Between

Between
Bab 53 Suite Room dan Bikini



Brak!


Pintu kamar 7130 dibanting keras hingga menutup. Cika memberengut kesal, bergegas ke tempat tidur lalu menghempaskan tubuh ke atas kasur yg empuk.


"Aaahh, nyebelin banget!!" jeritnya sambil meronta di atas kasur.


Sementara Lana hanya diam, tampak muram dan lesu. Memilih duduk di pinggir kasur, menunduk.


Cika memukuli bantal dengan kesal.


"Untung kasurnya empuk, kalau aja keras, mampus kalian. Akan ku review bintang satu. Biar bangkrut. Biar pada jadi pengangguran semuanya." kutuk Cika. "Hotel bintang lima apanya, ada costumer komplain tanggapan mereka sangat mengecewakan."


Cika lalu sadar dia tidak sendiri. Karena saking kesalnya dia sampai lupa keberadaan Lana.


Cika menoleh dan mendapati pemandangan yg menyedihkan. Sahabatnya itu seperti narapidana yg diputusi hukuman mati, lunglai, layu, tak ada semangat hidup.


Cika sudah mendengar cerita Lana ttg Kyoya yg bersama wanita asing. Bisa-bisanya, padahal mereka sudah sangat cermat memilih hotel untuk menghindari bertemu Kyoya, ujung-ujungnya tetap bertemu juga. Apakah ini yg dinamakan takdir? Jodoh? Tapi mengapa mereka berpisah dan Kyoya dengan terlalu cepat sudah punya pacar baru?


"Lana.." panggil Cika hati-hati. "Kamu ga papa kan?"


Lana menoleh, sudut matanya basah. Dia menggeleng. Lalu tertawa sarkas.


"Liburan yg seru ya? Sangat seru sampai aku tidak tahu lagi ini mimpi atau kenyataan."


"Oh Lana." Cika bergegas bangkit dan memeluk erat sahabatnya. "Maaf aku yg salah Lana, seharusnya aku memesan sendiri kamar tempat kita menginap."


Lana menepuk pundak Cika, melepas pelukan itu. "Kamu pasti tahu bukan masalah kamar ini yg membuat hatiku sesak."


Cika muram. "Tapi kan seandainya kita dapat kamar seperti yg kita mau, kita tidak perlu turun ke lobi untuk komplain. Dan karena kita tetap di kamar, kita tidak perlu bertemu si brengsek itu. Jadi ini memang salahku. Gara-gara kamar ini. Gara-gara si Tejo."


"Gara-gara aku mengajak liburan." Lana menyahut. "Kalau aku tidak mengajak liburan, kita tidak perlu bertemu dengannya. Dan wanita itu."


"Oh Lana." Cika memeluk lagi. Tiba-tiba Cika melepas pelukan dan memegang kepala Lana seperti gerakan dukun membaca mantra.


"Percaya lah pada dukun Cika. Aku akan mencuci otakmu, Lana. Lupakan si brengsek itu, lupakan wanita binal itu, lupakan semuanyaaa.. Bujalajabuu.." Cika merapal mantra mirip dukun sungguhan.


Lana tertawa. "Hentikan, ini konyol." Cika pun ikut tertawa.


"Aku sudah tidak apa-apa. Ke pantai?" Lana tersenyum.


Cika berbinar. "Oke!"


Cika bersyukur Lana tidak terlalu lama terpuruk dalam kesedihan lagi. Padahal sudah sejak beberapa hari sebelumnya Lana sangat menanti liburan ini. Ternyata malah menjadi liburan yg di luar rencana, mengecewakan, amburadul.


Setelah komplain ke petugas ttg kamar, ternyata petugas itu bilang mereka tidak bisa mengganti ke kamar lain karena kesalahan bukan ada pada pihak hotel. Petugas itu bisa memberikan kamar yg menghadap ke pantai jika Cika bersedia memboking kamar yg baru. Heh, uang darimana.


Akhirnya mau tak mau, diterima saja lah.


Cika dan Lana sedang membuka koper untuk mencari bikini, ketika terdengar pintu kamar di ketuk.


"Siapa ya?" tanya Cika heran. Mereka berdua saling pandang bingung.


Cika pun menaruh tumpukan baju kembali ke dalam kopernya yg tergeletak di atas kasur, lalu berjalan menuju pintu.


Cika mengintip ke lubang kunci. Tampak seorang pria muda memakai seragam hotel, tersenyum ramah.


