Between

Between
Bab 61 Kediaman Keluarga Koijima



Kyoya menyetir dengan pikiran kemana-mana. Mengingat-ingat darimana awal mula semua ini.


Sangat aneh jika dipikir-pikir, sekarang ia dan Lana tidak ada hubungan asmara apapun. Tetapi malah menjadi sorotan dan berita trending. Padahal beberapa bulan lalu, jika saja paparazi itu memang berniat menjatuhkannya, ada banyak kesempatan dan momen.


Beberapa bulan lalu Lana dan Kyoya cukup sering terlihat bersama di luar. Makan, nonton bioskop, pergi jalan-jalan, ada banyak kesempatan.


Bahkan saat Lana ulang tahun, Kyoya sampai memboking satu resto di hotel bintang lima khusus untuk mengajak Lana romantic dinner dan menghadiahi gadis itu kalung berlian dari gerai perhiasan ternama. Setelah itu mereka pergi ke lantai atas, memesan Presidential Suite Room dan melanjutkan kencan romantis sebagai perayaan ulang tahun Lana di sana. Saat itulah, Lana mulai mabuk, begitu juga Kyoya dan terjadilah malam pertama bagi keduanya menyatu tanpa pelindung apapun.


Dan selama ini tidak ada berita atau gosip miring apapun. Yah Kyoya mengakui, dia memang sengaja tidak melakukan kontak fisik terlalu dekat dengan Lana jika di muka umum. Kyoya cenderung berhati-hati dan menjaga jarak saat di area publik.


Memang malam itu di TanBay adalah kesalahannya. Dia menggendong Lana tanpa pikir panjang, berharap keberuntungan berpihak padanya.


Kyoya lupa, selama ini keberuntungan sama sekali tidak pernah berpihak kepadanya. Kyoya bisa menjadi seperti sekarang ini bukan karena keberuntungan, tapi dari hasil keringat, airmata dan darah yg tercabik keluar dari tubuhnya.


Sekarang, hasil kerja kerasnya selama ini dipertaruhkan. Gara-gara satu foto konyol itu.


Kyoya tanpa sadar mengurangi kecepatan mobil saat mendekati area Kediaman Koijima. Naluri dan instingnya berkata mengapa dia tetap menuju kemari padahal dia sangat tahu apa yg akan terjadi di rumah ini nanti.


Dari jauh sudah tampak bangunan megah bak istana yg didominasi warna putih krem. Mobil Kyoya semakin dekat.


Pagar hitam tebal dan berat membuka dengan bunyi logam yg bergeser. Mobil Kyoya masuk melewati pagar diiringi dua petugas keamanan yg membungkuk hormat.


Kyoya memandangi bangunan besar dihadapannya, memori masa lalu yg tidak bisa dibilang indah bermunculan. Genggaman tangannya di kemudi tanpa sadar mengerat.


Mobil Kyoya berhenti di sebuah teras besar dengan kanopi tinggi warna putih. Seorang petugas berseragam hitam siap membukakan pintu dan memarkirkan mobilnya.


Kyoya berjalan masuk ke dalam rumah setelah tersenyum samar untuk membalas salam hormat petugas itu.


Langkah Kyoya terhenti. Ia memandang sekeliling ruangan. Interior dan aroma yg sama, jelas tidak ada yg berubah. Kyoya disambut seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan.


"Nyonya Naomi Koijima sudah menunggu anda di ruang keluarga, Tuan Kyoya."


Kyoya mengangguk sopan sambil mengucapkan terimakasih, lalu berjalan menuju undakan tangga yg dilapisi karpet merah, mengular naik ke lantai dua.


Kyoya berjalan di lorong yg sunyi, sambil menerka-nerka bagaimana ekspresi ibunya saat ini. Ujung sepatu Kyoya menyentuh daun pintu yg tertutup. Dia sudah sampai.


Kyoya menarik nafas panjang. Lalu mengetuk pintu perlahan.


"Masuk." Terdengar suara tegas wanita dari dalam.


Kyoya memegang pegangan pintu yg terasa dingin, lalu mendorong pintu pualam putih itu hingga terbuka.


Kyoya berbalik dan melangkah masuk setelah menutup pintu dengan hati-hati. Suasana sunyi.


Dilihatnya sang ibu sedang duduk tegak sambil memegang cangkir teh. Menghadap ke perapian, sehingga Kyoya hanya bisa melihat sisi kanan ibunya. Sementara Mika, adik bungsu nya yg berusia 16tahun duduk di kursi yg menghadap ke arah Kyoya. Mika hanya tersenyum kecil.


