
Yoo Ran tetap pergi bekerja meskipun perutnya sedang sekarat. Perutnya tidak nyaman karena terlalu banyak minum anggur dan dia juga melewatkan sarapan hanya untuk berangkat pagi-pagi. Apakah dia harus memulai adegan sebagai protagonist yang menjadi buronan lagi —menghindari Sehun seperti yang terjadi beberapa waktu lalu?
Yoo Ran mendadak merasa pusing, bahkan di tempat kerja dia tidak bisa sepenuhnya mengikuti alur saat sedang melakukan meeting. Ada perang batin yang terjadi dari mulai dia meninggalkan apartemen Sehun sampai sekarang. Selain itu, Yoo Ran juga di kejutkan dengan pesan yang dikirim Sehun padanya.
Sehun : Kenapa tadi tidak membangunkanku?
Yoo Ran membawa ponselnya di bawah meja dan mulai mengetik pesan balasan setelah memastikan bahwa semua orang tenggelam dalam perundingan.
Yoo Ran : Aku buru-buru.
Sehun : apa kau kerja sekarang?
Yoo Ran : Iya.
Sehun : Kau baik-baik saja kan?
Tangan Yoo Ran berhenti menekan layar. Gerakan tangannya seperti memiliki rem. Mendadak wajahnya sedikit memunculkan seburat warna merah ketika memikirkan adegan erotis semalam. Yoo Ran yang menunduk mendongak, dan matanya bertatapan langsung dengan Kai yang mengerutkan dahi serta memasang wajah penuh rasa ingin tahu ketika matanya menyipit.
Yoo Ran berdehem pelan, lalu mengetik balasan sebelum dikirm ke Sehun dan menyudahi chating.
Yoo Ran: Aku baik. Maaf, aku sedang meeting sekarang.
Ponsel Yoo Ran yang tersimpan bergetar lagi, mungkin balasan dari Sehun tapi Yoo Ran sudah lebih dulu menyimpan ponselnya di saku dan dia tidak berniat untuk melihatnya lagi setelah Kai di ujung sana memelototinya hinggan membuatnya tidak nyaman.
Yoo Ran masih memikirkan bagaimana kesalahpahaman itu membuatnya harus memaki Kai dan mogok bicara dengannya. Mereka tidak memiliki peluang untuk kembali berbicara lagi setelah itu. Setelah kejadian Yoo Ran mengabaikan Kai dan tidak menganggap keberadaannya, Kai secara bertahap menyingkir dari jalannya. Situasi ini membuat Yoo Ran lama-lama merasa tidak nyaman. Dia merasa sudah keterlaluan memperlakukan Kai ketika dalam masalah ini, dia juga patut disalahkan. Selain itu, Yoo Ran merasa seperti sudah kehilangan rekan bicara.
Meeting selesai begitu Yoo Ran tersadar. Dia menatap orang yang duduk di depannya dan Kai sudah menghilang dari tempatnya. Yoo Ran mampir ke kamar mandi untuk menenangkan diri sebelum kembali ke meja kerjanya, tapi dia melihat meja Kai sudah kosong. Karena penasaran, Yoo Ran iseng bertanya kepada temannya yang duduk di dekat bangku Kai dan dia mengatakan bahwa Kai meminta ijin untuk pulang karena ada keperluan.
Keperluan mendadak itu membuat Yoo Ran berpikir apakah terjadi hal serius di rumahnya? Kai jarang sekali membolos kerja. Kalaupun dia membolos hal itu pasti melibatkan dirinya.
Yoo Ran sudah tidak tahan lagi, sepertinya dia harus berbicara empat mata dengan Kai dan menyelesaikan masalah ini dengan segera.
.
.
Kalau Yoo Ran merasa baik-baik saja dengan Chanyeol kenapa dia harus merasa marah dengan Kai?
Yoo Ran memikirkan hal ini beberapa kali ketika menempati meja seperti biasanya dan melihat Chanyeol bekerja di balik meja kasir dengan senyum yang membuat dia ingin menonjok wajahnya. Sangat menyebalkan memiliki sahabat yang tampangnya menjual seperti itu.
Dia memikirkan hari-hari ketika dirinya selalu dikelilingi dua sahabatnya itu. Dia bahkan memikirkan ketika tubuhnya susah bergerak karena demam tinggi, kedua orang itulah yang merawatnya dengan sangat baik menggantikan kedua orangtuanya. Bukan berarti Yoo Ran tidak memiliki teman lain selain Chanyeol dan Kai, tapi memang Yoo Ran harus mengakui bahwa tidak ada orang yang lebih perhatian dari mereka.
