Between

Between
Bab 34 Ethan Arkam



Yuni hendak membuka pintu ruang rapat untuk yg ketiga kalinya ketika Jesica lagi-lagi muncul di saat yg tepat.


Yuni hanya bisa menghembuskan nafas panjang saking sudah terlalu kesal.


"Ada alasan apa lagi sekarang?" desisnya dengan wajah datar. "Sekarang sudah jam sembilan. Kami sudah menunggu dengan sia-sia selama DUA JAM!"


Jesica membungkuk dan mengucap maaf berkali-kali.


Yuni berkacak pinggang. "Sudah katakan saja yg sebenarnya. Apa yg sedang terjadi? Dimana CEO mu itu? Apa kalian benar-benar serius ingin menjalin kerjasama dengan kami, atau hanya ingin mempermainkan kami?" cecarnya.


Jesica ragu-ragu menjawab, tapi demi melihat wajah Yuni yg seakan bisa melahapnya sewaktu-waktu, Jesica pun berkata, "S-sebenarnya saya juga tidak tahu dimana Pak Ethan berada. Saya tidak bisa menghubungi beliau, ponsel nya sepertinya mati."


"Bagus!!" Yuni memekik sambil memegang kepalanya, frustasi. "Dua jam saya menunggu dan ternyata benar-benar sia-sia."


Yuni berjalan cepat menuju meja dan dengan kesal mulai memberesi barang-barang nya.


"Lana, kita pergi saja. Cari pihak ketiga yg lain. Perusahaan ini sudah saya blacklist."


Yuni menyuruh Lana mengepak barang-barangnya juga.


Jesica tampak pucat pasi. Ia bergegas menghampiri Yuni dan berkata memelas. "To-tolong tunggu sebentar lagi. Pak Ethan pasti segera datang. Saya mohon."


Tapi Yuni tidak mengindahkan nya. Setelah meja itu bersih, hanya tersisa cangkir kosong dan piring kue, Yuni menarik tangan Lana untuk segera pergi.


Sesampainya di pintu mereka dikagetkan oleh kemunculan seorang pria.


Yuni yg berada di depan memekik kaget, sementara Lana yg berdiri dibelakang agak tersembunyi oleh tubuh Yuni, heran dan penasaran siapa yg baru saja muncul.


Lana bergerak minggir dan terperanjat. Melihat wajah laki-laki itu bagai melihat hantu di siang bolong. Mata Lana terbelalak dan saking kagetnya mulutnya tanpa sadar sampai terbuka.


"Maaf saya sangat terlambat." Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke dalam ruangan, berusaha tersenyum. Lalu ia menyadari bahwa tamunya sedang berdiri di dekat pintu.


"Pak Ethan!!" Suara Jesica terdengar lega. Tapi ia maupun Yuni sama-sama menatap heran ke arah pria itu. Wajah Ethan sama seperti Lana, tampak terkejut setengah mati.


Ethan melangkah mendekati Lana, matanya terbelalak sampai seakan hampir copot.


"Lana?" Bibir Ethan mengucap tanpa sadar.


"Ethan." Lana menahan nafas. Wajahnya pucat pasi.


...***...


Lana terus menunduk sambil mencakari kuku ibu jarinya. Kakinya bergerak gelisah tanpa henti. Lana tidak berani menatap wajah pria yg duduk di hadapannya.


Pria itu terus menatap Lana, wajahnya menyiratkan sesuatu.


Tapi kemudian dia sadar diri. Pria itu tersenyum pada Yuni dan bicara,


"Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud membuat anda menunggu lama."


Pria itu merapikan rambutnya yg acak-acakan. "Perkenalkan, saya Ethan Arkam. CEO PT. NaThan Co. Dengan siapa saya akan memulai meeting ini?"


Betapa tidak, pria yg menyebutkan dirinya sebagai CEO perusahaan itu berpakaian acak-acakan dan rambutnya berantakan. Ada noda merah seperti lumuran darah di bagian dada dan lengan pakaiannya. Lebam biru juga menghiasi sudut bibirnya.


Yuni bertanya-tanya dalam hati apa yg sudah terjadi pada laki-laki ini.


Yuni berdehem dan menjawab, "Saya Yuni Yunanta, Kepala Ruang PPIC MT Corporation. Bagaimana mungkin anda yg mengusulkan waktu dan tempat meeting ini diadakan tapi tidak tahu akan meeting dengan siapa."


Ethan tertawa kecil. "Maafkan keteledoran saya. Saya baru landing tadi malam, Bu Jesica sudah memberitahu dengan siapa saya akan bertemu tapi saya lupa karena jetlag."


Ethan menunjuk ke arah Lana. "Dan siapa yg menemani anda, Bu Yuni?"


Yuni baru teringat kalau Lana duduk disebelahnya. Yuni menoleh dan heran melihat tingkah laku aneh anak buahnya itu.


"Lana, perkenalkan dirimu." bisik Yuni. Tapi Lana menggeleng kuat-kuat, tetap menunduk. Gadis itu tampak semakin gelisah.


Yuni tertawa canggung, kembali menghadap Ethan. "Maaf, tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Namanya Lana, sekretaris PPIC. Dia yg akan bertanggung jawab ttg jembatan gantung kota Naruyama. Mungkin ke depannya anda akan lebih sering berkomunikasi dengan dia." Yuni melirik Lana cemas.


Ethan tersenyum.


"Senang sekali bertemu denganmu nona Lana. Semoga kita bisa menjalin hubungan yg baik, seperti dulu."


Yuni menaikkan satu alis. "Sepertinya anda mengenal Lana?"


Ethan menatap Lana dengan sorot mata yg tidak bisa dibaca.


"Ya, jika dibilang mengenal, saya cukup banyak mengenal nona Lana. Dulu kami adalah.." Gestur Lana menegang. Rahang Ethan mengeras sebelum ia melanjutkan, "Kami dulu teman satu angkatan di Fortec University."


Yuni mengangguk-angguk paham. "Dan kalau boleh tahu, apa yg terjadi dengan pakaian anda? Apa itu.. darah?" Yuni mengernyit.


Ethan menunduk memperhatikan pakaiannya, tampak terkejut seperti baru menyadarinya.


"Ah maaf. Benar ini darah, tapi bukan darah saya."


Ethan tertawa kecil sambil menatap Lana. "Dulu jika pakaian saya kotor sedikit saja, nona Lana akan memarahi saya. Dia yg paling bersih di antara teman-teman satu angkatan yg kebanyakan adalah laki-laki."


Ethan tersadar. "Maaf, saya jadi terkenang banyak hal semasa kuliah. Saat itu benar-benar masa yg menyenangkan. Benar kan nona Lana?"


Brak !!


Yuni melompat kaget. Lana tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja. Wajahnya tidak lagi menunduk. Dia menatap nyalang ke arah Ethan. Wajahnya terlihat dipenuhi amarah.


Ethan balas menatapnya, rahangnya mengeras.


"Maaf, saya harus ke toilet." desis Lana. Tanpa babibu gadis itu berbalik dan bergegas pergi.


Mata Yuni mengikuti gerakan Lana dengan heran.


...***...