
Brak.
Kyoya menaruh berkas map yg sudah ditandatanganinya, terlalu keras ke meja. Lalu menatap tajam ke layar laptop, rahangnya mengeras saat matanya menelusuri judul artikel yg terpampang di sana.
'Sang Gadis Misterius, Orang Biasa atau Artis Terkenal? CEO MT Corporation Sampai Bertekuk Lutut.'
Tak perlu membaca keseluruhan isi berita sampah itu, Kyoya mengklik ke judul yg lain.
'Diduga Mabuk, Boking Hotel Diam-Diam? Misteri CEO MT Corporation Akhirnya Terkuak.'
Kyoya mengklik berita yg lain.
'Selalu Berprestasi dan Tampil Menawan, Siapa Sangka CEO MT Corporation Berbuat Begini, Klik Selengkapnya Di Sini.'
Kyoya menghela nafas, mengurut keningnya yg mendadak terasa nyeri.
Benar terjadi, kecerobohan nya malam itu membuahkan hasil buruk. Artikel sampah ttg foto dirinya yg sedang menggendong Lana tersebar luas di dunia maya. Dengan beragam judul, mulai dari yg sopan sampai yg hoax dan kurang ajar.
Seperti semua orang di dunia ini berlomba-lomba untuk mengorek kesalahan dan mengupas sisi lain dari seorang Kyoya, CEO perusahaan internasional ternama yg selama ini dikenal dengan image positif tanpa gosip miring apapun.
Kyoya mengklik berita terbaru.
'Inisial L, Gadis Misterius Sang CEO Adalah Karyawan MT Corporation? Simak Selengkapnya Di Sini.'
Kyoya tercekat. Lana.
Ia menyambar ponsel, langsung mencari nomor telepon gadis itu.
Saat jemarinya sudah siap menekan tombol hijau, Kyoya mengurungkan gerakannya karena terdengar suara dari interkom.
"Maaf mengganggu anda Pak Koijima Kyoya. Pak Roger datang ingin menemui anda." Suara dari Mia, sekretarisnya.
Kyoya menekan tombol interkom, bicara, "Persilahkan dia masuk."
"Baik Pak, terimakasih." Suara Mia menghilang di seberang sana.
Diganti bunyi pintu terbuka dan masuklah Roger dengan langkah lebar menyebrangi ruangan.
Kyoya memandang ajudannya dengan datar, melihat raut wajah Roger yg muram menandakan pasti tidak membawa berita baik.
Benar saja, begitu Roger berhenti di depan meja kerja Kyoya, pria itu langsung menyorongkan map hitam dan berkata panjang lebar,
"Saya sudah mengerahkan anak buah untuk menyelidiki siapa penyebar foto itu. Berdasarkan ip address nya, penyebar pertama berasal dari kota TanBay. Saya juga sudah mendapatkan hasil rekaman cctv dari Five Star Hotel sir, tapi tidak cukup memuaskan karena ternyata pelaku fotografer tersebut sangat lihai dan tahu titik buta dari kamera cctv sehingga tidak terlalu jelas terlihat."
Kyoya membuka map dengan enggan, tahu isinya akan semakin membuat pusing kepala.
Halaman pertama berisi foto hasil rekaman cctv yg menampilkan sosok gelap kecil menelusup di balik sofa dengan kamera terarah ke sosok Kyoya yg berada 500m darinya. Wajah pelaku tertutup topi hitam.
"Mengapa masih saja muncul berita jika kau sudah ku suruh menghapus dan menanganinya?" tanya Kyoya tajam, membalik ke halaman selanjutnya.
"Maaf sir, tim hacker sudah berupaya meretas dan menghapus semua berita itu tapi semakin mereka menghapus, semakin banyak artikel yg bermunculan."
Nada suara Roger terdengar bersalah dan menyesal, kenapa tidak bisa segera menangani masalah ini dengan benar.
Kyoya membaca isi halaman kedua yaitu perincian ip address yg berhasil dilacak anak buah Roger.
Kyoya menghela nafas, ternyata bukan sekedar orang iseng. Pelaku di balik semua ini pasti adalah orang yg sangat tidak menyukainya. Sampai membuat kehebohan keras kepala yg menjengkelkan seperti ini.
