-bunga itu. Dia bergerak mendekat dan mencium bibir Lana lagi.
Mereka saling memagut lebih panas dan dalam dari sebelumnya. Lana tahu sekarang dia tidak akan bisa berhenti. Kenikmatan dan kehangatan ini seperti candu, membuatnya menginginkan lebih dan lebih.
Lana merasakan kedua tangan Ethan meremas dadanya. Lalu dengan mudah, ia mengikuti gerakan Ethan untuk berpindah ke tempat tidur.
Ethan membaringkan Lana di kasur tanpa melepas ciumannya. Tangannya bergerak melucuti kait bra dan dengan cekatan bra itu kini terlempar ke bawah kasur.
Ethan melepas pagutan bibir Lana, lalu menunduk bergerak ke bawah. Siap menikmati kehangatan tubuh Lana.
"Aah, Ethan.."
Lana mendesah, jemarinya mencengkram sprei, matanya terpejam. Lana merasakan bagian di bawah sana basah dan ingin dijamah juga.
...***...
Lana berguling ke samping untuk memeluk tubuh Ethan. Mereka berdua sedang berbaring di kasur, tanpa sehelai benang pun, hanya selimut tipis yg menutupi keduanya hingga ke dada.
Ethan melingkarkan tangan memeluk Lana, mengusap-usap lembut punggung gadis itu.
"Makasih ya sayang.." Ethan mengecup mesra puncak kepala Lana. Lalu bertanya khawatir, "Kamu gak papa kan? Masih sakit?"
Lana menggeleng.
Ethan menunduk untuk melihat ekspresi Lana. "Kamu masih marah ya, gara-gara aku keluarin di dalam?"
Bibir Lana jadi semakin cemberut.
Masih teringat jelas beberapa menit lalu, Ethan tengah bergerak di atas tubuh Lana, begitu bersemangat setelah menyaksikan Lana mengalami orgas*menya yg spektakuler. Lana mulai melemah, dia pasrah saja menunggu sampai Ethan juga mencapai puncak kenikmatan itu. Hingga tiba-tiba Lana menyadari kekasihnya itu masih terhubung dan menyatu. Lana langsung protes, tapi Ethan menunduk dan mengecup bibir Lana mesra.
"Maaf ya by aku masukin di dalam.. habis enak sih. Love you by." Ethan tersenyum manis.
Begitulah, Lana tiba-tiba didera perasaan resah dan gelisah. Mengapa Ethan begitu ceroboh.
Ethan memeluk semakin erat, lalu berbisik, "Jangan khawatir by, kamu bilang barusan selesai mens kan. Itu berarti masa suburmu masih minggu depan." Pria yg terlalu pintar kadang-kadang terdengar menyebalkan.
Lana mengangkat wajah, "Tapi kamu lupa kalau mens ku itu gak teratur. Gak normal kayak cewek lainnya. Aarghh kenapa sih kamu gak cabut aja tadi?" Lana bergerak panik.
Ethan mengeratkan pelukan sambil ber-sshh menenangkan Lana. "Tenang dong by, kamu jangan terlalu khawatir. Kalau sampai kenapa-napa aku sudah bilang tadi kalau akan bertanggungjawab."
Ethan berbisik lembut, "Aku minta maaf ya sayang, semuanya pasti baik-baik saja. Percaya deh."
Lana mengangguk, mengaminkan dalam hati. Semoga saja .. Lana berusaha merilekskan pikiran dan tubuhnya. Membuang jauh-jauh pikiran-pikiran buruk itu.
Lalu tanpa sadar keduanya tertidur sambil tetap berpelukan.
Jam di dinding berdetak mengisi kesunyian. Hari telah berganti menjadi tengah malam. Tiba-tiba ponsel di meja di sebelah kasur berbunyi nyaring. Ethan menjulurkan tangan meraih ponsel itu. Disebelahnya Lana berguling menghadap tembok lalu kembali pulas.
"Ya?" Dengan suara serak dan malas Ethan bicara. Detik berikutnya matanya terbuka lebar. Ethan sontak bangun dan duduk tegak di pinggir kasur. Matanya melirik jam, pukul dua dini hari.
"Bu, ini sudah tengah malam, tidak ada lagi kereta yg lewat." protes Ethan dengan berbisik.
Diseberang sana terdengar suara wanita mengomel. Ethan mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Astaga bu, tidak bisakah kita bicara baik-baik dulu?" Nada suara Ethan meninggi lalu sadar, dia kembali berbisik, "Aku tidak bisa, sebentar lagi aku lulus. Kumohon tunggulah beberapa bulan lagi bu."
Ethan semakin keras mengacak rambutnya, buku jarinya mengepal. "Mengapa ibu tiba-tiba seperti ini? Ini bukan hanya tentang ibu saja, aku juga punya kehidupan bu. Ini mimpiku, aku sangat ingin lulus dari kampus ini. Astaga.."
Ethan meremas pinggiran sprei, menahan airmata yg merebak saking ia berusaha keras menahan emosi. Tapi wanita di seberang telepon tak mau dengar. Nada bicaranya final dan mendominasi. Ethan tak bisa berkutik.
"Baiklah bu, setidaknya berikan aku waktu satu minggu. Aku tidak bisa pergi begitu saja, aku harus mengurus sesuatu dulu." Ethan menoleh ke belakang, menatap sedih punggung gadis yg teramat disayanginya itu.
Detik berikutnya nada suara Ethan kembali meninggi. "Ibu benar-benar keterlaluan," Rahang Ethan mengeras. Suaranya terdengar mendesis, giginya bergemertak saking kerasnya dia menahan luapan emosi ini.
"Baik, akan aku urus. Tapi ingat, aku menuruti kemauan ibu bukan karena aku kalah atau ibu yg berhak menang. Tapi karena aku tidak mau kehilangan sosok ibu juga."
Ponsel dimatikan, Ethan mengacak rambutnya hingga hampir gila, lalu detik berikutnya ia tertunduk lunglai.
Ethan menoleh ke belakang, menatap punggung itu lagi, ia berbisik, "Maafkan aku by."
...***...