
Lana sedang menikmati pemandangan di depannya. Kaki gadis itu tak bersepatu, telapak kakinya menginjak lantai batu yg dingin. Sepatu fantovelnya tergeletak di sebelah sepatu kets Ethan, tak jauh dari tempat Lana duduk.
Didepan sana, Ethan sedang berlari-lari dikejar bocah-bocah yg mencoba menciprati dirinya. Laki-laki itu tertawa jahil saat balik mengejar anak-anak yg kini menjerit-jerit heboh.
Tanpa sadar Lana tersenyum melihatnya.
Ethan memang sejak dulu suka dengan anak kecil. Dan anak kecil juga suka padanya. Seperti magnet, Ethan membuat anak kecil langsung lengket dan akrab padanya padahal tidak kenal.
Tatapan Lana pada laki-laki itu berubah sendu. Ethan yg kini tertawa riang, sedang memanggul seorang anak laki-laki dipundaknya, dikejar-kejar anak-anak yg lain.
Lana teringat bayinya.
Mungkin saja kalau masih hidup, bayi itu sudah sebesar anak-anak ini. Dan Ethan akan berlari-lari bermain dan bercanda dengannya.
Lana menggelengkan kepala, apa sih yg ia pikirkan barusan. Bayi itu sudah tenang dan damai disana.
Beberapa saat sebelumnya, setelah acara kembang api selesai, Hana bilang ingin pulang karena sudah lelah dan mengantuk.
Kyoya dengan santai melepas tangan Lana begitu saja.
Mereka pun berpamitan dan pergi. Tinggal Lana hanya berdua saja dengan Ethan.
Karena masih jam 8 malam, Ethan mengajak Lana makan di kedai ramen di dekat situ yg menghadap sungai Yan.
Setelah kenyang, mereka memutuskan berjalan-jalan. Ethan bertanya apa kaki Lana yg terkena kopi baik-baik saja. Lana bilang tidak apa-apa.
Mereka menyusuri jalan hingga sampai di taman di ujung area pedestarian sungai Yan.
Di taman itu terdapat undakan menurun. Ada lapangan berlantai batu yg dibatasi pagar besi agar pengunjung tidak terjatuh ke sungai. Ditengah lapangan, air mancur kecil meluncur keluar dari lubang-lubang di lantai.
Lana sedang duduk di undakan anak tangga ke tiga.
Lagi-lagi tanpa sadar Lana tersenyum melihat interaksi Ethan dengan anak-anak itu. Mereka sekarang berlomba melewati air mancur yg tidak terduga akan keluar dari lubang yg mana.
Sebenarnya ada yg terasa mengganjal mengingat gestur dan interaksi antara Ethan dan Hana tadi. Entah kenapa, mereka berdua seperti sudah saling kenal.
Lana ingin menanyakannya pada Ethan tapi takut laki-laki itu tersinggung karena itu kan bukan urusannya.
"Lana!"
Lana mendongak, Ethan sedang melambai kearahnya. Laki-laki itu tersenyum ceria menatap Lana, padahal tubuhnya digelendoti anak-anak yg berebutan digendong di pundak.
Ethan melambai lagi menyuruh Lana mendekat.
Lana menggeleng, ia tidak mau bajunya basah. Malam-malam begini main air, bisa-bisa besok ia demam.
"Naru, ayo pulang nak!"
Seorang ibu berdiri di dekat Lana, berseru memanggil anaknya.
Seorang anak laki-laki yg ikut menggelendot di kaki Ethan menoleh, lalu berlari menghampiri ibunya sambil dadah-dadahan dengan Ethan.
"Sudah menikah?"
Tiba-tiba si ibu menoleh ke Lana dan bertanya.
Lana refleks menggeleng keras.
Ibu itu memeluk putranya, mengusap kepalanya penuh sayang. Lalu bicara sambil memandangi Ethan dan Lana bergantian. "Pacarnya sudah cocok momong anak, saya doakan kalian segera menikah ya mbak."
Lana sontak meringis, tak tahu harus menjawab apa. Ia balas mengangguk ketika ibu itu pamit dan pergi dengan menggandeng sang anak.
Lana masih syok. Tiba-tiba didoakan oleh orang tidak dikenal, masalahnya doanya sangat ekstrem.
"Hei, dipanggilin juga. Ngelamunin apa sih?"
Ethan duduk di sebelah Lana.
Lana terkesiap lalu buru-buru berlagak tidak ada apa-apa.
"Astaga, lihat bajumu basah semua." Lana memperhatikan celana Ethan bernoda gelap dibeberapa bagian, juga kemejanya basah kuyup di sepanjang lengan.
"Nih pakai jaketmu." Lana hendak melepas ikatan jaket di pinggangnya, tapi tangan Ethan menghentikan gerakan Lana.
