Between

Between
Bab 64 Monic Si Ular



(Di hari yg sama, pagi harinya..)


"Kyoya, bangun nak.."


"Kau sudah tertidur lama.. Bangun, Kyoya.."


Sayup-sayup Kyoya mendengar suara wanita memanggil namanya.


Suara merdu, lembut dan ramah. Itu suara ibu kandungnya.


Kyoya mengernyit, membuka mata perlahan.


Benar, Nyonya Alexander Keiko tengah tersenyum menatapnya penuh kasih sayang. Ibunya sedang duduk di tepi kasur. Sorot matanya bersinar lembut, senyumnya menenangkan.. Kyoya sangat merindukan sosok itu.


"Ibu.." Tanpa sadar Kyoya bicara.


"Kyoya, bangun.."


Ada suara lagi, Kyoya menoleh. Lana muncul di sebelah ibunya, sedang tertawa. "Bangun, jam berapa ini.. buka matamu.."


Kyoya mengernyit bingung. Mengapa Lana juga ada di sini? Di kamarnya?


Kyoya sudah membuka mata, kenapa Lana masih saja menyuruhnya bangun?


Dan, Kyoya teringat.. bukankah ibunya sudah meninggal?


"Kyoya, bangun.."


Suara Lana terus terdengar, menyuruhnya untuk bangun. Kyoya mengerjap bingung. Samar-samar sosok ibunya dan Lana memudar lalu menghilang.


"Tuan Koijima Kyoya, bangun tuan."


"Tuan, bangun!"


"Tuan Kyoya!!"


Kyoya membuka mata.


Suara Bi Lasmi di sebelahnya berucap lega. "Syukurlah Tuhan. Saya kira Tuan Kyoya tidak akan membuka mata lagi."


Kyoya mengerjap.


Dia masih di kamar, terbaring di kasur, masih memakai setelan kerja hari kemarin.


Sosok ibunya dan Lana tidak ada.


Kyoya mendapati Roger berdiri di sebelah kasurnya, ajudannya itu terlihat syok bercampur lega. Sementara Bi Lasmi duduk di tepi kasur. Wajahnya cemas.


Kyoya segera sadar kalau ibunya dan Lana tadi hanyalah mimpi. Sayang sekali. Padahal Kyoya amat senang bertemu mereka.


Tiba-tiba Kyoya sadar, tidak biasanya kan Roger dan Bi Lasmi ada di kamarnya, mengapa mereka berdua ada di sini?


"Ada apa?" tanya Kyoya heran.


"Jam berapa sekarang?" Ia mendadak was-was. Dia sudah tidur berapa lama.


Kyoya hendak bangun tapi kepalanya terasa sakit. Bi Lasmi segera membantunya.


Roger mengambil ponsel yg tergeletak di kasur di sebelah kaki Kyoya. Menyerahkan ponsel itu ke atasannya yg sudah dalam posisi duduk. Sedang mengernyit menahan sakit.


"Sekarang sudah pukul sembilan pagi, sir. Saya menelepon anda berkali-kali saat di kantor karena tidak biasanya anda terlambat. Karena ponsel anda tidak menjawab, saya datang kemari."


"Saat saya datang, Bi Lasmi mengatakan anda tidak bangun-bangun meski sudah dibangunkan berkali-kali. Maafkan saya karena lancang masuk ke kamar anda sir. Kami sudah mencoba membangunkan anda tapi anda benar-benar pulas seperti bayi."


Roger ragu-ragu bertanya, "Apa anda mabuk semalam?"


Kyoya mengingat-ingat. Lalu mengangguk. "Minum beberapa kaleng dengan Hana, lalu aku tak sadarkan diri."


Bi Lasmi membatin, karena itu ada banyak kaleng bir di meja ruang tamu. Begitu tiba tadi pagi, Bi Lasmi langsung membersihkan kaleng-kaleng itu.


Kyoya melihat ponselnya. 5 panggilan tak terjawab dari Roger, 2 panggilan tak terjawab dari Pak Liem Thomas dan satu pesan dari Hana.


Kyoya membuka pesan Hana, yg dikirim kemarin malam.


'Aku sudah sampai rumah, jangan khawatir, taksi online sangat aman. Ayah berjanji akan segera mengirimkan supir pribadi. Selamat beristirahat, kapan-kapan kita minum lagi ya. Hana.' Ada juga sebuah foto, Hana sedang berfoto selfie dengan Kyoya yg tertidur pulas di kasur sebagai latar belakangnya.


Kyoya tersenyum kecil. Lalu bicara pada Roger dan Bi Lasmi.


"Terimakasih sudah membangunkanku. Rupanya aku benar-benar tidur dengan nyenyak. Setelah sekian lama."


