
"Uwaahh, lihat! Ini kan Gucci!"
"Brand mewah!"
"Serius ini Bu?"
"Setiap tamu undangan dapat satu-satu? Gila!"
Bu Yuni mengangguk lalu tertawa simpul melihat mulut gadis-gadis itu ternganga lebar.
Ruang PPIC tidak sepi seperti biasanya. Beberapa gadis mengerubungi meja Bu Yuni, Kepala Ruangan PPIC, untuk mengagumi souvenir dari acara pesta pertunangan kemarin malam.
Sehelai scarf cantik dari sutra yg lembut dan indah, serta toples lucu berisi kukis coklat dari merek Bakery yg mahal dan ternama.
"Bagus kan?" Monic membelitkan scarf itu di lehernya. Lalu bergaya bak model papan atas, pamer betapa indah dan cocok kain bercorak bunga itu menempel di lehernya. Beberapa gadis mengacungkan jempol, beberapa memujinya.
"Aku baru sekali ini lihat barang brand mewah. Apalagi Gucci." timpal seorang gadis. Matanya berbinar kagum.
Beberapa gadis menyetujui.
"Hei, hei lihat ini," Seorang gadis berambut digelung rapi menyorongkan ponselnya ke depan hidung para gadis yg penasaran.
"..harganya 5 juta." bisiknya dramatis, menunjuk ke layar ponsel.
"S-satu lembar??" sembur Monic syok.
Gadis yg memegang ponsel mengangguk.
"Haahhh??" Semua orang berteriak syok, bahkan Bu Yuni juga.
Monic cepat-cepat melepas scarf itu dan meletakkannya dengan hati-hati kembali ke dalam kotak. Seolah scarf itu kepiting hidup yg bisa menggigit.
"Gila! Ditambah dua juta, itu setara gajiku." bisik seorang gadis ngeri.
"Kain begitu 5juta? Unbelievable."
Bu Yuni melipat hati-hati scarf itu, "Bagi mereka, harga segini gak ada apa-apanya kali ya." Lalu menyimpan kain itu kembali ke kotaknya.
Gadis-gadis itu mengangguk kompak.
"Kalau kukis ini, aku tahu harganya." Monic berkata sok, menunjuk toples di meja Bu Yuni. "Setoples kecil aja 100ribu, ini mah 250 an lah."
"Berarti.. Kalau undangannya 100 orang aja, dikali 5,5 juta udah 550 juta. Itu gajiku berapa tahun yaa.." Seorang gadis berambut pendek menghitung-hitung.
"Udah, ngapain pusing-pusing mikirin. Mereka aja yg ngeluarin uang santai-santai aja." Seorang gadis lainnya menepuk pundak si gadis berambut pendek, meledek.
Bu Yuni dan beberapa gadis tertawa.
Monic lalu cemberut, ia berkata sangat iri pada Bu Yuni karena bisa datang ke pesta mewah itu. Ia juga ingin mendapatkan souvenir seperti ini.
Beberapa gadis mengangguk-angguk setuju, mereka juga ingin dapat kain mewah ini. Kan lumayan gratis. Dengan gaji pas-pasan seperti ini, boro-boro untuk beli kain seharga 5juta, untuk makan sehari-hari saja di kota metropolitan ini sangatlah ngepres.
Tanpa bermaksud buruk, Bu Yuni menyeletuk kalau Lana juga terlihat hadir di pesta itu.
Gadis-gadis itu terkejut, lalu kompak sekali kepala mereka menoleh bersamaan ke bilik Lana di sebelah kiri.
Kemudian mereka tersadar dan memaklumi. Lana kan pacarnya Pak Ethan, sudah pasti CEO PT. NaThan diundang juga.
Monic mencibir kesal ke arah Lana.
Tak ada yg tahu Lana sedang apa di dalam biliknya.
Disaat semua gadis di ruangan PPIC berkumpul untuk bergosip, Lana malah asyik termenung di depan komputer. Tumpukan map berkas menggunung di meja di sisi kanan menunggu untuk dikerjakan.
Tapi gadis itu bahkan sama sekali tidak sadar kalau sedang dijadikan bahan gunjingan. Pikiran Lana telah melalang buana, meninggalkan raganya yg bertopang dagu di meja.
Pikirannya melayang ke kejadian kemarin malam.
