Between

Between
Bab 89 Kekuatan Cinta



Permainan berikutnya adalah siapa yg mampu bertahan menggendong pasangannya sampai hitungan ke 30.


Lana membelalak, dia kan amat sangat berat. Akan malu-maluin kalau sampai Ethan tidak kuat menggendongnya sejak hitungan ke 5. Atau kalau laki-laki itu sampai jatuh, malunya bisa double.


"Untuk cara menggendongnya, terserah ya. Yg penting si wanita tidak boleh jatuh, tidak boleh sampai menyentuh lantai. Apa kalian siap??Bersediaa.." Si badut mulai menghitung.


Lana memperhatikan Kyoya menunduk untuk merapikan rok Hana, lalu melingkarkan lengan di bawah lipatan rapi rok itu dan satu lengan lagi di bahunya.


Kyoya menggendong Hana di depan ala bridge. Hana kelihatan amat senang, kedua tangannya melilit erat di sekeliling leher Kyoya.


Lana yg asyik memperhatikan pasangan sebelah, sampai tidak sadar Ethan sudah berdiri di depannya. Ethan melepas jaket bombernya, lalu melingkarkan jaket itu di sekeliling pinggang Lana.


"Uwooww, pasangan hari kerja ini sow swiit syekalii.." sorak si badut melihat betapa gentle sikap Ethan.


Lana tersadar kalau dari tadi dia terus saja menoleh ke kanan. Lana menatap depan dan memandangi wajah Ethan yg menunduk. Laki-laki itu fokus mengikat kencang lengan jaket itu di perut Lana.


"Nah, beres. Pegangan yg erat ya sayang." gumam Ethan, mengerling nakal.


Lalu tanpa komando, laki-laki itu membungkuk dan menggendong Lana di punggung. Jaket itu menutupi rok sepan Lana yg terangkat karena digendong.


Lana mengeratkan tangannya ke sekeliling leher Ethan, agak longgar supaya laki-laki itu tidak tercekik.


Kini semua peserta sudah siap. Hampir semua menggendong di punggung seperti Ethan.


"Okey, saat saya menghitung, para pria berjongkok lalu berdiri lagi, gampang kan?" Suara si badut ditelan pekikan protes dari para peserta. Ethan maupun Kyoya tampak santai.


"Kita berhitung sama-sama ya.. Siap?? Mulai." Si badut terdengar antusias.


"Satu,"


Semua peserta pria berjongkok dengan menahan beban pasangannya. Lalu semua berdiri lagi dengan serempak.


"Dua."


Semua berjongkok lagi.


"Oh my God!!" Ada satu peserta yg berteriak entah siapa. Disambut tertawa para pengunjung.


"Tiga!!" Si badut semakin bersemangat.


Bruk.


Dua peserta di paling ujung terjatuh, cewek yg digendongnya bertubuh gemuk, sedangkan si pria lebih mungil. Pantas saja mereka ambruk.


"Yak, dua peserta gagal. Masih tersisa delapan." seru si badut.


"Lanjut lagi ya, empat..."


Lana berpegangan erat. Ethan tidak tampak kesusahan, dia seperti sedang berolahraga biasa. Padahal Lana menggelayut seperti karung beras yg beratnya berkwintal-kwintal.


Kyoya dan Hana juga bisa melaluinya dengan mudah. Hana malah tampak menikmati dipeluk erat oleh tunangannya itu. Kyoya sesekali melirik Lana yg menggantung seperti anak kodok di sebelahnya.


".. dua puluh.."


Peluh bercucuran di wajah peserta pria di sebelah kiri Lana. Kaki pria itu tampak gemetaran.


"Dua puluh satu.."


Bruuk,


Empat peserta langsung gagal bersamaan. Dua jatuh terjengkang, dua jatuh menelungkup ke depan. Semuanya menjerit kesakitan, terutama para pria tampak sangat kelelahan.


Kini hanya tinggal empat peserta lagi.


Ethan tampak terengah tapi tidak gemetar. Punggungnya sedikit basah oleh keringat. Lana jadi tidak tega.


"Dua puluh lima.. Yah sedikit lagi, ayo kalian pasti bisa."


