
Malam itu suasana di depan rumah Lana lengang. Bahkan pojang macha, kedai makanan bertenda merah yg selalu ramai itu pun tampak sepi pengunjung.
Seekor tupai memanjat pohon hendak meloncat ke balkon lantai dua gedung rumah Lana ketika suara vroom keras terdengar dari ujung tikungan, mendekat.
Sebuah mobil CRV hitam melaju cukup kencang lalu berdecit mengerem tepat di depan rumah Lana. Sorot terang lampu depan mobil menyinari pepohonan yg temaram, tupai itu terjatuh ke rerumputan saking kagetnya dengan suara mobil yg berisik.
Tak beberapa lama, muncul sebuah mobil hitam lainnya, BMW yg mulus dan senyap dari tikungan. Mobil BMW itu melewati pojang macha lalu berhenti beberapa meter tak jauh dari rumah Lana. Penumpang dari kedua mobil itu tidak ada yg terlihat turun.
Pengemudi mobil BMW memeriksa sekeliling, ia melihat sekilas kepala-kepala yg kembali masuk ke dalam tenda merah setelah penasaran dengan suara berisik apa barusan.
Jalanan sepi, situasi aman. Laki-laki pengemudi BMW itu memperhatikan mobil pertama di seberang jalan sana terlihat masih menyala, kedua penumpang di dalam mobil terlihat sedang terlibat obrolan. Tanpa gelagat mencurigakan, laki-laki itu terus menatap lurus ke depan, mengamati mereka.
Instruksi atasannya jelas, pastikan Lana pulang ke rumah dengan aman.
Laki-laki itu sudah terbiasa membuntuti orang, tugas mata-mata semacam ini gampang saja. Apalagi kaca jendela mobil mewahnya ini jenis yg gelap dan tidak tembus pandang, sangat membantu dalam penyamaran.
Tak lama terdengar suara pintu mobil menutup. Kepala si mata-mata bergerak ke kiri, mengikuti gerakan Lana yg berlari menuju anak tangga. Tanpa menoleh ataupun melambai, Lana bergegas menaiki tangga memasuki rumah.
Setelah memastikan sosok gadis itu membuka pintu kamar di lantai dua dan menghilang dibaliknya, si mata-mata lalu menekan tombol telepon di dashboard mobil.
Telepon diangkat pada dering kedua, "Selamat malam sir." Roger langsung menyahut sopan.
"Nona Lana baru saja masuk ke dalam rumah dalam keadaan aman." lapor si mata-mata.
Sunyi sejenak, lalu..
"Terimakasih. Pesta akan segera usai, tugasmu hari ini sudah selesai, kau boleh pulang." suara Kyoya terdengar menggema di dalam mobil.
"Baik sir, terimakasih. Selamat malam." Roger menutup telepon.
Sambil menatap lurus mobil CRV yg masih berada di seberang, Roger menebak dari percakapan singkatnya barusan, atasannya yg menjawab singkat dan tidak menyebut nama itu pastilah saat ini sedang bersama si nona judes. Sang CEO tidak ingin gadis tunangannya itu curiga.
Setelah lima menit berlalu, mobil CRV itu akhirnya terlihat bergerak. Setelah menyalakan sein kiri, roda mobil memutar lalu mobil itu melewati Roger tanpa si pengemudinya curiga sedikitpun.
Dari balik spion, Roger memperhatikan mobil itu berbelok di tikungan lalu menghilang.
Tugas menjadi mata-mata selesai sudah.
Roger melirik jam tangan, pukul setengah 10 malam. Masih terlalu awal baginya untuk pulang ke rumah. Setiap hari Roger terbiasa mengawal keseharian sang CEO hingga tengah malam, meski harus berangkat lebih pagi keesokan harinya. Jadi jam setengah 10 seperti ini masih terasa sore baginya.
Roger sedang memilih bar mana yg akan ia kunjungi ketika melihat sosok gadis yg ia kenal sedang terlibat percekcokan di dekat pojang macha.
Tubuh Cika diputar dengan paksa oleh seorang pria. Pria itu sangat kasar, Cika refleks memekik.
"Dengarkan aku! Jangan berani-beraninya pergi sebelum aku selesai bicara." Pria itu menunduk mengintimidasi, matanya membelalak menyeramkan. Cika diam, mengkeret ketakutan.
