
Lana hanya diam sepanjang perjalanan ke rumah Kyoya. Hatinya tegang.
Ini adalah kali pertama Lana pergi ke rumah kekasihnya. Lebih kepada itu, ia akan pergi ke sana dalam keadaan pakaian basah kuyup dan kedinginan.
Kyoya juga tidak banyak bicara. Dia mengarahkan kemudi mobil berbelok memasuki kawasan elite.
Hujan telah berubah menjadi gerimis kecil.
Lana memandang kagum deretan rumah-rumah besar dan mewah yg ia lewati. Bertanya-tanya rumah Kyoya akan sebesar apa.
Mobil berbelok lagi dan berhenti di sebuah pagar hitam besar. Petugas keamanan langsung membukakan pagar otomatis dari pos.
Mobil bergerak masuk, diiringi petugas keamanan yg membungkuk sopan.
Lana menelan ludah. Mereka sudah sampai.
Dia harus bagaimana.
Rumah Kyoya berlantai dua dan bergaya futuristik minimalis. Terkesan mewah dan elegan. Taman yg luas dan terawat dengan lampu lentera yg menyala oranye indah membuat Lana kagum.
Mobil berhenti di depan teras berkanopi. Seorang pria berseragam hitam seperti petugas keamanan di pos berdiri siap untuk membukakan pintu.
Pria itu membukakan pintu untuk Kyoya, lalu kemudian Lana. Mereka turun dari mobil disambut bungkukkan badan dari pria itu. Meski mengetahui pakaian atasannya itu basah dan membawa seorang gadis yg juga basah kuyup, ekspresi pria itu datar dan tetap sopan.
Kyoya mengajak Lana masuk ke dalam rumah melewati pintu besar dengan gagang pintu terbuat dari kristal.
Belum sempat Lana mengagumi interior bagian dalam rumah, mereka disambut ramah oleh seorang wanita berumur lima puluhan yg berpakaian rapi.
"Selamat datang Tuan."
Wanita itu membungkuk sopan. Lalu ia menegakkan kepala dan sedikit terkejut dengan pakaian Kyoya dan gadis di sebelah atasannya itu yg juga basah kuyup.
"Apa yg terjadi Tuan Kyoya?" Wanita itu bertanya khawatir.
Kyoya tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa Bi Lasmi. Hanya sedikit bersenang-senang."
Kyoya menunjuk Lana. "Tolong ambilkan handuk dan pakaian ganti untuk Lana."
Bi Lasmi memandang dengan wajah bingung. "Tapi Tuan, di rumah ini tidak ada pakaian ganti wanita."
Kyoya tampak baru menyadarinya. "Benar juga. Kalau begitu pilihkan kemejaku saja dulu. Pakaian ganti Lana akan segera datang."
Kyoya berkata pada Lana, "Bi Lasmi akan membawamu memilih baju yg pas. Aku mau mandi dulu."
Kyoya berbisik, "Apa kamu mau ikut? Mungkin kita bisa melanjutkan keseruan yg tadi." Satu alis Kyoya naik.
Lana langsung tersipu malu. "A-aku nanti saja."
Meski tidak tersirat, tidak mungkin lelaki itu mengajak Lana ke rumahnya tanpa maksud apa-apa. Lana tahu setelah mandi hal apa yg akan mereka lakukan.
"Baiklah kalau begitu." Kyoya berjalan menuju ke ruangan lain. Meninggalkan Lana berdua dengan Bi Lasmi.
Lana hendak membungkuk sopan ketika Bi Lasmi terlebih dulu membungkuk sopan dan bicara,
"Sebentar saya ambilkan handuk dulu nona. Mari silahkan duduk."
Bi Lasmi segera ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh.
Lana melangkah ke sofa putih yg empuk. Takut sofa itu jadi basah, Lana memilih berdiri saja.
Tak lama Bi Lasmi datang membawa handuk besar berwarna putih dan memberikannya pada Lana.