"Tidak apa-apa, cuma basah gini aja, nanti juga kering."
"Ini sudah malam, bisa-bisa kamu masuk angin." Lana menatap khawatir.
Ethan mengacak-acak rambut gadis itu, gemas. "Makasih ya .. sudah khawatirin aku."
"Apasih, dasar." Lana berkelit, merapikan rambutnya.
Ethan menunduk melihat kaki Lana yg tidak bersepatu. Ethan menyadari ada luka lecet di belakang tumit di kedua kaki Lana.
"Kena sepatu ya?" tanya Ethan cemas.
Lana mengangguk. "Gak papa kok."
Lana juga tak menyangka, sepatu pemberian sang mantan yg seharga satu motor bebek itu bisa bikin lecet juga. Padahal selama ini, biasanya sepatu itu nyaman-nyaman saja dipakai seharian.
Ethan bangun, memakai sepatunya lalu pergi begitu saja. Lana sampai terheran-heran.
Tak lama laki-laki itu kembali dengan Betadine yg masih baru.
"Astaga, ngapain beli obat segala. Aku gak papa." Lana jadi merasa bersalah. Salep luka bakar tadi juga masih tersimpan di saku jaket Ethan yg dipakai Lana.
Ethan tak menjawab. Ia menunduk di depan Lana, membuka tutup botol dan dengan hati-hati meneteskan cairan oranye pekat ke luka lecet di kedua kaki Lana.
Lana langsung mengernyit, luka itu perih sekali.
Ethan duduk disebelah Lana sambil menutup botol kuning itu.
"Maaf ya, Pergi denganku, kamu malah jadi luka-luka begini." Ethan terdengar sedih.
Lana menahan senyum. Iya juga ya, tadi pahanya kena kopi, sekarang tumitnya lecet.
Lana pura-pura kesal. "Iya nih, besok-besok jangan ajak aku keluar lagi."
Wajah Ethan kecewa. "Yahh.. padahal aku mau ajak kamu makan di Grand Several."
Grand Several adalah resto paling mewah di kota ini, berada di lantai dua puluh Sentera Hotel, hotel bintang lima yg kalau malam pemandangan dari balkonnya sangat indah. Butuh waiting list yg alot dan lama untuk bisa booking tempat disana.
Lana tertawa tak percaya. "Memangnya ada acara apa sampai mengajak makan ke tempat mewah begitu?"
Ethan mengerling. "Rahasia."
"Jangan-jangan nanti kamu alasan dompet ketinggalan, trus jadinya aku yg bayar." celetuk Lana.
"Eh gak akan lah. Laki-laki sejati tidak akan begitu. Malu-maluin aja." Ethan langsung protes.
Lana tiba-tiba teringat. "Tapi beneran kamu pernah gitu kok. Lupa ya?"
Ethan mengernyit, tampak mengingat-ingat.
Melihat Ethan yg tak kunjung ngeh kejadian yg mana, Lana bicara, "Pas kita makan di McD sehabis kuliah, kamu bilang mau traktir aku. Kita udah di depan kasir, makanan uda ditata, trus kamu panik dompetmu ga ada. Ketinggalan di kosan. Ujung-ujungnya aku yg bayar. Ingat kan?" cerita Lana.
Ethan terkekeh. "Hehe.. Iya juga ya, pernah ada kejadian gitu. Hahaha.. Jadi malu."
Lana jadi ikut tertawa. Kalau diingat-ingat kejadian saat itu memang cukup memalukan. Untung saja uang Lana cukup, kalau tidak? Semakin malu saja kan.
"Eh ingat juga gak," Ganti Ethan yg bernostalgia.
"Pernah waktu itu kita bela-belain bolos kuliah gara-gara ada kafe baru dekat kampus yg viral banget, trus aku dapat kupon gratisan yg cuma bisa dipake jam 10 pagi, ingat gak?"
Lana langsung ngeh. Ia mengangguk lalu terkikik.
"Gak taunya kuponnya sudah kadaluarsa." sahut Lana, terkikik lagi.
"Kasihan banget ya kita.. Mau makan gratis malah zonk. Derita anak kos. Akhirnya mau masuk ke kelas dosennya sudah datang, jadi kita malah nongkrong di kantin deh."
Ethan ikut tertawa. Masa-masa mereka masih muda memang banyak kejadian lucu dan konyol.
"Kuliah enak ya, pengen deh balik ke masa itu." Lana menerawang. Gadis itu menatap lurus ke depan. Membayangkan kembali ke masa dia baru berumur 19 tahun.
"Stres kita saat itu cuma pusing mikirin tugas dan skripsi. Dibandingkan kerja dan hidup sekarang, stres begitu mah kecil banget ya kan?"
Ethan setuju.
Ethan menghela nafas panjang. "Dulu stres mikirin tugas dan skripsi kayak udah paling menderita banget ya. Pengen cepet-cepet lulus dan cari kerja."