Akhirnya Lana bisa mengejar Ethan, tapi laki-laki itu tampak acuh. Dia terus saja berjalan hingga ke tempat parkir.
Dalam sekejap, Lana terjebak di dalam mobil dengan pria yg sama sekali tidak mau bicara maupun menatap matanya.
Ethan menyetir mengantarkan Lana pulang dengan tangan terkepal erat di setir kemudi. Lana tidak lagi berusaha menjelaskan, dia hanya diam menunduk.
Mobil melaju dengan kecepatan melebihi batas Ethan yg biasanya, lalu berdecit mengerem tepat di depan rumah Lana. Gadis itu melirik sekali lagi, Ethan masih tampak marah.
Baiklah, mungkin laki-laki itu butuh waktu untuk sendiri. Lana tak mau lagi memohon-mohon atau mencoba meredakan amarah laki-laki itu.
Toh Ethan dan Lana tidak ada hubungan apapun kan. Kenapa Ethan jadi sangat marah dan kenapa Lana harus memelas meminta maaf?
Lana memegang pegangan pintu hendak keluar ketika suara Ethan terdengar.
"Kau masih mencintainya, bukan?"
Gerakan Lana terhenti. Dia menghela nafas panjang, kenapa hari ini kedua laki-laki itu menanyakan pertanyaan yg sama sih.
Lana menutup lagi pintu mobil lalu duduk menghadap Ethan, laki-laki itu sedang menatapnya dengan tatapan terluka.
"Jawab aku. Hatimu masih untuknya kan?"
Lana menatap balik.
"Itu bukan urusanmu, Ethan." jawab Lana pelan, takut salah intonasi sedikit saja, jawaban Lana bisa membuat Ethan tersinggung.
Ethan mendengus kesal. "Dia sudah bertunangan, Lana. Kau lihat sendiri kan mereka sudah bertukar cincin."
Ethan memperagakan bagaimana Kyoya dan Hana mengangkat tangan mereka untuk pamer cincin. Ethan mengangkat kedua tangannya ke depan wajah Lana.
Ada luka berdarah di punggung tangan kanan Ethan, Lana baru menyadarinya.
"Kenapa tanganmu?"
Refleks Lana menarik tangan Ethan yg terluka untuk memeriksanya.
Ethan terkejut. Dia bahkan lupa kenapa tangannya bisa sampai terluka.
Lana membuka laci dashboard, mencari kotak p3k. Ia biasa melihat Kyoya menyimpan kotak p3k di laci dashboard mobilnya.
Gerakan Lana terhenti, ini kan mobil Ethan, bukan Kyoya. Betapa bodohnya.
"Ada di sela-sela situ kayaknya." Ethan menjawab, nada suaranya masih kesal. "Entahlah aku lupa dimana menaruhnya."
Lana merogoh-rogoh ke dalam laci lalu tangannya menemukan sesuatu berbentuk kotak dari kain.
"Sini dulu."
Lana menarik lagi tangan Ethan yg terluka, menaruhnya dipangkuan Lana. Gadis itu membuka kotak p3k.
"Memangnya gak sakit apa?" Lana memeriksa kulit yg sobek di buku jari tangan Ethan. Luka itu cukup dalam dan lebar.
Ethan hanya menggeleng.
Laki-laki itu memerhatikan Lana yg dengan lembut sedang membersihkan darah yg mengering di lukanya.
Amarah Ethan perlahan sirna.
Benar, Lana kan bukan -belum- menjadi kekasihnya. Ethan tidak sepatutnya marah.
Konyol sekali, batin Ethan malu. Hanya gara-gara melihat pria brengsek itu memeluk Lana, ia jadi gelap mata.
Tak lama kemudian..
"Sudah selesai."
Lana memberesi peralatan sambil sesekali menatap Ethan karena laki-laki itu sedari tadi hanya diam saja.
"Kau tidak menangis waktu diobati, anak pintar." Lana menegakkan tubuh untuk menjangkau puncak kepala Ethan. Lalu mengusap kepala laki-laki itu.
"Kenapa dia memelukmu?" tanya Ethan pelan, terdengar tak suka. Tapi tatapannya tidak lagi memancarkan amarah.
