
Rasanya melelahkan.
Kyoya menyetir pulang ke rumah dengan lesu. Kini bebannya bertambah dua kali lipat.
Kyoya tidak menduga sama sekali ibunya akan bicara ttg perjodohan. Menyudutkan Kyoya, membuatnya tak berkutik dengan mengancam akan mengusik Lana.
Andai bukan Lana yg dijadikan pilihan lainnya, Kyoya pasti akan langsung menolak perjodohan itu. Dengan resiko ibunya akan semakin murka, nama Kyoya dicoret dari daftar keluarga Koijima, saham maupun jabatannya sekarang akan lenyap.
Sudah sejak dulu ibunya bersikeras merancang kencan buta untuk Kyoya dengan putri pemilik perusahaan A sampai Z. Bahkan Anna Chloe Hankam, artis papan atas sekaligus model terkenal juga masuk dalam deretan gadis yg datang di kencan buta yg diatur ibunya.
Tapi Kyoya hanya menghadiri pertemuan pertama dan tidak pernah lanjut ke step lainnya. Karena baginya, semua gadis itu tidak ada yg tulus, hanya mengincar harta atau nama besar Koijima saja. Tidak ada yg menarik.
Tidak seperti Lana.
Tidak ada gadis yg bisa menyamai posisi Lana di hati Kyoya. Sayangnya, Lana adalah gadis biasa, bukan putri pemilik perusahaan ternama ataupun artis terkenal.
Saya mengkhawatirkan anda dan nona Lana jika terus bersama, sir. Posisi anda bisa membuatnya kerepotan dan membuatnya dalam bahaya.
Kau benar. Karena aku yang membuatnya masuk ke dalam hidupku, aku yang akan mengurusnya. Kau tenang saja.
Terlintas percakapan Kyoya dan Roger pada malam mengantarkan Lana pulang dari pemakaman ibunya.
Janji Kyoya untuk melindungi gadis itu. Karena Kyoya lah yg membukakan pintu dan mengajak gadis itu masuk ke dalam dunianya yg rumit dan kejam.
Kini janji itu harus ditepati.
Dengan tetap fokus menyetir, Kyoya menekan tombol panggilan. Dua kali nada dering dan akhirnya suara Roger terdengar.
"Selamat sore Pak Koijima Kyoya. Apa semuanya baik-baik saja sir?"
Kyoya tersenyum kecil, nada suara Roger terdengar cemas. Ajudannya itu pasti sudah menduga akan terjadi hal buruk, yah.. selalu begitu setiap kali Kyoya pulang ke rumah kediaman Koijima.
"Semua baik-baik saja." Kyoya tersenyum hambar. "Tidak ada luka atau darah kali ini Roger. Hanya satu cangkir cantik yg sayang sekali harus jadi korban."
Hening beberapa detik.
"Syukurlah sir." Roger terdengar sangat lega. "Apa ada yg anda butuhkan sir?"
Kyoya tiba-tiba menjadi serius. "Pastikan identitas Lana tidak terungkap di media, Roger. Segera tangani berita apapun terkait Lana. Pastikan gadis itu aman."
"Baik sir." Roger menjawab patuh.
Kyoya menghela nafas lelah. "Itu saja untuk sekarang. Sampai jumpa esok."
Roger menjawab baik sir, selamat beristirahat, selamat sore. Lalu panggilan terputus.
Kyoya bisa sedikit bernafas lega sekarang, Roger adalah ajudan yg bisa diandalkan.
Tinggal satu masalah lagi, otaknya sedang berputar. Kyoya sibuk mencari cara bagaimana membatalkan perjodohannya dengan Hana.
Menikahi Nakayama Hana bukan perkara gampang. Mereka adalah sepupu jauh, meski jarang bertemu tapi tetap saja masih ada hubungan darah antara keluarga Koijima dan Nakayama. Yah, kecuali Kyoya karena dia anak pungut.
Meski Kyoya tidak bisa memungkiri, Hana memang cukup cantik dan termasuk gadis yg memukau. Benar kata ibunya, Hana adalah kandidat terbaik untuk jadi pasangan keluarga Koijima. Latar belakang keluarga, pendidikan, attitude, penampilan, semuanya di atas rata-rata. Hanya mungkin karena masih terlalu muda, Hana menjadi sangat manja jika ada Kyoya.