"Kita sudah sangat terlambat, Roger. Apa saja agendaku hari ini?" tanya Kyoya, menyesali rapat pagi yg tidak bisa ia hadiri.


"Kalau begitu saya akan siapkan keperluan anda Tuan." Bi Lasmi membungkuk, hendak pergi.


"Terimakasih Bi Lasmi. Maaf sudah membuatmu khawatir." Kyoya tersenyum menyesal.


Bi Lasmi balas tersenyum. "Sesekali mabuk dan terlambat, itu bukan dosa Tuan. Itulah manusia, penuh dengan ketidaksempurnaan."


Lalu Bi Lasmi pamit undur diri. Sementara Roger langsung membacakan agenda hari ini, termasuk hasil rapat yg tidak bisa Kyoya hadiri.


Kyoya menyimak dengan menahan sakit di kepala. Rasanya masih ingin beristirahat, tapi mana mungkin. Janji temu, rapat penting dan berkas-berkas yg menunggu untuk dicek dan harus ditandatangani sudah menumpuk.


Kyoya menghela nafas lelah.


"Anda baik-baik saja sir?"


Roger berhenti saat hendak membicarakan pertemuan nanti sore dengan Pak Liem Thomas. Ia menatap atasannya itu dengan khawatir.


"Sebaiknya anda beristirahat beberapa jam lagi sir. Atau jika anda berkenan, saya akan mengubah jadwal anda hari ini."


Kyoya tersenyum hambar. "Dan menumpuk semua pekerjaan, begitu? Kau tahu itu bukan karakterku. Jika aku memilih beristirahat tapi menunda semua pekerjaan, aku tidak akan tenang."


"Resiko menjadi CEO, Roger." Kyoya menatap ajudannya itu. "Atau kau ingin mencoba menggantikan aku sehari saja?"


Roger tercekat, langsung menunduk dalam. "Bahkan memikirkannya saja, saya tidak berani sir. Tolong jangan lagi bercanda seperti itu."


Kyoya tersenyum.


Ah tiba-tiba dia jadi merindukan Lana. Melihat sosoknya dalam mimpi, membuat Kyoya ingin segera bertemu.


Tapi seperti meminta waktu istirahat tambahan, meskipun ingin, bertemu dengan Lana sama-sama tidak mungkinnya. Suatu hal yg mustahil.


Mata Kyoya terpaku ke sudut kamar, ke arah gantungan baju. Sosok Lana memakai kemeja biru tua dan rok hitam, seakan melambai ke arahnya, sedang tersenyum riang.


...***...


Lana menunduk, memainkan kuku ibu jarinya. Menyesali kenapa dia bisa ada di sini.


Suasana sangat canggung dan tidak nyaman bagi semuanya.


Orang-orang berusaha mengalihkan ke obrolan yg lebih santai. Tapi tak ada yg mengajak Lana bicara. Mereka semua sibuk sendiri.


Seolah Lana tidak ada di sana.


Saat ini pukul enam petang, Lana dan beberapa rekan kerja nya sedang dalam acara kumpul-kumpul merayakan ulang tahun kepala ruangan PPIC.


Yuni sedang di meja kasir, memesankan makanan dan minuman untuk semua orang. Jika bukan Bu Yuni yg mengajaknya langsung, Lana tidak akan mau ikut datang ke sini.


Rasanya jengah dan tidak nyaman. Lana terus menunduk, asyik memainkan sedotan di gelas tehnya untuk membuang waktu.


Saat Yuni kembali ke kursinya, suara dengungan berubah menjadi sunyi. Yuni memandang heran, lalu tertawa ceria untuk mencairkan suasana.


"Heeii.. kenapa kalian menjadi serius dan tegang seperti ini? Santai saja. Kita tidak sedang di kantor."


Akhirnya perlahan semua pun rileks. Satu persatu mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakan berbagai harapan baik untuk kepala ruangan PPIC.


Yuni tersenyum senang dan membalas ucapan dari semuanya dengan ceria.


Ketika Lana memberanikan diri bersuara mengucapkan selamat, semua mendadak diam. Hening sekali, Lana merasa suaranya jadi terdengar sangat keras padahal dia hanya mencicit.


"S-selamat ulangtahun Bu, semoga sehat selalu, semakin sukses karir dan segalanya."


Lana bersyukur, Bu Yuni tersenyum kecil lalu berkata, terimakasih Lana.


Suasana kembali menjadi hidup.


Yuni memotong satu slice dan memberikannya ke Pak Reno, sesepuh PPIC. Disebut sesepuh karena beliau yg paling tua di ruangan PPIC, usianya sekitar 48tahun.


