
Ethan tanpa sadar menghentak-hentakkan ujung sepatu hitam mengkilap yg ia pakai. Matanya terus menatap tirai putih yg membentang tertutup di seberang ruangan, menunggu dengan sabar.
Sudah kali ketiga ini tirai itu menutup. Yg pertama Ethan memprotes gaun yg dipakai gadisnya terlalu terbuka pada bagian punggung, yg kedua gaun itu terlalu menerawang, kini tirai itu belum membuka lagi setelah hampir sepuluh menit berlalu.
Ethan melirik jam tangan hitam yg melingkari tangan kirinya, pukul empat sore. Dua jam lagi Ethan harus berangkat memenuhi undangan pesta di Turquoise Ballroom.
Saat Ethan melamun menebak-nebak mengapa gadisnya itu mau menerima ajakan datang ke undangan pesta ini, tirai putih itu berderak terbuka.
Sesosok wanita cantik memakai gaun panjang warna krem dengan potongan v di dada. Manik-manik emas menghiasi sepanjang bahu dengan motif rumit yg indah. Rambut gadis itu tergerai panjang, dengan tiara emas sebagai pemanis.
Walaupun penampilan gadis itu sempurna, tetapi raut wajahnya tampak cemberut.
"Kalau kau masih saja protes, kau saja yg pakai gaun ke pesta. Atau aku tidak jadi ikut." Gadis itu merajuk.
Ethan tertawa kecil. Ia mengangguk-anggukkan kepala menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu tersenyum sambil memasang kode ok dengan jari telunjuk dan ibu jari.
"Apa itu? Kau mau aku berganti gaun tiga kali lagi?" protes gadis itu demi melihat gerakan jari Ethan.
Ethan gemas sekali melihat gadisnya yg merajuk. "Astaga Lana, ini kan tanda ok." Ethan menunjukkan dengan jelas bentuk tangannya. "Ini ok, artinya bagus. Kamu tidak perlu lagi berganti gaun. Aku suka yg ini. Sangat cocok. Kamu sangat cantik. Perfect."
Muncul semburat merah di pipi Lana, tapi gadis itu berpura-pura tidak mendengar pujian Ethan. Ia langsung berbalik dan berkata pada pelayan yg setia berdiri di sebelah Lana untuk membantu, "Bisa tolong pilihkan sepatu yg cocok dengan gaun ini? Tolong haknya jangan yg terlalu tinggi. Terimakasih."
Pelayan itu pamit masuk ke dalam toko, sedangkan Lana menghampiri Ethan dengan menyincing gaunnya agar tidak terinjak. Lana menghempaskan pantatnya di sofa di sebelah Ethan.
"Aku pilihkan sepatunya juga ya." Ethan hendak berdiri, tapi tangan Lana menahannya.
"Gak usah, udah dipilihin mbaknya."
Ethan pun duduk lagi. Laki-laki itu menyadari rambut belakang Lana agak kusut. Dengan lembut ia merapikan rambut hitam yg tergerai indah di punggung gadis itu.
"Kenapa kamu mengiyakan ajakanku datang ke pesta?" tanya Ethan sambil merapikan tiap helainya dengan hati-hati. "Padahal kamu tahu itu pesta apa. Siapa yg akan ada disana nantinya."
Lana diam demi membiarkan laki-laki itu menata rambutnya. Iya, Lana jelas tahu, tapi mengapa ia tetap memaksakan diri untuk datang.
"Aku tidak ingin kamu bengong sendirian di sana, atau jadi patung hiasan berdiam diri disudut. Seharusnya kamu berterimakasih aku mau menemanimu, dengan sangat tidak nyamannya gaun ini. Tahu gak, sejak dari menata rambut, make up dan segalanya, belum berangkat aku sudah capek." Lana malah mengomel.
Ethan tertawa kecil. "Terimakasih Lana, gadisku yg cantik." Ia mengusap puncak kepala Lana dengan lembut.
