
Keesokan harinya, hari Sabtu,
Lana menguap lebar. Matanya ingin sekali terpejam tapi tangannya terus menari di atas keyboard seakan tidak kenal lelah.
Lana menghela nafas panjang, tinggal sedikit lagi selesailah tugas merevisi berkas properti cabang K yg bermasalah ini.
Lalu setelah itu dia bisa diam-diam ke departemen HRD untuk menemui (yah jika dia cukup beruntung) pria tampan tadi malam.
Tadi pagi sesampainya Lana di kantor, ia sudah sibuk bertanya ke rekan-rekan kerjanya di ruangan PPIC ini.
Apakah mereka mengenal seorang karyawan pria bernama Alex di departemen HRD?
Dan anehnya, mereka semua menjawab tidak ada yg bernama Alex di departemen HRD.
Lana menggelengkan kepala, fokus Lana. Selesaikan tugas ini dulu baru pikirkan yg lain.
Drak!
Lana terlonjak kaget.
Pak Marcel menghempaskan map hitam ke atas tangan Lana. Lana menoleh dan mendapati wajah Pak Marcel merah padam.
"Kau kenal Pak Koijima? Kau sudah bilang apa saja padanya? " tuntut Pak Marcel.
Lana berkedip bingung.
"Maaf, Pak Koijima siapa? " Lana bertanya takut-takut.
"Kau pikir siapa lagi, di perusahaan ini yg bernama Koijima ya hanya Koijima Kyoya. CEO MT Corporation. "
Pak Marcel makin naik pitam.
"Kenapa dia bisa tahu kalau bukan aku yg mengerjakan bahan untuk rapat pagi ini? Dia bahkan mengancamku agar tidak memanfaatkan jabatan untuk menindas karyawan baru. Benar-benar! Aku dibuat bulan-bulanan saat rapat tadi, sangat memalukan! "
Lana berusaha keras menahan senyum.
Di sisi lain dia senang akhirnya atasannya yg menjengkelkan ini kena karma, tapi Lana juga bingung bagaimana sang CEO bisa tahu kebenarannya.
"S-saya sungguh tidak tahu apa-apa Pak. Mana mungkin saya mengenal Pak CEO, bertemu beliau saja saya belum pernah. " Lana menjawab dengan sejujurnya.
Pak Marcel mengusap wajahnya yg berkeringat. Mendengar jawaban Lana menyadarkannya. Amarah itu perlahan surut.
"Benar juga. Mana mungkin karyawan training yg bahkan belum seminggu bisa mengenal Pak CEO. Aku saja harus menunggu dua tahun baru bisa bertemu dengannya, sejak diangkat jadi Kepala Ruang PPIC. "
Pak Marcel mengangkat kepala, mengedarkan pandangan ke bilik-bilik yg lain.
"Semuanya, cepat berkumpul ke ruang auditorium! Ada Urgent Meeting! Cepat! "
Pak Marcel berteriak, diikuti suara kursi-kursi yg didorong mundur dan suara langkah kaki keluar dari bilik.
Telunjuk gemuk Pak Marcel terarah pada Lana, memelototinya. Lana buru-buru bangkit dari kursi dan mengikuti bosnya itu keluar ruangan.
Lana berjalan beriringan dengan sekitar sepuluh orang dari Departemen PPIC, menuju ruang Auditorium.
Di sekitarnya orang-orang berbisik- bisik, bertanya apa yg terjadi, kenapa mereka semua dikumpulkan, apakah akan ada pemecatan masal, atau jangan-jangan akan ada pembagian bonus.
Lana melihat jam tangannya. Baru pukul 9 pagi, sudah heboh seperti ini.
Lana memasuki ruang auditorium dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia belum pernah ke ruangan ini.
Semacam aula yg cukup untuk 200 orang, dengan keramik dari marmer dan dinding berwarna krem. Enam AC berderet sepanjang ruangan.
Ruangan itu bergema dengan bisik-bisik, makin banyak orang-orang yg masuk dari pintu.
Lana tidak mengenal hampir semuanya kecuali orang-orang dari departemen nya sendiri.
Menurut info dari Yuni, rekan kerjanya yg berdiri di sebelah Lana, saat ini departemen yg berkumpul adalah HRD, QA, PPIC, dan Keuangan. Yuni mengetahuinya dari para Kepala Ruangan yg hadir yaitu Pak Tuhu, Bu Mayang dan Pak Wicak.
Lana bertanya-tanya kenapa mereka semua dikumpulkan seperti ini.
Dan tidak perlu menunggu lama untuk menjawab rasa penasaran Lana, terdengar suara langkah sepatu berhak tinggi memasuki ruangan dari pintu depan.
Semua suara di ruangan itu mendadak hilang dan suasana menjadi sunyi senyap. Semua mata memandang ke arah depan.
Di depan layar LCD terdapat meja podium dengan microfon kecil diatasnya.
Pemilik suara langkah kaki bersepatu hak tinggi itu berdiri di belakang podium.
"Terimakasih atas kehadiran rekan-rekan kerja sekalian. Maaf menyita waktu kalian sebentar. Ada yg perlu disampaikan pada urgent meeting kali ini. "
Seorang wanita setengah baya, memakai setelan jas resmi dengan celana panjang hitam, rambut di gelung ala pramugari dan suara merdu seperti suara pemberi pengumuman di stasiun.
"Siapa dia? " bisik Lana ke telinga Yuni.
"Bu Marta, Kepala Urusan Bagian Manajerial. Aku yg sudah disini lima tahun juga jarang melihatnya." jawab Yuni.
Mulut Lana membulat oo.
Belum selesai mulutnya menutup, Bu Marta bersuara lagi.
"Yang akan menyampaikan hal penting ini adalah Mr. Koijima Kyoya, CEO MT Corporation. Kepada beliau, waktu dan tempat kami persilahkan."
Kalimat itu disambut gemuruh pelan dari seluruh penjuru ruangan.
...***...