Between

Between
Bab 36 Sakit



Lana membuka matanya dengan nafas terengah-engah. Kepalanya terasa sakit. Apa yg barusan terjadi?


Lana sedang ditindih oleh laki-laki besar yg menyeramkan. Laki-laki itu mencoba menciuminya tapi Lana bersikeras menolak. Lalu Kyoya muncul. Kekasihnya itu menarik tangan Lana dan pria menyeramkan itu juga menarik tangan Lana yg lainnya. Mereka saling menarik walaupun Lana berteriak minta tolong dan memohon untuk berhenti. Akhirnya kedua tangan Lana terlepas dari tubuhnya. Lana jatuh terduduk, merasakan sakit yg teramat parah. Kedua pria itu terkekeh menyeramkan sambil menjilat kedua tangan Lana yg terkulai penuh darah.


Mimpi.


Sungguh mimpi yg menyeramkan, bukan?


Lana mengerjapkan mata dan mendesah kesakitan. Dimana dia sekarang? Pukul berapa ini?


Lana mencoba mengingat-ingat. Setelah selesai dari meeting dengan PT. NaThan Lana sibuk mengerjakan revisi dan tugas lainnya. Lalu Lana pulang ke rumah karena merasa tidak enak badan. Untunglah ia telah menyelesaikan revisi desain jembatan itu jadi tidak perlu lembur.


Lana sampai di rumah dan langsung tertidur. Lalu dia bermimpi aneh dan terbangun dalam keadaan linglung.


Lana mencoba untuk bangun. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Kepalanya berdenyut parah. Lana mengernyit, tangannya terulur ke tas katun yg tergeletak di bawah kaki tempat tidur. Ia merogoh ke dalam tas dan mengambil ponselnya.


Dengan menahan silau dari layar ponsel karena lampu kamar yg belum dinyalakan sama sekali menjadikan ruangan itu gelap gulita, Lana melihat ternyata sudah jam 19.00 dari layar ponsel.


Terdapat dua pesan dan satu panggilan tak terjawab, dari Kyoya.


Sudah pulang?


Bagaimana meeting tadi pagi?


(Kyoya) pukul 16.00


Kenapa tidak membalas?


Apa kamu sedang sibuk sekarang?


(Kyoya) pukul 18.00


Panggilan telepon dari Kyoya pukul 18.30


Lana menghela nafas. Sambil menahan sakit di kepalanya dia mencari nama Cika dikontak telepon lalu mulai menelepon.


"Cika, apa kamu sibuk? Tolong kemari, aku sepertinya tidak enak badan. Bisakah kamu merawatku?" pinta Lana. Suara sahabatnya terdengat cemas tapi dia adalah sahabat yg bisa diandalkan. Cika berjanji akan segera datang lima menit lagi.


Lana membaringkan tubuhnya kembali ke tempat tidur. Lalu mulai mengetik balasan untuk Kyoya.


Maaf, aku tertidur. Sepertinya aku sedang tidak enak badan, tapi masih baik-baik saja. Aku sudah sampai di rumah sore tadi. Apa kamu masih di kantor? (Lana)


Lana menghempaskan ponselnya di kasur di samping tubuh lalu memijat kepalanya yg pening.


Ada apa ini, kenapa dia tiba-tiba sakit?


Jangan-jangan karena bertemu dengan Ethan?


Efek melihat laki-laki itu lagi sampai membuat sel-sel di tubuh Lana meradang dan menjadikannya drop. Its nonsense.


Lana merasa ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya dan melihat ke layar.


Aku sedang ada janji temu dengan klien dari Jepang di SukiandGrill resto. Apa kamu sudah minum obat? Aku akan ke sana setelah pertemuan ini selesai. (Kyoya)


Lana mengetik balasan,


Tidak perlu ke sini, kamu pasti lelah. Istirahatlah. Aku baik-baik saja. Hanya demam dan pusing. Setelah tidur aku pasti akan sehat lagi. (Lana)


Tidak menunggu lama, balasan dari Kyoya muncul.


Hei nona. Kamu yg sedang sakit malah menyuruhku untuk istirahat. Maaf aku tidak bisa menelepon. Klien kali ini senang sekali bicara. (Kyoya)


Dan pesan lainnya dari Kyoya,


Besok hari minggu, istirahatlah sampai selasa. Roger akan memberitahu Kepala Ruanganmu untuk memberi cuti selama dua hari. (Kyoya)


Lana tertawa, sambil mengetik balasan ia tersenyum membayangkan sesuatu.


Pastinya Bu Yuni akan sangat terkejut. Ajudan pribadi sang CEO MT Corporation datang mengajukan cuti untuk karyawan biasa seperti aku. Bu Yuni akan bertanya-tanya ada hubungan apa aku dengan ajudanmu itu *emoticon tertawa (Lana)


Balasan dari Kyoya,


*emoticon tertawa Benar juga. Kalau begitu ajukan saja cutinya, akan kupastikan Kepala Ruanganmu meng-acc nya. Selamat beristirahat sayang, semoga lekas sembuh. (Kyoya)


Lana mengetik sambil tersenyum.


Terimakasih *emoticon cium *emoticon hati (Lana)


Lalu ponsel itu sepi. Lana berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa tidur. Kepalanya serasa mau pecah, Lana jadi sedikit mual.


Terdengar suara pasword ditekan dan pintu menjeblak terbuka. Suara langkah kaki masuk ke dalam rumah diiringi seruan.


"Lana, kamu ada di dalam?"


Cika meraba-raba dinding mencari saklar lampu sambil mengomel, "Astaga gelap sekali. Kenapa kau tidak menyalakan lampunya sih? Apa kau tidak takut gelap-gelapan seperti ini."


