Between

Between
Bab 17 Ciko



Lana berkedip, dia masih ada di basement yg kosong, menunggu.


Ternyata yg terjadi barusan adalah imajinasinya. Si empunya mobil belum datang.


Lana mendengar ponselnya berbunyi.


Ia melihat ke layar ponsel, tampak nomor asing sedang menghubunginya.


Ragu-ragu Lana menekan tombol hijau di layar ponsel.


"Ya?" jawabnya pelan.


"Lana?"


Suara merdu seorang pria yg familiar di telinga Lana bertanya. "Apa kamu masih di tempat parkir?"


"Pak Koijima? Iya Pak, ada apa Pak?"


Lana was-was.


Terdengar suara Kyoya menghela nafas dari seberang telepon.


"Maaf Lana, tiba-tiba saya ada rapat penting dengan delegasi dari Jerman. Kita makan siang lain kali."


Lana mendadak kecewa.


Bukan karena sudah menunggu lama, sendirian pula seperti orang bodoh, tapi terlebih dia ternyata begitu mengharapkan bisa berdua lebih lama dengan sang CEO tampan.


Lana menurunkan ponselnya ketika telepon sudah dimatikan.


Wajahnya menunjukkan wajah kecewa dengan sangat jelas.


Yah mau bagaimana lagi, toh dia hanya karyawan biasa. Mimpi itu terlalu tinggi. Sosok itu terlalu jauh dan sukar Lana raih.


Memang benar harus seperti ini.


Jika akhirnya jadi makan siang bersama, Lana takut ia malah semakin berharap dan bermimpi lebih gila lagi. Lana cukup tahu diri.


Lana ingin menyimpan nomor asing itu, tapi karena dia berjalan sambil melihat ponsel, Lana tidak melihat langkah kakinya.


Dia tersandung lantai yg sedikit naik saat hendak menuju lift. Alhasil Lana pun terjatuh.


Ponselnya terbanting dan berputar menjauh.


Dalam posisi menelungkup di atas keramik putih, Lana mengusap lututnya yg barusan menabrak lantai.


Sakiit... keluh nya sambil mencoba bangkit.


Sambil tertatih Lana memungut ponselnya.


Dia melihat layar ponsel dan seketika menjerit frustasi. Ada retakan kecil di sana. Gara-gara terjatuh, ponselnya jadi pecah.


Lana masuk ke lift yg terbuka setelah menekan tombol open.


Sambil mencoba memeriksa ponselnya, Lana menyadari kalau di layar tampak nomor asing yg sedang Lana coba simpan ke kontak telepon.


Terpampang tulisan CikO di bagian nama.


Lana sebenarnya tadi sedang mengetik CEO, karena terjatuh ponsel itu jadi menyimpan nama CikO.


Lana menyentuh ponselnya yg nge-hang, tak bereaksi lalu mulai memukul-mukul layarnya tapi ponsel itu tetap nge-hang.


"Haahh, ada aja!" sungut Lana kesal.


Dia pun menyimpan ponsel di saku kemejanya dan bersiap keluar lift karena sudah sampai di lantai dua, lantai kantornya.


...***...


Lana sedang bersiap menyantap roti dan segelas teh hangat, ketika ada teriakan memanggil namanya dari meja Yuni.


Lana sudah malas ke kantin karena insiden gagal makan siang dan ponselnya yg rusak, membuatnya tidak selera makan.


Lana hanya membeli roti dan teh hangat dari mesin otomatis.


Suasana kantor lumayan sepi, Pak Marcel tidak kelihatan batang hidungnya, entah kemana.


Beberapa bilik karyawan juga kosong mungkin mereka sedang makan siang di kantin.


Lana yg mendadak jadi sangat malas melakukan apapun, beranjak dari kursi dengan enggan.


"Lana, cepat. Telepon untukmu."


Yuni memanggil sekali lagi.


Lana akhirnya berhasil sampai di meja Yuni dan mengambil alih gagang telepon.


"Lana. PPIC. Ya?" jawab Lana.


"Ada kurir yg mengirimkan barang untuk Lana PPIC, silakan anda ambil langsung di meja resepsionis di ruang lobi."


Terdengar suara wanita dari seberang telepon. Lana mengiyakan lalu telepon terputus.


Yuni yg sedang menyantap bekal makan siangnya mengangkat alis melihat Lana berwajah bingung.


"Ada paket untukku katanya."


Lana menjelaskan, lalu beranjak pergi dengan enggan.


Dia merasa tidak memesan apapun, jangan-jangan salah kirim atau ulah orang iseng.


Lana masuk ke lift dan turun ke lantai satu. Waktu istirahat kurang setengah jam lagi.


Haahh, malas sekali harus kesana kemari, Lana ingin segera mengetahui paket apa itu dan kembali ke kursinya yg nyaman.


Sesampainya di lobi Lana menuju meja penerima tamu. Wanita berseragam batik rapi elegan berdiri dan menyerahkan bungkusan kantong plastik putih.


"Kiriman barang untuk Lana. Sepertinya makanan." katanya sambil tersenyum.


Lana menerima bungkusan itu sambil berterimakasih.


Masih di meja penerima tamu, dia membuka tali pengikat yg merupakan segel pengaman bungkusan.


Saat Lana membuka ikatan kantong plastik itu dan melongok ke dalam, tercium aroma daging berbumbu yg menggugah selera.


Mbak berbaju batik ikut melirik Lana dan bungkusannya.


Di dalam kantong ada kotak makanan berukuran sedang berwarna coklat, di atas kotak itu tergeletak kartu bertuliskan,


'Sebagai ganti makan siang yg gagal. Semoga kamu suka. Selamat makan. Alex.'


Lana membekap mulutnya, membaca kartu itu sekali lagi.


Alex??


Lana seketika terkikik.


Mbak penerima tamu melirik sekali lagi.


Lana cepat-cepat memasukkan kartu itu ke kantong kemejanya dan mengikat kembali bungkusan itu.


Setelah berterimakasih, Lana berbalik pergi.


Ia kembali menaiki lift dan menuju kantin di lantai dua.


Lana memilih duduk di pojok, beberapa meja masih kosong tapi Lana ingin menyendiri dan diam-diam menikmati hadiah tak terduga ini.


Lana meletakkan bungkusan di meja dan membuka ikatannya.


Pelan dan hati-hati dia mengeluarkan sebuah kotak ala bento dengan segel logo sebuah restoran (yg tidak Lana tahu) di sekeliling kotak. Lana merobek segel itu dan membuka tutup kotak yg berwarna transparan.


Tampak satu set steak daging yg menggugah selera. Air liur Lana langsung terbit.


Padahal tadi dia sama sekali tidak selera makan.


Lana mengambil garpu dan pisau yg sudah disediakan dari dalam kotak. Lalu mulai memotong daging yg tebal dan empuk, mendekatkan ke hidungnya.. hmm, aroma yg lezat.


Lana memasukkannya ke dalam mulut.


Astaga, benar-benar lezat.


Bumbu, tekstur daging dan saus steak nya berpadu nikmat di mulut Lana.


Lana makan sambil terus tersenyum, membayangkan sosok pengirim makanan ini membuat Lana terbang ke angkasa.


Tidak perlu waktu lama, kotak makanan itu kosong, tandas, bersih, kinclong.


Lana bersendawa pelan. Sangat kenyang.


Dan pas sekali, bel tanda waktunya masuk kerja berbunyi.


Lana memberesi barang-barang di meja dan bersiap kembali ke kantornya.


Kali ini dengan perasaan bersemangat dan bahagia.


Terimakasih kepada Alex sang pemberi makanan.


...***...