"Ethan," Lana menarik tangannya. "Yg kau lihat tadi bukan seperti yg kau pikirkan." Lana gemas, sudah berkali-kali ia mencoba menjelaskannya.
"Sama sekali tidak ada momen romantis. Kami hanya ngobrol, lalu.." Lana tercekat, menunduk, suaranya jadi pelan, "Tiba-tiba semua sudah terjadi."
"Jangan bilang kalian terbawa suasana." Sedih dan terluka, lagi-lagi nada itu terdengar.
"Lana kau membuatku gila." gumamnya terdengar frustasi.
Lana menatap sosok laki-laki itu dengan pandangan prihatin. Teringat kata-kata Cika, jika kau masih mencintai Kyoya, jauhi Ethan karena laki-laki itu masih mencintaimu Lana.
Lana tahu itu, sikap, gestur dan tatapan Ethan sama seperti lima tahun lalu. Tidak ada yg berubah, seolah mereka masih berpacaran dan tidak ada hal buruk yg pernah terjadi.
"Ethan, aku masuk dulu. Terimakasih sudah mengajakku ke pesta dan mengantarku pulang." Akhirnya Lana memutuskan menjadi si egois lagi.
Ethan menahan lengan Lana ketika gadis itu hendak membuka pintu.
Lana menoleh dan mendapati Ethan bergerak mendekat.
"Katakan sejujurnya. Di dalam hatimu aku ini apa?" tanya Ethan. "Benarkah hanya sekedar teman?"
Lana tercekat, ia tak menyangka Ethan akan mempertanyakannya dengan frontal.
"Ethan, setelah pembicaraan sore itu-"
Lana mencoba mencari alasan agar tidak perlu menjawab.
"Lana." Dengan tatapan matanya Ethan membuat Lana berhenti mengeles.
"Maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang."
Lana tahu itu sangat egois. Dia hanya tidak ingin gegabah mengambil keputusan. Jika harus menjadi pacar Ethan lagi, Lana takut pada hatinya yg belum yakin ini, jika suatu hari ia menyadari kalau rasa sukanya ternyata tidak sebesar itu, Lana tidak mau mereka saling menyakiti lagi.
Tapi kalau mereka saling menjadi orang asing.. hati kecil Lana langsung menjerit keberatan.
Entahlah. Lana si pengecut.
"Sampai kapan, Lana?" Ethan tampak kecewa. "Kapan kau mau memberiku jawaban?"
Lana menggigit bibir, merasa bersalah.
Ethan melihat gerakan itu dan detik berikutnya hasrat liarnya langsung menggebu hingga ke puncak kepala.
Laki-laki itu bergerak semakin dekat.
"Aku tahu ini salah. Katakan tidak jika kau ingin aku berhenti."
Ethan berbisik tepat di hidung Lana. Wajah keduanya sangat dekat, Lana bisa merasakan hembusan hangat di wajahnya.
"K-kau mau apa?" tanya Lana, meski ia bisa menduga tindakan Ethan selanjutnya.
"Jika hatimu tidak bisa memilih, aku ingin menguji seberapa besar tubuhmu bereaksi terhadapku."
Detik berikutnya Ethan melu*mat bibir Lana, menciumnya penuh hasrat. Ciuman itu sangat intens, panas, lapar dan dalam.
Lana mendorong dada Ethan menjauh, tapi laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
Bibir Lana basah dan panas. Ethan menciumnya lembut namun penuh tekanan dan bergairah.
Melihat Lana yg tidak membalas ciumannya, Ethan melepas bibirnya, menunduk menatap manik mata gadis itu.
"Katakan, apa kau ingin aku berhenti?" bisik Ethan, suaranya parau.
Isi kepala Lana berontak, akal sehatnya menjerit-jerit menyuruh Lana untuk menolak ciuman itu. Namun Lana tahu, tubuhnya berkata lain.
Lana balas menatap tatapan laki-laki itu.
"Jangan berhenti." pinta Lana.
Sudut bibir Ethan terangkat. Laki-laki itu melu*mat bibir Lana lagi. Kali ini gadis itu membalas ciumannya.
Mereka saling memagut dan menggigit dengan panas dan intens. Lidah Ethan menelusup semakin dalam. Lana sampai kehabisan nafas.
Mereka berciuman cukup lama, sampai bibir keduanya panas dan sakit.