Dan klik, sinar putih yg terang benderang menyinari seluruh ruangan. Lana langsung menutup matanya kesilauan.


Cika melihat sahabatnya itu tengah terbaring menahan sakit dengan masih memakai pakaian kerja. Cika langsung menghampirinya dan memegang kening Lana.


"Astaga, panas sekali. Kau demam, pusing juga?" Lana mengangguk lemah. "Sudah makan?" Lana menggeleng.


Cika berdecak dan mulai mengomel. "Setidaknya kau harus makan teratur Lana. MT Corporation sudah membuatmu bekerja keras sampai sakit seperti ini. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, mereka hanya tinggal mencari karyawan yg baru. Kita sebagai pekerja yg tidak berdaya harus bisa menilai batas kekuatan kita, jangan terlalu diforsir kawan."


Lana tertawa kecil. "Aku sedang sakit. Mengomelnya nanti saja."


Cika tersadar lalu meminta maaf. Dia berdiri dan buru-buru membuka kantong plastik yg tadi dibawanya dan diletakkan begitu saja di lantai.


"Aku membawa nasi goreng dan obat, ayuk makan dulu." Cika mengeluarkan satu kotak stereofoam yg mengeluarkan aroma lezat.


Lana tersenyum sambil mengacungkan jempol. "Kau memang yg terbaik."


Lalu Cika membantunya duduk dan menyuapi sahabatnya itu dengan telaten dan penuh sabar.


Lana bersyukur memiliki sahabat yg terasa seperti seorang ibu yg merawat anaknya yg sedang sakit. Yah walaupun ibu yg satu ini suka sekali mengomel.


...***...


Setelah minum obat Lana tertidur tapi tidak bisa pulas. Ia merasakan ponselnya berbunyi. Lana meraba-raba sisi kanan tubuhnya dan meraih ponsel yg sedang bergetar itu.


Kyoya.


Lana melirik Cika yg sedang asyik menonton televisi tidak jauh dari kasurnya. Lana melihat jam di ponselnya sekilas, sudah pukul 9 malam.


Lana menekan tombol answer dan menjawab dengan suara pelan, "Ya?"


"Apa aku mengganggu istirahatmu, Lana?"


Suara Kyoya terdengar cemas, "Apa kamu masih pusing? Masih demam?"


Mendengar suara merdu kekasihnya, Lana merasa jauh lebih baik. "Aku sudah tidak begitu pusing. Tadi sudah minum obat."


"Sekarang aku berada di depan rumahmu. Boleh aku masuk?"


Lana terperanjat. Dia melirik Cika yg sedang cekikikan melihat acara komedi di TV.


Lana berbisik pada ponselnya. "Maaf, sepertinya tidak bisa. Cika sedang ada di sini. Dia yg merawatku karena aku tadi tidak sanggup bangun dari kasur."


Kyoya menghela nafas panjang. "Maafkan aku yg tidak bisa berada di sisimu lebih awal." Suara Kyoya mendesah pelan. "Aku sangat merindukanmu."


Lana pun merasa sama, dia ingin sekali bertemu Kyoya. Tapi dia tidak mau semakin membuat lelaki itu khawatir jika bertemu.


"Baiklah, aku tinggalkan di depan pintu ya. Selamat beristirahat sayang." Kyoya mengecup ponselnya lalu menutup telepon.


Begitu ponselnya kembali padam, Lana berseru ke arah Cika. "Tolong cek di depan pintu apa ada kiriman."


Cika dengan malas beranjak dari kursi. Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Tampak sebuah kotak hitam berukuran sedang dan sebuah kantong plastik putih kecil tergeletak di lantai di depan pintu.


Cika membawa masuk kedua barang itu dan menutup pintu. Lalu mengantarkannya ke Lana yg sudah duduk di kasur. Cika ikut duduk di sebelah Lana untuk menonton sahabatnya itu membuka isi kiriman.


Lana menaruh kotak hitam dengan logo SilverBread putih di pangkuannya. Membuka tutup kotak dan langsunh tercium aroma roti dan kue yg lezat dari dalam.


"Dari siapa?" tanya Cika penasaran. "Ini kan merek bakery yg mahal. Satu roti bisa 30ribuan." Cika melongok dan menyambar kartu putih berisi tulisan.


Lana hendak merebut kartu itu tapi kalah cepat, Cika sudah membacanya keras-keras.


"Aku tidak tahu mana yg kamu suka, jadi aku membeli semuanya. Semoga lekas sembuh. Alex."


Lana setengah lega begitu mendengar isi kartunya. Cika tidak akan menyangka siapa itu Alex.


Cika mengembalikan kartu itu ke pangkuan Lana. "Siapa Alex? Aku tidak tahu kalau kau punya gebetan. Teman kantor? Atau kenalan dari medsos? Alex siapa?"


Lana hanya tersenyum, tidak mau menjawab. Biarkan saja sahabatnya itu penasaran.


Lana membuka kantong plastik kecil dan melihat isinya adalah obat-obatan. Ada obat untuk demam, obat meredakan sakit kepala dan vitamin.


Hati Lana terasa hangat. Rasanya ingin sekali memeluk si pengirim obat ini dan berbisik ditelinganya mengucapkan terimakasih.


Set, Cika mencomot satu roti berlumur parutan keju dan langsung melahapnya.


Sebelum Lana bisa protes, mata Cika merem melek. "Oo begini ya rasanya roti mahal. Beda banget dari yg ada di kantin NusaDua. Enak pake banget."


Cika menatap Lana dengan pandangan memelas. "Boleh minta satu lagi?"


...***...