
Hari ini para karyawan MT Corporation terlihat bersemangat. Meski mereka tetap masuk kerja seperti biasa, dan tidak ada pembagian bonus apapun. Tapi hari ini adalah hari spesial.
Hari ini bukan tanggal merah, bukan hari libur, juga bukan hari peringatan apapun di kalender, lebih tepatnya hari ini adalah hari ulang tahun orang nomor satu di perusahaan ternama itu.
Beberapa orang tampak sangat antusias, tapi sayangnya .. mereka menyayangkan kebijakan yg diambil oleh bos mereka kalau tidak boleh ada hadiah maupun perayaan ulang tahun apapun.
Beberapa orang selalu saja, meski setiap tahun si bos akan bersikap sama, menyayangkan kenapa mereka tidak diperbolehkan memberi hadiah. Yah, di setiap perusahaan manapun, selalu ada orang-orang yg berniat cari muka dan menjilat.
Karena salah satu alasan itulah, Kyoya tidak suka anak buahnya membuang-buang uang hanya untuk memberinya hadiah yg pasti tidak akan pernah dia pakai juga.
Seandainya saja bisa, ia ingin mencoret atau melewati satu hari ini setiap tahunnya, Kyoya dengan sepenuh hati akan melakukannya.
Karena kemanapun dia berjalan di gedung MT Corporation, setiap kali berpapasan dengan bawahannya, mereka pasti akan langsung membungkukkan badan, mengucapkan selamat ulangtahun dengan sukacita dan mendoakan doa-doa yg terbaik untuk Kyoya.
Bahkan sampai petugas keamanan yg menjaga portal menuju tempat parkir, pagi ini tersenyum cerah dan mengucapkan selamat ulang tahun juga untuknya.
Bukannya tidak suka, Kyoya kurang tertarik dengan keramaian .. dan perhatian orang-orang ini padanya mulai terasa mengganggu.
Kyoya yg tidak suka berbasa-basi jadi harus tersenyum dan mau tak mau harus membalas ucapan mereka dengan ramah. Dan itu melelahkan.
Belum lagi kiriman karangan bunga.
Saat kemarin pesta pertunangannya diumumkan ke publik, keesokan harinya gedung MT Corporation berubah jadi taman bunga. Mulai dari pintu masuk hingga menjalar ke seluruh taman dan area terbuka di depan gedung, papan karangan bunga beraneka warna berjejer penuh, berderet panjang bak tembok cina.
Karena itu hari ini Kyoya sudah berpesan tidak boleh ada karangan bunga satupun yg terlihat oleh matanya, meski itu karangan bunga ucapan selamat ulang tahun dari presiden sekalipun. Singkirkan semuanya.
Ternyata tak cukup sampai disitu, dari pagi Kyoya sudah dirongrong telepon dan pesan bertubi-tubi dari Hana. Gadis itu terlalu antusias, sangat ingin merayakan ulangtahun Kyoya dengan perayaan paling meriah. Hana bahkan bertanya berulang kali Kyoya ingin hadiah apa, meski laki-laki itu sampai capek sudah memberitahu ia sama sekali tidak ingin hadiah apapun.
Karena itu Kyoya hari ini sebisa mungkin mengurung diri di dalam ruangan CEO saja. Hana sudah ia blacklist untuk datang ke kantor. Toh jika gadis itu datang, ia hanya bermain-main dan menganggu pekerjaan Kyoya saja.
Syukurlah jadwal hari ini selesai lebih awal dari biasanya, Kyoya bisa segera pulang ke rumahnya yg nyaman.
Sementara itu..
Jam kerja Lana sudah selesai. Ia sedang berdiri menunggu lift. Di layar kecil terpampang angka 4, lalu 3 dan akhirnya 2.
Ting,
Pintu lift pun terbuka. Lana langsung melangkah masuk. Lift itu kosong.
Lana mengerling jam tangannya, masih pukul empat sore. Setelah ini enaknya ngapain yaa.. Lumayan hari ini dia tidak ada lembur, semua tugas dan pekerjaannya juga sudah ia kebut tadi, sudah ia kerjakan semua.
Lana sebenarnya ingin ke tempat Cika, membantu sahabatnya itu.
Hari ini Cika pindah rumah. Tapi gadis itu mengatakan sudah ada teman yg akan membantunya, lagipula pindahan rumah pasti berat dan melelahkan, jadi sebaiknya Lana datang kalau rumah baru itu sudah bersih dan siap huni saja. Apalagi Lana sudah seharian bekerja, Cika tidak mau merepoti sahabatnya itu.
Lagi-lagi teman misterius Cika, siapa sih? Lana benar-benar penasaran.
Lana asyik dengan pikirannya sendiri sampai tidak sadar kalau bukannya turun ke lantai 1, lift malah naik dan berhenti di lantai 10.
Begitu pintu terbuka, Lana kaget bukan kepalang.
Kyoya berdiri diambang pintu.
Mata mereka saling bertemu.
Tampak Roger membungkukkan badan memberi hormat pada Kyoya, lalu laki-laki tampan berjas hitam rapi itu melangkah masuk sendirian ke dalam lift.
Lana mengerjap. Sekaligus heran mengapa ajudan setia yg selalu menempel bagai perangko itu tidak ikut masuk ke dalam lift.
Roger membungkuk lagi saat pintu lift bergerak menutup. Sosoknya menghilang. Lift itu pun bergerak turun.
Lana merasa canggung, tak tahu harus berkata apa.
