Between

Between
Bab 74 Keputusan Gelap



Masih flashback...


Sejak pagi suasana rumah abu sunyi, jarang ada tamu berkunjung pagi-pagi. Namun hari itu, begitu rumah abu dibuka, seorang gadis bergegas masuk.


Isak tangis tersedu-sedu terdengar samar-samar memenuhi lorong panjang. Membuat bergidik siapa saja yg mendengarnya. Meski itu jelas bukan tangisan hantu, tapi suara merintih penuh ketidakberdayaan terdengar sangat menyayat hati. Siapakah gerangan pagi-pagi begini menangis sebegitu menyedihkannya?


Di sebuah ruangan bernomor 8, seluruh dinding ditutupi rak besar putih kokoh. Tiap-tiap rak terdapat ruang bersekat berbentuk persegi bertingkat. Tiap sekat berisi kendi-kendi, bunga maupun foto.


Di dinding sebelah kanan, ditingkat paling atas nomor 88 beberapa helai bunga ilalang putih tergeletak di depan kendi porselen putih. Seorang gadis tampak berdiri menunduk di depan rak itu. Suara tangisan nelangsa yg terdengar, ternyata berasal dari sana.


Gadis itu sesenggukan, mengusap pipi dan menyedot ingus. Ia mengangkat wajah, menatap pigura di dalam rak. Pigura itu bersandar di sebelah kendi, berisi foto kusam laki-laki paruh baya tengah tersenyum.


Tatapan gadis itu nanar. Melihat sosok ayahnya yg begitu damai dan tersenyum menenangkan, gadis itu mulai menangis lagi. Hatinya terasa sakit, pedih, hancur..


Gadis itu adalah Lana. Ia sedang mengunjungi ayahnya yg sudah meninggal sejak ia berumur 10 tahun. Hanya ini peninggalan sang ayah, kendi abu dan secarik foto.


"Ayah.. Maafin Lana.."


Bulir-bulir airmata kembali menetes. Lana menunduk, tak kuat menatap mata ayahnya yg jernih. Lana merasa berdosa, merasa kotor.


Entah kenapa dia memutuskan kemari. Lana tak ada persiapan, tidak membawa apapun. Tidak ada sesajian, dupa maupun bunga indah. Lana hanya mencabut sembarangan bunga ilalang di pinggir jalan saat menuju ke rumah abu. Mencoba untuk terakhir kalinya menjadi anak yg berbakti, sebagai lambang salam penghormatan karena sudah lama tidak datang menemui ayahnya.


Sejak hari Lana mengetahui kalau dia hamil, hidupnya terasa hancur. Dia tidak nafsu makan, dia malas ke kampus, gak mau ngapa-ngapain... dia berantakan. Sudah beberapa hari Lana bolos kuliah, dia hanya berbaring di kasur menangis, meratapi nasib.


Entah sudah berapa kali ia memukuli perut, meremasnya dengan kencang, berharap dengan cara itu bayi mungil yg tumbuh di rahimnya menyerah lalu keluar dengan sendirinya. Tapi Lana hanya merasa sakit, tidak ada tanda-tanda bayi itu menyerah tumbuh.


Hingga tiba-tiba pikiran buruk itu meracuninya bagai bisa, Lana kalap, gelap mata. Dia mencari tahu di internet cara menggugurkan janin. Ada yg dengan mengkonsumsi obat, mengkonsumsi makanan atau minuman pantangan dan... aborsi.


Dikamarnya yg pengap karena sudah beberapa hari pintu tidak dibuka, Lana duduk sendiri. Ia sudah membeli semuanya. Nanas, pepaya muda, minuman soda, obat-obatan.


Ia menelan tiga butir obat sekaligus, padahal di kemasan tertulis hanya diperbolehkan satu butir saja. Lana tak peduli, semakin banyak yg ditelan semakin cepat bekerja, bukan.


Lalu dengan kalap Lana melahap nanas muda yg sudah dikupas dari tokonya, lalu berganti melahap pepaya muda. Kalau ada orang yg melihat Lana saat ini pasti heran gadis itu sudah tidak makan berapa hari saking lahapnya. Lana lalu menenggak minuman soda.


Ayo, keluarlah.. Keluarlah!! Kumohon..


Lana mengunyah nanas dan pepaya lagi sampai mulutnya penuh. Menelannya. Lalu melahapnya lagi, memaksakan semua makanan itu masuk ke mulutnya yg sudah penuh. Tiba-tiba..


"Hoeekk.. Hoeekk-" Perut Lana mendadak mual. Ia segera berlari ke kamar mandi. Jangan..


Walau ditahan sekuat tenaga pun, semua makanan itu keluar begitu saja, ia muntah sangat banyak ke wastafel. Muntah lagi sampai Lana lemas. Perutnya terasa kosong, mulutnya pahit.


Lana mengusap mulut, lalu mengusap matanya yg tergenang airmata akibat muntah. Sia-sia, semua obat, makanan dan minuman yg dilahapnya dengan kalap keluar semua.


Lana menangis.


Kenapa? Kenapa kamu melawan? Kenapa kamu membuatku jadi muntah? Kamu seharusnya keluar saja! Kenapa kamu betah didalam sana! Bayi sialan!! Cepat keluaaarr!!!