Lana bersyukur, suasana tidak begitu jengah sekarang. Asalkan Lana tetap diam dan berpura-pura menjadi tak kasat mata.


Lana tidak ingin merusak perayaan ulang tahun atasannya.


Makanan dan minuman datang, orang-orang langsung bersorak. Soju, bir, daging panggang, ceker pedas tanpa tulang, gorengan dan beberapa makanan lain dihidangkan. Yuni mempersilahkan mereka semua makan.


Lana menyeruput tehnya pelan, tidak berani minum selain ini. Dia takut mabuk dan meracau.


Saat semua asyik makan dan Lana sedang menikmati menggigit daging panggangnya diam-diam, Monic yg duduk di hadapan Lana, bersuara nyaring.


"Oia Lana, kamu tidak membawa oleh-oleh untuk Bu Yuni?"


Lana tercekat. Apalagi ini, batinnya nelangsa.


Semua mata menatap Monic.


Monic tersenyum manis. Bicara lagi ke arah Lana, "Kudengar kemarin kamu mengajukan cuti liburan ke TanBay. Mana nih oleh-olehnya? Bu Yuni kan lagi ultah loh."


Yuni tertawa kecil. "Tidak perlu, aku tidak perlu hadiah kok. Bisa berkumpul dengan kalian semua seperti ini saja aku sudah sangat senang."


Seseorang nyeletuk, "Yang penting kerjaan beres, sesuai deadline ya Bu?"


Semua tertawa.


Lana lega, diam-diam ia menatap Monic, penuh rasa kesal.


Monic tertawa santai dan ceria seolah tak punya salah apapun. Lana sampai heran, ada apa dengan Monic? Lana salah apa, sampai rekan kerja yg dulu baik itu bisa berubah jadi seperti ini? Terlihat sangat membencinya.


"Tapi Lana.."


Monic bicara lagi. Lana menelan ludah. "Kamu ke TanBay menginap dimana? Kan cuti dua hari, masa engga nginap."


Beberapa orang cuek dan mengobrol dengan yg lain. Beberapa orang tertarik, lalu ikut diam memperhatikan Monic.


Lana bingung harus menjawab apa. Dalam hati mencoba menerka, apa maksud Monic memancing topik ini.


Tapi Lana tak mau terlihat kalah, dengan kepala tegak dia memaksakan tersenyum dan balik bertanya dengan berani, "Menginap atau tidak, memangnya apa urusanmu?"


Lana tidak bermaksud terlihat jelas sedang kesal, tapi demi melihat wajah itu, dan teringat bagaimana Monic berbicara buruk tentangnya di toilet tadi pagi, Lana seketika panas.


Monic memasang wajah menyesal.


"Aahh.. maaf, aku tidak tahu kalau itu termasuk pertanyaan pribadi untukmu Lana."


Monic mencoba membela diri. "Sebenarnya aku tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin tahu saja. TanBay kan terkenal dengan pantainya yg indah. Aku juga ingin ke TanBay kapan-kapan. Mungkin kamu tahu hotel yg murah di sana. Bagi-bagi infonya sedikit dong."


Lana terdiam. Beberapa orang mulai berbisik-bisik, mungkin menyalahkan Lana mengapa begitu sensitif dan pelit, ditanya sepele begitu saja tidak mau menjawab. Sok penting.


"Di hotel biasa, cukup murah kok." Lana mencoba berkelit.


Monic tersenyum manis, "Ooo begitu. Oia aku punya teman di NusaDua, kamu juga kan Lana? Tahu tidak, kenalanmu itu minta tolong ke temanku untuk membookingkan kamar di Five Star Hotel. Waahh, itu kan bukan hotel biasa Lana. Bagiku sih itu hotel yg sangat mahal. Kamu royal juga ya kalau untuk liburan."


Lana tercekat, Tejo adalah teman Monic? Lana sama sekali tidak tahu hal itu.


Melihat Lana diam saja, Monic melanjutkan, "Atau jangan-jangan, kamu sengaja cuti liburan untuk bertemu seseorang di sana? Siapa Lana? Aku menebak, seseorang itu pasti kaya. Yah.. semacam CEO mungkin."


Lana pucat.


Semua orang berbisik-bisik. Mereka sudah menduga Lana memang ada kaitannya dengan isu itu, saat mendengar nama Five Star Hotel disebut.


"Kamu tidak ada kaitannya dengan isu panas yg lagi viral itu kan Lana?" Monic terus mengipasi arang yg mulai berasap. Sebentar lagi arang itu akan menyala menjadi bara, lalu berubah menjadi api.


Lana tidak sanggup menjawab, mulutnya rapat mengatup. Dia hanya menunduk, terus mengorek kuku ibu jarinya dengan cemas.


