Between

Between
Bab 19 The Power of Koijima Kyoya



Mobil hitam mengkilap itu melaju cukup kencang membelah jalanan yg temaram.


Si pengemudi tampak serius menyetir, berkali-kali melirik jam digital di layar dashboard.


Tangannya mencengkram setir dengan erat, bibirnya terkatup rapat.


Berbelok di tikungan dan melihat sebuah Pojang Matcha bertenda merah membuat si pengemudi mendesah lega.


Sebentar lagi sampai, dia akan segera bertemu gadis itu.


Mobil hitam itu berhenti dengan anggun (setelah melaju dengan kecepatan yg cukup membuat penumpangnya senam jantung) di depan sebuah gedung merah bata berlantai dua.


Si pengemudi mengambil ponselnya hendak menelepon, ketika ia tak sengaja menoleh ke jendela mobil dan mengumpat.


"Demi Tuhan, Lana."


Koijima Kyoya bergegas turun dengan membanting pintu mobilnya.


Dia berjalan cepat dengan langkah lebar menuju tangga, tempat Lana sedang duduk meringkuk sendirian di anak tangga ke tiga.


"Sekarang hampir pukul dua tengah malam, dan kamu duduk di sini sendirian? Tidak bisakah kamu menungguku di dalam?"


Kyoya berjongkok di hadapan Lana yg menelungkupkan wajah ke lutut yg ditekuk ke dada.


Kyoya tidak bisa menutupi nada marah pada suaranya.


"Sangat berbahaya menunggu di sini, kau tahu kan. Aku berusaha datang lebih cepat tapi lima belas menit itu waktu yg cukup untuk orang-orang bisa berbuat jahat padamu."


Lana mengangkat wajahnya yg sembab.


Tampak butir-butir airmata di sudut matanya.


Amarah Kyoya langsung sirna.


Ia mengusap kepala Lana lembut.


Kyoya berkata dengan suara menenangkan, "Semuanya akan baik-baik saja. Trust me, everything gonna be okay."


Lana mengusap pipinya yg basah.


"Saya tidak tahan hanya berdiri menunggu di dalam. Sementara isi kepala saya semuanya hal buruk ttg ibu."


Lana sesenggukan. Berusaha menenangkan diri.


"Bisa kita berangkat sekarang? Saya ingin segera melihat kondisi ibu dengan mata kepala saya sendiri."


Kyoya mengangguk.


Dia membantu Lana berdiri dan mengantarnya menuju mobil.


Ketika Lana masuk setelah pintu dibukakan oleh Kyoya, lelaki itu menempatkan tangannya di puncak kepala Lana agar tidak terbentur.


Tak butuh waktu lama, mobil hitam itu telah bergerak meninggalkan gedung merah bata itu.


...***...


Di sepanjang perjalanan Lana tidak henti-hentinya melihat ponsel.


Kyoya melirik cemas.


Setelah memasukkan alamat Rumah Sakit Gwang tempat ibu Lana dirawat, Kyoya berusaha menyetir dengan aman dan nyaman, dengan kecepatan sedikit melebihi batas dan bukannya mengebut gila-gilaan.


Padahal hati kecilnya sangat ingin melakukan itu agar mereka, khususnya Lana, bisa cepat sampai ke Gwangali.


Mobil sudah menempuh setengah perjalanan, tapi terasa masih sangat jauh dan lama bagi Lana.


Tidak ada yg berbicara sepanjang perjalanan.


Lana sibuk memikirkan ibunya dan berdoa dalam hati agar segera mendapat kabar baik.


Kyoya juga tidak menyetel lagu pengiring apapun, dia hanya diam dan fokus menyetir.


Tiba-tiba ponsel Lana berbunyi. Lana dengan sigap menekan tombol answer.


"Ya Kak? Bagaimana ibu?" tanya Lana tanpa basa-basi.


"Ibu belum sadar, Lana. Dokter sedang menangani di dalam."


Suara Kak Ega terdengar khawatir.


"Kamu dimana sekarang?"


"Perjalanan ke sana. Mungkin satu jam lagi sampai."


Lana melirik si pengemudi yg tidak bicara apapun. Mobil sudah melaju cukup kencang tapi memang jarak Gwangali dengan kota tempat Lana tinggal berjarak ratusan kilometer, sangat jauh.


Butuh waktu dua setengah jam naik mobil atau satu setengah jam naik kereta cepat. Dan karena kereta cepat terakhir pukul 6 sore, maka tidak ada pilihan lain selain mobil untuk pergi ke Gwangali saat ini.


"Kamu naik apa? Apa kamu sendirian?"


Kak Ega bertanya seolah baru teringat pertanyaan itu.


Ketika Lana hendak menjawab, dia mendengar lelaki disebelahnya berdehem.


Lana menoleh dan mendapati Kyoya tersenyum padanya.


"Bolehkah aku bicara pada seseorang di telepon itu?"


Kyoya bertanya sopan, tapi melihat Lana yg bengong dia cepat-cepat menambahkan,


Lana mengangguk lalu berkata di telepon, tidak sadar suaranya hampir berbisik.


