Between

Between
Bab 9 Ceker Merah



"Bagaimana, enak gila kan?" tanya Lana dengan senyum tertahan.


Pria itu berdehem, berpura-pura seakan-akan tidak ada yg terjadi.


Lalu dengan etika makan ala bangsawan, pria itu mulai menyantap mie seafood nya.


Tidak banyak bicara, tapi dari caranya menyeruput kuah (walau jauh lebih sopan dari cara makan Lana) terlihat jelas pria itu tampak menikmati makanannya.


Lana pun mulai memakan mie nya juga.


Sang koki memang patut diacungi empat jempol, tekstur mie nya masih kenyal dan tidak begitu mengembang padahal sudah disajikan sejak tadi.


Saat Lana asyik mengorek dasar mangkuknya untuk mencari mie dan butiran daging seafood terakhir, pria itu menaruh sumpitnya di samping mangkuk, menarik secarik tisu dan mengelap mulutnya dengan elegan. Lalu meminum air putihnya dengan perlahan.


Lana tiba-tiba teringat,


"Ah iya! Ada satu lagi, tunggu sebentar."


Lana melihat ke meja penjual sambil mengangkat satu tangan.


"Permisi! Satu porsi ceker pedas, yg tanpa tulang apa masih ada?"


"Mau tambah ceker? " sahut si penjual.


Lana mengangguk.


Lalu ia kembali menghadap pria didepannya yg ternyata sedang asyik dengan ponselnya.


"Lihat ini,"


Tiba-tiba pria itu menunjukkan layar ponselnya menghadap ke Lana.


Tampak sebuah foto semangkuk mie dengan toping seafood yg ditata dengan estetik di dalam mangkok yg terlihat seperti terbuat dari keramik mewah.


"Rasa mie ini hampir sama dengan mie di Restoran Royal Florence, Jepang. Saat memakannya tadi, ada rasa familiar tapi aku tidak bisa ingat. Sekarang aku mengingatnya, sama persis dengan ini, hanya saja berbeda di suasana, tempat dan bentuk mangkuknya."


Tiba-tiba si penjual muncul sambil meletakkan sepiring ceker tanpa tulang yg dimasak bumbu merah pedas ke tengah meja.


"Tidak tambah soju?" tanya si penjual.


Lana menggeleng sopan.


"Permisi, "


Pria itu bersuara ketika si penjual hendak pergi.


Ibu penjual berbalik dan berdiri menanti siapa tahu pria itu ingin memesan yg lain.


"Apakah anda yg memasak mie ini?" tanya pria itu.


Si penjual mengiyakan dengan wajah tegang, baru pertama kali ini ada pembeli yg mengajukan pertanyaan seperti ini


"Kalau begitu apakah anda kenal Chef Aoyama Toru? Atau mungkin anda salah satu keluarganya?" Pria itu bertanya penuh harap.


Si penjual menggeleng. Bingung.


"Atau anda pernah belajar memasak darinya?" Pria itu terus bertanya.


"Atau mungkin anda pernah ke restoran Royal Florence, Jepang?"


Si penjual mengibaskan tangan.


"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu anak muda. Aku tidak mengenal chef itu, dan aku juga tidak pernah ke Royal Influencer.. apa tadi, Jepang? "


Ibu penjual itu tertawa. "Jangankan Jepang, keluar kota ini saja aku belum pernah. Sudah, aku harus kembali melayani pembeli. "


"Terimakasih, maaf sudah mengganggu waktu anda. "


Meskipun tampak jelas dari raut wajahnya bahwa pria itu belum terpuaskan dengan jawaban si penjual, pria itu tetap menundukkan badan dengan sopan.


Lana tersenyum tertahan.


Saat pria itu akhirnya kembali menghadap ke arahnya, Lana langsung menyodorkan sepiring ceker merah.


"Sekarang coba yg ini. Seandainya anda tidak menyetir sendiri, saya pesankan soju juga karena mereka berdua ini kombo yg luar biasa. Sayang sekali kali ini anda belum bisa mencobanya. "


Pria itu mengernyit.


"Apa ini? Bentuknya mengerikan. "


"Kaki ayam? " jawab Lana heran.


Benarkah ada orang di dunia ini yg tidak tahu ttg kaki ayam?


"Bisa-bisa nya ada manusia yg memakan makanan seperti ini. "


Pria itu menyorongkan kembali piring itu ke tengah meja dengan ujung jari telunjuknya yg putih ramping.


"Memangnya kenapa kalau ada orang yg suka makan kaki ayam? "


Lana cemberut, dengan sedikit kesal ia memakai sarung tangan plastik yg sudah disediakan di setiap meja dan mencomot satu ceker. Memakan nya dengan lahap ditambah beberapa adegan yg didramatisir untuk menunjukkan berapa lezatnya makanan ini.


