
Lana ingin memastikan apakah laki-laki ini masih tertidur, tidak terbangun mendengar suara dari telepon.
Lana menoleh ke kanan dan kaget karena wajah laki-laki itu begitu dekat.
Mata Lana seketika membelalak saat merasakan bahwa bibir mereka bersentuhan.
Butuh waktu beberapa detik bagi Kyoya untuk menyadari dia sekarang sedang dalam posisi duduk tengah mencium seorang gadis yg sedang membungkuk di atas kursinya.
Setelah tiba-tiba tertidur pulas, Kyoya terbangun mendengar suara interkom.
Pasti sekretaris nya yg hendak memberitahukan kalau ada tamu yg hendak masuk, begitu pikirnya tadi saat hendak bangun dari kursi dengan mata yg belum terbuka sepenuhnya.
Tapi apa yg terjadi, bibir mereka kini sedang beradu. Terasa hangat.
Lana segera menarik diri, menutupi mulutnya dengan tangan dan berdiri membelakangi Kyoya.
Kyoya duduk tegak, tangannya terjulur ke meja telepon yg masih berbunyi dan memencet tombol merah.
"Maaf mengganggu anda Pak. Ada Pak Hasibuan yg datang untuk mengajak makan siang bersama."
Suara merdu sang sekretaris mengalun dari seberang telepon.
Kyoya melirik jam tangannya yg seharga satu mobil sport, sudah waktunya istirahat.
Kyoya melirik Lana yg masih berdiri membelakanginya. Lalu mencondongkan badan ke arah interkom.
"Katakan padanya aku ada janji makan siang dengan orang lain. Dan setelah ini aku akan keluar sebentar. Jika ada yg datang mencariku, suruh tinggalkan pesan." ucap Kyoya selesai menekan tombol interkom.
Kyoya bangkit dari kursi.
Ia merasa tubuh dan kepalanya terasa ringan. Dia benar-benar berterimakasih pada gadis ini.
Ia mendekati Lana dan berkata lembut,
"Ayo kita makan siang."
Lana menoleh kaget.
Kyoya bisa melihat wajah gadis itu sangat merah, apakah yg barusan tadi itu ciuman pertamanya?
"Sebagai ucapan terimakasih karena sudah memberiku pijatan, aku akan mentraktir mu makan siang."
Kyoya menyambar jasnya yg digantungkan di tiang penyangga tempat jas disimpan.
"M-maaf, ciuman itu-" Lana berkata.
"Aku tidak akan mengungkitnya kalau itu membuatmu tidak nyaman."
Kyoya mengusap kepala Lana lembut.
"Tunggulah aku di tempat parkir VIP. Mobil hitamku biasa terparkir di sana. Aku akan segera menyusulmu."
Lana mengangguk, lalu segera berjalan menyebrangi ruangan.
Ia menarik pegangan pintu yg besar dan keluar ruangan.
...***...
Lana berdiri diam di lift, matanya menerawang.
Koijima Kyoya!!
Benarkah?
Ini bukan mimpi kan?
Lana menepuk-nepuk pipinya, terasa sakit.
Siang bolong begini apa yg merasuki Lana, kenapa dia berani mengamati wajah sang CEO, menyebabkan ciuman itu walaupun akhirnya terjadi secara tidak sengaja.
Lana masih bisa mengingat bagaimana rasanya. Kehangatan itu, kelembutan itu.
Lana menggelengkan kepala.
Dari dinding lift yg berupa cermin, ia melihat berapa merah wajahnya sekarang.
Apa yg ada di pikiran Mia si sekretaris ya saat Lana keluar terburu-buru dari ruangan dengan wajah mirip kepiting rebus seperti ini?
Ah, sekarang yg mesti dipikirkan adalah kenapa sang CEO mengajaknya makan siang, berdua saja, lagi.
Bagaimana kalau ada orang yg melihat?
Lana tidak mau terlibat rumor yg aneh-aneh.
Apalagi jika itu menyangkut orang nomor satu perusahaan ini.
Pintu lift terbuka, Lana berjalan keluar dan mendapati dirinya berada di basement tempat parkiran mobil-mobil para petinggi perusahaan.
Lana berjalan mencari tulisan VIP sambil menoleh ke kanan dan kiri takut ada orang yg melihat.
Tapi rupanya parkiran itu teramat sepi.
Dan ketemu, sebuah mobil hitam mengkilap dengan plat AX MTCORP 01 terparkir cantik di bawah plakat putih bertuliskan VIP khusus CEO MT Corporation.
Lana berdiri menunggu di samping mobil dengan salah tingkah.
Dipikirannya saat ini sedang tersusun sebuah alasan jika tiba-tiba muncul seseorang dan bertanya apa yg sedang Lana lakukan sendirian di sebelah mobil sang CEO.
Lana sedang menimbang antara akan menjawab dia tersesat, atau dia sedang mencari barangnya yg terjatuh, ketika dilihatnya Koijima Kyoya melangkah keluar dari lift yg terbuka.
Lana membungkukkan badan saat pria itu berjalan menghampiri nya.
Terdengar bunyi kunci mobil terbuka disertai lampu mobil yg mengedip menyala.
Kyoya membuka pintu mobil dan mempersilahkan Lana masuk.
Lana tidak menyangka akan dibukakan pintu, terburu-buru menunduk dan segera masuk.
Tangan Kyoya refleks melindungi puncak kepala Lana agar tidak terbentur saat masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan Lana sudah duduk manis, pria itu menutup pintu dan berjalan santai memutari mobil.
Tak lama dia pun duduk di kursi pengemudi.
Mobil hitam itu pun meluncur keluar dari basement.
...***...