Between

Between
Bab 48 Pertengkaran



Lana berjalan pelan menuju ruang kerja.


Lana sudah berpakaian, memakai dress cantik berpita yg dibelikan Kyoya tadi. Dia berjalan gontai. Langkah kakinya terasa berat.


Setelah menangis cukup lama dan akhirnya bisa menenangkan diri, Lana menunggu Kyoya jika saja lelaki itu akan kembali ke kamar. Tapi setelah hampir setengah jam kamar itu tetap sunyi, Lana memutuskan sebaiknya dia pulang ke rumah. Mungkin sekarang bukan saat yg tepat bertemu Kyoya. Sepertinya kekasihnya itu sedang butuh waktu sendiri.


Jujur saja Lana merasa sangat lelah, fisik maupun mental. Dia ingin segera tidur, jika saja dia bisa memejamkan mata di kasurnya nanti. Dia ingin hari ini segera berlalu.


Meski Kyoya tampak marah tadi, tapi Lana ingin berpamitan dengan baik. Dia tidak mau tiba-tiba menghilang, pulang tanpa kabar.


Lana menarik nafas panjang. Pintu ruang kerja terbuka. Apa Kyoya ada di dalam?


Lana berhenti di ambang pintu. Tercekat.


Kyoya tengah duduk di kursi, kepala menunduk dengan dahi bertumpu pada kedua tangan. Gestur nya tampak kaku dan tegang.


Takut-takut Lana bersuara, "Aku pamit pulang. Aku bisa pulang sendiri jadi kamu tidak perlu mengantarku."


Belum sedetik mulut Lana menutup, Kyoya beranjak bangkit dari kursinya. Laki-laki itu menyambar kunci mobil di atas meja lalu berjalan melewati Lana.


"Aku akan mengantarmu." ujarnya sambil lalu, tanpa menatap Lana sedikitpun.


Lana mengatupkan bibir, menahan tangis. Lalu mau tak mau berjalan pelan mengikuti Kyoya.


...***...


Sungguh canggung dan tidak nyaman. Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan ke rumah Lana sunyi dan tidak enak.


Meski berkendara aman dan normal, Kyoya menyetir dengan gestur kaku, tidak bersuara sepatah katapun. Lana memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk menatap pemandangan malam di jendela. Lana juga diam, padahal dalam pikirannya berkeliaran banyak hal.


Saat ini pukul setengah 11. Hampir tengah malam, jalanan sunyi dan basah. Gerimis turun membuat suasana semakin dingin. Samar-samar kabut tipis menutupi kota.


Lana menyadari sebentar lagi mereka akan sampai di rumahnya.


Jika ingin acuh tak acuh, Lana bisa saja berpura-pura tidak ada yg terjadi hari ini diantara mereka, berpura-pura hubungan ini masih baik-baik saja.


Atau hendak bertaruh, Lana bisa saja mengajak Kyoya mampir masuk ke rumahnya, melanjutkan kemesraan tadi jika Kyoya mau. Tapi Lana tidak bisa memastikan dia tidak akan kumat lagi. Bagaimana jika dia histeris lagi dan itu malah semakin membuat Kyoya marah?


Tapi jika harus mengatakan tentang semuanya, termasuk kejadian lima tahun lalu, Lana benar-benar belum siap. Ada secuil rasa takut Kyoya akan membencinya jika mengetahui Lana ternyata tidak sebaik dan sesuci itu.


Tanpa Lana sadar, mobil telah beberapa detik berhenti tepat di depan gedung berlantai dua, rumah Lana.


Kyoya mematikan mesin mobil. Suasana yg tiba-tiba sunyi itu menghempaskan pikiran Lana kembali ke realita. Gadis itu mengerjap, menyadari mereka sudah sampai.


"Aku akan bertanya sekali lagi," Suara Kyoya terdengar keras dan tegas di antara derai gerimis. Lana menelan ludah dengan susah payah


"apa yg sebenarnya terjadi tadi?" Lana tahu Kyoya saat ini tengah menatap dirinya. Lana pun berpura-pura sibuk melihat depan.


Lana memutuskan untuk tetap diam.


Kyoya terdengar menahan kesal.


"Lana, aku bertanya dan kamu menjawab. Mengapa kamu membuatnya menjadi sulit?"


Lana mencengkram jemarinya erat. "A-aku belum siap memberitahu.. ke siapapun, termasuk kamu. Maaf. Tolong mengertilah."


Kyoya berdecak tidak sabar. "Mengapa sekarang, padahal kita pernah melakukannya dan kamu tidak histeris?"


Lana sempat bingung lalu ingatan akan masa itu melintas dipikirannya dan ia segera memperoleh jawabannya.


"Saat itu kita berdua minum cukup banyak. Saat itu aku mabuk Kyoya, mungkin kamu tidak. Tapi aku tidak bisa benar-benar ingat apa yg terjadi malam itu."


"Jadi kamu akan histeris saat melakukannya dalam keadaan sadar?" Kyoya agak terkejut mengetahui informasi ini. "Tapi kenapa?"


Lana menunduk. "Sejujurnya aku juga baru tahu hari ini tadi, aku akan bereaksi histeris seperti itu jika melakukan hubungan badan. Itu diluar kendali ku, Kyoya. Tolong mengertilah, saat ini aku belum siap memberitahu siapapun."


"Tapi aku bukan siapapun, Lana. Aku kekasihmu..." Kyoya menahan kalimatnya, ragu ingin melanjutkan atau tidak. Tapi akhirnya memutuskan mengatakannya.