"Eh udah lulus, pengen balik ke masa kuliah lagi." celetuk Lana.
Ethan setuju. Lalu mereka pun tertawa.
Ethan melirik jam tangannya, hampir pukul 9. Ia pun berdiri.
"Ayo kuantar pulang, bisa-bisa Cika lapor polisi dikira aku menculikmu karena ga pulang-pulang."
Lana sudah menceritakan pada Ethan tentang kondisi Cika yg saat ini tinggal di rumahnya. Ethan berkata, bahkan jika Cika perlu pindah rumah sekalipun, Ethan siap membantu.
Lana meringis. Benar juga, ia sudah terlalu lama keluar rumah. Cika pasti saat ini sedang menunggunya.
Ethan memungut sepatu Lana lalu berjongkok di depan gadis itu. Lana mengernyit bingung, apa laki-laki ini mau menggendongnya.
"Aku udah gak papa. Aku bisa jalan sendiri." tolak Lana halus.
Ethan menoleh. "Khusus hari ini saja loh, gendonganku ini gratis. Besok-besok ada tarif berbayar setiap meternya."
Lana tertawa. Lalu mau tak mau merangkul leher Ethan dan menjatuhkan diri ke atas punggung laki-laki itu.
Ethan berdiri dan menahan Lana dengan tangan di belakang punggung. Sepatu Lana dicepit satu tangan, berayun-ayun di balik jaket yg Lana pakai.
Ethan mulai berjalan, tampak biasa saja. Padahal Lana hampir 50kg.
"Bahumu sudah gak sakit?" tanya Lana, teringat kecelakaan di pusat pembangunan.
Mendadak Ethan menunduk lalu melambungkan tubuh Lana. Lana sontak menjerit lalu berpegangan semakin erat.
"Lihat kan, sudah tidak apa-apa." Ethan tersenyum, Lana memukul dada laki-laki itu.
Mereka berjalan di sepanjang jalanan berpaving. Masih cukup ramai pengunjung, meski tidak membludak seperti tadi.
Sejujurnya Lana agak malu digendong seperti ini oleh seorang laki-laki sepanjang jalan di tempat umum. Lana merasa seperti anak perempuan yg digendong ayahnya pulang.
"Lana, ingat gak?" Ethan tiba-tiba bertanya.
"Waktu semester 4, kita belum pacaran waktu itu, aku juga pernah menggendongmu seperti ini."
Lana berusaha mengingat.
"Di kelas, kamu sakit perut bulanan, sampai tidak bisa jalan. Trus aku gendong sampai ke parkiran motor. Ingat gak? Lupa ya."
Lana mengulum senyum. Sekarang ia mengingatnya dengan jelas.
Saat itu Ethan masih pdkt. Laki-laki itu sangat peka, bertanya kenapa Lana terlihat pucat dan kesakitan. Tanpa merasa jijik atau terganggu, laki-laki itu dengan gentle menutupi celana jins Lana yg tembus, berdarah, dengan jaketnya seperti sekarang ini. Lalu menggendong Lana dari ruang kelas di gedung B lantai dua sampai parkiran motor yg jaraknya lumayan jauh. Sepanjang jalan mereka berdua dicie-cie anak-anak yg lain. Tapi Ethan tak peduli.
"Iya ingat, makasih ya." Lana masih tersenyum, masa itu seperti baru terjadi kemarin.
"Waktu itu kamu gak bilang makasih, kamu digonceng si Brian trus langsung pergi begitu saja." Ethan tampak protes.
Lana jadi teringat. "Oh iya, si Brian itu sekarang gimana ya kabarnya? Aku kok sampai lupa kalau punya teman dia."
Ethan mendengus. "Temen? Lebih tepatnya pemuja rahasia kali. Dia sekarang kerja di ujung pulau, di pertambangan. Kenapa? Kangen ya.."
Lana ingat dulu lumayan banyak laki-laki yg pdkt padanya, salah satunya Ethan, dan Brian. Mereka berdua gigih dan baik. Tapi sejak peristiwa gendong mengendong itu, Lana bisa melihat ketulusan Ethan. Sejak saat itu hatinya pun mulai terbuka untuk Ethan.
Ah, kenapa hari ini jadi banyak bernostalgia jaman kuliah sih?
"Kamu tuh, gak kangen sama Olin and the geng? Fans-fans mu itu pada gimana ya kabarnya sekarang? Gila, sampai punya fanbase unofficial loh si mas ini." Lana ganti meledek.
Ethan terkekeh. "Gak tau gimana kabar mereka."
Ethan tiba-tiba serius, "Tapi gak enak loh punya fans, apalagi cewek-cewek keganjenan. Eh kamu kan juga punya banyak fans cowok." Ethan mencibir teringat masa itu.