"Aku tidak terima dengan alasan konyolmu itu. Jika kau berselingkuh, katakan saja. Aku lebih bisa menerima alasan brengsek itu daripada yg barusan kau buat-buat seolah aku yg salah. Aku tidak terima kita putus begitu saja Cika."
Cika memberanikan diri bicara, "Kau tidak sadar kalau kau itu toxic? Akhir-akhir ini pun kau sering memukul dan bersikap kasar, Marco. Aku tidak bisa lagi bersamamu. Setelah apa yg kau lakukan padaku barusan."
Marco menggeram marah, "Itu karena kau membuatku kesal. Aku kan sudah minta maaf, selesai kan? Kenapa kau pendendam sekali!"
Cika menelan ludah, mulai panik dan takut. Marco sepertinya tidak bisa diajak bicara, jika begini terus bisa-bisa laki-laki itu memukulinya lagi. Apa aku minta tolong ke pojang macha disana ya? pikir Cika. Tapi bagaimana caranya aku pergi kesana. Aku saja tidak bisa berkutik dari lelaki psikopat ini.
Awalnya hanya sepele. Di rumah, Cika sudah sangat lelah, ia hanya ingin beristirahat karena seharian bekerja lembur. Tiba-tiba Marco datang dan ingin ber'main' di ranjang. Cika menolak halus mengatakan besok saja, sekarang aku lelah. Tapi apa, Marco mengamuk bagai kesetanan. Ia menghajar Cika hingga babak belur.
Disela-sela usahanya membela diri, Cika berhasil memukul kepala Marco dengan panci. Laki-laki itu terjatuh memberinya kesempatan untuk keluar rumah menyelamatkan diri. Cika berlari sekuat tenaga menuju rumah Lana, apesnya Marco lebih cepat. Padahal tinggal sedikit lagi, tinggal beberapa meter lagi, laki-laki mengerikan itu bisa menyusulnya.
"Ayo pulang ke rumah. Kita bicarakan lagi baik-baik." Marco mencengkram lengan Cika lalu menyeret gadis itu secara paksa. Cika menekan sandal jepitnya di bagian tumit keras-keras ke jalanan paving, agar tidak bergerak.
"Jangan membuatku kesal!" Marco menarik lebih keras.
Tangan Cika sakit sekali, tubuhnya sampai miring ke belakang saking kerasnya ia berusaha bertahan.
Melihat Cika yg keras kepala, Marco menyentak tubuh mungil gadis itu lalu tangannya terangkat ke udara, siap melayangkan pukulan.
Cika menatap ngeri, refleks menunduk melindungi kepalanya sambil memejamkan mata.
Cika terdiam, bertanya-tanya mengapa tidak terjadi apa-apa, mengapa pukulan itu tidak segera mengenai dirinya.
Tiba-tiba Marco melolong kesakitan. Cika menurunkan tangan, lalu memberanikan diri melihat apa yg terjadi.
Tangan Marco tertekuk ke belakang punggung, seseorang berambut pirang tanpa ampun menariknya hingga tinggal menunggu suara krek saja tangan itu akan patah.
Cika terkaget-kaget,
"Roger?"
Bagaimana bisa ajudan sang CEO ada disini? Ia tidak sedang berkhayal kan?
"Lepaskan aku dasar brengsek! Siapa kau-AKHH!" Marco tersungkur ke belakang menabrak jalanan paving karena Roger melepaskan tangannya begitu saja.
Marco mengumpat dengan seluruh hewan yg ada di kebun binatang. Kemudian ia berusaha bangkit. Dengan tertatih pria itu merangsek maju.
BUAGH.
Roger menghantam dagu Marco, tepat di rahangnya. Marco tersuruk jatuh sambil melolong lagi.
Cika membekap mulut, ngeri melihat dua pria itu berkelahi.
Marco meludahkan darah, sesuatu berwarna putih kecil meluncur keluar, giginya sepertinya tanggal.
"Kurang aja! Siapa kau, hah?! Kenapa ikut campur urusanku?!" Marco makin kalap.
Roger berdiri tenang, eskpresinya datar namun tatapannya menyeramkan, tatapan membunuh.
