
Malam harinya..
Kamar itu temaram, sunyi.
Hanya detak jam yg berbunyi dari jam weker berbentuk beruang di atas meja belajar di sebelah tempat tidur.
Suara dengkur halus dan teratur terdengar dari balik selimut parca.
Malam yg damai, si empunya kamar tengah asyik bermimpi indah.
Tampak dari senyum yg terukir di wajahnya.
"Nyamm.. daging, tambah lagi dagingnya.. nyamnyam."
Gadis itu mengigau.
Mulutnya seakan sedang mengunyah daging yg lezat. Lalu dia terkekeh keenakan.
Tiba-tiba terdengar lantunan lagu Canon in D Major versi biola dan piano dari ponsel yg tergeletak di atas meja belajar.
Gadis itu masih tertidur pulas sementara ponselnya terus bersahutan.
Tak mau menyerah, ponsel itu terus berbunyi hingga lagu yg ke lima kali.
Akhirnya gadis itu tersadar dan mengernyitkan mata.
Tangannya terjulur ke atas meja, meraba-raba.
Jemari itu menemukan benda kotak pipih yg bergetar, mengambilnya dan meletakkannya ke telinga.
"Ya?" Gadis itu menjawab dengan malas.
"Lana, kamu dimana? Bisa ke Gwangali sekarang? Ibu di UGD sekarang. Kondisinya darurat."
Suara di seberang telepon terdengar panik dan tergesa-gesa.
Lana segera bangun dan duduk tegak. Matanya seketika terbuka lebar. Otaknya langsung sadar.
"K-kak Ega? Ibu kenapa?" Lana cemas.
"Tadi sewaktu kakak pulang kerja, ibu sudah pingsan di kamar mandi. Sepertinya jatuh. Pokoknya kamu ke sini sekarang. Kata dokter kondisi ibu cukup parah."
Suara Kak Ega, kakak perempuan pertama Lana, terdengar seperti hampir menangis.
"Iya kak. Lana segera kesana.."
Di seberang telepon, suara kakaknya terdengar sedang diajak bicara oleh seseorang.
"Baik dokter, sebentar. Lana, dokter mau bicara denganku dulu. Nanti ku telepon lagi." Kak Ega berkata.
"Iya kak. Kabari Lana terus ya kak. Semoga ibu baik-baik saja."
Lana menutup telepon dengan tangan gemetar.
Lana diam beberapa detik, berusaha sedang mencerna situasi ini tapi pikiran nya melayang kemana-mana.
Ibu pingsan?
Jatuh dari kamar mandi?
Kata dokter kondisinya cukup parah, darurat?
Dengan pikiran yg berkecamuk memikirkan banyak hal buruk, Lana mencari nomor Cika, sahabatnya, di kontak ponsel dan segera meneleponnya.
Lana melirik jam wekernya, pukul 1 tengah malam.
Dia berharap agar telepon cepat diangkat. Pasti sahabatnya ini sedang tidur pulas, Lana kenal betul Cika adalah orang yg cukup susah dibangunkan saat sudah menempel di bantal.
Terbersit rasa heran di hati Lana kok tumben langsung diangkat, tanpa babibu lagi Lana pun langsung bicara.
"Cika, tolong antarkan aku ke Gwangali sekarang ya. Ibu ku.."
Lana tak kuat menahan tangis, airmatanya langsung mengalir deras.
Sambil tersedu ia berusaha bicara, ".. ibuku sedang di UGD. Kata Kak Ega, jatuh di kamar mandi.. pingsan.. dokter bilang kondisinya darurat, huhu.. ibu.. Cika, aku harus gimana.. huhu.. ibu.."
Lana sesenggukan sambil mengusap airmatanya, berusaha menenangkan diri.
"Lana, are u okay?"
Sebuah suara dari seberang telepon membuat Lana terkejut.
Itu bukan suara Cika, melainkan suara laki-laki yg terdengar sangat cemas. Suara yg Lana kenal.
"Kamu di rumah sekarang? Aku segera kesana."
Itu suara Koijima Kyoya.
"Pak Koijima?"
Lana bingung kenapa bisa terdengar suara CEO nya.
"Kenapa anda yg menjawab?"
"Saya kan menelepon Cika."
Suara Kyoya juga jadi bingung.
"Kamu yg tiba-tiba meneleponku dan bicara ttg ibumu dan menangis. What happened?"
Lana mendadak tersadar, ia melihat ke layar ponsel dan menepuk jidatnya keras.
Benar saja. Nama panggilan yang terpampang di ponselnya sekarang adalah Ciko, bukan Cika.
Pasti karena pikirannya sedang kalut, Lana tidak sadar dan tidak teliti saat menelepon.
"Lana, is everything okay?"
Terdengar suara Kyoya memanggil-manggil. "Lana? Are you there?"
Lana segera bicara ke telepon.
"I-iya pak. Maaf sebenarnya saya salah sambung. Saya tidak bermaksud mengganggu istirahat bapak tengah malam seperti ini. Saya tadi hendak menelepon teman saya, tapi karena tidak teliti saya salah menelepon Pak Koijima. Saya benar-benar minta maaf."
"Lana, ini bukan waktunya menjelaskan dengan formal. Salah sambung atau tidak, kamu butuh tumpangan ke Gwangali sekarang, bukan?"
Kyoya terdengar sedikit kesal.
Lana mengusap airmatanya dan mengangguk. Lalu tersadar kalau sang CEO tidak bisa melihat anggukannya,
Lana pun berkata. "Saya tidak ingin merepotkan anda Pak. Apalagi ini sudah tengah malam. Saya akan minta tolong teman saya. Sekali lagi maaf sudah menganggu-"
"Kamu tunggu di sana, saya ke rumah kamu sekarang." potong Kyoya.
"Justru karena sekarang tengah malam, saya yg akan mengantarkan kamu ke Gwangali."
Dan telepon ditutup.
Lana mengerjap bingung.
Dia harus bagaimana sekarang.
...***...