Between

Between
Bab 21 Kehilangan



Ibu Lana sudah dipindahkan ke ruang perawatan, berkat campur tangan Kyoya mereka mendapat kelas VIP di lantai tiga.


Kondisi ibu Lana mulai membaik tapi belum sepenuhnya sadar.


Lana dan kedua kakaknya bergantian berjaga.


Kyoya yg dipersilahkan masuk untuk beristirahat di dalam kamar menolak dengan sopan.


Lelaki itu lebih memilih duduk di kursi tunggu di luar kamar.


Saat ini pukul lima dini hari, Kyoya duduk sendirian di kursi, merasa agak mengantuk.


Kepalanya bersandar di dinding dan matanya hampir terpejam.


"Tolong beristirahat lah di dalam. Ada tempat tidur yg pastinya lebih nyaman dari kursi keras ini."


Lana duduk di sebelah Kyoya.


Sekarang waktunya Kak Ega yg berjaga di dalam.


Lana jadi bisa menemani sang CEO untuk membujuknya agar mau beristirahat di kamar.


Kyoya tersenyum.


"Kamu saja yg beristirahat. Kursi ini tidak begitu buruk."


Mendengar itu Lana bersedekap dan bicara seolah merajuk.


"Baiklah, kalau begitu kita berdua yg akan mencoba seberapa nyaman kursi ini."


Lana pun memejamkan mata dan bersandar ke dinding.


Kyoya menghela nafas pasrah.


Lalu dengan lembut dia mengulurkan tangan meraih kepala Lana dan meletakkannya ke pundaknya.


Lana mengerjap terkejut, hendak menolak tapi tangan Kyoya menahannya dengan tegas.


Kepala Lana tetap bersandar di bahu Kyoya.


"Tidurlah."


Kyoya mengusap lembut rambut Lana.


Akhirnya mau tak mau Lana diam bersandar di bahu lelaki itu. Merasakan kehangatan yg nyaman.


Tercium samar-samar aroma wangi maskulin parfum Kyoya. Lana menghirupnya pelan, merasakan tiap helaan nafasnya membuatnya rileks.


Lana pun memejamkan mata dan tertidur.


Kyoya menempelkan kepalanya ke puncak kepala Lana. Hidungnya digoda oleh aroma strawberry yg segar dari rambut Lana yg hitam halus.


Kyoya memejamkan mata dan ia pun ikut tertidur.


Entah sudah berapa lama, Lana dan Kyoya bak patung relief apik sedang mempresentasikan sebuah kemesraan yg hangat.


Mereka tampak sangat nyaman satu sama lain. Tertidur pulas hingga tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras dan suara langkah kaki tergesa-gesa menghampiri Lana.


"Lana bangun!" jerit kak Ega mengguncang lengan Lana.


"Kondisi ibu memburuk."


Lana bagai tersambar petir, langsung terkesiap dan berdiri.


Kyoya juga langsung bangun dan duduk tegak.


"Bagaimana bisa kak?" Lana pucat pasi.


"Tiba-tiba ibu kejang. Arga sedang memanggil dokter. Ayo."


Lana ikut berlari menyusul kakaknya masuk ke kamar.


Kyoya tampak bingung dengan kondisi yg tiba-tiba ini.


Akhirnya Kyoya mengurungkan niatnya hendak masuk ke kamar dan memilih duduk kembali di kursi.


Arga dan dokter-dokter itu menghilang ke dalam ruangan.


Kyoya menangkupkan kedua jemarinya ke atas lutut yg terbuka. Punggungnya menunduk, wajahnya terlihat cemas.


Tuhan, jika aku yg penuh dosa ini masih boleh meminta padaMu, tolong selamatkan ibunda Lana. Tolong beri kesembuhan padanya, maka aku tidak akan pernah meragukanMu lagi.


Kyoya menutup sebagian wajahnya dengan tangan dan berdoa sunguh-sungguh.


Beberapa menit berlalu dengan lambat.


Kyoya segera berdiri ketika didengarnya beberapa suara dari pintu kamar.


Terdengar suara beberapa dokter membungkuk dan meminta maaf. Meminta agar kakak beradik itu mengikhlaskan dan menerima kenyataan ini dengan hati lapang.


Kyoya tercekat, mungkinkah..


Beberapa dokter itu berjalan ke luar kamar dengan wajah sedih dan pasrah.


Satu dokter menganggukkan kepala saat melihat Kyoya.


Kyoya hanya diam mematung, berusaha keras menolak kenyataan bahwa hal terburuk sedang terjadi.


Kyoya melihat Arga keluar kamar dan berdiri menghadap dinding.


Wajah pria itu merah padam. Dengan tangan yg terkepal erat, dia meninju dinding rumah sakit berkali-kali sambil mengumpat marah.


Lalu berdiri terkulai ke dinding dengan punggung tangan berdarah, bahunya terlihat naik turun tanda sedang menangis.


Kyoya melangkahkan kakinya yg terasa berat menuju kamar.


Terdengar sedu sedan suara tangis wanita.


Kyoya berdiri di pintu dan melihat pemandangan yg ditakutkannya.


Ega duduk menelungkup di pinggir tempat tidur, menangis tersedu-sedu.


Sementara Lana memeluk jasad ibunya erat-erat dengan suara tangis yg menyayat hati.


Kyoya melihat selimut putih sudah ditarik ke atas hingga menutupi kepala Nyonya Hasmi.


Hati Kyoya hancur.


Pemandangan menyedihkan ini benar-benar tidak pernah diharapkannya untuk terjadi.


Apa yg bisa dia lakukan untuk mengubah semua ini?


Kenapa Tuhan tidak mendengar doa nya?


Kyoya melangkah masuk.


Lana yg mendengar langkah kaki Kyoya langsung mendongak dan menatap nanar lelaki itu.


Lana setengah berlari menghampiri Kyoya dan langsung memeluk lelaki itu erat.


"Ibu.. Ibu.."


Tangis Lana pecah.


Dia menangis sejadi-jadinya di dada lelaki itu.


Kyoya merengkuh dan memeluk Lana penuh kehangatan.


Mencoba menyerap semua kesedihan yg terpancar dari gadis itu.


Mereka berpelukan dan menangis bersama.


...***...