
Benar apa yg dikatakan Kyoya, Lana sampai di Rumah Sakit Gwang sebelum satu jam.
Lana langsung berlari menuju ruang operasi di lantai satu setelah bertanya ke meja perawat. Kyoya mendampinginya di belakang.
Rasanya menemukan ruang operasi itu seolah berjalan sangat jauh dan lama, Lana dengan tidak sabar berbelok ke sudut dan melihat Kak Ega dan kakaknya yg nomor dua sedang duduk menunggu di kursi.
Sementara tak jauh dari mereka terdapat pintu kaca besar yg tertutup bertuliskan Ruang Operasi.
Lana segera berlari menghampiri kedua kakaknya.
Kyoya melihat seorang perempuan berambut pendek langsung berdiri dan memeluk Lana.
Sementara seorang pria seumurannya ikut berdiri dan menepuk-nepuk punggung Lana. Lana terdengar menangis.
...***...
Lana duduk diam, menunduk menatap lantai rumah sakit dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba sebungkus roti coklat dan secangkir kopi hangat disodorkan ke arahnya.
Lana mendongak dan mendapati Kyoya duduk disebelahnya.
Lelaki itu menawarkan makanan sambil tersenyum menenangkan.
"Kamu butuh asupan energi agar tidak drop. Makanlah."
Kyoya meletakkan roti dan kopi itu ke tangan Lana.
Lana berkata pelan.
"Terimakasih. Untuk semuanya."
Lana mulai berkaca-kaca.
"Terimakasih banyak. Saya tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan anda. Jika bukan karena anda, ibu pasti sudah-"
Kyoya mengelus lembut pergelangan tangan Lana.
"Nyonya Hasmi akan baik-baik saja. Sekarang tim dokter ahli sedang menangani nya. Kudengar dokter Martin adalah ketua timnya, Dia adalah dokter senior paling berpengalaman di sini, tingkat keberhasilan nya sangat tinggi. Jadi semuanya akan baik-baik saja."
Kyoya mengambil roti ditangan Lana dan membukakan bungkus nya.
"Sekarang yg perlu kamu lakukan adalah memikirkan kondisimu sendiri. Jangan sampai kamu ikut jatuh sakit. Makanlah."
Lana menurut. Dia menggigit roti itu dan mengunyah nya pelan.
"Good Girl."
Kyoya tersenyum lalu menghirup kopi kalengnya.
Lana melihat Kyoya tidak makan apapun, hanya minum kopi dingin. "Anda tidak makan?"
Kyoya menjawab, "Bukankah aku sudah pernah bilang, aku tidak makan karbohidrat lagi lewat jam 8 malam?"
Lana tersadar, tersenyum.
Lalu memakan rotinya lagi.
Dia benar-benar merasa tenang dan aman saat bersama Kyoya. Lelaki ini sangat baik dan lembut membuat Lana ingin terus bersandar padanya.
Saat Lana memperkenalkan Kyoya pada kedua kakaknya, Kyoya bersikap sangat sopan.
Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai teman Lana, dan sama sekali tidak menyinggung kenyataan bahwa dia adalah CEO dan orang dibalik pemindahan dan penanganan ibu mereka ke pelayanan yg jauh lebih baik.
Kedua kakak Lana terlihat canggung dan tidak berani menginterogasi Lana ttg Kyoya lebih jauh. Lana menduga pasti kedua kakaknya mengira Kyoya adalah kekasihnya.
Andai itu benar..
Plak!
Lana tiba-tiba menepuk pipinya, membuatnya tersadar akan apa yg melintas di pikirannya barusan.
Bagaimana mungkin disaat ibunya sedang berada di ruang operasi, Lana malah memikirkan andai Kyoya adalah kekasihnya??
"Lana, are you okay?"
Kyoya terkejut Lana tiba-tiba menepuk pipinya keras.
Lana mengusap pipinya yg nyeri.
"Ada nyamuk." jawabnya, lalu pura-pura sibuk makan roti.
Untung saja kedua kakaknya akhirnya datang.
Kak Ega dari meja pendaftaran untuk mengurus berkas-berkas, sementara kak Arga (kakak laki-laki Lana) baru dari toilet.
Tiba-tiba pintu ruangan operasi terbuka dan muncullah seorang pria memakai setelan operasi dengan masker dan penutup rambut. Berjalan menghampiri mereka.
Lana dan Kyoya langsung berdiri.
Lana menanti dengan hati was-was.
"Bagaimana dok?" tanya Kyoya.
"Operasinya berjalan lancar. Untung saja ibu anda segera ditangani oleh tim kami. Sehingga fraktur kompresi dan pendarahan otak bisa terdeteksi dan segera ditangani. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat setelah kondisinya membaik."
Berita dari dokter itu laksana angin segar yg menerpa Lana setelah sekian lama kusut dan kusam.
Lana langsung menggenggam tangan sang dokter dan berterimakasih sepenuh hati.
Wajah kedua kakaknya pun ikut tersenyum lega.
...***...