"Tanpamu aku pasti cuma jadi patung tampan yg berdiri disudut, tidak mungkin para gadis disana terpesona oleh aura ketampanan patung ini. Itu sangat tidak mungkin."
Lana hampir melayangkan pukulan ke lengan Ethan ketika pelayan datang membawa kotak persegi panjang berwarna merah marun.
Pelayan itu membukakan tutup kotak, tampak sepasang sepatu selop berhak lima senti dengan ukiran rumit bernuansa emas menyembul keluar dari balik kertas pembungkus.
Lana mencoba sepatu itu di kaki, lalu berdiri. Ethan melakukan gerakan ok lagi sambil tersenyum.
"Perfect." ucapnya dengan berseri.
...***...
Mobil Ethan bergerak lambat, menunggu antrian untuk bisa masuk ke dalam gedung megah bernuansa biru muda. Baru pukul enam petang namun sudah sangat ramai. Acara pesta akan dimulai pukul tujuh malam.
Mobil-mobil yg berderet mengular hampir semuanya mobil mewah keluaran terbaru. Mengkilap, sabar mengantri.
Ethan diam-diam melirik Lana yg tampak gugup. Laki-laki itu mengagumi kecantikan Lana, andai saja gadis itu mau menerimanya kembali sebagai kekasih.
Tapi sejak hari mereka menangis dan berpelukan bersama, Lana tidak memberi keputusan apapun mengenai hubungan mereka. Saat Ethan mencoba mencari kepastian, bertanya apakah sebaiknya kini mereka menjadi orang asing, Lana tidak bisa menjawabnya. Lalu Ethan bertanya lagi, apa Lana berkenan memberikan kesempatan kedua, gadis itu meminta waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu.
Baiklah, sepertinya Lana hanya ingin kembali berteman denganku. Dia nyaman dengan hubungan yg seperti ini saja. Ethan berkali-kali mengingatkan diri untuk tidak serakah. Lana sudah mau berbicara, menemui dan menatapnya saja Ethan sudah sangat bersyukur dan berterimakasih. Seharusnya Ethan tidak boleh mengharapkan lebih dari ini.
Mobil kembali bergerak lambat, kini semakin dekat dengan gerbang masuk. Lana yg gugup, pikirannya melayang ke beberapa waktu lalu.
Setelah hari ia menceritakan kisah lima tahun lalu, Ethan mengantarkan Lana pulang setelah mereka berdua sama-sama sudah tenang. Jika diingat-ingat lagi, sungguh memalukan sebenarnya menangis tersedu-sedu seperti itu di pelukan Ethan.
Cika sahabatnya, menunggu bagai satpam garang dengan tongkat pemukul di depan rumah Lana. Begitu Ethan turun mengantarkan Lana, Cika langsung menggonggong galak.
Perlu waktu hampir tiga jam menceritakan semuanya pada Cika. Sejak hari meeting di PT. NaThan, Ethan yg terluka, pertikaiannya dengan Kyoya, hari konferensi pers sampai adegan mereka menangis dan berpelukan bersama mengenang bayi mereka.
Cika terdiam, lalu dengan bijaksana dia menyerahkan semuanya pada Lana. Jika bersama dengan Ethan, jika Lana sudah bisa memaafkan laki-laki itu, Cika hanya bisa mendukung keputusan Lana. Tapi jika Lana masih mencintai Kyoya, ada baiknya menjauhi Ethan karena laki-laki itu sepertinya masih mencintai Lana.
Karena itulah, begitu mendengar Koijima Grup akan mengadakan pesta mewah dan besar-besaran untuk menyambut pertunangan putra pewaris MT Corporation dengan putri pewaris Nakayama Diamond, Lana ingin sekali datang.
Tapi sayang sekali yg menerima undangan eksklusif hanya para dewan komisaris, para petinggi dan kepala ruangan saja. Bawahan rendahan seperti Lana hanya bisa menelan pahitnya kekecewaan.