Kyoya berdiri bersandar di dinding lift di sebelahnya. Tumben laki-laki itu diam saja, tidak menyapa atau bicara apapun.
Lana teringat bukankah hari ini bosnya itu sedang berulang tahun.
Seharian ini tadi semua karyawan PPIC tampak sumringah, mereka menanti-nanti kesempatan untuk bertemu Pak Koijima agar bisa memberi ucapan selamat secara langsung.
Tapi sang CEO yg ditunggu-tunggu itu rupanya hari ini amat sangat sibuk hingga tidak keluar dari ruangannya sejengkal pun.
Malah kesempatan itu datang sendiri memilih Lana. Gadis itu kini tampak menimbang-nimbang sebaiknya ia mengucapkan selamat ulang tahun atau tidak.
Toh sekarang dia hanyalah bawahan kelas rendah biasa.
Lana didera perasaan aneh, padahal tahun lalu ia masih berstatus kekasih Kyoya.
Laki-laki itu memberi kelonggaran dan mentolerir sikap Lana. Saat itu selain Lana tidak tahu sifat Kyoya yg anti pada momen ulangtahun, Lana merasa aneh saja masa tidak memberi apapun saat kekasihnya ulang tahun.
Saat itu Lana yg baru pertama kalinya membeli sebuah dasi, sampai pusing memilih dasi yg mana yg cocok. Sebelumnya juga Lana dibuat pusing menentukan hadiah apa yg pantas untuk diberikan pada Kyoya karena laki-laki itu sudah punya segalanya.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini."
Tiba-tiba Kyoya bersuara. Menyadarkan Lana dari lamunannya.
Lana memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Kyoya.
"Selamat ulang tahun Pak Koijima. Semoga anda sehat selalu dan semoga kebahagiaan menyertai anda selamanya." Lana berkata dengan tulus. Ia juga membungkukkan badan.
Lana terkejut sebuah tangan terjulur ke depan wajahnya.
Lana menegakkan tubuh dan mendapati Kyoya sedang tersenyum, menanti Lana menyambut uluran tangannya.
Ragu-ragu Lana mengulurkan tangan dan menyentuh jemari hangat itu. Mereka bersalaman sejenak. Lana merasa aneh dan canggung sekali berjabat tangan dengan Kyoya seperti ini.
"Terimakasih, Lana." Kyoya terdengar tersanjung.
Lana menyadari hari ini Kyoya memakai hadiah yg ia beri. Dasi biru cerah itu terpasang rapi di leher kemeja putihnya.
Kyoya tahu apa yg sedang Lana lihat. Laki-laki membetulkan letak dasinya, lalu berkata, "Dasinya sangat cocok dengan momen hari ini. Terimakasih."
Lana bergumam sama-sama, lalu menunduk. Malu sekaligus senang, tak menyangka hadiah pemberian darinya dipakai dan dipuji oleh Kyoya.
"Aku sangat penasaran."
Lana mengangkat wajah, Kyoya sedang menatap kearahnya.
"Tahun ini hadiah untukku apa Lana?"
Kyoya terlihat serius. Lana mengerjap tak percaya.
"Sebenarnya aku sangat menantikan hadiah darimu." Laki-laki itu tersenyum.
Lana berhah-heh-hoh ria. Wajahnya pucat, ia sama sekali tidak menyiapkan hadiah apapun.
Toh ia pikir, sekarang dia bukan siapa-siapa, tidak berhak melanggar batas toleransi bosnya lagi. Tapi kenapa laki-laki yg melarang semua orang memberinya hadiah, sekarang malah menagih hadiah ke Lana?
"M-maaf.. Sejujurnya saya tidak menyiapkan hadiah apapun untuk anda Pak." Lana menunduk.
"Tapi karena anda ternyata mengharapkannya, anda boleh meminta apa saja." Lana berkata tanpa pikir panjang. Ia mendongak menatap bosnya.
Alis Kyoya terangkat. "Benar? Apa saja?"
Lana semakin pucat, waduh.. sepertinya dia sudah salah bicara.
Karena sudah telanjur kata itu terucap, Lana hanya bisa mengangguk. "Benar pak, apa saja. Apa saja yg tidak memberatkan saya, tolong."
Kyoya tertawa mendengar kalimat Lana yg terdengar pasrah tapi berusaha menego.
"Kalau begitu aku ingin.. Apa ya sebaiknya? Coba kupikir dulu." Kyoya tampak sungguh-sungguh berpikir keras.
Lana disebelahnya menelan ludah susah payah. Gawat nih, kalau hadiah yg mahal seperti jam tangan bisa gak ya Lana membayarnya dengan mencicil.
"Aku ingin makan masakan buatanmu." jawab Kyoya akhirnya.
"Apa?" Lana mengerjap bingung.
Kyoya menatap manik mata gadis itu.
"Bukankah dulu kamu pernah bilang kalau akan membuatkan aku spaghetti? Sampai detik ini ternyata rencana itu belum terjadi."
(Ada di Bab 30 Makan Malam)
"A-anda ingin spaghetti buatan saya?" Lana terheran-heran.
Padahal laki-laki itu bisa dengan mudahnya membeli atau memesan spaghetti paling enak dan mahal di negara ini langsung dari chefnya.
Tapi Kyoya malah ingat percakapan mereka saat makan malam di restoran pasta sebelum kencan singkat menyaksikan kembang api.
"Ya, itu hadiah yg kuinginkan."
Lana meringis, yg benar saja..
...***...