Ruangan itu cukup luas, berisi satu set sofa mewah bercorak rangkaian bunga lily dengan meja kayu berlapis kaca dan emas, lampu gantung berbentuk butiran kristal tergantung di langit-langit dan perapian yg tidak menyala dengan pigura besar menempel di dinding di atas perapian. Berisi foto seluruh keluarga Koijima yg berjumlah enam orang. Dalam foto itu Kyoya berdiri di belakang ayahnya, masih sangat muda.


Di meja terdapat nampan kayu berisi teko cantik, dua cangkir senada dan dua tingkat rak kecil berisi kue dan cemilan ringan untuk menemani acara minum teh ibunya.


Ibunya adalah wanita paruh baya yg masih terlihat cantik, menawan dan berkelas. Ibunya mempunyai aura yg membuat siapapun yg bertemu segan dan hormat. Meski raut wajahnya selalu masam saat bertemu dengan Kyoya.


Tanpa mempersilahkan Kyoya duduk atau bertanya ttg kabar putra yg sudah lama tidak ia lihat, Nyonya Naomi menyeruput teh dengan elegan lalu berkata tajam,


"Aku sedang bermain golf dengan teman-temanku tadi pagi, ketika tiba-tiba Nyonya Jang bertanya apa aku tahu kalau kau saat ini muncul di berita, sedang trending. Terkena skandal."


Kyoya tercekat.


Dia benar-benar takut. Bukan karena nada suara ibunya yg terdengar dingin menusuk, atau tatapan siap melakukan hal gila apapun yg terpancar dari mata ibunya, walau wanita itu tetap memandang lurus ke perapian. Tapi Kyoya takut kuasa dan akibat apa saja yg bisa dilakukan ibunya pada Lana jika wanita itu tahu semuanya.


Nyonya Naomi tersenyum datar, "Aku seperti orang bodoh. Dibicarakan tanpa aku tahu apa-apa. Aku tidak akan bertanya mengapa semua ini sampai terjadi, hanya saja.."


Nyonya Naomi menggertakkan gigi, tangannya yg memegang cangkir bergetar penuh amarah.


"Mengapa kau membiarkan semua ini menjadi besar? Apa saja usahamu saat tahu berita itu muncul? Kau bukan lagi anak kecil bodoh dan polos, seharusnya dengan segera kau tangani semua ini! Harusnya kau bereskan semuanya sebelum Nyonya Jang bisa tersenyum mengejekku! Dasar anak kurang ajar!"


Prang!


Kyoya terlonjak. Cangkir cantik itu terbang menabrak dinding di antara perapian dan pigura, hancur berkeping-keping.


"Ibu.." Mika bersuara. Gadis itu duduk di kursi di sebelah Nyonya Naomi, sedari tadi hanya diam mendengarkan ibunya yg murka.


Nada suara Nyonya Naomi saat berbicara dengan Mika sangat berbeda, berubah lembut dan manis.


"Mika, panggilkan pelayan untuk membereskan semua ini." Nyonya Naomi memberi tatapan penuh arti, isyarat agar gadis itu pergi.


"Baik ibu." Mika patuh. Dia bangkit dari kursi, berjalan melewati Kyoya yg masih berdiri di tengah ruangan. Mika hanya memberikan senyuman simpati saat lewat.


Begitu pintu menutup, Kyoya melihat gestur ibunya tampak lebih rileks.


"Satu pintaku, bereskan semuanya segera. Jangan sampai aku ataupun ayahmu turun tangan menangani masalah memalukan ini."


Nada suara ibunya tetap tajam menusuk. Nada yg biasa setiap kali berbicara dengan Kyoya, sejak dulu.


"Baik ibu." Kyoya mengangguk patuh.


"Siapa wanita itu?" tanya ibunya tiba-tiba.


Kyoya tercekat. Dia harus menjawab apa. Sementara otaknya sedang berpikir, mulutnya berusaha mencari alasan lain agar tidak memberitahu apapun tentang Lana.


"Saya benar-benar minta maaf sudah membuat ibu terganggu dan diperlakukan tidak nyaman. Saya berjanji, masalah yg ditimbulkan karena kecerobohan saya ini akan segera beres ibu."


Nyonya Naomi tertawa. "Aku jadi benar-benar penasaran sekarang tentang siapa gadis itu sebenarnya. Kenapa kau melindunginya."


Tangan Kyoya gemetar. Tidak, tolong jangan libatkan Lana, pintanya dalam hati.


"Silahkan kau pilih, gadis itu atau kau menuruti perkataanku." Nyonya Naomi duduk menghadap Kyoya untuk pertama kalinya. Mata wanita itu bersinar dingin.


Kyoya menelan ludah, dia tidak punya pilihan lain.


"Saya memilih yg kedua."


Senyuman terukir di bibir wanita itu, puas dengan ketidakberdayaan putranya sekarang.