"Monic, tidak mungkin kan Lana dengan Pak Koijima. Hati-hati, isu itu sensitif loh, terkait nama baik atasan kita di MT Corporation." Bu Yuni menegur.


Monic memasang wajah menyesal tapi nada suaranya terdengar dibuat-buat. "Maaf Bu. Habis saya penasaran, baju gadis di foto di berita itu sama persis dengan yg dipakai Lana waktu Mental Camp beberapa waktu lalu."


Mental Camp adalah acara bina mental yg diadakan khusus oleh MT Corporation, acara menginap tiga hari di vila daerah perbukitan untuk mengasah mental dan membentuk kerjasama tim.


Beberapa orang mengangguk setuju. Mereka kini ingat, baju kuning terang motif Snoopy yg mencolok dan menjadi pusat perhatian saat itu. Siapa lagi yg akan memakai baju norak seperti itu kalau bukan Lana?


Lana semakin pucat. Dia melirik Bu Yuni yg tampak sangsi sekarang, setelah ingatannya kembali ke masa Mental Camp, baju Lana memang sama persis dengan yg difoto viral itu.


Mendadak terdengar gelombang bisik-bisik di sepanjang meja. Orang-orang saling kasak kusuk. Bara itu telah menjadi api kecil sekarang, siap membakar Lana.


"Masa sih Lana? Menurutmu?" Orang di pojok meja berbisik ke pria disebelahnya. Ingin percaya tapi masih ragu.


"Aku tidak menyangka Lana gadis yg seperti itu ya?" bisik dua wanita di sebelah kiri Lana.


"Apa yg Pak Koijima lihat darinya ya? Cantik juga enggak." bisik orang di sebelah kanan Monic.


"Kalau nanti CEO itu sudah bosan, aku juga mau, Lana. Harus mengajak ke hotel mahal ya, bisa diatur, haha.." Beberapa pria dengan kurang ajar nyeletuk.


"Lana, si gadis murahan. Ternyata dia tidak sepolos penampilannya."


"Pe*lacur."


Sudut mata Lana panas, ingin rasanya menjambak rambut panjang Monic atau mencakar wajah menyebalkan gadis itu. Atau berteriak pada semuanya.


Kenapa kalian sangat jahat padaku seperti ini?!


Tapi Lana bahkan tidak berani mengangkat wajah. Dia sangat malu. Apalagi airmatanya tinggal menunggu waktu saja untuk menetes.


Ketika semua orang kini punya persepsi sama, menuduh Lana sebagai gadis murahan penyebab skandal itu, Lana yg tersudutkan tak berdaya, tiba-tiba terdengar suara dari belakang kursi Lana.


"Maaf aku terlambat."


Suara pria yg familiar di telinga Lana.


Semua orang serempak melihat ke sosok di belakang Lana, Lana juga refleks menoleh dan terbelalak.


Ethan Arkam, berdiri menjulang dengan setelan kerja berwarna coklat. Tersenyum ramah.


"Pak Ethan." Monic berubah antusias, tersenyum riang. Matanya berbinar menatap kagum ke sosok itu.


"Sepertinya kalian sedang asyik mengobrol tentang Lana ya."


Suara Ethan terdengar santai dan ramah, ia memandangi orang-orang itu satu persatu.


Tangan Ethan mengusap bahu Lana lembut. Lana hendak menyingkirkan tangan itu, tapi akhirnya memutuskan membiarkannya saja. Hati Lana berbisik, pasti ada maksud lain mengapa Ethan tiba-tiba bersikap begini.


Mata Monic mengikuti gerakan tangan Ethan, keningnya berkerut. Heran. Cemburu.


"Sepertinya seru sekali." Nada suara Ethan masih terdengar ramah dan riang. Detik berikutnya, suara riang itu berubah tajam dan serius.


"Tapi sayang sekali, ada satu yg harus kuluruskan. Pacarku ini tidak terlibat sama sekali dengan isu skandal CEO MT Corporation."


Pacar? Lana tidak salah dengar kan. Apa maksud laki-laki ini berbohong?


Ethan menatap semua orang dengan tatapan bak elang pemburu. Rahangnya mengeras.


"Gadis di foto viral itu bukan Lana. Bisa kupastikan, karena orang yg menginap bersama Lana malam itu di TanBay adalah.. aku."


Lana langsung menoleh menatap Ethan, kaget sejadi-jadinya.


"Malam itu kita sangat sibuk, iya kan Lana?" Ethan tersenyum nakal.


Lana membelalak, begitu juga Monic.


...***...



Kira-kira seperti ini ya kaosnya Lana, tapi motif kaktus nya diganti gambar Snoopy 😅😁


Siapa yg juga suka pake baju warna ngejreng?? 🤗