
Ruangan PPIC terasa tidak nyaman setelah kepergian sang CEO.
Pak Marcel tampak tegang dan melampiaskan stresnya dengan marah-marah ke siapapun yg ketiban sial.
Dia berkali-kali berteriak memanggil Yuni apakah sudah bisa menelepon Theo. Dan berkali-kali juga Yuni berkata nomor tidak aktif.
Pak Marcel berdecak kesal, menyeruput lalu membanting gelas kopinya terlalu keras sampai isinya tumpah mengenai berkas-berkas dan membuatnya semakin histeris.
Lana mengkeret di kursinya, tidak berani berisik kalau tidak mau ikut kena semprot.
Sudah pukul 11 siang dan satu jam lagi waktu nya istirahat.
Akankah ada yg berani keluar ruangan?
"Lana!" panggil Pak Marcel tiba-tiba.
Lana segera bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri meja atasannya itu.
"I-iya Pak?"
Lana was-was takut diberi tugas yg berat.
Dan benar saja.
"Cek file-file ini-"
Kalimat Pak Marcel terputus oleh dering telepon di mejanya.
Pak Marcel mengangkat gagang telepon dan mulai bicara ketus,
"Marcel, Ruang PPIC."
Mendadak nada suaranya langsung berubah lembut dan sopan.
"Iya Pak, baik Pak. Segera saya kirim. baik Pak."
dan klik, gagang telepon kembali ke tempatnya.
"Haah, rasanya mau gila!"
Pak Marcel mengusap wajahnya yg berkeringat. Lana sedikit merasa iba.
Tapi rasa iba itu berubah menjadi kesal karena tiba-tiba Pak Marcel menyuruh Lana melakukan tugas yg tidak disangka.
"Ini berkas-berkas tower pelabuhan Junin. Antarkan ke ruangan Pak Koijima."
Lana melongo, "Tugas mengecek filenya Pak?"
"Nanti saja. Kau tidak lihat yg barusan telepon siapa. Cepat antarkan sebelum dia yg kesini sendiri mengambilnya seperti tadi."
Pak Marcel bergidik.
Lana mau tak mau menerima map hitam itu.
"Jika nanti Pak Koijima bertanya mengapa kau yg mengantar, jawab saja aku sedang membuat perincian estimasi biaya kerugian."
Lana tak punya pilihan lain selain melakukan tugas yg diberikan.
Ia mendekap map itu dan berjalan keluar ruangan. Hatinya mendadak berdegup kencang.
Dia belum pernah naik ke lantai 10, lantai para dewan direksi. Apalagi masuk ke ruangan Pak CEO.
Walaupun tadi Pak Marcel bilang Lana tidak perlu masuk, cukup titipkan saja berkas itu pada sekretaris Pak Koijima. Dan beres.
Lana menelan ludah dengan susah payah, dia benar-benar takut sekarang untuk bertemu sang CEO.
Rumor itu benar adanya.
Dua kali melihat Pak Koijima yg sangat menyeramkan, sangat berbeda dengan sosok yg Lana temui saat pertama kali.
Lana keluar dari lift dan mendapati lorong sepi yg terkesan mewah.
Dia berbelok ke kanan setelah melihat papan tanda Ruang CEO mengarah ke kanan.
Sepatu Lana berjalan di atas lantai marmer menimbulkan suara taktok taktok cukup keras di lorong sepi itu.
Dan tampaklah di ujung sana sebuah meja besar dengan ukiran mewah bertulisakan MT Corporation di bagian bawah meja.
Lana berjalan mendekat dan melihat seorang gadis cantik dengan rambut digelung dan setelan blus ungu pastel berdiri menyambutnya.
"Ada yg bisa dibantu?"
Gadis itu bertanya ramah.
Lana melihat papan akrilik bertuliskan Mia Golding - Sekretaris di atas meja dekat pot bunga kecil berisi lavender ungu.
"Umm saya mengantar berkas-berkas tower pelabuhan Junin."
Lana meletakkan map hitam yg dibawanya ke atas meja.
"Dari ruang PPiC?" tanya Mia si sekretaris.
Lana mengangguk.
"Kalau begitu silakan masuk. Pak Koijima sudah menunggu anda."
Mia menunjuk ke pintu kayu besar di sebelah mejanya.
Lana gelagapan.
"T-tapi tadi Pak Marcel bilang bisa dititipkan saja ke anda. Saya tidak perlu masuk."
Mia tersenyum pengertian.
"Tapi Pak Koijima sudah berpesan jika nanti ada orang PPIC membawa berkas tower pelabuhan Junin langsung disuruh masuk saja. Nah, silakan masuk."
Mia sekali lagi menunjuk ke pintu dengan telapak tangan yg terbuka ke atas.
Lana menelan ludah dengan susah payah.
Akhirnya mau tak mau dia melangkah ke pintu sambil mendekap map hitam itu erat.
Pintu itu sangat besar, dengan dua daun pintu dari kayu berukiran rumit yg cantik.
Lana memegang satu pegangan pintu yg berwarna perak, terasa dingin.
Jantungnya berpacu, baiklah Lana, pada hitungan ketiga, buka.
Satu, dua, tiga.
Lana mendorong pintu besar itu hingga terbuka dan melangkah masuk.
...***...