
Lana sedang duduk sendiri di toilet yg tertutup. Sengaja mengasingkan diri.
Sambil menatap nanar layar ponsel, Lana menghela nafas lelah. Berita ttg Kyoya masih saja bermunculan.
Meski sampai detik ini tidak ada berita ttg pengungkapan identitas Lana, hanya inisial L atau foto buram seorang gadis berambut panjang yg diblur pada bagian wajah. Lana sangsi itu bukan foto dirinya, entah mencomot foto siapa.
Mungkin memang sengaja dibuat misterius agar orang semakin penasaran dan terus mengikuti perkembangan berita ttg skandal CEO MT Corporation.
Permainan kotor para awak media. Lana menggeram kesal.
Tak hanya di dunia maya atau di televisi, topik ttg Kyoya ternyata juga diminati para karyawan wanita di MT Corporation. Walau tidak berani terang-terangan, bisik-bisik dan bergosip diam-diam sungguhlah nikmat.
Pagi ini Lana kembali masuk kerja setelah dua hari cuti untuk liburan.
Perasaannya tidak enak, Lana bisa merasakan tatapan menusuk orang-orang dan mendengar bisik-bisik mereka setelah Lana lewat.
Bahkan Yuni juga terlihat menjaga jarak. Biasanya sapaan ramah terdengar begitu Lana masuk ruangan PPIC. Kini sunyi senyap, hanya beberapa kepala yg mengintip dari atas bilik, menatap penasaran dengan pandangan menuduh.
Baru kali ini dia merasa sangat tidak nyaman berada di kantor. Padahal Lana selalu bersemangat saat berangkat kerja karena dia memang senang dengan rutinitas dan semua ttg MT Corporation. Sekarang, ingin rasanya dia pulang saja.
Lana tak habis pikir, ternyata rekan kerjanya berpikiran kalau inisial L itu adalah Lana. Entah sumber darimana, Lana merasa mendadak dikucilkan karena gosip itu.
Tanpa ingin mengetahui kebenarannya dengan bertanya pada Lana, para wanita penggosip itu lebih memilih terus menggosok isu-isu hangat sampai berasap, sampai telinga Lana panas mendengarnya.
Lana pun memutuskan bersembunyi di toilet padahal sekarang jam makan siang. Dia tidak berani muncul di kantin yg pastinya ramai, tidak mau melihat tatapan menusuk yg semakin banyak di sana.
Lana menggigit bibir, rasanya sungguh frustasi dan putus asa. Dia harus bagaimana sekarang. Bagaimana menjelaskan dan membuktikan pada orang-orang gosip itu salah.
Krieet..
Terdengar suara pintu toilet terbuka. Suara berisik langkah kaki bersepatu fantofel memasuki ruangan.
Lana tercekat. Dia duduk diam, tak berani bersuara.
Terdengar suara seseorang membuka keran air untuk mencuci tangan. Suara gemerisik air dan cekikikan memenuhi ruangan.
Keran ditutup. "Dimana cewek itu? Dia tidak terlihat di kantin."
Suara cempreng cewek entah siapa Lana tidak bisa menduganya. Disambut suara tertawa puas dari cewek yg lain.
"Kalau aku jadi dia, aku resign sekarang juga. Malu lah, borok sudah terlihat dan diumbar kemana-mana."
Si cewek cempreng bicara lagi, "Tapi aku benar-benar tidak menyangka, selama ini Lana terlihat pendiam dan baik, ternyata ia gadis yg seperti itu ya."
Temannya mencemooh. "Sepintar pintarnya orang menutupi bangkai, toh akan tercium juga. Selama ini kita tertipu oleh tampilannya yg polos bak gadis baik-baik. Nyatanya dia benar-benar menjijikkan. Pela*cur."
Lana meradang. Wanita ini dengan santai mengatai Lana dengan sebutan itu, seolah memang Lana pantas mendapatkan nya. Padahal wanita itu tidak tahu apa-apa.
Lana menajamkan telinga. Tunggu, suara wanita ini sepertinya familiar. Seperti suara rekan kerjanya di PPIC. Jangan-jangan.. Monic? Benarkah? Lana tidak ingin mempercayai dugaannya.
Suara familiar itu bicara lagi, "Kau pasti tahu Kepala Ruangan PPIC yg dulu, bukan Bu Yuni."
"Aahh iya iya. Pak Marcel kan." Si suara cempreng menyahut.
Suara familiar itu berkata, "Gara-gara Lana yg ditugaskan mengantar berkas ke ruang CEO, beberapa hari kemudian Pak Marcel dipindah ke Cabang PowerM."
"Asakusa?" Si suara cempreng memekik kaget. "Kota itu kan sangat jauh. Astaga.. jadi itu gara-gara Lana?"
"Begitulah gosipnya. Entah bagaimana, cewek biasa seperti itu bisa langsung jadi sekretaris PPIC dalam waktu dekat. Aku saja yg sudah lama di sini harus merangkak dulu. Lana pasti punya koneksi dengan orang dalam. Aku yakin itu."