Karena itu, ketika Ethan mengabari ia diundang sebagai CEO PT. NaThan ke pesta mewah itu, Lana langsung mengiyakan. Pesta itu juga sekaligus bentuk perayaan kerjasama Koijima Grup dengan mitra-mitra kerja MT Corporation.
Sebenarnya Lana hanya ingin memastikan kata hatinya. Dia lebih condong kemana, Kyoya.. atau Ethan. Meski ia sangat tahu, tidak akan mungkin baginya dan Kyoya untukbersama, meski seberapa cinta atau seberapa ingin Lana hidup dengannya.
Lana ingin mengakhirinya dengan mata kepala sendiri.
Akhirnya mereka sampai di pintu masuk, petugas valet sudah standby membukakan pintu dengan ramah. Setelah mereka keluar, petugas itu memarkirkan mobil Ethan.
Lana berkali-kali menghela nafas berat. Juga berkali-kali bertanya pada Ethan bagaimana penampilannya. Konyol atau norak.
"Tenanglah.. Tidak ada yg perlu dikhawatirkan. Kamu sangat cantik Lana. Sempurna." puji Ethan sambil tersenyum menenangkan.
Ethan menggenggam tangan Lana, menaruhnya di pergelangan tangan lalu mengajak gadis itu melangkah masuk. Lana menarik nafas panjang, lalu bertekad tidak akan membuat Ethan malu.
...***...
Ternyata tak seburuk yg Lana pikirkan.
Ruangan itu sangat ramai, berdengung dengan orang-orang yg mengobrol santai sambil menikmati hidangan pesta. Pelayan berpakaian putih hitam bercelemek berjalan hilir mudik dengan membawa nampan berisi minuman ataupun makanan ringan.
Lana sedang berdebat dengan Ethan, sebaiknya mereka memberi salam pada si empunya pesta atau tidak.
"Kalau kamu tidak nyaman bertemu mereka, tidak perlu memaksakan diri. Tidak apa-apa Lana." bisik Ethan.
Lana menggeleng keras, ia ingin sekali memberi salam tapi sisi lain hatinya menjerit jangan. Entah hilang kemana keberaniannya yg meluap-luap tadi. Lana menyusut jadi si pengecut.
Seorang pelayan lewat, Ethan dengan sigap menggapai satu gelas minuman biru soda dari atas nampan.
Setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan, Ethan memberikannya pada Lana untuk membuatnya tenang.
Lana menyesap minuman dingin itu, rasa tutti fruti bersoda menyegarkan.
Lana mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Ballroom itu sangat luas dan tinggi. Langit-langit nya dihiasi lampu manik-manik berbentuk tirai panjang bergelombang. Di setiap sisi dinding ditutupi meja-meja penuh aneka makanan dan minuman. Sebelah kanan, dekat dengan panggung, terdapat kursi-kursi empuk khusus untuk tamu vip.
Ruangan itu semakin penuh dan ramai, dengungan nyaring orang-orang yg mengobrol bercampur alunan pelan lagu pop klasik dari pemain band yg berdiri di sebelah panggung.
Ethan memberi isyarat final tidak usah memberi salam, tapi Lana menggeleng enggan.
Ketika Lana membuka mulut hendak bicara, terdengar suara sopan dari depan mereka.
"Selamat malam." Suara laki-laki, suara itu terdengar sangat familiar di telinga Lana.
Lana tercekat, tak mungkin..
Ia menoleh dan mendapati Kyoya sedang berdiri dalam balutan jas hitam rapi sedang tersenyum menatapnya. Disamping Kyoya, wanita cantik bermata sipit memakai dress indah, rambutnya digelung ke belakang dengan beberapa helai melingkar ikal menutupi telinga. Gadis itu adalah Hana, calon istri Kyoya.
"Terimakasih sudah hadir di pesta kami. Saya tidak menyangka, anda akan datang, nona Lana."
Pandangan Kyoya dan Lana saling bertemu. Begitu juga dengan Ethan dan Hana. Sepertinya mereka berempat sudah saling kenal.
...***...