Between

Between
Bab 73 Dua Garis Merah



Masih flashback..


Lana bermimpi aneh malam itu.


Setelah lelah menangis dan meronta-ronta di kasur, melampiaskan amarah yg sebenarnya ditujukan untuk Ethan, Lana tertidur.


Awal mula dia sedang berjalan santai di taman, lalu duduk di bangku karena ingin makan eskrim. Terdengar suara Ethan yg bilang akan membelikan eskrim. Lana menurut, duduk diam menunggu.


Lana merasa sosok Ethan datang kembali, Lana mengulurkan tangan tapi bukannya eskrim yg ia dapat melainkan sebuah gundukan kain berwarna merah.


Lana mendekap gundukan itu mencoba mencari tahu benda apa itu. Sebuah wajah mungil tersenyum, ternyata itu adalah bayi kecil lucu yg dibungkus selimut merah.


Lana menoleh ke kanan dan kiri, menyadari kalau sosok Ethan tidak ada. Lana yg kembali menunduk untuk melihat si bayi sontak menjerit kaget, mata bayi itu berwarna merah.


Lana refleks melempar bayi itu ke udara. Gundukan merah itu jatuh di lantai semen dengan bunyi blug keras. Detik berikutnya terdengar tangisan bayi yg memekakkan telinga.


Lana tak tahan lagi, tangisan itu semakin keras. Lana memejamkan mata, menutup telinganya rapat-rapat. Tapi suara tangisan itu masih bisa ia dengar.


Lana bangun geragapan. Dia mengerjap-ngerjap mencoba mengumpulkan kesadaran dan ingatan. Ethan, bayi, mata merah..


Melihat cahaya matahari samar-samar menerobos tirai polkadot pink membuat tirai itu berwarna kekuningan, Lana mendesah lega. Ia sedang berbaring aman di kamarnya. Itu hanya mimpi.


Mimpi yg aneh. Lana mengusap wajahnya yg berkeringat. Aah mataku bengkak dan nyeri, batin Lana. Efek ia menangis semalaman. Ingin rasanya cuci muka biar segar.


Lana bangun dari kasur, berjalan tertatih menuju kamar mandi. Hari ini hari minggu, meski ada undangan kegiatan BEM dan tugas kelompok, Lana bertekad hari ini ia tak mau pergi ke kampus.


Lana ingin dirumah saja, menenangkan pikiran dan hatinya. Mencoba menerima memang harus begini akhir dari kisah cintanya dengan Ethan.


Setelah menggosok gigi malas-malasan, sambil mengusap wajah dengan air yg dingin, Lana yg tadinya melamun menjadi segar dan sadar. Tiba-tiba pikirannya melayang mengingat sudah lama dia tidak merasakan sakit nyeri haid.


Gerakan Lana terhenti. Eh benar juga, ini sudah tanggal 28. Lana mengerjap, seharusnya dia sudah mens di tanggal 16 an. Eh bulan lalu dia juga tidak mengalami menstruasi. Kok bulan ini juga.


Lana menatap bayangan dirinya di cermin, terlintas mimpi aneh barusan. Lana menatap ngeri, tidak. Jangan! Tolong jangan!


Tanpa sadar Lana mencengkram pinggiran wastafel. Dadanya terasa berat, dia mendadak susah bernafas. Kenapa dia tidak mens?Bagaimana kalau ... dia hamil??


Lana menggeleng. Tidak, tidak mungkin. Bisa saja karena stres mens ku jadi tidak keluar, kan memang mens ku tidak teratur.


Tapi kan, hati kecilnya menentang, meski tidak teratur, setiap bulan selalu datang. Memang kadang maju kadang mundur. Tapi tidak pernah tidak datang sebulan lebih seperti ini.


Aku harus cek, batin Lana was-was.


Tidak mungkin hamil, aku hanya sekali melakukannya, bantah relung hati Lana yg lain. Tapi dia memasukkannya di dalam kan, sudah pasti hamil.


Lana menggeleng keras-keras. Ia meraih handuk kecil yg tergantung di sebelah wastafel, mengelap wajah cepat-cepat lalu kembali ke kamar. Lana berganti pakaian secepat kilat, menyambar dompet di atas meja dan bergegas keluar kamar.


Kini Lana sedang bimbang, berdiri mematung di balik rak makanan ringan. Matanya berkali-kali mencuri pandang ke meja kasir di seberang. Duh, kenapa hari ini yg jaga dua orang sih. Biasanya mbak-mbak aja.


Lana sedang berada di minimarket dekat kosan. Ia mulai menghentak-hentakkan kaki dengan tidak sabar, bagaimana ini.


Astaga, detik berikutnya Lana tersadar. Kenapa dia jadi gugup seperti ini sih. Bukankah dia sudah bukan lagi anak SMA. Dia sudah cukup umur untuk membeli rokok ataupun minuman beralkohol sendiri, jadi membeli testpack juga seharusnya gak masalah.


Setelah menguatkan tekad, Lana menghampiri meja kasir. Mempertahankan wajah yg terlihat percaya diri dan suara yg terdengar ceria, dia menunjuk ke rak di belakang kasir, "Tolong testpack satu."


Si mbak penjaga kasir bertanya ramah, "Mau yg strip atau digital mbak?"


"Hah?" Lana bingung. Digital? Kayak jam tangan aja digital. Yg mana nih.


Melihat Lana yg kebingungan, si mbak kasir menjelaskan, "Yg ini strip," Ia menjereng dua merek testpack di atas meja. "ada yg ada wadahnya, ada yg enggak mbak. Nanti mbak tinggal celupin aja ke pipis-"


Lana langsung menunjuk yg kanan. "Yg ini aja." Lana bisa melihat mas penjaga kasir mengulum senyum di samping si mbak kasir. Lana merasa sangat tidak nyaman. Malu dan jengah.


Rasanya beribu-ribu lamanya dan sangat lambat sampai Lana bisa kembali ke kamar kosannya yg sepi. Lana menghela nafas panjang. Bertanya-tanya benarkah harus sejauh ini ia bertindak? Apa yg sedang ia lakukan, sebenarnya ia sedang membuktikan apa? Jangan-jangan semua ini hanya over thinking nya saja.


Tapi apa salahnya mengecek kan, toh jika tidak terjadi apa-apa, kamu jadi bisa yakin kalau menstruasi yg tidak datang ini memang karena stres.


Lana berjalan ke kamar mandi, membaca instruksi dengan cermat. Lalu dengan pikiran kalut dan was-was, Lana mengikuti setiap instruksi dengan hati-hati.


Kini ia duduk di atas toilet yg tertutup, sedang menunggu hasilnya.


Lana menghitung dalam hati, dan berdoa. Setelah dirasa waktunya cukup, ia mengangkat strip panjang putih itu ke depan matanya.


"Tidak.."


Lana mendekap mulut. Dua garis merah terlihat sangat jelas di ujung bawah strip kecil itu.


Tangan Lana gemetar, juga seluruh tubuhnya. Ini tidak mungkin kan, alat ini salah kan. Tidak mungkin. Tidak mungkin!


Lana melempar testpack itu ke tong sampah di sudut. Lalu menangis sejadi-jadinya.


...***...