Monic melanjutkan, "Apalagi waktu itu Pak Marcel selalu mengganggu dan menyuruh Lana seperti babu. Mungkin dia mengadukan semua pada CEO ttg masalah Pak Marcel, memakai backingan koneksinya. Jadi kau harus berhati-hati sekarang pada Lana."
Si cewek cempreng teringat sesuatu. "Oh iya, apa kau ingat urgent meeting waktu itu? Tentang karyawan training yg baru diterima, tiba-tiba banyak yg dipecat dan mengundurkan diri?"
"Terus, terus.. " Si suara cempreng makin semangat. "Kau bilang Lana menggoda CEO PT NaThan? Sekarang kan kau yg menghandle proyek itu ya."
Monic mengumpat. "Dasar cewek setan. Coba kau bayangkan, tiba-tiba dia lepas tanggungjawab dan bilang tidak mau lagi memegang proyek Naruyama. Aku kan juga punya banyak hal yg harus dikerjakan, tapi Bu Yuni menyuruhku untuk ambil alih. Menyebalkan."
Si suara cempreng berusaha memberi penghiburan.
Monic mencibir, "Tapi dari situ aku jadi tahu sifat asli Lana. Entah apa yg sudah dia berikan ke CEO PT NaThan, pria itu selalu bertanya ttg Lana. Seolah-olah Lana memberi Pak Ethan harapan palsu untuk terus mengejarnya. Jangan-jangan.. mereka sudah tidur bersama? Sekarang ini banyak kan klien with benefit."
Si cewek cempreng syok. "Sungguh gadis murahan. Aku tidak menyangka Lana benar-benar menjijikkan. Lalu kenapa dia tiba-tiba tidak mau lagi meng-handle proyek Naruyama? Kalau dia bisa menguasai CEO itu."
Monic tertawa lepas. "Kau bodoh sekali sih. Kau tidak ingat berita panas akhir-akhir ini? Itulah jawabannya."
Monic mendesis. "Karena ada CEO lain yg jauh lebih baik."
Si suara cempreng menekap mulut, syok. "Pak Koijima Kyoya?"
Monic mengangguk puas. "Pria yg lebih hebat, lebih tampan, lebih berkuasa. Lana pasti mengincar itu. Sudah bosan dengan Pak Ethan, Lana mencampakkannya lalu berpindah ke Pak Koijima. Syukurlah skandal ini terungkap. Biar semua orang tahu kebusukan gadis itu."
Si suara cempreng tampak menyesal. "Tapi kasihan Pak Ethan, juga Pak Koijima. Mereka menjadi korban gadis murahan itu."
Monic tersenyum mencemooh. "Ya kan, kau tidak bisa menilai orang dari sampulnya. Lana benar-benar berbahaya. Hati-hati."
Si suara cempreng berpura-pura takut lalu keduanya cekikikan.
Lana memejamkan mata, berusaha sekuat tenaga menahan gejolak amarah di dada. Buku tangannya sampai memutih, dia meremas ponselnya kuat-kuat. Dia sangat ingin menggebrak pintu dan menjambak keras-keras rambut keduanya sampai botak.
Dari pantulan cermin, Monic mendadak menyadari ada satu pintu bilik yg tertutup. Saking asyiknya dia bergosip, tidak mengecek dulu ketika masuk. Bagaimana kalau ada orang yg menguping?
Monic berjalan mendekati bilik itu.
Lana tercekat. Suara ketukan sepatu Monic terdengar mendekat ke arahnya.
Monic mendorong pintu bilik agar terbuka tapi pintu itu tak mau bergerak. Seperti terkunci.
Lana menahan nafas. Monic berjongkok untuk melihat melewati pintu bilik yg terpotong bagian bawahnya sehingga bagian dalam toilet terlihat.
Tepat waktu, Lana mengangkat kedua kakinya ketika kepala Monic melongok ke bawah. Monic tidak melihat ada siapapun, hanya toilet duduk yg kosong.
Ah, mungkin sedang rusak pintunya, pikir Monic.
"Ada apa?" tanya si suara cempreng.
"Tidak ada apa-apa. Yuk balik, sebentar lagi istirahat selesai. Aku masih harus menelepon Pak Ethan."
Monic tersenyum. "Semakin aku sering bertemu dan berkomunikasi dengannya ttg proyek ini, aku baru sadar kalau Pak Ethan itu ternyata sangat tampan dan baik. Sayang sekali Lana mencampakkan pria se-perfect itu."
Si suara cempreng terkikik. "Jika pilihannya Pak Koijima Kyoya, aku juga akan tega mencampakkan lelaki manapun. Pak Koijima sih best of the best."
Monic mencibir, "Mimpimu ketinggian. Pak Koijima bahkan tidak tahu kau ada di perusahaan ini, jangan mengkhayal yg bukan-bukan."
Si suara cempreng protes. "Ih suka-suka aku lah ya."
Lalu keduanya keluar dari toilet. Ruangan itu mendadak sepi.
Lana menurunkan kakinya menginjak lantai lagi. Wajahnya memerah, rahang Lana mengeras. Saat ini dia bisa melahap seekor gajah hidup-hidup saking marahnya.
Jadi begitu ya.. yg orang-orang itu pikirkan tentangnya.
Awas saja kalian..
...***...