
Lana menunduk dan membasuh wajah dengan air keran yg terasa dingin. Lalu memandang bayangannya di cermin. Dia membiarkan air menetes-netes dari wajahnya.
Sosok yg pucat, awut-awutan dan bermata nyalang balik menatapnya dari balik cermin, Lana merasa dejavu. Sosok itu sama persis, mengingatkannya pada dirinya sendiri lima tahun lalu. Masa-masa terkelam sepanjang hidup Lana. Masa-masa Lana pernah terpuruk.
Dan semua kenangan itu seperti diputar kembali di depan matanya.
Suara desa*han dua orang dari atas tempat tidur, berganti kilasan Lana yg panik berlari mengelilingi kampus mencari sosok seorang pria, berganti adegan Lana yg tergeletak kesakitan sambil memegangi perutnya, berteriak minta tolong. Diakhiri kilasan Lana terbaring di rumah sakit, sendirian, menderita, rapuh, tidak berdaya.
Lana menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Tidak, aku tidak mau mengingatnya lagi. Tidak Lana! Jangan biarkan dirimu kembali ke masa kelam itu! Semua mimpi buruk itu sudah terkubur dalam-dalam. Jangan mengingatnya, jangan!
Lana membasuh wajahnya lagi dengan tangan yg gemetar. Ethan.. Arkam? Jadi namamu sekarang Ethan Arkam? batin Lana marah.
Efek bertemu pria itu sangatlah luar biasa bagi Lana. Membuatnya memunculkan kembali trauma itu. Membuat Lana terjatuh lagi ke dasar bumi. Membuat semua kebahagiaan, energi dan semangat hidup nya tersedot habis keluar. Lana merasa kosong, hampa, selongsong tak bermakna.
Bahkan Lelaki itu masih sama seperti lima tahun lalu. Sosok itu, wajahnya, gesturnya, caranya menatap, caranya bicara, tubuhnya..
Lana membasuh wajah untuk yg ketiga kalinya.
Aku harus bagaimana?
Kenapa harus dia?
Dari sekian banyak manusia di bumi ini, kenapa yg menjadi CEO perusahaan yg Lana nantikan akan bisa bekerjasama malah pria dari masa lalunya?
Lana mengepalkan tangan erat sampai buku jarinya memutih. Tidak Lana, semua itu sudah berlalu, hanya masa lalu! Kamu hanya harus menguburnya lagi, seperti sebelumnya. Kamu pasti kuat Lana, jangan mau dikalahkan laki-laki kurang ajar itu.
Jangan menyerah, tunjukkan sikap profesionalmu, hadapi dia, selesaikan proyek ini dengan berhasil lalu kamu tidak perlu berurusan lagi dengannya. Beres.
Pikirannya mengafirmasi hal-hal yg membuat Lana kembali bersemangat. Ia mengangguk, benar, kamu pasti bisa Lana. Dia sudah melewati masa gelap itu dan hidup dengan baik sejauh ini.
Aku pasti bisa, tekad Lana membara.
Lana membasuh wajahnya untuk yg terakhir kalinya. Menyambar secarik tisu dan mengelap wajahnya keras. Dia merapikan rambutnya dan memakai makeup tipis. Wajah gadis muram lima tahun lalu telah sirna, kini Lana telah kembali menjadi dirinya. Lana yg ceria.
Oke, ayo temui si bedebah itu. Kita tunjukkan siapa pecundang nya di sini.
Lana tersenyum menyemangati lalu berjalan pergi dari toilet.
...***...
Lana menghembuskan nafas panjang dengan grogi sebelum akhirnya membuka pintu kaca itu dan melangkah masuk ke dalam ruang rapat.
Lana bisa melihat Ethan maupun Yuni mendadak terdiam dan tengah memperhatikannya. Lana duduk dengan anggun lalu tersenyum pada mereka.
"Maaf atas sikap saya barusan. Saya tahu saya sudah bersikap tidak sopan, mohon dimaklumi, saya mengalami syok ringan karena tidak menyangka bertemu lagi dengan anda. Pak Ethan Arkam." Lana memaksakan senyum manis dan memberanikan diri menatap wajah lelaki itu.