Kyoya membelalak. "Hana??"


Kyoya mengerjap tak percaya.


"T-tapi ibu, Hana.. maksud saya Nakayama Hana adalah sepupu jauh saya dan Mika. Selama ini saya juga menganggap Hana sebagai adik saja, seperti Mika, tidak lebih. Tidak mungkin kami menikah. Kami adalah saudara."


Nyonya Naomi bangkit. Suara ketukan sepatu bertumit tinggi yg dipakainya terdengar nyaring, saat wanita itu menyeberangi ruangan menghampiri Kyoya yg pucat pasi.


Nyonya Naomi berhenti tepat di hadapan Kyoya. Tersenyum penuh simpati yg terlihat palsu.


"Jika yg mengatakannya adalah Seung Jae, aku tidak akan tertawa. Tapi kau yg bicara, rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak. Oh putraku, kau tidak sedang pura-pura lupa kan, kalau kau ini bukan putra kandungku. Kau adalah anak adopsi, walau menyandang nama Koijima, selamanya bagiku kau tetap bukan siapa-siapa di keluarga ini. Kau adalah orang asing."


Rahang Kyoya mengeras. Sudut matanya berair. Tapi wanita itu terus bicara,


"Jadi kau dan Hana tidak ada hubungan darah. Tidak ada masalah tentang pernikahan di antara kalian. Akan kumaafkan semuanya, jika kau bisa menikahi Nakayama Hana. Jika kau menolak, gadis mu itu akan kuusik. Apa kau mengerti?"


Kyoya mengangguk pelan. Tak sanggup bicara.


"Jawab aku dengan keras." desis ibunya. Menatap tajam.


"B-baik ibu, saya mengerti." Kyoya mengatupkan rahang rapat, menahan segalanya.


"Pergilah, aku sudah selesai bicara." Nyonya Naomi berbalik dan dengan santai kembali duduk di kursi. Meraih cangkir yg lain di meja dan menyeruputnya dengan nikmat.


Dengan kaku Kyoya membungkukkan badan memberi hormat. Ibunya tidak merespon, seakan Kyoya sudah pergi. Akhirnya laki-laki itu berbalik dan berjalan ke pintu.


Membuka pintu pualam putih itu dan terkejut, Mika sedang berdiri dengan telinga dicondongkan ke dalam.


"Kau menguping lagi, Mika?" Terdengar suara Nyonya Naomi dari dalam ruangan.


Mika terlonjak, lalu buru-buru melewati Kyoya masuk ke dalam ruangan. Saat didekat Kyoya, gadis itu berbisik 'Semangat kak'.


Kyoya tersenyum kecil lalu menutup pintu pelan. Terdengar samar-samar suara ceria Mika yg meminta maaf dan ibunya yg mengomel.


Kyoya menelan ludah, berjalan menuju tangga dengan gontai.


Tidak terlalu parah rasanya sekarang, dia sudah terbiasa diperlakukan dan direndahkan seperti ini oleh ibunya. Hanya saja ketika melibatkan Lana, Kyoya menjadi emosi. Untung saja dia berhasil menahan diri. Ibunya lah salah satu alasan mengapa Kyoya meminta pada Lana untuk merahasiakan hubungan mereka. Kyoya tidak ingin Lana celaka.


Langkah Kyoya terhenti, dia sedang memikirkan banyak hal sampai tidak sadar sudah berjalan menuruni tangga. Di pilar besar berukir di tengah ruangan, dua orang sedang berdiri memandanginya.


Kyoya memasang senyum ramah. Berjalan menghampiri dua orang itu.


"Kabar baik bro?" tanya seorang pria jangkung berambut panjang halus diikat rapi di belakang. Rambut pria itu berwarna ungu gelap. Vape berbentuk ular kobra meliuk tergenggam di jemarinya.


Kyoya dan pria itu bersalaman dan saling menepuk pundak.


"Cukup baik. Terimakasih Han." jawab Kyoya.


"Ibu marah besar ya kan? Tak kusangka, adik kecilku yg selama ini patuh dan alim akhirnya berbuat ulah juga." Seorang gadis bertubuh seksi tertawa puas. Menjulurkan tangan ke arah kepala Kyoya tapi laki-laki itu sudah hafal. Dengan gesit dia menghindar, wanita itu pasti ingin mengacak-acak rambutnya.


Gadis itu tidak berubah, masih memperlakukannya seperti dulu saat Kyoya berumur 11 tahun.


Dua orang ini adalah anggota keluarga Koijima dan adalah kakak Kyoya.


Pria itu bernama Koijima Han, CEO Rayon K Corporation, perusahaan internasional yg bergerak di bidang teknologi dan pangan. Salah satu perusahaan raksasa dibawah kendali Koijima Grup. Han memakai setelan kemeja kerja warna ungu pastel dan celana katun hitam.