"Aku menganggap kamu adalah segalanya, duniaku. Kukira tak ada rahasia diantara kita, aku memberitahumu semuanya. Bahkan tentang aku yg adalah anak adopsi, tentang nama asliku, karena aku percaya padamu Lana. Karena kamu kekasihku."


Lana menggigit bibir, benar, lalu kenapa Lana tidak bisa bersikap sama?


Melihat gadis itu hanya menunduk diam, Kyoya memutar duduknya menghadap Lana, lalu menatap gadis itu serius.


"Apa hubungan mu dengan Ethan Arkam?"


"Jawab aku." desis laki-laki itu menyeramkan.


Lana mencicit. "K-kenapa tiba-tiba bertanya ttg CEO PT NaThan?"


"Kudengar kalian pernah satu kampus. Jika feeling ku benar, dulu kalian tidak hanya sekedar teman, right ?"


Lana tercekat, dia harus menjawab apa. Jemarinya semakin erat meremas ujung dress nya.


Melihat Lana tidak menjawab, Kyoya menghela nafas menahan amarah. "Diam mu kuanggap sebagai jawaban iya."


Lana membuka mulut hendak bicara tapi segera mengatupkannya lagi.


Rahang Kyoya mengeras. "Aku jadi bertanya-tanya, sudah sejauh apa dulu saat kalian bersama? Apa kalian pernah ML? Apa dia yg pertama untukmu? Apa dia yg menyebabkan kamu bereaksi seperti tadi?"


Bibir Lana bergetar, dia berusaha menahan tangis.


Melihat Lana tidak juga bersuara, memikirkan dan membayangkan Lana berada di pelukan lelaki lain, apalagi jika pria itu adalah Ethan, membuat darah Kyoya seketika mendidih.


"Kenapa kamu tidak menjawab Lana? Lagi-lagi aku akan menganggap diam mu sebagai jawaban iya."


Tanpa pikir panjang, Kyoya mencecar Lana.


"Apa kamu masih mencintainya? Lalu mengapa kalian putus? Apa kamu pernah benar-benar mencintaiku? Jika bukan aku, tapi Ethan yg menyetubuhimu, apa kamu baru akan menerimanya? Kamu baru bisa menikmatinya?"


Plak.


Kyoya mengusap pipinya yg mulai terasa panas. Sementara Lana menurunkan tangannya yg gemetar oleh amarah.


"Lana.. aku benar-benar minta maaf." Kyoya sadar kata-kata nya barusan melebihi batas.


Lana mengusap sudut matanya kasar, lalu menatap Kyoya dengan tatapan terluka.


"Seandainya kamu tahu kebenarannya, kamu tidak akan berani mengatakan sepatah katapun ucapan mu tadi." Suara Lana bergetar.


"Aku tidak menyangka kamu setega dan sejahat ini Kyoya. Kamu merendahkanku, membuatku terdengar seperti pelacur."


Kyoya sangat terkejut mendengar kalimat Lana. Ia hendak bicara tapi Lana memotongnya dengan kasar.


"Jika benar aku adalah duniamu, aku adalah segalanya bagimu, kenapa kamu memintaku menjalani hubungan rahasia? Kenapa kita harus bertemu diam-diam? Kenapa kamu tidak berani menunjukkan pada semua bahwa aku adalah kekasihmu? Kenapa?"


Tes, air mata itu akhirnya jatuh.


"Jika kamu merasa dirimu adalah orang yg paling dirugikan dalam hubungan ini sekarang, coba pikirkan bagaimana lelahnya aku menjalani dan mengimbangi semua kesibukan mu selama ini! Aku ingin hidup dan menjalin hubungan yg normal, Kyoya, tapi aku menahan semuanya untukmu, kau tahu! Jika aku memang tidak cukup pantas bersanding di hidup mu yg sempurna, karena aku tidak sesempurna dirimu, mengapa memilih aku?!"


Lana melontarkan bom menyala yg siap meledak setelah sekian lama bom itu terpendam.


Kyoya ganti kini yg tidak bisa menjawab.


"Aku lelah! Aku tak sanggup menjalani hubungan ini lagi. Aku tidak bisa meneruskannya..." Lana mengusap pipinya.


"Jangan katakan, Lana." Kyoya menyahut. Dia menatap Lana penuh arti.


"Tolong jangan katakan. Jika kamu mengatakannya sekarang, kita tidak akan bisa kembali lagi." Kyoya pucat.


Lana menggeleng. "Apa kamu tahu seberapa banyak dan berapa lama aku menangis tadi di kamarmu? Dan kamu tetap tidak datang. Aku lelah Kyoya, sendirian mengejar harapan darimu. Aku benar-benar lelah."


"Lana please-"


"Kita putus."


Kyoya tercekat.


Lana menatap lelaki itu untuk terakhir kalinya, lalu meraih pegangan pintu dan membukanya. Lana bergegas keluar dan membanting pintu itu menutup.


Tanpa menoleh sedikitpun, Lana berjalan cepat menuju undakan naik ke kamarnya di lantai dua.


Kyoya menatap kepergian Lana dengan nanar. Benarkah semuanya harus berakhir seperti ini? Kenapa? Padahal beberapa jam lalu mereka masih baik-baik saja. Makan ramen bersama, kehujanan bersama.


"Sial."


Kyoya meninju kemudi mobil dengan gusar.


..."""...