"Kak, ada yg mau bicara dengan kakak."


Lana lalu menyerahkan ponselnya.


Kyoya menerima ponsel itu dengan jemarinya yg putih ramping.


Sejenak jemari mereka bersentuhan dan Lana merasakan jari-jarinya yg dingin bertemu dengan rasa hangat dari ujung jari Kyoya.


Kyoya memegang ponsel di telinganya dengan tangan kanan, sementara satu tangan lainnya menyetir dengan aman.


Ia berkata dengan suara sopan.


"Selamat malam, maaf memotong pembicaraan anda dengan Lana. Saya Koijima Kyoya, teman Lana."


Mendengar kalimat Kyoya, Lana bisa membayangkan reaksi kakaknya di seberang sana pasti sangat terkejut.


Lana hampir tidak pernah memperkenalkan pada keluarganya kalau dia punya teman laki-laki.


Yang keluarganya tahu Lana hanya punya satu teman, yaitu Cika dan itu perempuan.


"Saya yg mengantar Lana ke Gwangali dengan mobil. Perjalanannya sangat lancar jadi tidak sampai satu jam kami sudah tiba di sana."


Mendengar Kyoya bicara, Lana merasa laki-laki itu tidak sedang menelepon tapi sedang berbicara bertatap muka. Ekspresi nya bersungguh-sungguh dan terlihat menghormati lawan bicaranya.


"Saya mengucapkan semoga lekas membaik untuk ibunda anda. Kalau boleh saya tahu, siapa nama beliau? Dan apakah anda kakak Lana?"


Lana tidak bisa mendengar seperti apa jawaban kakaknya. Tapi ia melihat Kyoya mengangguk dan tersenyum. Kemudian Kyoya bicara lagi.


"Kebetulan saya punya teman yg ... kebetulan juga dia kenal dengan beberapa dokter terbaik di Rumah Sakit Gwang. Saya akan mengusahakan ibunda anda ditangani oleh mereka .. oh tidak apa-apa. Tidak merepotkan sama sekali. Tidak apa-apa, sungguh."


Lana membayangkan saat ini kakak nya pasti sangat canggung dan bingung bagaimana menolak pernyataan Kyoya.


"Mungkin jika nanti ada dokter yg mengajukan perpindahan kamar atau tindakan penanganan yg lain, sebaiknya diterima saja agar ibunda Lana bisa ditangani dengan lebih baik oleh tim ahli. Sungguh tidak apa-apa. Baik, sama-sama. Benar tidak apa-apa, saya juga senang bisa membantu. Baik selamat malam."


Dan telepon ditutup.


Kyoya melihat sekilas layar ponsel, mengernyit mengetahui ada retakan di layarnya.


Dia mengembalikan ponsel itu kepada Lana.


Lana menerima ponsel, hendak bertanya ketika dilihatnya Kyoya berubah menjadi serius.


Lelaki itu menjulurkan tangan, menekan tombol panggilan di layar dashboard.


Suara dering nada sambung memenuhi mobil.


Tidak lama panggilan itu terjawab oleh suara pria, terdengar matang dan penuh hormat.


"Selamat malam Pak Koijima Kyoya."


Kyoya fokus ke jalanan didepannya.


Tapi suaranya mantap, tegas tapi ramah.


"Selamat malam Roger, maaf mengganggu waktu istirahat mu."


"Tidak apa-apa Pak, senang bisa membantu Anda. Apa ada yg anda perlukan, sir?"


Roger bertanya dengan nada seolah atasannya ini sudah sering dan sangat biasa menghubungi nya tengah malam untuk hal-hal yg tidak biasa.


"Saat ini aku sedang menuju Rumah Sakit Gwang-"


"Anda baik-baik saja Pak? Atau apa anda sedang sakit?" Roger bertanya dengan nada cemas.


"Seandainya pun aku sakit, aku tidak akan menempuh jarak sejauh ini pergi ke Rumah Sakit Gwang untuk berobat. Tenanglah, semuanya baik-baik saja." jawab Kyoya dengan nada tegas tapi menenangkan.


"Anda benar, maafkan saya Pak."


Di seberang sana Roger terdengar agak malu.


"Senang mendengar kau mengkhawatirkan aku." Kyoya tersenyum.


"Roger, aku ingin kau menghubungi Direktur Lee. Katakan padanya untuk mengupayakan tindakan medis dan pelayanan terbaik untuk pasien atas nama Nyonya Lupita Hasmi. Aku ingin tim medis paling ahli yang merawatnya."


Kyoya mengatakan semua kalimat itu seakan sangat mudah seperti sedang memesan pizza.


"Baik Pak."


Roger menjawab dengan patuh.


"Kabari aku tentang perkembangannya."


"Malam Roger."


Kyoya mengakhiri telepon setelah suara Roger "Selamat malam Pak. Hati-hati di jalan." menghilang.


Lana hanya bisa mengerjap tidak percaya.


Betapa laki-laki di sampingnya ini memang bukan pria biasa.


The power of Koijima Kyoya nyata adanya.


...***...