"Petugas hotel. Ada apa ya?"


Cika membuka pintu. Lana ikut menghadap ke pintu, ingin tahu siapa yg mengetuk dan ada apa.


Begitu pintu terbuka, tampak senyum lebar menghiasi wajah petugas hotel itu.


"Dikarenakan akan ada perbaikan dan evaluasi untuk kamar 7130 ini, pihak hotel memohon maaf yg sebesar-besarnya dan berniat baik memberikan kompensasi berupa memindahkan anda ke kamar yg lain. Mohon nona segera membereskan barang-barang anda dan saya akan mengantar ke kamar nona yg baru."


Cika mengernyit, agak tidak begitu paham dengan ucapan petugas itu yg merentet seperti kereta api.


"Kenapa tiba-tiba ada perbaikan?" Lana berjalan mendekat.


"Kami sudah mengecek, kamar ini baik-baik saja. Walau pun bukan menghadap ke pantai, tapi AC kamar menyala dingin, kasurnya empuk, airnya bagus, kamar mandi juga oke. Kenapa tiba-tiba memindahkan kami ke kamar yg lain?" cecar Lana.


"Eh itu, ng.. " Petugas hotel menjadi gugup. "S-saya hanya menjalankan perintah nona. Untuk mengantar pengunjung di kamar 7130 ke kamar 9330."


"Bisakah aku berbicara dengan atasanmu?" Lana bertanya lagi.


"Sudahlah Lana." Cika buru-buru menenangkan sahabatnya. "Entah apa yg terjadi sebenarnya, sudah, turuti saja. Aku ingin cepat ke pantai."


Lana akhirnya mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Tolong tunggu sebentar. Kami akan membereskan barang-barang."


"Baik nona."


Lalu pintu pun ditutup.


...***...


"Uwaahh, apa ini?"


Cika memasuki ruangan sambil ternganga. Kamar itu adalah Suite Room. Dengan luas seukuran setengah rumah Lana, ada satu set sofa, kitchen set, kulkas satu pintu penuh dengan minuman dingin, soda dan eskrim, double bed, dan bathup. Bahkan di sisi dinding yg berupa kaca, viewnya adalah hamparan pantai dengan laut biru yg indah.


"Tidak salah kamar mas?" Lana bertanya ragu-ragu pada petugas hotel, setelah Cika berkeliling kamar sambil memekik antusias di setiap sudut.


"Tidak nona. Ini adalah kamar anda sekarang. Apa ada yg nona butuhkan lagi?" Petugas itu bertanya sopan.


"Apa lagi yg kurang jika kamar ini mempunyai segalanya. No mas." Cika yg menjawab.


"Kalau begitu saya undur diri." Petugas itu membungkuk lalu menuju pintu dan menutupnya perlahan.


Kini Lana dan Cika hanya berdua di kamar yg luas itu. Mereka saling pandang. Lalu menjerit kesenangan bersamaan, bahkan Cika berjoged ria.


"Astaga, astaga keajaiban apa ini. Seumur-umur baru pertama kali ini aku masuk ke kamar mewah yg biasanya hanya bisa kulihat di drama-drama."


Cika melempar diri ke atas kasur dan melakukan gerakan mengibas sayap ala kupu-kupu. Empuk sekali, nyaman sekali.


"Eh, jangan-jangan nanti kita ditagih biaya sewa kamar?" Cika tiba-tiba bangun dan membelalak. "Gila, berapa puluh juta kamar ini."


Lana menata bajunya di lemari gantung sebelah kasur. "Aku sudah memastikan ke petugas itu tadi. Kamar ini servis dari hotel, kompensasi karena tiba-tiba ada perbaikan di kamar kita sebelumnya. Jadi gratis."


Mendadak Lana menatap Cika serius. "Tapi aneh kan, kenapa tiba-tiba kamar kita ada perbaikan padahal tidak ada yg rusak. Kenapa.. "


"Sshhtt.." Cika menaruh telunjuk di mulutnya. "Mungkin dewa mengasihani kita kali ini. Jadi Lana.. mari nikmati semua berkah ini."


Cika menghempaskan tubuh ke kasur dan merem melek menikmati kenyamanan nya.


"Jadi ke pantai?" Lana bertanya.


Cika menoleh. Mendapati sahabatnya itu tengah menjereng bikini seksi warna krem motif bunga di depan dadanya.


"Tentu saja. Lets go."


Cika bangkit dengan semangat.


...***...