"Dia pacarku!" pekik Cika. Roger menoleh kaget, Marco membelalak.
"Benar, aku selingkuh darimu. Itu karena kau toxic! Sekarang kau puas kan? Tinggalkan aku, aku sudah punya laki-laki lain. Kita benar-benar putus!!" Cika memberanikan diri.
Marco menggeram marah seperti seekor banteng besar yg murka. Cika tanpa sadar bergerak mendekat ke sisi Roger.
Marco bangkit dengan mata nyalang.
Detik berikutnya Marco menerjang ke arah gadis itu.
Tapi..
BUGH!
Roger menendang keras perut Marco hingga laki-laki itu terjungkal ke belakang.
Roger melangkah mendekat, lalu menendang pria itu dengan keras dan brutal berulang kali.
Cika menyadari kalau tidak ada tanda-tanda akan berhenti dari Roger, laki-laki itu menghajar tanpa ampun wajah Marco dengan ujung sepatu hitam mengkilap yg dipakainya, yg kini bernoda darah.
Marco hanya bisa merintih. Tubuh laki-laki malang itu kini tergolek lemas, darah mengucur dari mana-mana.
"Stop. Stop, Roger! Kau bisa membunuhnya." Cika berlari menahan Roger.
Roger berhenti, dia menoleh ke arah Cika, bingung. "Kau ingin aku mengampuni pria ini karena kau tidak tega ia mati? Kau masih mencintainya." Roger bergumam sendiri.
Cika menggeleng, "Aku sedang menyelamatkan nyawamu, dasar bodoh. Kalau sampai dia mati, kau bisa dipenjara dengan tuduhan menganiaya dan membunuh orang, kau tahu?" Cika panik.
Bibir Roger tertarik ke atas. Tapi matanya tidak terlihat tersenyum. Mudah saja baginya, selama ini Roger sudah banyak melakukan hal yg jauh lebih buruk dari ini, toh dia masih baik-baik saja, lolos dari jerat hukum.
Roger berbalik menghadap pria itu, yg terkapar tak berdaya. "Jika bukan karena gadis ini, kau sudah jadi mayat. Kali ini kau kubiarkan hidup."
Roger menginjak dengan keras telapak tangan Marco, seperti sedang menginjak bekas puntung rokok. Laki-laki itu menjerit kesakitan. Roger memindahkan kakinya.
Marco mengerang lirih. Matanya lebam dan berdarah. Pria itu hanya bergumam tak jelas.
Roger mengeluarkan dompet dari dalam saku jas, merogoh beberapa lembar uang merah dan melemparkannya ke wajah Marco.
"Itu untuk biaya rumah sakit."
"Jika aku sampai melihatmu lagi, aku jamin akan lebih parah dan lebih menyakitkan daripada ini." desis Roger menyeramkan.
Lalu Roger berbalik dan berjalan menjauh. Di tengah jalan, Roger berhenti dan menoleh ke arah Cika yg bingung.
"Kau mau tetap disini menemani pria brengsek itu, atau ikut denganku?"
Cika langsung berlari menyusul Roger menuju mobil hitam mewah yg terparkir di seberang jalan.
Cika menoleh ke belakang untuk yg terakhir kalinya, Marco tidak bergerak. Mudah-mudahan pria itu pingsan, doa Cika dalam hati.
...***...
Cika tak tahu kemana laki-laki ini akan membawanya. Mereka sama sekali tidak saling bicara.
Mobil itu melaju menembus malam yg mulai berkabut, menuju daerah Mlaway. Cika mengenali deretan gedung yg ramai dihiasi lampu-lampu temaram berkelap-kelip. Suara musik berdentum keras, saling bersahutan dari mana-mana. Gadis-gadis berpakaian seksi melintas, hilir mudik kesana kemari.
Mengapa pria ini membawanya kemari? Ini kan daerah hiburan malam. Banyak pub, bar, diskotik bahkan hotel di sepanjang jalan ini. Tempat ini tidak pernah sepi. Sekalipun malam, tempat ini malah semakin ramai.
Cika meremas ujung kaos Linkin Park yg ia pakai. Selamat dari sarang hyena, malah masuk ke sarang buaya, batin Cika panik.
