
Kyoya menghentikan langkah. Dia menatap bergantian antara Lana dan Cika, yg berdiri mematung seperti sedang syok melihat hantu.
"Ehem." Kyoya menyadarkan kedua gadis itu.
Cika mengerjap. Sementara Lana berdiri diam dengan salah tingkah.
Cika mengumpat dalam hati, bisa-bisanya dia hampir dibuat linglung melihat ketampanan nan rupawan lelaki itu. Cika jadi bertanya-tanya, apa Lana tidak mengalami syok ini setiap kali bersama sang CEO ya, apa jangan-jangan Lana sudah kebal.
"S-selamat pagi Pak. Sangat mengejutkan bisa bertemu anda di tempat ini." Cika refleks membungkuk hormat. Lalu menyesali tindakannya. Cika cepat-cepat menegakkan tubuh dengan gugup.
Kyoya tersenyum. "Selamat pagi nona Cika. Hal yg sama, saya juga cukup terkejut melihat kalian berdua disini. Di hari kerja."
"Aah.. kami mengajukan cuti untuk liburan. Sebagai perayaan- aww!"
Cika tiba-tiba memekik. Lana di sebelahnya melayangkan cubitan keras yg menyakitkan. Pasti berbekas biru nih.
Kyoya menatap Lana. Bibir lelaki itu membentuk senyuman namun matanya menatap dengan pandangan yg tidak bisa ditebak.
"Apa kabar Lana?" tanya Kyoya ramah.
Mendengar bibir itu menyebutkan namanya, pertahanan Lana runtuh. Lana tidak berani membuka mulut untuk menjawab. Dia pasti akan menangis saat itu juga.
Dan parahnya, Cika, sahabat yg berikrar akan selalu berada di pihak Lana, tiba-tiba mohon ijin ke toilet karena mendadak sakit perut.
Cika menatap Lana mohon ampun dan memohon pengertian. Lalu pergi begitu saja. Lana menatap kepergian sahabatnya itu dengan tatapan nelangsa. Bisa-bisanya dia ditinggal berdua saja dengan Kyoya. Awas kau Cika.
"Aku tidak tahu kamu punya kebiasaan baru ya sekarang. Kebiasaan untuk tidak menjawab pertanyaanku." Kyoya berkata tajam. "Harus berapa kali kuulangi, sampai kamu bersedia menjawabnya?"
Lana balik menatap manik mata itu. Bertekad untuk tidak menangis setetes pun.
Lana mendengus pelan. "Apa sekarang aku harus membungkuk memberi hormat juga?"
Lana membungkuk, dengan nada mencela ia berkata. "Selamat pagi Pak Koijima Kyoya. Bagaimana kabar anda? Kabar saya baik-baik saja. Tidak pernah merasa sebaik ini."
Lalu Lana menegakkan badan dan mendapati wajah Kyoya mengeras.
"Jika bukan hubungan pribadi, saat ini hubungan kita masih atasan dan bawahan. Jangan menyulut api yg bisa membuatmu terbakar nona." Kyoya memperingatkan.
Lana menelan ludah, sedikit gentar. Tapi dia bertekad tak mau jadi Lana yg dulu. Yg bisa diatur kesana kemari.
"Maaf Pak, saya benar-benar tidak tahu anda akan berada di sini. Seandainya saya tahu, saya tidak akan pernah memilih hotel ini. Seperti Amary Hotel. Dengan begitu tidak akan ada lagi api yg berkobar."
Saat Cika merekomendasikan untuk menginap di Amary Hotel, Lana menolak dengan tegas. Karena ia tahu Amary Hotel adalah hotel milik MT Corporation, dan besar kemungkinan bertemu dengan Kyoya, satu hal yg Lana sangat hindari. Tapi kenapa malah bertemu juga, padahal Lana sudah memilih hotel yg lain.
Kyoya menyunggingkan senyuman. "Sayang sekali, selain Amary Hotel, MT Corporation juga menaungi Five Star dan beberapa properti.. ah, ternyata hampir sebagian besar properti di TanBay. Jadi aku bebas kemana pun selama itu adalah hotel milikku sendiri. Benar begitu bukan?"
Lana tidak bisa berkata-kata. Sejak kapan Five Star berada di bawah naungan MT Corporation? Lana sudah memeriksanya dengan jeli, karena itu Lana mau menginap di sini. Eh ternyata hotel ini juga milik Kyoya.
