
Lana terbangun dengan tubuh nyeri dan sakit. Tidur nyenyaknya terganggu oleh suara alarm yg berbunyi nyaring berkali-kali. Tangannya terjulur mencari-cari dimana ponselnya tergeletak.
"By, matiin alarmnya dong." Lana hendak bersiap tidur lagi, ketika tangannya yg meraba-raba kasur tidak merasakan adanya tubuh manusia.
Dengan malas Lana berbalik dan menoleh, sisi tempat tidurnya kosong. Kemana Ethan?
Lana mengernyit saat berusaha bangun. Lalu menemukan ponselnya ada di kaki tempat tidur, tergeletak begitu saja.
Lana merangkak, menjulurkan tangan meraih ponsel, mematikan alarm lalu mengecek siapa tahu ada pesan atau telepon. Tapi ponselnya aman-aman saja. Saat ini masih pukul 6 pagi.
Lana menyibak rambut panjangnya yg berantakan. Apa Ethan sudah pulang ya? Tapi kenapa dia tidak membangunkan aku?
Tanpa berpikiran buruk, Lana bangkit untuk mulai bersiap-siap pergi ke kampus. Hari ini ada jadwal presentasi dan rapat BEM lagi.
Lana menjalani hari ini dengan setengah sadar dan melamun. Dia masih memikirkan apa yg terjadi semalam di kosannya, setiap adegan diputar dengan lambat di benaknya.
Tanpa sadar ia menahan senyum mengingat setiap detil sentuhan Ethan, kehangatan, des*ahan dan erangan pria itu. Lana harus pura-pura sibuk atau menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yg memerah jika teringat itu semua.
Meski begitu, Lana merasa ada yg mengganjal dihatinya. Walau teringat ucapan Ethan bahwa semuanya akan baik-baik saja, laki-laki itu juga sudah berjanji akan bertanggungjawab, tapi hati Lana masih tetap terasa tidak enak.
Dan jawaban dari pertanda itu terungkap siang harinya. Lana mulai curiga dan khawatir seharian ini Ethan belum tampak batang hidungnya. Pesan Lana juga hanya centang satu alias belum terkirim. Berkali-kali Lana mencoba menelepon tapi nomor pria itu tidak aktif.
Lana menyimak Ketua BEM yg sedang bicara tanpa benar-benar tahu apa yg didengarnya. Pikiran Lana resah memikirkan ada apa dengan Ethan. Tumben ponselnya mati dan dia tidak datang ke kampus.
Rapat telah selesai dan Lana bahkan tidak menyadarinya. Sampai satu temannya menepuk bahu Lana bertanya 'rapat udah selesai nih, mau ikut jajan di kantin ga?'
Lana berhah-heh-hoh bingung lalu sadar kalau barusan asyik melamun. Lana memasang senyum manis, menggeleng dengan wajah meminta maaf, karena ia harus ke ruang administrasi.
Lana berkutat dengan ponselnya sambil berjalan di sepanjang lorong menuju pintu coklat besar di ujung belokan. Ethan masih belum bisa dihubungi, pesan Lana juga belum terkirim. Ada apa ya, perasaan Lana semakin tidak enak.
"Hei Lana, serius banget lihat hape, awas nabrak loh."
Terdengar suara ceria mendekat. Langkah Lana terhenti, ia mendongak mendapati Olin, teman satu jurusan sedang menghampiri sambil menyapanya.
"Serius banget sampe gak lihat jalan."
Lana terkikik, "Iya nih, lagi balesin wa." jawab Lana mengeles.
Olin tersenyum, "Eh kamu longgar ga? Yuk ikut, Kating Freya ulang tahun, katanya mau traktir makan-makan." Olin adalah anak PA, pecinta alam. Kating Freya yg disebutkan adalah anggota BEM juga, meski begitu Lana tidak begitu dekat dengan kakak tingkat itu jadi Lana sungkan mengiyakan ajakan Olin.
Lana menggeleng dengan wajah meminta maaf, "Maaf ya, aku mau ke administrasi dulu. Kartu mahasiswa ku hilang, jadi mau kuurus dulu."
Olin terkejut, "Kok bisa sih hilang?"
Lana meringis, "Iya nih, aku kira selama ini ada di dalam dompet, perasaan udah kusimpen disitu. Eh ternyata tadi pagi aku cek lha kok ga ada."
"Ya udah kalau gitu, kapan-kapan aja kalau ada acara lagi kita pergi bareng ya." Olin memberi senyum penyemangat.
Lana mengangguk, "Oke." Ketika Olin hendak pergi, Lana teringat sesuatu, "Eh Lin, kamu lihat Ethan ga?" Olin adalah teman sekelas Ethan.
Alis Olin terangkat, "Ada, tadi pagi dia ikut kelas. Kenapa?" Olin mendadak curiga, karena dia tahu Ethan dan Lana sudah lama pacaran.
Olin mengangguk-angguk, wajahnya tidak lagi mengernyit curiga. "Ooh.. iya nih tadi dia kayak buru-buru gitu. Gak kayak Ethan biasanya. Disapa bablas aja. Lagi banyak pikiran kali ya."