Mobil berbelok ke kiri lalu meluncur masuk ke area basemen. Setelah parkir di sebelah truk box, Roger mematikan mesin mobil.
"Turun."
Roger tidak menjelaskan apa-apa, dia melepas sabuk pengamannya lalu keluar mobil. Cika tidak bergerak, ia sedang berusaha keras memikirkan bagaimana cara untuk kabur.
Tok, tok.
Roger mengetuk dengan tidak sabaran kaca jendela di samping Cika. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, lalu membuka pintu mobil dan keluar.
"Jangan berpikir untuk kabur. Tetap dekat disampingku." Roger melangkah menuju pintu kaca yg dijaga oleh dua guard berbadan gempal.
"Tapi kita dimana, kenapa kau membawaku kesini?" Cika mengekori langkah Roger dengan pontang panting karena kaki laki-laki itu yg kelewat panjang.
Roger tidak menjawab karena mereka sudah sampai di ambang pintu. Dua guard itu mempersilahkan Roger masuk, seperti sudah mengenali laki-laki itu. Begitu Cika ikut masuk, mereka menahannya.
Roger menoleh dan berkata kesal, "Dia bersamaku."
Dua guard itu segera membungkuk minta maaf. Wajah mereka tampak ketakutan dan menyesal. Cika cepat-cepat berjalan masuk, terus menempel di sisi Roger.
Mereka memasuki kerumunan yg memadati ruangan luas nan temaram. Sangat ramai. Semua pengunjung memegang gelas minuman, rokok atau berjoged. Gadis-gadis berpakaian terbuka dan seksi, meliuk-liuk di dance floor atau cekikikan di meja mengobrol.
Cika menunduk untuk merapikan kaos yg dia pakai. Orang-orang pasti menatapnya aneh, datang ke diskotik dengan kaos, celana jins dan sandal jepit.
Roger terus berjalan menyebrangi ruangan. Banyak kepala yg berputar, menatap terkesima sekaligus heran saat laki-laki itu lewat.
"Hei bro."
Seorang pria berambut putih ungu muncul entah darimana. Mereka bersalaman dengan akrab.
Pria itu mengerling ke arah Cika, tersenyum menggoda. "Siapa cewek ini? Ada apa dengan wajahnya? Kalian habis main kasar?" Pria itu tertawa.
Roger mencekik leher pria itu tanpa aba-aba. Pria itu langsung geragapan, pucat dan memohon-mohon.
"S-sorry bro. L-lepaskan.."
Roger melepaskan cengkeramannya, menatap tak suka. "Jaga mulutmu, Albert. Kau tahu aku bukan orang yg suka diajak bercanda."
Albert memegang lehernya yg sakit, tampak tersengal-sengal. "Ma-maaf, aku lupa."
Roger mengabaikan pria itu, berjalan melewatinya. Cika mengikuti Roger. Saat melewati pria itu, Cika melirik bekas merah tangan Roger di lehernya.
Mereka masuk ke ruangan bertuliskan VIP. Seorang pria bertubuh atletis menyambut riang dengan senyum ramah.
"Uwow, lihat siapa ini yg datang. Sudah lama tidak kemari ganteng. Apa yg bisa kubantu darling?" Pria atletis itu bicara dengan gaya melambai.
"Tempat biasa, Paul." Roger bergumam, lalu si Paul mengantarkan mereka ke tempat yg dimaksud Roger. Mereka berjalan di sepanjang lorong menuju pintu metalik di sudut. Cika mengikuti dengan banyak pikiran berkecamuk di benaknya.
Paul membukakan pintu lalu mempersilahkan mereka masuk.
"Bawakan pesananku yg biasanya." Roger melangkah menyebrangi ruangan dan duduk dengan santai di sofa hitam panjang yg empuk.
"Dan kotak p3k." tambahnya ketika melihat Cika duduk dengan canggung di sofa kecil.
Paul tersenyum manis, "Aww so sweet. Aku tidak tahu seleramu sekarang berubah darling." Menanggapi tatapan tajam Roger, Paul tertawa gugup lalu bersiap menutup pintu.
"Selamat bersenang-senang."
Klap, pintu itu mengayun tertutup. Suara bising dari lorong teredam.
Cika menelan ludah, kini ia hanya berdua saja dengan Roger.
...***...