Pria itu mengernyit.


Lana mencomot satu lagi ceker gemuk merah. Melambaikan nya ke depan wajah.


"Hei kaki ayam, kamu sudah berjalan kemana saja? Apa kamu menginjak kotoran? " tanya Lana seolah ceker itu benda hidup.


Lana menggoyang goyang kan ceker malang itu dan kembali bicara, dengan suara dicemprengkan dan mimik wajah mengejek pria itu.


"Aku suka berjalan kemanapun, dan menginjak apapun. Tapi tahukah kamu apa itu proses memasak? Sebelum dimasak, aku sudah dibersihkan oleh ibu penjual, aku direbus cukup lama dan dimasak lagi dengan bumbu. Jadi sekarang aku aman untuk dimakan. Rasaku enak sekali, bukan? "


Lana mengangguk-angguk. Lalu menjawab dengan suaranya yg asli.


"Iya, lezaaaaatt syekaliii. "


Dan nyamm.. ceker gemuk itu menghilang ke dalam mulut Lana. Ia mengunyah nya dengan kenikmatan yg dilebih-lebihkan.


Pria itu tertawa. Melihat tingkah Lana yg lucu benar-benar hiburan tersendiri bagi nya.


Lana tertegun. Tampan sekali.


Saat pria itu tertawa dan geliginya terlihat, semua rasa di dunia ini tiba-tiba menghilang. Hanya ada rasa takjub melihat ketampanan nya.


Lana yg tidak jadi kesal pun akhirnya ikut tertawa. Jika diingat-ingat lagi, tingkahnya berbicara dengan kaki ayam itu sungguh konyol dan memalukan.


Karena pria itu sangat berpendirian dan benar-benar tidak mau menyentuh si ceker, akhirnya Lana membungkus kaki-kaki ayam yg malang itu.


Lana sedang menunggu di luar tenda Pojang Macha, dengan kresek hitam kecil tergantung di pergelangan tangan kanannya.


Pria itu sedang membayar makanan mereka. Padahal Lana sudah bersikeras ingin membayar karena dia yg mengajak makan disini, tapi pria itu menatap mata Lana dengan serius dan tajam. Ekspresi nya yg mendadak berubah tegas membuat Lana takut.


Akhirnya Lana memilih menunggu di luar.


Pria itu keluar dengan tangan menyibak tenda dan badan sedikit membungkuk karena pintu Pojang Macha yg berupa plastik transparan itu terlalu pendek untuk ukuran tubuhnya yg tinggi menjulang.


"Terimakasih banyak atas tumpangan dan traktiran nya hari ini. Saya benar-benar telah merepotkan anda. "


Lana membungkuk dalam.


"Tidak masalah."


"Kalau begitu saya pamit dulu, rumah saya sudah terlihat dari sini. Sekali lagi terimakasih, permisi."


Lana membungkuk lagi lalu berbalik hendak pergi.


"Tunggu."


Langkah Lana terhenti.


"Bukankah aku sudah bilang akan mengantarmu sampai rumah? "


Lana jadi tidak enak.


"Tapi itu, rumah saya sudah dekat. Gedung dua lantai di sana. " tunjuk Lana.


"Kalau begitu kita jalan saja. "


Pria itu mulai berjalan menuju rumah Lana. Lana segera menyusulnya dan berjalan di samping pria itu.


Tercium aroma parfum yg lembut, membuat Lana menghirupnya diam-diam. Tidak ada yg bicara.


Entah apa yg ada dipikiran pria itu. Lana dan pria itu menikmati setiap langkah mereka.


Tanpa terasa mereka sampai di depan bangunan bercorak bata merah marun.


Lana ragu-ragu bicara,


"Sudah sampai. Disini rumah saya, di lantai dua. "


Pria itu mengamati seluruh bangunan, lalu menelusuri setiap pintu di lantai dua.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu."


Lana mengucapkan terimakasih.


"Jangan sembarangan menawarkan Ramen pada laki-laki asing. "


Lana langsung tersipu.


Pria itu menatap Lana untuk beberapa detik, ekspresi nya sulit ditebak.


Pria itu tersenyum lalu berbalik. Lana membungkukkan badan memberi salam.


Lana tetap berdiri memandangi punggung berkemeja putih itu yg semakin lama semakin menjauh.


Ada perasaan sedikit kecewa dan kosong di hati Lana menyadari bahwa mereka harus berpisah.


Bahwa pertemuan yg berlangsung singkat itu terasa sangat menyenangkan.


...***...