Kemudian Ethan melepaskan diri.
Laki-laki itu menatap Lana yg terengah-engah dengan ekspresi menang. Lana mengatupkan bibir rapat, tampak agak kesal pada dirinya sendiri.
"Sekarang aku tahu jawabannya." Ethan mengusap kepala gadis itu lembut. Lalu kembali duduk di kursinya.
"Aku harus sedikit berusaha lebih keras lagi. Suatu hari hatimu itu pasti akan memilihku." Ethan tersenyum.
Lana tiba-tiba didera perasaan bersalah. Dia jadi seakan telah memberi Ethan harapan. Padahal saat ini Lana belum yakin dengan perasaannya sendiri.
"Aku masuk dulu." Lana memutuskan melarikan diri lagi. Ia meraih pegangan pintu.
"Terimakasih sudah mengobati lukaku." Ethan mengecup luka ditangannya. Lalu nyengir. "Terimakasih juga sudah membalas ciuman-"
"Aah sudah malam! Aku ngantuk. Aku pergi." Lana buru-buru membuka pintu untuk menutupi gugup dan salah tingkahnya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Lana meloncat keluar, membanting pintu mobil hingga menutup lalu berlari menuju tangga.
Ethan melambaikaan tangan dengan geli.
Lana sama sekali tidak menoleh, langsung berderap menaiki tangga. Sosoknya hilang di anak tangga paling atas.
Begitulah, pikiran Lana kembali ke ruangan PPIC.
Lana membenturkan dahinya berulang kali ke atas meja. Ia kesal dan marah pada dirinya yg seperti ini.
Setelah beberapa lama, Lana akhirnya berhenti menyiksa diri.
Saat gadis itu sedang mengusap dahinya yg memerah, Monic tampak berdiri di dekat bilik Lana.
Monic menyorongkan map hitam ke atas meja Lana, wajahnya terlihat kesal.
"Bu Yuni minta tolong antarkan berkas ini ke meja sekretaris lantai 10." suruh Monic.
Lana yg masih linglung, hanya mengangguk lalu mengambil map itu. Ia bangkit dan berjalan melewati Monic begitu saja.
Monic bengong, dia menatap sosok Lana yg berjalang menuju pintu keluar. Monic heran kenapa gadis itu menurut saja.
Padahal kan Bu Yuni menyuruh tugas itu untuk dikerjakan oleh Monic. Tapi karena dia malas, apalagi saat ini Bu Yuni sedang ada rapat di ruangan lain, dia jadi kepikiran mengerjai Lana. Eh gadis itu kok gampang banget dikerjai.
Lana memencet tombol 10, lift bergerak menutup. Lift itu kosong, Lana mendekap map hitam ke dadanya, naik dari lantai dua ke lantai 10. Pikiran gadis itu masih belum fokus.
Ting,
Pintu lift akhirnya terbuka. Lana pun melangkah keluar.
Tiba-tiba ia terkesiap. Lorong ini kan..
Lana kembali masuk ke dalam lift, mengecek angka 10 di layar kecil lift.
Bodohnya, kenapa baru sadar sekarang.
Bagaimana ini?
Saat pintu lift bergerak menutup, Lana buru-buru menahannya. Lalu mau tak mau ia bergegas keluar.
Lantai 10 adalah lantai dewan direksi, kenapa dia bisa lupa. Jadi saat Monic bilang, map hitam ini harus diserahkan ke meja sekretaris.. Maksudnya diserahkan ke sekretaris Kyoya?
Lana memberanikan diri, toh bukan diserahkan langsung ke Kyoya, hanya ke sekretarisnya saja. Apa susahnya? Apa sih yg kamu takutkan? seru akal sehatnya.
Lana berjalan di sepanjang lorong, tempat ini masih sama. Seketika Lana jadi bernostalgia.
Lana sampai di meja sekretaris dengan plakat bertuliskan Mia Golding. Tapi dimana sekretaris sang CEO? Meja itu kosong.
Lana bingung, apa sebaiknya dia meletakkan map hitam itu di meja lalu pergi begitu saja, atau dia harus menunggu si sekretaris kembali?
Saat Lana sedang berusaha menengahi pergulatan di pikirannya, terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Sedang apa kamu disini?"
Lana tercekat, suara laki-laki itu amat sangat familiar.
...***...