
"Bisakah kamu melakukannya?" tanya Koijima Kyoya penuh harap.
Lana ragu-ragu mengangguk.
Bagaimana mungkin dia punya keberanian untuk menyentuh sang CEO.
Tapi sorot mata memelas bagaikan anak kucing itu meluluhkan hati Lana.
Dia hanya memijat, toh bukan di area yg tabu. Hanya kepala dan pundak, jangan berpikiran berlebihan Lana.
"Kemarilah."
Suara itu terlalu merdu untuk didengar.
Lana berjalan mendekat dengan jantung dagdigdug.
Kini Lana berdiri tepat di samping Kyoya, tercium samar-samar aroma parfum yg membuat Lana rindu.
"Bagaimana kamu akan memijatku?"
Kyoya mendongak dan Lana tidak kuat menatap ketampanan itu.
Lana menunjuk ke sandaran kursi.
"Anda bisa bersandar di sini. Saya akan memijat dari belakang kursi." kata Lana.
Kyoya patuh, dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan duduk rileks.
Lana bergerak ke belakang dan jemarinya mulai menelusuri bahu Kyoya.
Sang CEO saat ini memakai kemeja linen warna abu-abu dengan dasi biru tua polos.
Saat jemari Lana menyentuh bahunya, terasa hangat dan halus karena serat kain dari kemeja mahal itu.
Lana mulai memijat dengan lembut dan mantap.
Tampak sang CEO mengerang merasa nikmat.
Gerakan tangan Lana langsung berhenti.
Kyoya yg sejenak memejamkan mata menikmati pijatan itu membuka matanya.
"Ada apa?" tanyanya heran.
Lana menggelengkan kepala,
"Ah maaf, tidak ada apa-apa. Saya hanya ... sedikit kaget mendengar suara anda." jawabnya pelan kemudian melanjutkan pijatannya lagi.
Kyoya yg menyadari maksud kalimat Lana, tertawa kecil.
"Maksudmu, kamu tidak terbiasa melihat aku mengerang seperti tadi atau kamu memang tidak terbiasa mendengar laki-laki mana pun mengerang seperti tadi?"
Kyoya malah membuat semuanya makin tabu dan intens.
Lana menggigit bibirnya dan wajahnya bersemu merah.
"Tolong jangan banyak bergerak."
Lana memilih mengabaikan pertanyaan nakal itu dan melanjutkan memijat.
"Pundak anda keras, pijat seperti ini akan membuatnya terasa rileks dan nyaman."
Lana memijat sepanjang garis bahu pria yg lebar itu.
Kyoya hanya mengeluarkan suara hmm, matanya tertutup.
Setelah lima menit memijat bahu keras itu, jemari Lana pindah ke atas kepala.
Dia menekankan kedua ibu jarinya ke pelipis dan melakukan gerakan memutar.
Kyoya yg menyadari Lana sedang memijat kepalanya, membuka mata dan pandangan mereka bertemu.
Sementara Kyoya mengamati wajah Lana.
Dari jarak sedekat itu, Lana terlihat begitu cantik. Kulitnya yg putih mulus, ada beberapa titik keringat kecil di batas rambut di keningnya. Mata lebar hitam yg berbulu mata lentik. Hidung nya yg pas, tidak mancung juga tidak pesek. Bibir sensual yg saat ini sedang digigitinya.
Kyoya menahan keinginan untuk tiba-tiba bergerak menerjang, bagai singa yg kelaparan berminggu-minggu akhirnya menemukan kelinci kecil untuk memuaskan hasrat lapar yg menderanya selama ini.
Ah dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Bahkan pada gadis paling cantik sekelas model kelas dunia Ana Chloe Hankam yg beberapa bulan lalu berusaha merayunya, hati Kyoya dingin tidak tertarik sedikitpun.
Mengapa kali ini berbeda?
Bersama gadis biasa ini, Kyoya menjadi dirinya sendiri sekaligus berubah menjadi posesif.
Apa yg harus aku lakukan untuk menahan gejolak ini nona?
Lana yg mulai merasa tidak nyaman ditatap begitu intes oleh bosnya, akhirnya bersuara.
"Tolong jangan menatap saya seperti itu. Bisa-bisa saya meleleh."
Lana mencoba bergurau.
Kyoya tertawa kecil, dia menutup matanya dan berkata, "Bangunkan aku jika aku nanti tertidur."
"Baik."
Lana meneruskan memijat, kening, puncak kepala dan keseluruhan kepala sang CEO.
Lana merasakan rambut yg hitam tebal di sela-sela jemarinya beraroma pomade dan shampo wangi mentol.
Lana memijat dengan pikiran berkeliaran kemana-mana.
Kira-kira apa yg ada dipikiran orang-orang jika melihat posisi mereka berdua saat ini.
Apakah ada orang lain yg pernah memijat sang CEO seperti ini?
Dan kira-kira apa ya yg dipikirkannya tadi saat menatapku seperti itu?
Lana telah menyelesaikan pijatan ke seluruh kepala dan bahu.
Dia menyadari Koijima Kyoya tertidur sangat pulas. Nafasnya bergerak teratur.
Lana membungkukkan badan untuk melihat lebih dekat hasil karya indah yg terpahat dengan sempurna didepannya.
Laki-laki itu amat sangat tampan.
Bahkan saat diam tertidur seperti ini, membuatnya seperti patung manekin yg indah.
Lana menelusuri wajah Kyoya dengan jari telunjuk yg terangkat setengah centi dari permukaan kulitnya.
Benar-benar rupawan.
Bulu mata yg hitam melengkung, hidung mancung, bibir tipis yg bersemu merah, kulit putih bersih. Mungkin tadi pagi laki-laki ini sudah bercukur.
Lana berdiri semakin dekat, wajahnya hanya berjarak sekepalan tangan saja dari wajah Kyoya.
Lana baru sadar laki-laki ini memiliki tahi lalat kecil di sudut bibirnya.
Tilililit!
Tiba-tiba terdengar bunyi interkom, Lana terlonjak kaget dan menoleh ke meja.
Rupanya suara itu berasal dari telepon hitam yg lampunya menyala biru.
Lana tidak menyadari Kyoya yg bangun dari tidur ayamnya, kembali menoleh dan matanya seketika terbelalak.
Bibir mereka bersentuhan.
...***...