Mendengar itu sebenarnya Lana terkejut tapi dia berusaha untuk tetap terlihat santai. "Iya dia kan mau ngajuin skripsi lebih awal." timpal Lana.
Setelah itu mereka berpamitan sambil dadah-dadahan, Olin keluar dari pintu kaca, Lana melanjutkan menuju ruang administrasi. Sambil otaknya berputar.
Hampir saja, Olin curiga aku kenapa-napa sama Ethan. Lupa aku, Olin kan salah satu member dari grup unofficial fans Ethan. Kalau mereka tahu aku dan Ethan kenapa-napa, gosipnya pasti langsung kesebar ke seantero kampus. Dan gak bisa dibayangkan betapa sorak sorai gembiranya mereka.
Lana cemberut. Memikirkan reaksi gila gadis-gadis para pemuja Ethan membuat perasaannya semakin tidak enak. Semoga saja kamu baik-baik saja, Ethan. Semoga kita baik-baik saja.
Sambil pikiran melayang kemana-mana, Lana sampai di ruang administrasi. Dia mendorong terbuka pintu coklat besar itu dan langsung menuju meja panjang hitam. Seorang wanita paruh baya berambut setengah memutih tersenyum ramah menanyakan apa keperluan Lana.
Lana sedang menjelaskan situasi kartu mahasiswanya yg hilang ketika kedua telinganya menangkap suara familiar yang tak mungkin salah. Suara itu terdengar dari meja hitam di ujung ruangan.
"Terimakasih banyak Bu, kalau begitu saya pamit dulu." Suara itu terdengar buru-buru lalu bunyi langkah kaki menjauh dari meja hitam menuju pintu coklat.
Lana menoleh, tampak seseorang sedang bergegas menuju pintu keluar. Lana hanya bisa melihat punggung laki-laki itu, yg Lana yakin pria berjaket denim hitam dan menyandang ransel yg penuh tempelan stiker itu tidak salah lagi adalah Ethan, kekasihnya.
Lana tidak memperhatikan Ethan ada di sana karena saat masuk ke ruangan tadi Lana setengah melamun. Apa Ethan juga tidak tahu Lana ada disini? Kenapa dia tampak tergesa-gesa begitu?
"Ethan!!" Lana memanggil tapi terlambat, sosok pria itu telah keluar, pintu coklat mengayun menutup di balik sosoknya.
Tanpa ba-bi-bu, Lana berbalik dan hendak menyusul kekasihnya itu ketika ibu pegawai berseru memanggil Lana, "Hei mau kemana kamu? Ini kan belum selesai."
Lana mengatupkan dua tangan ke depan dada, wajahnya menatap meminta maaf. "Maaf Bu, nanti saya kesini lagi."
Tanpa menghiraukan omelan ibu itu, Lana segera berbalik dan berlari keluar ruangan. Tapi Ethan sudah tidak kelihatan.
Lana berlari sepanjang lorong menuju pintu keluar dari kaca. Ia mendorong dengan keras pintu besar itu lalu menerobos keluar. Beberapa mahasiswa yg sedang duduk-duduk di barisan anak tangga terkejut lalu mendongak memperhatikan Lana. Tapi Lana tak peduli. Kepalanya berputar seperti satelit, mencari sosok berjaket denim di segala arah.
Itu dia, sekelebat Lana melihatnya berbelok ke arah taman. Lana mengejar dengan segenap tenaga. Tapi saat ia sampai di belokan, sosok itu sudah hilang.
Sambil terengah, kepala Lana berputar 180 derajat. Tangannya refleks mengeluarkan ponsel, dengan sigap menelepon Ethan. Tapi lagi-lagi, nomor tidak aktif.
Lana memutuskan berlari ke arah gedung B, gedung tempat kelas Ethan berada. Dengan setengah berharap, ia memasuki pintu dan berlarian sepanjang lorong sambil melongok di setiap kelas siapa tahu sosok denim itu ada di sana. Tapi nihil.
Lana terengah-engah, gedung ini cukup luas. Dia sudah hampir mengelilingi semuanya tapi tidak ada tanda-tanda Ethan berada.
Lana memutuskan keluar gedung, menuju area lapangan. Beberapa mahasiswa menyapa Lana, tapi Lana hanya tersenyum sekedarnya. Dia terus berlari, matanya siaga ke segala arah tapi sosok Ethan belum tampak juga.
Lana berhenti, dadanya naik turun. Keringat membasahi kemeja biru pastel yg ia pakai, membuat noda gelap di punggung dan di bagian depan. Lana tidak kuat lagi berlari. Dia tak tahu lagi harus kemana.
Di taman beralaskan rumput hijau, lapangan berlantai semen, bangku-bangku dari marmer, kantin yg ramai, gedung perpustakaan berlantai dua, lapangan indoor, hall ber-AC, tempat parkir, area gedung ekstra yg berderet memanjang, hampir semua tempat sudah Lana lewati tapi sosok berjaket denim itu sama sekali tidak tampak. Lana jadi sangsi apa benar sosok yg dilihatnya di ruangan administrasi itu adalah Ethan. Jangan-jangan dia salah lihat.
Lana menelepon nomor Ethan dan sekali lagi kecewa. Ada apa ini, ada apa denganmu Ethan?
...***...