Sebenarnya mereka jarang bertemu, karena Hana selama ini tinggal di luar negeri bersama keluarganya. Bisa dua tahun sekali, atau saat Kyoya dan keluarganya ke Jepang untuk berlibur, atau saat Kyoya ada dinas luar bertemu klien di sana, baru ia bisa bertemu dengan Hana.
Beberapa hari lalu Hana dan keluarganya khusus datang ke negara ini untuk urusan bisnis. Nakayama Diamond akan bekerjasama dengan Koijima Grup, yaitu MT Corporation untuk melebarkan sayap di dunia properti dan bisnis perhiasan.
Karena itu Kyoya datang ke Five Star Hotel untuk membahas kerjasama lebih lanjut dengan keluarga Nakayama. Five Star Hotel akan menjadi hotel pertama dari kerjasama itu.
Tak disangka, di sana Kyoya malah bertemu Lana yg sedang berlibur. Sungguh dunia ini amat sangat sempit.
Saat malam harinya, Kyoya dalam perjalanan kembali ke Five Star Hotel setelah menghadiri makan malam resmi memperkenalkan Tuan dan Nyonya Nakayama dengan klien Kyoya yg bisa berpengaruh positif untuk kerjasama ini.
Kyoya melihat Lana dan Cika keluar dari sebuah bar dalam keadaan mabuk. Kyoya langsung menyuruh Roger menepikan mobil dan menangani kedua gadis itu yg sedang diganggu pria asing. Dan terjadilah malam pemicu berita skandal itu.
Kyoya sama sekali tidak menyesali apa yg terjadi malam itu. Dia bahkan akan lebih menyesali jika malam itu memilih membiarkan dan tidak menyelamatkan Lana.
Belum ada solusi yg cocok untuk masalah ini, Kyoya menggerakkan gigi, kesal karena jika perjodohan ini diteruskan, bukan hanya Kyoya, Hana yg tidak tahu apa-apa juga akan terluka.
Tak terasa Kyoya sudah sampai rumah. Mobilnya memasuki area taman, pagar bergerak menutup setelah petugas keamanan menunduk memberi hormat.
Kyoya turun dari mobil dan berjalan ke pintu depan. Sedikit heran mengapa Bi Lasmi tidak menyambutnya. Kyoya pun membuka pintu dan terkejut.
"Okaeri, Kyoya-kun (Sapaan ketika seseorang pulang ke rumah)."
Suara ceria terdengar. Hana berdiri di ruang tamu sambil tersenyum manis.
Kyoya berusaha mengendalikan diri, meski bertanya-tanya mengapa Hana bisa ada di rumahnya dan dimana Bi Lasmi.
Kyoya balas tersenyum. Lalu menghampiri Hana yang langsung merangkul lengan Kyoya manja.
Catatan dari author: Untuk efisiensi dan kenyamanan pembaca, percakapan bahasa Jepang antara Kyoya dan Hana akan langsung diterjemahkan 😉
"Aku sudah menunggumu cukup lama. Sampai benar-benar bosan. Syukurlah kau pulang juga." Hana merajuk.
Kyoya tersenyum kecil. "Kenapa tidak menghubungiku dulu? Hari ini aku cukup sibuk karena ada banyak jadwal."
Kyoya melihat di meja ada cangkir, teko teh, kue dan camilan.
"Dimana Bi Lasmi?" tanya Kyoya.
Hana mengernyit. "Maksudmu ibu pelayan yg sudah agak tua?"
Melihat Kyoya mengangguk, Hana melanjutkan, "Karena dia tidak bisa bahasa Jepang, I spoke to her in English. Aku menyuruhnya pulang. Setelah tahu aku putri dari Nakayama Takeru, ibu itu jadi patuh padaku. Aku hanya kasihan melihat sepertinya dia sudah capek seharian bekerja."
Hana merangkul semakin erat. "Maaf ya, kamu tidak marah kan?" rajuknya.
Kyoya menghela nafas. "Aku tidak marah. Hanya saja perlu kau ingat Hana, kamu tidak berwenang memberi perintah pada bawahan orang lain. Jadi lain kali jangan melakukannya lagi, oke?"
Hana cemberut tapi mengangguk patuh.
Kyoya mempersilahkan gadis itu duduk di sofa ruang tamu yg berwarna putih bersih. Hana langsung menghempaskan pantat di sofa empuk itu dan duduk dengan nyaman seperti di rumahnya sendiri.
"Ada apa kamu kemari? Bukankah penerbangan Oji-san (paman) dan Oba-san (bibi) dijadwalkan tadi siang?" Kyoya membuka jas dan menyandarkannya di punggung sofa. Lalu duduk di sebelah Hana.