Ethan, memangnya aku salah apa ke kamu? Kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu memberi peninggalan padaku yg merusak hidupku seperti ini? Kenapa?? Kenapa?!


Aku harus apa.. Aku tidak bisa hidup seperti ini..


Sejak saat itu Lana semakin putus asa.


Hari-hari yg ia lalui tiap detiknya terasa bagai neraka, gelap suram menyedihkan. Lana yg dulu adalah mahasiswa berprestasi, gadis yg cantik, ceria, masa depannya gemilang.


Tapi sekarang? Lana sangat kurus, rambutnya berantakan dan bau karena dia sudah tidak mandi entah berapa hari. Lana muram dan sepanjang hari ia mengalami mood swing. Lana bisa sangat putus asa, lalu semua baik-baik saja, lalu terasa parah lagi sampai kepalanya mau pecah. Banyak hal yg ia pikirkan dan ia khawatirkan.


Bagaimana jika bayi ini bertahan, tumbuh semakin besar? Sudah tentu Lana tak akan bisa kembali kuliah. Apa kata teman-temannya nanti melihat perutnya yg melambung menjadi gundukan besar? Terlebih, Lana belum menikah. Ini anak siapa? Lana akan menjawab apa.


Lana pasti akan dikucilkan, yg paling parah, bisa-bisa Lana didrop out dari kampus. Tidak mungkin para dosen itu mentolerir gadis berprestasi yg hamil di luar nikah.


Kalau Lana drop out, bagaimana dia menjelaskan ke keluarganya. Ke ibunya? Bisa-bisa ibunya mati sakit jantung saking syok nya.


Tanpa gelar sarjana dan pendidikan yg layak, bagaimana Lana akan bertahan hidup? Dia akan bekerja sebagai apa? Buruh pabrik, tukang cuci, pemulung? Demi bayi yg terpaksa ia lahirkan? Lalu Lana akan menjawab apa kalau bayi itu suatu hari bertanya siapa ayahnya? Bayi itu juga akan malu punya ibu seperti Lana, hidup susah, direndahkan orang-orang.


Lana tanpa sadar menangis, terbayang masa depan suram mengerikan seandainya bayi ini tetap ada. Dia tidak bisa hidup seperti itu. Ini tidak adil. Kenapa hanya aku yg hidupnya hancur? Kenapa hanya aku yg harus mengorbankan masa depan? Padahal kami melakukannya sama-sama, padahal katanya dia akan tanggungjawab? Mana? Bulsh*it!!


Lana sudah membulatkan tekad menuju tempat aborsi. Ketika di tengah jalan, Lana bertemu Cika. Entah kenapa, selalu saja ada hambatan bagi Lana untuk mengeluarkan janin ini.


Lana mengeles habis-habisan saat Cika mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Cika curiga, khawatir dan cemas dengan kondisi Lana. Lana yg dilihatnya sekarang seperti pecandu obat-obatan, kurus, lusuh, berantakan.


Akhirnya Lana pulang, mengurungkan niatnya untuk aborsi. Dan tak pernah bisa ia keluar kamar lagi karena kini Cika menerornya sepanjang hari.


Cika yg tak puas dengan jawaban Lana, menelepon dan datang ke kosan setiap hari demi melihat keadaan Lana. Cika sangat khawatir. Tapi sahabatnya itu hanya mengira Lana desperate karena putus cinta, entah akan bagaimana kalau Cika tahu Lana hamil.


Hari demi hari semakin terasa berjalan buruk dan menyesakkan tiap detiknya. Lana ingin mati saja.


Karena itu, saat matahari baru terbit, saat Cika belum lagi terlihat berjaga di sekitar kosan Lana, Lana bergegas menyelinap. Dengan memakai hoodie hitam dan membawa uang ala kadarnya, Lana diam-diam keluar lalu menyetop taksi. Lana menuju jembatan besar di pinggiran kota Grandcity.


Lana menatap jendela, matanya menerawang. Langit biru cerah dengan semburat putih berawan, indah.


Akankah surga seindah ini? Akankah jika ia memilih mati, ia akan berada di surga? Akankah hidupnya menjadi jauh lebih indah? Jika dia mati, dia tidak akan masuk neraka kan? Lana sangsi. Ia sudah membunuh dirinya sendiri, juga bayinya, tidak mungkin dia bisa masuk surga.


Lana menyeka sudut matanya yg berair. Tiba-tiba dia ingin bertemu ayahnya. Lana pun berkata pada supir untuk mengubah rute taksi ke rumah abu di daerah selatan. Setelah bertemu ayahnya, Lana memutuskan akan mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari jembatan.


Ia sudah membulatkan tekad. Bunuh diri adalah jalan keluar, satu-satunya pilihan terbaik saat ini. Hanya tinggal loncat, lalu mati. Mudah, bukan? Lana tak perlu lagi resah memikirkan masa depannya, tak perlu lagi menangis sepanjang hari, tak perlu lagi menghidupi bayi yg bahkan tak punya ayah.


Benar, ini yg terbaik.


Selamat tinggal semua..


...***...