Tapi memikirkan mereka sebagai salah satu orang yang bisa menyelesaikan masalah pribadinya menurut Yoo Ran itu terdengar tidak cukup adil. Mereka layak mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri tanpa harus campur tangan dan melibatkan masalah dengannya. Kegilaan ini hanya cukup dia saja yang menjalani, kedua sahabatnya tidak perlu menjadi korban, tapi apa dengan begitu dia pantas menjadikan orang lain sebagai korban? Jawabannya tentu saja tidak. Yoo Ran menyesali perbuatannya semalam, yang seolah sudah merayu Sehun dan membuat pemuda yang memiliki masa depan cerah itu harus terseret ke dalam masalahnya. Tidak tahu bagaiman, tapi Yoo Ran juga merasa tergoda. Dia menyukai pemuda yang berpenampilan energik seperti Sehun, tapi dia juga memikirkan seperti apa dampaknya jika dia meminta bantuan dari Sehun.
"Sepertinya memang hanya aku saja yang memiliki pikiran tidak waras disini," gumam Yoo Ran. Dia mengambil minuman dan menandaskannya sebelum memanggil pelayan dan meminta pesanan minuman yang sama.
Disudut lain Chanyeol sedang memperhatikan. Tindakan sejak Yoo Ran datang dan duduk sendirian selama hampir 5 jam membuat Chanyeol berpikir apa sekiranya yang menganggu pikiran Yoo Ran? Itu sudah gelas ke lima milik Yoo Ran dan Chanyeol melihat Yoo Ran seperti tidak berniat memesan makanan.
Chanyeol memanggil pegawai lain untuk menggantikan posisinya, dia berjalan ke dapur dan mulai membuat makanan. Hanya karena itu adalah Yoo Ran, Chanyeol menyentuh dapur dan peralatan di restorannya dan mulai membuat makanan khusus untuk temannya yang gila, Im Yoo Ran.
Makanan seadanya dia sajikan diatas meja Yoo Ran yang menjatuhkan kepalanya di atas meja sambil bermain ponsel. Yoo Ran melihat dan itu adalah makanan yang selalu Yoo Ran pesan dengan tidak menambahi bay leaf , persis seperti yang selalu dia minta.
"Jangan berpikir aku bisa mengurusmu setiap hari," kata Chanyeol.
"Tidak perlu. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Yoo Ran menjawab sambil memutar spagetty di garpu dan menelannya dalam jumlah banyak.
Chanyeol yang melihat pertunjukan Yoo Ran merasa sedikit malu dengan tindakannya yang seperti pengemis jalanan. "Kalau lapar kenapa tidak pesan makanan?"
"Tadinya aku tidak berniat makan. Tapi karena kau sudah membuat ini, sayangkan kalau tidak ada yang makan?"
Chanyeol tidak bisa berkata-kata dengan permainan kata Yoo Ran yang terkadang menguras emosinya.
Chanyeol melihat Yoo Ran yang mengunyah dan memasukkan air soda ke dalam mulutnya bahkan ketika mulutnya masih dipenuhi dengan makanan. Itu kelihatannya sangat menjijikkan tapi Chanyeol tidak mau berkomentar dengan cara makan Yoo Ran yang berantakan.
"Apa lagi masalahmu kali ini?" Chanyeol bertanya.
"Kau pikir aku datang hanya ketika aku ada masalah?" tanya Yoo Ran. "Teman macam apa kau ini? Begitu kau menilaiku selama ini?"
"Tidak perlu ngotot begitu, memangnya aku menginjak ekormu?"
"Sialan!"
Setelah menjeda dan membiarkan Yoo Ran mengunyah dan menelan, Chanyeol yang menutup mulutya selama 10 detik kembali membuka suara.
"Kemarin Kai menelponku," kata Chanyeol, tapi Yoo Ran hanya acuh tak acuh saat memasukkan makanan ke dalam mulutnya lagi. Lalu kalimat berikutnya seperti bom asap yang mengejutkan Yoo Ran. "Dia bilang kalian berciuman."
Saat Chanyeol mengatakannya, nadanya terdengar biasa saja seolah itu tidak menganggu pikirannya. Tapi dampak dari ucapannya itu, makanan yang ada di dalam mulut Yoo Ran terasa seperti menyumbat tenggorokannya sampai dia terbatuk beberapa kali dan kemudian berakhir dengan melotot kearah Chanyeol.