Si badut sengaja melambatkan hitungan. Para peserta itu sudah menggendong hampir setengah jam. Tangan kaki mereka pasti kesemutan dan sangat sakit.


"Sampai tiga puluh ya.. dua puluh enam,"


Bruk,


Sayang sekali peserta di sebelah Lana akhirnya ambruk. Si pria langsung berbaring telentang, tampak lemas. Lana menatap kasihan.


"Wooww, tinggal tiga pasangan lagi. Semangat kalian!" seru si badut disambut sorak sorai dan tepuk tangan dari pengunjung.


"Dua puluh delapan.."


"Tiga puluh!!"


Kyoya menurunkan Hana dengan hati-hati. Gadis itu menapak lantai dengan senyum sumringah. Dia bertanya apa Kyoya baik-baik saja, laki-laki itu mengangguk.


Ethan berjongkok, Lana langsung melompat turun. Lana refleks mengusap keringat di dahi Ethan dengan ujung lengan kemejanya. Ethan menggeleng, lalu mengelap keringatnya dengan ujung lengan kemejanya sendiri.


Dua gadis kelinci bergegas datang membawakan botol air mineral dingin. Satu botol untuk satu pasangan.


Lana memberikan botol itu pada Ethan.


Ethan membukakan tutupnya lalu menawari Lana. Lana menggeleng, akhirnya laki-laki itu meneguk air hingga setengah botol. Segar sekali.


Kyoya juga sedang minum, jakunnya naik turun. Isi botolnya tinggal separuh.


Para peserta yg gagal dipersilahkan untuk turun panggung, tak lupa para gadis kelinci memberikan botol minum pada mereka.


Kini di atas panggung hanya tinggal tiga pasangan saja. Kyoya Hana, Ethan Lana, seorang pria berotot dan gadis girly berambut panjang ikal.


"Yak, istirahat sudah selesai. Games kekuatan cinta ternyata berat juga ya, hanya menyisakan tiga peserta saja. Kalian hebat!"


Si badut memberi kode pada panitia untuk lanjut ke game selanjutnya.


"Sekarang games terakhir, penentuan! Pasti sudah tidak sabar ya kan?? Game yg ketiga adalah.."


Musik bergema lagi, kali ini lebih semarak karena game terakhir. Si badut melakukan atraksi bersalto dari ujung panggung lalu split dengan mantap di tengah panggung. Beberapa penonton kagum dan bertepuk tangan.


"Temukan Pasangan Sejatimu!!" pekik si badut bersemangat, merentangkan kedua tangannya ke atas.


Lana memperhatikan para panitia mulai menata tiga kursi berjejer di depan mereka, dengan jarak dua jengkal antara satu kursi dengan kursi lainnya.


Lana sama sekali tak ada ide game apa dengan kursi-kursi itu.


"Karena tadi para pria sudah berlelah-lelah ria, game kali ini para wanita yg bertugas."


Si badut mempersilahkan para peserta wanita berjalan ke arah dua gadis kelinci di bagian belakang. Sementara para pria dipersilahkan mendekati kursi-kursi.


Lana berdiri di sebelah Hana, mendengarkan instruksi satu gadis kelinci.


Mereka diberi penutup mata yg empuk berbentuk kelinci abu-abu.


Apa aku harus menutup mata? batin Lana.


Seorang gadis kelinci lainnya menyodorkan toples besar berisi kukis-kukis berbentuk hati.


"Jangan dimakan ya. Kukis ini harus kalian suapkan ke pasangan kalian. Yg kukis nya habis duluan, dia lah pemenangnya." jelas gadis kelinci itu.


Lana mengambil satu kukis yg berukuran setelapak tangannya. Lalu gadis kelinci yg lain mulai memasang penutup mata itu di wajah Lana. Lana langsung disergap gelap gulita.


"Okey, sepertinya para wanita sudah siap." Si badut melihat kode dari gadis-gadis kelinci.