"Kalau aku nongkrong di kantin, pas kamu lewat, beuuhh.. yg ngeliatin kamu bisa hampir semua cowok kali. Trus yg ngincer kamu udah berderet panjang kayak tembok Cina. Jujur aja, kamu sudah ditembak berapa kali?"
Lana menjawab sombong, "Rahasia. Pokoknya kamu bukan yg pertama nembak."
Ethan bangga, "Ga papa, yg penting aku yg pertama kamu terima jadi pacar."
Lana memukuli dada Ethan, malu. Kenapa mereka sekarang membicarakan dan bisa bercanda dengan santai ttg masa itu sih.
"Kalau ada reuni angkatan kita, kamu datang gak?" Ethan tiba-tiba bertanya.
Lana menggeleng. "Enggak kayaknya. Masa itu memang menyenangkan, tapi sepertinya aku tidak mau bertemu mereka lagi."
Yah, salah satunya karena skandal menghilangnya Ethan dan Lana yg hamil lalu keguguran, banyak momen yg bisa mengingatkan Lana pada masa kelam itu jika bertemu dengan mereka.
"Kalau kamu, pasti datang kan?" ledek Lana.
Ethan menggeleng. "Kalau kamu gak datang, aku juga enggak."
Lana diam. Dia mengeratkan pegangan ke sekeliling leher Ethan agar tidak melorot ke belakang.
Lana menghirup aroma Ethan yg khas. Tidak seperti Kyoya yg beraroma parfum mentol, bukan parfum, Ethan selalu wangi sabun yg menyegarkan. Dulu Lana sempat penasaran, bagaimana cara laki-laki ini mandi, sampai aroma sabun bisa menempel tahan lama dan sesegar ini.
Dan setelah lima tahun lamanya, aroma laki-laki ini tidak berubah. Diam-diam Lana bersandar di pundak Ethan, mulai merasa nyaman.
Mereka hampir sampai ke parkiran mobil. Ethan dan Lana tidak bicara. Entah apa yg laki-laki itu pikirkan sekarang.
Mereka melewati sepasang kekasih yg sedang melakukan pernyataan cinta. Astaga, ditempat umum dan ramai seperti ini.
Lana memperhatikan sang pria berlutut sambil menyorongkan kotak kecil dan buket bunga merah. Si cewek tampak terharu, entah mereka terlibat percakapan apa, kemudian mereka berdua saling berpelukan.
"Romantis ya?" celetuk Ethan, berjalan meninggalkan pasangan itu di belakang.
Lana menggeleng. "Di tempat umum begini, malu lah."
"Lha dulu malah aku nembak di parkiran motor, pas kamu mau pulang." Ethan mendadak teringat.
Lana juga. "Eh iya juga ya, kenapa ya waktu itu aku kok bilang iya. Padahal kamu ga bawa apa-apa, nembaknya juga bukan di tempat romantis."
Ethan tertawa meledek, "Kamu pasti terpesona dengan ketampananku."
Lana sekali lagi melayangkan pukulan ke dada Ethan.
"Emangnya kamu pengen ditembak dengan cara gimana?" Tiba-tiba Ethan bertanya serius.
Lana berpikir sejenak, "Menurutku romantis itu yg pas momennya. Ga harus selalu dengan bunga, cincin, kadang cuma kata-kata tapi yg bisa ngena di hati."
Lana teringat saat Kyoya mengajaknya untuk menjadi kekasihnya, saat itu juga tidak ada bunga, cincin, bahkan mereka sedang ada di balkon rumah sakit, dalam suasana duka. Tapi menurut Lana itu romantis. Karena momennya pas.
Ethan merenungkan kalimat Lana.
"Ethan." Lana tiba-tiba memanggil.
"Mm?" Ethan yg masih asyik dengan pikirannya, menjawab dengan bergumam.
"Terimakasih. Hari ini sangat menyenangkan." kata Lana tulus.
Ethan tersenyum. "Syukurlah. Terimakasih kembali darling."
Kali ini Lana tidak protes. Gadis itu menunduk dan memeluk erat, meresapi aroma wangi segar dari rambut Ethan. Punggung laki-laki itu hangat. Membuat nyaman dan terasa menenangkan.
"Ojek nya sudah mau sampai. Kalau aku gak mau turun gimana pak?" Lana bertanya.
Ethan tampak berpikir sejenak, "Kalau kamu gak mau turun, aku ganti gendongnya jadi menghadap depan. Gimana, mau kan?"
Lana langsung melayangkan cubitan.
"Aww, Lana. Bisa-bisa dadaku lebam dari tadi kamu aniaya."
"Biarin." Lana merajuk.
Ethan tiba-tiba berlari, Lana langsung menjerit dan mengeratkan pegangannya.
"Aaa, Ethan, turunin!!"
Laki-laki itu hanya tertawa.
...***...