Lana langsung memakai handuk itu sebagai selimut, menutupi tubuhnya. Terasa sedikit hangat. Lana baru menyadari tubuhnya gemetar kedinginan.
"Silahkan nona. Kamar ganti Tuan Koijima di sebelah sini."
Lana mengikuti wanita itu memasuki ruangan lain. Lana melewati meja makan besar dari kaca berwarna gelap, dengan satu set perabotan masak di ujung dinding. Lana memperhatikan rumah ini dominan warna putih, dengan perabotan dan hiasan minimalis. Walau begitu, interior pilihan Kyoya membuat suasana rumah ini terlihat bersih dan elegan.
Lana mengikuti Bi Lasmi yg membuka pintu kayu berukir menuju ke sebuah kamar. Lana ikut masuk ke dalam, tercium aroma greentea dan samar-samar aroma parfum yg Kyoya kenakan.
Ini kamar Kyoya. Lana memperhatikan sebuah kasur kingsize bersprei putih di ujung ruangan, melambai-lambai seperti memanggilnya.
Terdengar suara Kyoya bersenandung dari dalam kamar mandi. Lana menahan senyum.
Bi Lasmi mengajak Lana masuk lebih dalam, ke sebuah ruangan yg cukup luas.
Lana membekap mulutnya dan memekik tanpa suara.
Lana belum pernah melihat dress room secara langsung, selain dari drama di tv.
"Tuan Kyoya kalau mandi agak lama. Jadi nona bisa ganti baju di sini. Silahkan nona pilih yg mana. Saya ijin ke dapur dulu." Bi Lasmi hendak pergi tapi ditahan Lana.
"Tunggu, maaf kalau boleh tahu, pakaian di sini yg paling murah yg mana ya?" tanya Lana.
Takut wanita itu salah mengartikan, dia berkata lagi, "Maksud saya, pakaian yg 100-200rb saja di sebelah mana ya. Saya takut salah memilih pakaian yg mahal. Kalau rusak, saya tidak bisa mengganti."
Bi Lasmi hanya tersenyum pengertian lalu menunjuk deretan sebelah kanan.
"Setahu saya pakaian yg sebelah sini nona. Ini merek lokal, bukan import."
Lana mengucapkan terimakasih lalu mendekati deretan pakaian yg ditunjuk Bi Lasmi. Wanita itu pamit undur diri dan berjalan ke pintu.
"Maaf, kalau boleh tahu, berapa harga pakaian yg di sebelah sini." Lana tiba-tiba merasa tidak enak begitu jemarinya menyentuh kemeja putih yg kainnya sangat halus dan terlihat mahal.
Bi Lasmi tersenyum. "Seharga hape apel terbaru nona." Tanpa mengomentari ekspresi Lana yg melongo, wanita itu lalu keluar dari ruangan.
Hah, paling murah harganya dua digit?
Lana jadi ragu hendak memilih yg mana. Pakaian Lana di rumah saja paling mahal adalah dress seharga 500rb, itupun terpaksa ia beli dulu saat akan menghadiri pernikahan saudara.
Lha ini, Lana bergidik memikirkan berapa harga barang paling mahal di ruangan ini. Mungkin jam tangan, lirik Lana pada deretan jam tangan yg tampak mewah dan berkilauan.
Kalau aku tidak sengaja menyenggolnya dan pecah, berapa bulan gaji ku yg harus kuberikan baru bisa menggantinya.
Setelah memilih cukup alot, akhirnya Lana menjulurkan tangan menurunkan satu kemeja berwarna biru pastel dari atas rak. Melihat sekilas mereknya yg tidak Lana tahu, gadis itu pun mulai berganti pakaian.
Kemeja biru gelap dan rok hitam yg dipakainya tadi dingin dan basah, teronggok di lantai marmer putih. Lana sedang mengancingkan kemeja Kyoya satu persatu. Lana sempat bimbang, bra dan cela*na da"lamnya juga basah tapi tidak mungkin kan dia juga melepasnya. Akhirnya Lana tetap memakainya.