"Maaf sir.." Roger bersuara lagi. Nada suaranya lebih muram dari sebelumnya.
"Beberapa klien menghubungi ingin menunda kerjasama dengan MT Corporation terkait berita yg menerpa anda."
Kyoya membalik ke halaman selanjutnya. Terdapat list nama-nama klien yg mengajukan komplain dan cancelled kerjasama. Rahang Kyoya mengeras.
Roger berkata, "Pak Djarot Purwa dan Pak Liem Thomas juga menghubungi, menunggu kapan bisa bertemu dengan anda sir, sepertinya ingin membicarakan perihal isu ini."
Kyoya menutup map setelah membaca semua halamannya. Dua nama yg disebutkan Roger barusan adalah pemegang saham dan dewan direksi tertinggi di MT Corporation.
Kyoya menatap tajam Roger, "Atur janji temu di waktu kosongku. Pesan tempat di Resto MarinaBay dan siapkan beberapa wanita. Dua tua bangka itu hanya mencoba menggertak, begitu melihat wanita mereka akan lupa segalanya." perintah Kyoya dengan nada tegas.
"Baik sir." Roger patuh.
Tiba-tiba ponsel Kyoya berbunyi.
Lelaki itu melirik nama 'Mrs. Koijima' yg muncul di layar ponselnya di atas meja. Roger tegang, begitu tahu siapa yg sedang menelepon.
Mendadak dada Kyoya terasa berat seperti ditekan bongkahan batu besar, dengan enggan ia meraih ponsel itu dan menekan tombol answer.
"Selamat pagi ibu, bagaimana kabar ibu?" Nada suara Kyoya langsung berubah ramah dan sopan.
Suara di seberang sana tanpa basa basi langsung bicara dengan nada tajam dan menusuk, mengabaikan salam Kyoya.
"Tidak peduli saat ini kau sedang meeting penting atau berada dimana, temui aku di rumah, sekarang."
Dan telepon langsung ditutup.
Kyoya menghela nafas. "Batalkan semua agendaku hari ini."
"Baik sir." Roger menjawab.
"Aku akan pergi ke sana sendiri. Kau boleh istirahat." Kyoya melirik jam di dinding yg menunjukkan pukul satu siang.
Kyoya bangkit, meraih jas yg digantungkan di tiang di sebelah kursi.
"Baik sir, terimakasih. Anda bisa menghubungi saya kapanpun jika butuh sesuatu atau bantua--"
Kyoya menatap Roger untuk menghentikan kalimat yg akan diucapkannya.
"Dia ibuku, Roger. Seorang ibu tidak akan menyakiti putranya." Kyoya tersenyum hambar. "Aku juga sudah lama tidak pulang ke rumah. Rasanya cukup kangen."
Mata Kyoya menerawang.
Roger balik memandang atasannya itu dengan tatapan sedih dan muram.
...***...
Lana menghempaskan pantat berpiyama di atas kasur kecil sambil mengeringkan rambutnya yg basah. Segar sekali setelah perjalanan pulang yg melelahkan dan cukup jauh dari TanBay ke kota tempat Lana tinggal.
Saat ini pukul enam sore, besok pagi Lana sudah harus kembali bekerja.
Selesai sudah liburan ini. Liburan yg cukup seru sebenarnya, walau di luar dugaan ternyata sangat menguras stamina dan emosi.
Setelah makan di resto hotel tadi pagi, Lana dan Cika berjalan-jalan menikmati pemandangan di sekitar hotel. Lalu memutuskan ke pusat oleh-oleh terdekat untuk membeli cinderamata sebagai kenang-kenangan.
Dreamcatcher dari kerang kini terpasang di sudut kamar Lana, berputar indah dengan suara gemerincing pelan.
Di kamar hotel, setelah saling bercerita ttg apa yg terjadi semalam, mereka berdua packing dan check out pukul tiga sore.