"Aku akan tinggal di sini." jawab Hana ceria.
Mata Kyoya membelalak. "Di sini?"
"Bukan, bukan.. Maksudku bukan tinggal di rumahmu, mulai sekarang aku akan tinggal di negara ini." Hana memperhatikan gestur Kyoya terlihat lega.
Melihat tatapan Kyoya yg seperti menginginkan penjelasan, Hana pun bicara, "Aku meminta pada ayah untuk mengijinkanku tinggal di sini, karena aku ingin belajar darimu bagaimana tentang menjalankan bisnis properti."
Kyoya tertawa kecil.
"Aku tidak yakin bisa mengajarimu dengan baik. Kau adalah gadis pintar, Hana. Bahkan tanpa kuajari, kau sekarang sudah menjadi penanggungjawab pengembangan dan pemasaran Nakayama Diamond. Bisnis properti tidak berbeda jauh."
Hana mengerucutkan bibir, protes. "Aku tahu tidak bisa membodohimu. Sebenarnya aku hanya ingin melihatmu lebih lama, sekalian berlibur. Sudah beberapa tahun kita tidak bertemu kan, aku kangen sekali. Boleh kan aku tinggal di sini? Kalau kau bilang tidak boleh, aku akan pesan tiket dan pulang sekarang juga. Boleh ya? Ya? Yaaa.. please.."
Kyoya hanya bisa pasrah. "Hana, kau sudah cukup umur untuk bersikap dewasa dan bijak dalam bertindak. Kau belum fasih dengan bahasa negara ini, juga tidak mengenal kota ini dengan baik. Saat aku bekerja, siapa yg akan menjagamu?"
Hana tampaknya juga menyadari hal itu.
"Aku bukan anak kecil, Kyoya. Pertama, jangan lupa aku fasih berbahasa Inggris, negara mu bukan negara yg awam dengan bahasa Inggris kan? Ibu pelayan itu buktinya juga fasih English. Kedua, ada google map, ada aplikasi order makanan dan banyak kecanggihan teknologi lainnya yg bisa kupakai untuk bertahan hidup. Jadi Kyoya-kun.. terimakasih banyak sudah mengkhawatirkan aku."
Hana mencondongkan tubuh ke arah Kyoya dan berbisik, "Aku bukan bayi lagi, aku sekarang gadis dewasa. Mau lihat?"
Kyoya mengerjapkan mata, tampak terkejut Hana kini berani menggodanya. Padahal dimata Kyoya, Hana selalu tampak kecil mungil, sudah ia anggap seperti adik kandungnya yg menggemaskan.
Melihat ekspresi syok Kyoya, Hana tertawa lepas.
"Aahh, seru sekali berada di sini. Ada banyak hal menarik." Hana merenggangkan tangan ke atas. Lalu menghadap Kyoya penuh semangat.
"Ayo temani aku ke bar, aku ingin merayakan kebebasanku jauh dari Okaasan (ibu). Malam ini saja. Ya?"
Kyoya menyandarkan punggung ke sandaran sofa, memejamkan mata. Menghela nafas panjang. Hana heran melihatnya.
"Maaf tidak bisa Hana. Hari ini aku lelah sekali. Meski sebenarnya sangat ingin minum, tapi besok aku ada rapat pagi."
Kyoya tampak lesu dan lelah. Selain itu, Kyoya sedang tidak ingin terlihat berdua saja bersama wanita lain di area publik di saat dirinya sedang ramai diperbincangkan. Dia tidak ingin menyeret Hana ke dalam situasi rumit saat ini.
Hana menatap laki-laki itu kasihan. Kyoya tampak sedang banyak pikiran, jadi dia ingin menghiburnya.
Hana bangkit dari sofa dan menuju ke dapur. Membuka kulkas dan terdengar suara berisik kaleng yg berkelontangan. Hana benar-benar seperti berada di rumahnya sendiri.
Kyoya menegakkan tubuh dan menoleh heran ke belakang, tampak Hana sedang kesusahan berjalan sambil membawa setumpuk kaleng bir di kedua tangannya.
Hana meletakkan semua kaleng itu ke meja, lalu duduk kembali di sebelah Kyoya.
Hana mengambil satu kaleng, dengan mudah membuka pengaitnya. Terdengar bunyi cess.. lalu memberikannya ke tangan Kyoya.