"Jadi karena itu kalian mogok bicara?" tanya Chanyeol seolah tidak puas membuat Yoo Ran semakin tertekan.
Setelah mendorong makanannya dengan air minum yang dia telan, Yoo Ran malah bertanya. "Kai bilang begitu?"
"Hmm, salah ya?"
"Kenapa mulutnya ember sekali sih."
"Jadi bukan hanya denganku saja ya?"
"Itu kecelakaan!"
"Oh, kecelakaan."
"Denganmu juga kecelakaan!!"
Tiba-tiba Chanyeol merasa sedih saat mendengarnya. "Tidak perlu diperjelas begitu."
"Aku harus memperjelas agar kau tidak melupakan Gayoung."
"Aku belum pikun mana mungkin aku lupa."
"Ohh... jadi kalian sudah baikan?"
"Tidak perlu dibahas," kata Chanyeol. kemudian matanya melihat jauhke belakang Yoo Ran dan satu tangannya tiba-tiba terangkat sambil berkata "di sini" dan ucapan itu membuat Yoo Ran menoleh karena penasaran.
Kai tidak langsung berjalan menuju meja. Dia terdiam sebentar, mengamati situasi lalu matanya bertatapan dengan Yoo Ran yang sedikit melotot karena terkejut.
"Kau menelponnya?" Yoo Ran bertanya sekaligus menyuarakan protesnya.
"Kesalah pahaman itu harus diluruskan." Setelah berkata begitu, Chanyeol berdiri lalu membawa Kai duduk dan berhadapan langsung dengan Yoo Ran. Matanya bergantian melirik Kai dan Yoo Ran tapi Chanyeol tidak melihat tanda-tanda akan adanya komunikasi diantara mereka. Mulutnya sudah gatal ingin bicara, tangannya tidak sabar ingin mendorong keduanya. Baru setelah beberapa saat, Chanyeol melihat Yoo Ran memberanikan diri untuk memulai.
"Kau membolos hari ini?"
"Hmm." Kai meletakkan kantung kertas yang dibawanya di atas meja lalu mendorognya kearah Yoo Ran.
"Apa ini?"
"Permintaan maafku," kata Kai yang langsung membuat Yoo Ran mengernyit lalu mengintip ke dalam tas.
Yoo Ran melebarkan matanya saat tahu yang dibawaKai adalah kue mochi. Itu bukan hanya kue mochi yang sembarangan bisa di dapat di restoran Jepang yang berada di Korea. Tapi itu kue mochi yang hanya di jual di Jepang dengan perpaduan fresh cream, di tambah sake kasu yang memiliki rasa khas dan rasa pahit dari bitter chocolate.
Yoo Ran menatap Kai dan sebenarnya dia tidak mau menebak bahwa Kai terbang ke Jepang hanya untuk membeli itu. Tapi kenyataannya memang Kai pergi ke Jepang untuk memuaskan Yoo Ran.
"Kau benar-benar pergi ke Jepang untuk membeli ini?!"
Chanyeol diam-diam sudah mengambil kue dan mencicipinya. Yoo Ran dan Kai tidak sadar karena tenggelam dalam percakapan yang serius, karena itu dengan santai Chanyeol memakannya dan merasa takjub dengan rasanya yang unik.
"Kalau kau masih memperlakukanku seperti orang asing, percayalah, bukan hanya kakakmu tapi ibumu juga akan tahu keinginanmu memiliki anak tanpa menikah!"
"Sebaiknya kau jaga mulutmu baik-baik!" Yoo Ran menggunakan sumpit untuk menunjuk Kai dengan tatapan yang siap menelannya hidup-hidup. "Kalau kau sampai berani mengatakannya, aku pasti akan menyeretmu keliling jalanan dengan hanya mengenakan boxer!"
"Wahh, aku jadi menyesal meminta maaf padanya." Kai mengeluh kepada Chanyeol di sebelahnya. "Dia benar-benar mengerikan. Itu hanya satu ciuman, bagaimana kalau aku sampai tidur dengannya?"
"Bereskan dulu semua hutangmu. Aku tidak mau harus menggali kuburmu karena kau lupa membayar hutang."
Sindiran itu cukup keras dan Kai merasa kesal ketika mendengarnya.
Untungnya, Yoo Ran tidak mendengar percakapan dua orang di depannya. Dia terlalu fokus memakan cemilannya. Ia membuat ekspresi wajah yang seolah sudah menelan makanan surga.
.