Lana agak tidak percaya dengan cerita Cika ttg malamnya bersama Roger. Sosok Roger yg Lana ingat sangatlah kaku dan dingin, tidak mungkin bisa berbuat seperti itu. Mungkin saja itu hanya mimpi atau imajinasi Cika saja, toh dia kan saat itu sedang mabuk.
Lana yg tidak ingat apapun malam itu juga tidak bisa bercerita banyak. Dia hanya menceritakan situasi pagi hari saat dia terbangun dan spekulasi nya ttg keterlibatan Kyoya dalam liburan ini. Cika menyetujuinya, dia juga agak curiga sebenarnya dengan hal-hal aneh selama liburan ini.
Cika lalu menyetir pulang dengan kecepatan cukup pelan karena kondisi tubuh keduanya masih tidak fit akibat pengar. Syukurlah mereka sampai dengan selamat di rumah masing-masing.
Lana lelah sekali, ingin segera berbaring di kasurnya dan tidur dengan nyenyak. Meski kini dia jadi membandingkan kasur kecilnya yg keras dengan kasur super empuk dan nyaman di kamar hotel Kyoya.
Lana menaruh handuk setengah basah di sandaran kursi di meja belajar. Lalu hendak berbaring ketika ponselnya berbunyi.
Lana melihat nama Cika di layar ponsel.
Ada apa ya, baru juga ketemu tadi kan. Atau jangan-jangan ada barangku yg ketinggalan di mobil?
"Ya? Ada apa Cik?" Lana mengernyit. "Apa, buka internet? Aku masuk berita?"
Lana bingung.
"Iyaa aku juga kaget. Coba buka internet deh Lana, artikel tentang Kyoya dan kamu ada dimana-mana. Aku tadi kan sedang mengepak barang, capek banget pengen tiduran. Eh si Tejo telepon. Aku langsung marah-marahin dia gara-gara nipu booking kamar itu, dia malah cerita ttg gosip panas yg lagi trending. Suruh aku buka medsos. Dia bilang CEO MT Corporation kena skandal di Five Star Hotel. Berhubung dia tahu aku nginep di hotel itu, dia telepon tanya apa aku tahu sesuatu."
Cika nyerocos panjang lebar. "Pokoknya sekarang kamu buka medsos, okey. Bye." Cika langsung menutup telepon.
Walaupun belum sepenuhnya paham dengan apa yg dikatakan Cika barusan, Lana membuka browser di ponselnya. Tanpa perlu mengetik apa-apa, puluhan artikel dengan judul hampir sama bermunculan memenuhi layar ponsel.
'Akibat skandal CEO MT Corporation, saham perusahaan turun 27℅'
'Mantan Pacar CEO MT Corporation, Anna Chloe Hankam Beberkan Sifat Asli Koijima Kyoya.'
'Inisial L, Karyawan MT Corporation Ini Bak Cinderella di Dunia Nyata Setelah Bertemu Koijima Kyoya.'
'Belum Ada Tanggapan Dari Pihak Keluarga Koijima, Skandal Berujung Laporan Pencemaran Nama Baik?'
Lana membekap mulut, tak sanggup membaca berita yg lain. Kenapa jadi begini?
Lana menatap nanar foto Kyoya yg sedang menggendong gadis berbaju kuning dengan latar belakang tulisan Five Star Hotel. Foto itu ada dimana-mana sekarang.
Lana benar-benar menyesali kenapa malam itu dia harus mabuk berat. Mengapa Kyoya harus datang menyelamatkan nya.
Sia-sia menyesali semuanya Lana, toh semua itu sudah terjadi. Tidak bisa diubah.
Mata Lana terpaku ke kolom komentar yg berisi puluhan komen. Membaca sekilas komentar paling atas yg mendapat like paling banyak. Anonim.
"Aku tahu siapa gadis itu, inisial L. Dia pegawai MT Corporation. Tipe cewek genit yg merayu pria mana saja. Benar-benar memuakkan dan menjijikkan. Kalau kalian bertemu dengannya, anjing pudel Yuri pun masih jauh lebih cantik darinya. Dasar pe*lacur." (Yuri adalah nama artis terkenal yg hobi memelihara banyak anjing pudel betina)
Lana meradang, sudut matanya panas dan berair.
...***...