Melihat Lana terdiam, Kyoya menatap penuh simpati. Kata-kata tajam yg ingin dilontarkan ia telan bulat-bulat. Entah kenapa, Kyoya sungguh tidak bermaksud bersikap seperti ini. Ia tahu saat ini ia terdengar menyebalkan, tapi melihat sikap Lana terhadapnya, menyulut emosi yg terkubur di relung paling dalam hati kecilnya.
"Mengapa tiba-tiba kamu berlibur?" tanya Kyoya, nada bicaranya tidak lagi menusuk.
"Demi Tuhan Lana. Kamu tahu maksudku tidak seperti itu. What happened with you? Kamu selalu melempar ranjau padahal aku hendak mengulurkan bendera putih."
"Memang saya selalu salah. Tidak pernah benar sekalipun. Maaf saya bukan orang yg sempurna seperti anda Pak." Lana menatap Kyoya.
"Masalah kita sudah selesai kan, Lana? Malam itu adalah akhir dari segalanya. Mengapa kamu mempersulit dirimu sendiri dengan bersikap seperti ini?" Kyoya balik menatap Lana.
"Anda benar. Malam itu adalah akhir dari segalanya. Jadi bisakah anda berhenti basa-basi yg saya tahu itu bukan karakter anda. Bisakah anda tinggalkan saya sendiri, sekarang, dan selamanya."
Kyoya hendak berkata, tiba-tiba terdengar suara gadis memanggil di belakangnya.
"Kyoya-kun."
Kyoya menoleh, seorang gadis cantik berpakaian dress resmi berjalan anggun menghampirinya.
Lana memperhatikan gadis itu berkulit putih, matanya sipit, berambut hitam panjang yg ditata rapi dan elegan. Mungkin umur gadis itu dua tahun dibawah Lana.
"Kyoya-kun, anata wa dokoni ita? Izen kara anata o sagashite imashita (Kamu darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi). "
Lana mengerjap, gadis itu bicara apa. Apa dia orang asing?
Kini gadis itu berdiri di sebelah Kyoya, tampak serasi sekali. Lana iri.
"Kyoya-kun, kare wa daredesu ka? (Siapa gadis ini?)" Gadis itu menatap Lana penasaran. Lana mendadak memikirkan penampilan nya yg kusam dan dekil. Menyesal kenapa tadi tidak berdandan, setidaknya memakai riasan tipis.
"Heya de aou to iimashita, Hana-chan. Naze anata wa watashi o sagashite iru nodesu ka? (Sudah kubilang aku akan menemuimu di kamar, Hana. Ada apa mencariku?)" Kyoya bicara lembut pada gadis itu.
Gadis itu, yg Lana menduga bernama Hana, cemberut lalu merangkul lengan Kyoya dengan manja. Lana membelalak. Terlebih lagi Kyoya tidak menolak dan terkesan membiarkannya. Seperti sudah terbiasa. Siapa sebenarnya gadis ini? Apa dia kekasih Kyoya yg baru?
Hati Lana seketika terasa sakit seperti ditusuk.
Kyoya berkata lembut, "Kono yō ni kōdō shinaide kudasai. Kore wa kōkyō no basho ni arimasu. Anata no okāsan wa itsumo anata ni taido o tamotsu yō ni itte imasendeshita ka? (Jangan bersikap seperti ini. Ini ditempat umum. Bukankah ibumu selalu berpesan untuk menjaga sikap?)"
Hana melepas tangannya. Tapi berdiri menempel di sisi kiri Kyoya.
"Kare wa daredesu ka? Kare wa anata no kareshi? (Siapa gadis ini? Apa dia pacarmu?)" Hana memperhatikan Lana dari atas hingga bawah.
Sorot mata Kyoya terlihat sedih. "Machigai. Kare wa imanotokoro watashi no kanojo wa arimasen (Bukan. Dia bukan pacarku, saat ini)."
Gadis itu menatap Kyoya bingung. Ekpresi nya seperti berkata, apa maksudmu.
Kyoya hanya tersenyum. Lalu bicara pada Lana, "Maaf aku harus pergi sekarang. Selamat berlibur Lana. Wish you feel better."
Kyoya berbalik dan berjalan pergi. Hana melirik Lana sekilas lalu bergegas menyusul Kyoya. Suara heels nya yg mahal terdengar berisik.
Lana menatap kepergian mereka dengan nanar.
...***...