"Pas sekali, kulkas mu punya banyak persediaan bir. Aku akan menemanimu minum." Hana mengambil satu kaleng lagi dan membukanya.
Kyoya tersenyum samar. Tidak menyangka akan meminum persediaan bir ini dengan Hana, padahal dia membeli bir ini sudah cukup lama tapi tidak punya waktu untuk meminumnya. Kyoya membelinya pada malam ia putus dengan Lana. Tapi alih-alih mabuk, Kyoya malam itu hanya diam menatap nyalang langit-langit kamar lalu entah tertidur jam berapa.
Dan sepertinya saat ini waktu yg pas untuk meminumnya.
Kyoya mendekatkan kaleng yg ia pegang ke kaleng Hana.
"Kampai (Bersulang)." Hana bersuara ceria.
"Kampai." kata Kyoya pelan. Kaleng keduanya saling membentur lalu Kyoya menenggak bir itu. Hana ikut minum.
"Aahhh.. " Hana mengusap mulutnya dengan telapak tangan. "Bir yg bagus." Dia asyik memperhatikan kemasan dan merek yg tertera di kaleng bir itu.
Kyoya sudah menghabiskan satu kaleng, hendak membuka kaleng kedua.
Hana memperhatikan Kyoya yg kini menjadi lebih banyak diam. Lelaki itu hanya menyeruput bir dengan pandangan menatap depan entah sedang memikirkan apa.
Bir kedua Kyoya pun tandas. Lelaki itu melonggarkan dasi biru tua yg dipakainya, lalu membuka satu kancing atas kemejanya. Mengambil kaleng ketiga. Lalu meminumnya habis dengan cepat.
Hana juga sudah menghabiskan birnya. Dia bersendawa pelan. Lalu mengambil kaleng kedua dan membukanya. Cess..
Tiba-tiba Kyoya mengambil kaleng bir di tangan Hana dan merebutnya. Dengan cuek, lelaki itu meminum kaleng yg sudah dibuka itu hingga tandas. Hana hanya melongo melihatnya.
"Jangan minum lagi Hana, bir tidak baik untuk kesehatan mu." Kyoya meletakkan kaleng kosong ditangannya ke atas meja.
Lalu bangun dari kursi. "Maaf aku istirahat dulu. Terimakasih sudah menemaniku minum."
Hana memperhatikan lelaki itu berjalan menuju kamar dengan langkah gontai. Tubuhnya terlihat limbung.
Tiba-tiba Kyoya miring ke kiri, hendak jatuh. Tapi untung masih bisa mengendalikan diri.
Hana segera bergegas menghampiri Kyoya.
"Aku antar ke kamar." Hana menopang bahu lelaki itu, memapahnya menuju kamar.
Kyoya tidak menolak, langkahnya semakin lemas. Dia butuh berbaring sekarang juga.
Hana merasa tubuh Kyoya semakin berat. Sebentar lagi, jangan pingsan dulu. Hana mendorong pintu kamar terbuka dengan bahunya. Lalu membaringkan Kyoya di kasur. Pria itu langsung memejamkan mata.
Hana melepas pegangannya, terengah. Astaga laki-laki ini berat juga. Hana memijat tangan yg digunakan untuk menopang Kyoya tadi.
Menyadari pria itu tertidur, Hana mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dalam hati berkata, oo..seperti ini kamar seorang pria.
Mata Hana tertumpu pada tiang gantungan pakaian di sudut ruangan. Sebuah kemeja wanita berwarna biru tua dan rok pendek hitam tergantung rapi pada hanger.
Hana mengernyit, berjalan mendekati baju itu.
Pakaian wanita?
Kenapa ada di sini? Milik siapa baju ini?
Hana memegang baju yg tampaknya sudah dicuci dan disetrika itu, samar-samar masih tercium aroma laundry. Hana menggertakkan gigi, seharusnya baju jelek ini tidak ada di sini. Sangat merusak pemandangan.
Hana mengambil hanger, dan hendak membuang baju itu di tempat sampah tapi gerakannya terhenti. Hana menoleh melihat Kyoya yg sudah pulas tertidur. Dada pria itu bergerak teratur naik turun.
Hana menghela nafas berusaha menenangkan diri, lalu menggantungkan kembali baju itu ke gantungannya semula.
"Tunggu waktu saja, semua yg tidak pada tempatnya akan kurapikan. Sampah seharusnya dibuang ke tempat sampah." desisnya.
Sorot mata gadis itu berubah menakutkan.
...***...