Sementara gadis seksi itu bernama Koijima Grace, pewaris Manaka Entertainment, perusahaan terkenal berbasis entertainment dan production house. Perusahaan itu juga dibawah Koijima Group. Hanya saja Grace tidak suka berkecimpung di dunia bisnis. Dia lebih suka menjadi guru, yah mengesampingkan ketertarikan anehnya pada remaja pria. Dia sekarang adalah guru Bimbingan Konseling di sekolah menengah atas kota O. Karena itu dia memakai setelan kemeja putih ketat dan rok hitam di atas paha.


Mereka bertiga adalah saudara, tapi anehnya tidak mempunyai kemiripan wajah sama sekali. Karena Han adalah anak dari istri tidak sah ayah Kyoya. Ibu Han adalah orang Korea, sehingga wajahnya pun tampan seperti aktor Korea. Sementara Grace adalah kakak Mika, darah murni keluarga Koijima.


"Kudengar kau ada sedikit masalah bro." Han berkata. Kyoya hanya tersenyum hambar.


Han bergerak mendekat, "Ada kalanya, musuh terbesar adalah orang terdekatmu. Kau harus selalu waspada." bisik pria itu. Aroma vape menguar dari mulutnya.


Grace tertawa. "Yg perlu diwaspadai itu justru kau. Dengar-dengar kau menang tender senilai dua ratus milyar, hasil suap dinas mana tuh."


Han mencibir. "Yg penting ayah dan ibu bangga. Aku ke sini hanya ingin memamerkan hal itu."


Grace mencemooh. "Cih, syukurlah Kyoya tidak seperti dirimu. Dengan prestasinya yg jauh lebih banyak, dia pasti capek mondar-mandir ke rumah ini untuk pamer."


Grace dan Kyoya tertawa. Han mengisap vape lalu sengaja menyemburkannya ke wajah Grace, yg langsung mengumpat kesal dan memukul lengan Han keras.


Kyoya cukup terhibur, dia selalu senang saat bersama kedua kakaknya ini. Meski mereka bukan saudara sedarah, tapi dari mereka lah Kyoya bisa merasakan apa itu yg namanya hubungan kakak beradik.


"Sudah, aku mau kembali ke sekolah. Tadi Mika meneleponku memberitahu kalau ibu menyuruh Kyoya datang ke rumah. Aku hanya ingin melihat apa kau baik-baik saja. Ibu sejak dulu selalu keras padamu." Grace menepuk pundak Kyoya.


Hati Kyoya tersentuh. Berterimakasih karena Grace sudah mengkhawatirkan nya.


"Terimakasih kak." Kyoya berkata sungguh-sungguh.


Dengan nada manja, Han pura-pura merajuk.


"Sawako-chan, kapan kita pergi bersama? Kau selalu sibuk dengan berondong muda mu yg berseragam putih abuabu. Apa benar kau tidak pernah sekalipun tertarik padaku? Aku membuat banyak wanita mabuk kepayang lho."


Han mencondongkan tubuh ke Grace lalu berbisik menggoda, "Aku tidak keberatan memakai seragam putih abuabu jika itu yg kau suka. Pasti terlihat jauh lebih lezat dari mereka. Aku bisa memuaskanmu jika kau memintanya kak. Mau mencoba?" Han mengerling nakal. Han memang terkenal playboy kelas kakap.


Grace menggeram kesal. "Jangan memanggilku Sawako. Dasar Lee Seung Jae. Sampai matipun aku tidak akan tertarik dengan pria lemah dan kecil sepertimu."


Han membelalak, "Beraninya kau memanggilku dengan nama itu. Aku Han. H-A-N! Han."


Kyoya hanya bisa tersenyum melihat dua kakaknya itu saling mengejek.


Han memang bernama asli Lee Seung Jae, nama pemberian dari ibu kandungnya. Ayah Kyoya menggantinya menjadi Koijima Han. Sementara Sawako adalah nama asli gadis itu, yaitu Koijima Sawako. Tapi Grace tidak pernah suka nama itu, sangat kampungan. Karena itu ia mengganti sendiri namanya menjadi Koijima Grace.


Kyoya akan merindukan kemeriahan ini, karena dia tidak akan datang ke rumah ini untuk beberapa waktu ke depan. Demi reputasi, Kyoya dan saudara-saudaranya telah berjanji tidak akan saling bertemu dengan sengaja jika di luar kediaman Koijima ini.


Kyoya pun dengan enggan terpaksa pamit undur diri. Dia harus segera membereskan masalah skandal itu, dan .. rencana pernikahannya dengan Hana.


...***...