"Okey, game terakhir adalah.. para peserta pria akan duduk di kursi secara acak. Kalian para peserta wanita, temukan pasangan kalian lalu suapi dia dengan biskuit yg sudah kalian pegang. Siapa yg kukisnya habis duluan, dia lah pemenangnya. Mengerti ya?"


Lana dan dua gadis lainnya digiring ke tengah panggung.


Lana mendengar suara si badut yg mulai menghitung.


"Yak, siap?? Satu.. dua.. Tiga!! Ayo cari dimana pasanganmu!!" pekik si badut antusias. Semua pengunjung juga terlihat bersemangat.


Lana akhirnya mengikuti instingnya, ia melangkah maju sambil tangan terjulur ke depan meraba-raba udara.


Para panitia berjaga di sepanjang pinggiran panggung. Jika ada peserta wanita yg berjalan ke pinggir, para penjaga itu mengarahkan para peserta kembali ke tengah panggung.


"Eits, para peserta pria tidak boleh bergerak, tidak boleh bersuara, juga tidak boleh memberi kode apapun ya." Si badut mengingatkan.


Lana meraba-raba udara, dimana sih Ethan? Sekelilingnya sangat ramai, mungkin itu suara para pengunjung yg menyemangati. Tapi membuat Lana jadi bertambah bingung.


Ia merasakan ada tangan yg memutarbalik tubuhnya, tangan itu lalu mendorongnya pelan. Ups, apa aku sudah sampai di pinggir panggung. Lana meraba-raba udara lagi.


"Yak, satu peserta sudah mulai menyuapi. Hei, hei mbak, kamu mau kemana?"


Si badut tertawa melihat satu peserta hampir menabrak background panggung. Seorang panitia dengan sigap membantu mengarahkan si mbak tadi agar kembali ke tengah panggung.


Lana sama sekali tidak bisa mendengar apa-apa dari Ethan kecuali suara mc dan teriakan para pengunjung. Kenapa Ethan tidak memberi kode sama sekali sih.


Bruk,


Tiba-tiba ada seseorang yg menabraknya dari samping kiri. Lana sedikit oleng. Entah siapa itu. Lana merasa orang itu bablas saja, lalu hilang.


Rasanya Lana sudah lama berputar-putar tidak menentu, ketika instingnya berkata lurus saja. Lana pun mengikutinya.


Duk.


Kaki Lana menabrak sesuatu. Seperti kursi. Lalu Lana merasakan sepasang sepatu dan kaki pria bercelana panjang. Siapa ini ya.


"Yak, sekarang semua sudah sampai di pasangannya, ayo mulai menyuapi, siapa yg habis paling duluan dia yg menang!"


Lana meraba-raba.


Pundak yg lebar. Jemari Lana naik ke atas, ia merasakan dagu seseorang. Kalau begitu diatasnya ada bibir kan.


Lana menemukan bibir yg terkatup rapat. Dengan masih menerka-nerka, Lana meraba bibir itu dengan jari-jarinya. Lalu mulai menyuapi biskuit yg ia pegang sambil terus meraba-raba.


Lana merasa ada yg aneh dengan wajah pria ini, seperti sedang memakai sesuatu di wajahnya. Jemari Lana merasakan kain satin yg lembut menutupi hidung dan mata pria ini.


"Selesai!! Game sudah berakhir!! Yak.. silahkan dibuka penutup matanya!"


Tiba-tiba terdengar suara si badut mengakhiri semuanya.


Lana yg bingung kenapa gamenya sudah selesai, berusaha melepas ikatan penutup mata itu.


Lana berjengit, ia kaget karena tangannya menyentuh jemari pria didepannya yg ikut membantu melepaskan penutup mata itu.


Jemari hangat itu menarik lepas penutup mata Lana. Lana memicingkan mata karena silau.


Setelah beberapa detik menyesuaikan matanya dari gelap ke terang benderang, Lana akhirnya menyadari siapa yg duduk di hadapannya.


Pria itu tersenyum, menatap Lana lembut.


Mata Lana membelalak. Pria ini bukan Ethan. Lana memperhatikan kalau pipi, bibir dan dagu pria itu penuh dengan remah-remah kukis.