Setelah selesai, Lana membawa handuk dan bajunya yg basah keluar dress room. Benar saja, Kyoya masih di dalam kamar mandi, terdengar suara gemericik air.
Lana keluar dari kamar Kyoya, hendak kembali ke ruang tamu ketika mendapati Bi Lasmi sedang sibuk di meja dapur.
Mendengar Lana datang, Bi Lasmi menghampirinya.
Lana merasa agak risih hanya memakai kemeja Kyoya yg sedikit kebesaran di depan wanita paruh baya itu. Kemeja Kyoya berlengan panjang tapi bagian bawahnya tidak sampai selutut Lana sehingga menampilkan paha putihnya.
Tapi mau bagaimana lagi. Daripada kembali memakai pakaian basah, membuat Lana bergidik.
"Pakaian basah anda akan saya laundry. Silahkan duduk nona, saya sudah membuatkan teh untuk menghangatkan badan." Wanita itu mengambil alih handuk dan pakaian basah Lana tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Lalu pergi ke ruangan lain.
Lana melihat di meja makan ada satu cangkir teh dan sepiring kue bolu. Lana berjalan ke sana dan duduk di kursi makan yg cukup tinggi.
Lana menghirup pelan teh beraroma melati, langsung merasakan kehangatan yg nyaman meluncur dari mulut ke tenggorokan dan perutnya. Lalu mengambil sepotong kue dan melahapnya. Enak sekali. Sambil makan Lana mulai mengedarkan matanya memperhatikan ke sekeliling.
Sepi sekali, batinnya. Meski rumah ini besar dan mewah, tapi terasa sunyi. Apa sehari-hari Kyoya hanya sendirian di rumah sebesar ini? Tidak ada foto keluarga atau foto Kyoya sama sekali. Dinding rumah ini dihiasi kalau bukan lukisan pasti ornamen kayu yg indah.
Bi Lasmi datang lagi. Ada kotak besar berwarna silver di kedua tangannya. Wanita itu menghampiri Lana dan menaruh kotak itu di meja lalu berkata sopan.
"Pakaian anda sudah datang nona. Silahkan jika ingin memakainya."
Lana mengucapkan terimakasih. Dalam hati bertanya-tanya kapan dan bagaimana pakaian untuknya bisa ada di sini.
"Anda adalah wanita pertama yg Tuan ajak ke rumah ini." Bi Lasmi tersenyum melihat reaksi Lana yg tersipu namun juga sedikit kaget.
"Bukankah Kyoya sangat populer dan banyak wanita yg mendekatinya?" tanya Lana.
Belum sempat Lana mendengar jawabannya, Bi Lasmi membungkukkan badan. Kyoya berjalan menghampiri mereka.
Lelaki itu berdiri di belakang kursi Lana. Tercium aroma segar sampo dan aftershave yg maskulin. Lana menoleh, Kyoya tersenyum padanya. Wajah lelaki itu tampak segar dan rambutnya sedikit basah terjulur ke depan.
Lelaki itu memakai kemeja putih berlengan panjang dengan bordir di kerah dan pergelangan tangan. Serta celana katun panjang hitam.
"Jika tidak ada lagi yg anda butuhkan, saya pamit pulang Tuan." Bi Lasmi berkata sopan.
"Baiklah.Terimakasih Bi. Stefan akan mengantarmu jika di luar masih hujan." Nada Kyoya saat bicara dengan wanita ini berbeda dengan saat dia berbicara dengan Roger atau karyawan lain di kantor. Semacam ada nada hormat dan sayang.
Bi Lasmi mengucapkan terimakasih, membungkukkan badan lalu berjalan pergi.
Lana menyesap tehnya dan menyadari suasana berubah hening. Di rumah sebesar ini, hanya ada dia dan Kyoya. Lana mengerjapkan mata, mendadak merasa tegang.
...***...