Setelah mengobrol panjang dengan Kai perasaan Yoo Ran benar-benar menjadi lebih baik. Hatinya yang kosong mulai terisi kembali. Ternyata memang tidak seru kalau mereka berkumpul dalam kondisi salah satu personil menghilang. Mengobrol dengan Chanyeol memang tidak membosankan, tapi mereka biasa berkumpul bertiga dan beberapa hari setelah acara mogok bicaranya dengan Kai seperti kemarin, Yoo Ran baru menyadari bahwa dia terbiasa dengan keberadaan kedua temannya.
Saat didepan lift, Yoo Ran baru ingat kalau dia beum mengecek ponselnya lagi setelah pulang dari kantor. Ada 5 pesan yang dikirim Sehun dan isina hanya menanyakan dia sedang melakukan apa, kapan dia pulang, apakah Yoo Ran ingin makan bersama. Ketika Yoo Ran ingin mengetik sebuah balasan pintu lift terbuka dan Yoo Ran melupakan sebuah pesan yang belum selesai di ketik. Apalagi pada saat itu dia melihat dua orang menyerobot masuk dan membuat Yoo Ran buru-buru menekan tombol agar pintu tetap terbuka.
Yoo Ran menunduk setelah mendengar ucapan terima kasih lalu melihat bahwa ibu dan anak itu tidak menekan nomor lantai yang di tuju.
Dikatakan sebagai ibu dan anak, karena wanita yang satunya memang terlihat seperti ibu-ibu dan wanita satunya lagi terlihat berusia diawal 20an. Kemungkinannya memang mereka adalah ibu dan anak meskipun Yoo Ran tidak bisa menemukan kemiripan wajah diantara keduanya.
Sadar bahwa lantai yang dia tuju hanya berisi 2 apartemen yang saling berhadapan, Yoo Ran meyakini bahwa ibu dan anak ini mungkin adalah tamu tetangganya. Tiba-tiba saja Yoo Ran memikirkan ada hubungan apa antara Sehun dengan ibu dan anak ini? Apakah itu ibu dan adiknya?
Yoo Ran yang berdiri di belakang tiba-tiba menutup mulutnya karena begitu terkejut saat teringat apa yang dia lakukan bersama Sehun semalam. Untuk mereka melakkannya kemarin, atau seharusnya Yoo Ran menyesali perbuatannya itu? di tengah kekalutannya itu, suara 'ding' terdengar dan pintu terbuka dengan dua orang di depannya berjalan keluar lebih dulu.
Yoo Ran merasa kakinya sedikit gemetar tapi dia harus cepat-cepat pergi dari sana dan bersembunyi di kamar. Tapi, bukankah seharusnya dia menyapa? Apakah dia harus menyapa? Yoo Ran dikejutkan dengan sikap yang harus dan tidak dia lakukan ketika berhadapan dengan orang tua kenalannya. Tapi Yoo Ran tidak begitu mengenal keluarga Sehun, dia tidak pernah mendengarnya sekalipun.
"Masih tidak diangkat?" Ibu itu bertanya dan anak gadisnya mengangguk. "Coba kau pakai telpon tante."
Ah... jadi mereka bukan ibu dan anak. Yoo Ran yang masih berdiri di depanpintu tidak sengaja menguping dan mendapat informasi baru. Tapi siapa wanita itu?
"Masih tidak diangkat," kata gadis itu. "Mungkin Sehun memang sedang tidak ada di rumah. dia mungkin bepergian untuk urusan pekerjaan. Aku memang seharusnya tidak datang, aku pikir Sehun tidak akan senang."
"Bagaimana bisa tidak senang. Kau ini istrinya, aku akan memarahinya kalau dia sampai memperlakukanmu dengan buruk."
Yoo Ran tidak siap ketika mendengar informasi yang begitu penting. Baru semalam dia merasa begitu senang dengan keberadaannya bersama Sehun, dan tadi pagi dia baru saja memulai kegilaan wanita yang memiliki perasaan canggung kepada pria yang semalaman memeluknya di tempat tidur.
Yoo Ran membukapintudan membantingnyadengansuara kerasyang mengejutkan kedua orang di luar. Dia bersandar pada pintu, menahan kakinya yang lemas dan pada akhirnya dia jatuh terperosot di lantai. Kedua tangannya mencengkram kepala dan dia menarik rambutnya seolah menghukum dirinya sendiri.
"Jadi, aku meniduri pria yang sudah menikah? Sehun sudah menikah? Tapi ... kapan? Oh Sh*t!"
.
.
TBC