Lana refleks mengulurkan tangan kirinya untuk membersihkan wajah pria bertopeng itu. Ia mengusap-usap lembut hingga remah-remah itu jatuh ke bawah.


"Kamu benar, walaupun matamu tertutup, ternyata kamu bisa menemukanku." bisik Kyoya.


Laki-laki itu menarik tangan kanan Lana yg memegang kukis, mendekatkannya ke mulut lalu menggigit kukis itu dalam gigitan besar.


"Not bad."


Kyoya mengunyah dengan elegan.


Kyoya menelan kukis itu lalu menatap Lana. "Kenapa dari tadi kamu susah sekali menyuapiku?"


Lana hanya bisa melongo parah. Dia membiarkan tangannya digenggam Kyoya karena pria itu memakan kukisnya lagi sampai habis.


Sementara itu, di kursi di sebelah Lana..


Hana tampak murka.


Begitu penutup matanya terlepas, Hana kaget bukan kepalang yg duduk di hadapannya adalah Ethan.


Apalagi laki-laki itu sudah memakan kukis Hana dengan lahap.


"Kau menghentak-hentakkan kakimu ya?" cecar Hana dengan suara pelan agar tidak ada yg dengar. (memakai bahasa Inggris)


Ethan sudah putus asa tadi melihat Lana yg hanya berputar-putar, tidak segera menghampirinya. Lalu Hana malah datang ke hadapannya, langsung menyodorkan kukis itu tepat di mulut Ethan.


Ethan yg tak punya pilihan selain makan kukis itu pun hanya mengangguk. Ethan gugup dan frustasi melihat Lana malah mendatangi tempat Kyoya duduk, membuat Ethan jadi tanpa sadar menghentak-hentakkan kakinya.


Melihat Ethan mengangguk, Hana semakin kesal.


"Aku menyuruh Kyoya yg menghentakkan kaki, kenapa malah kau sih. Dasar, nih habiskan!" umpat Hana, menjejalkan separuh kukis itu ke tenggorokan Ethan.


Ethan yg tidak siap dicekoki biskuit, tersedak lalu terbatuk-batuk.


"Yak, sayang sekali. Pasangan hari kerja dan pasangan misterius harus kalah. Kenapa kalian jadi tertukar sih?"


Si badut berjalan melewati mereka berempat sambil menggelengkan kepala. Sayang sekali pasangan favoritnya kalah. Games terakhir ini memang susah.


Melupakan kecewa dan sedihnya, mc badut itu lalu dengan riang menghampiri pasangan lelaki berotot.


"Kita sudah menemukan pemenangnya! Pasangan sejati sungai Yan yg kami cari.."


Si badut mengangkat tangan si pria berotot dan tangan si cewek girly ke atas. ".. adalah kalian!! Selamat ya."


Semua penonton bersorak ramai dan bertepuk tangan.


Melihat itu, Hana cemberut lalu pergi begitu saja. Gadis itu bergegas menuruni tangga panggung lalu menghilang.


Melihat Hana yg ngambek, Kyoya berdiri. Ia hendak menyusul tunangannya itu ketika seorang panitia menahannya, menjelaskan akan ada pembagian hadiah. Kyoya pun tak bisa berkutik.


Lana menghampiri Ethan, laki-laki itu sedang minum dari pemberian seorang gadis kelinci yg menyadari kalau Ethan tersedak.


"Kamu gak papa?" tanya Lana khawatir.


Ethan mengangguk.


"Sadis banget tuh cewek, sumpah deh."


Laki-laki itu mengusap mulutnya yg basah dan belepotan remah biskuit.


Lana menahan senyum. "Maaf ya kita jadi kalah gara-gara aku." Lana membantu membersihkan wajah Ethan.


Ethan menatap manik mata Lana lembut. "Pasangan sebelah juga sama, jadi gak papa."


Ethan mengusap kepala Lana penuh sayang.


Lana balas tersenyum lalu detik berikutnya dia teringat sesuatu.


Lana menoleh dan sadar kalau Kyoya masih ada di sana, sedang memandanginya. Ekspresi laki-laki itu tidak bisa ditebak.


Yang pasti, rahang Kyoya tampak mengeras.


...***...