"Anda pasti sudah tahu. Tapi sebagai formalitas ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya Mikaela Nastya, sekretaris PPIC MT Corporation. Saya yg meng-handle proyek jembatan gantung kota Naruyama, mohon kerjasamanya." Lana membungkuk sopan.
Yuni mendesah lega. Dia menoleh ke depan dan mendapati Ethan yg tersenyum ramah. Sorot mata pria itu berubah saat menatap Lana yg sekarang. Lebih hangat dan dalam.
"Senang anda sudah kembali menjadi Lana yg pernah saya kenal. Mohon kerjasamanya juga nona Lana. Saya akan berusaha dengan semua performa yg saya miliki untuk membuat proyek ini berhasil."
Lana mendengus.
"Benarkah? Semoga saja anda tidak ingkar janji. Tidak tiba-tiba menghilang atau pergi tanpa kabar." Lana bicara sarkas. Rahang Ethan mengeras mendengarnya.
Yuni mengerjap bingung. Suasana mendadak jadi canggung.
"Bagaimana kalau kita mulai saja meetingnya?" Yuni bicara untuk mencairkan suasana.
"Sudah pukul setengah sepuluh, bagaimana menurut anda tentang desain jembatan dari pihak kami?" tanyanya pada Ethan.
Ethan langsung menguasai diri dan membuka laptopnya. "Saya sudah memeriksa file yg anda kirimkan ke Bu Jesica. Terdapat beberapa cacat pada desainnya."
"Nona Lana bisa menjelaskannya, saya rasa." Ethan menunjuk Lana yg diam menatap layar laptop.
"Sama-sama pernah kuliah di Fortec University, apalagi nona Lana adalah murid terpintar dan selalu mendapat beasiswa karena prestasinya."
"Lana kamu yg membuat desain ini kan? Bagaimana?" bisik Yuni.
Lana hanya terdiam sambil terus memeriksa layar laptopnya. Aneh, menurut dia tidak ada yg salah dengan desain ini. Tapi Lana gengsi dan menolak mentah-mentah ide untuk bertanya pada laki-laki itu.
Lana tidak menyadari Ethan bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Lana. Pria itu berdiri tepat di belakang Lana dan menunduk di sisi tubuh Lana. Tangannya menggenggam jemari Lana yg sedang memegang mouse.
Lana berjengit kaget. "Apa yg anda lakukan?" desisnya marah.
Dia berusaha menghindar tapi laki-laki itu semakin menunduk dan mempererat genggaman tangannya. Jemari Ethan menggerakkan mouse ke sana kemari.
"Tidak berubah ya, selalu tidak teliti." Ethan berkata, nafasnya yg hangat menerpa telinga Lana. Membuat bulu kuduknya berdiri.
Ethan menunjuk ke kursor yg bertengger di sebuah plakat panjang melengkung di layar laptop.
"Ini salah satunya. Jika menggunakan perhitungan ini, maka plakat lengkung tidak akan kuat menopang jembatannya." Ethan bicara santai.
Lana menggigit bibir, kesal. Benar juga kata laki-laki itu. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kesalahan sefatal ini. Sifat ceroboh nya sekarang terasa sangat mengesalkan.
"Masih ada beberapa lagi yg butuh revisi. Atau haruskah saya memberitahukan semuanya?" Ethan mendekatkan bibirnya hingga menempel ke telinga Lana. "Saya tidak keberatan."
Lana tiba-tiba berdiri. Ethan otomatis menarik tubuhnya untuk tegak. Yuni memegang dadanya yg terkejut.
"Akan saya revisi sendiri. Terimakasih." Lana kembali duduk dengan canggung.
Ethan tertawa kecil lalu berjalan kembali ke kursinya.
Saat pria itu sudah duduk, pintu kaca terbuka dan masuklah Jesica membawa nampan berisi tiga botol air mineral dan lima pie keju yg berukuran one bite. Jesica meletakkan nampan dengan sopan ke tengah meja.
Ethan tersenyum. "Terimakasih Bu Jesica. Tapi bisakah kau mengganti kue nya dengan pie yg berisi brownis? Nona Lana lebih suka kue pie yg manis."
Jesica melongo mendengar kalimat atasannya. Lalu segera menguasai diri dan mengangguk patuh.
Saat hendak pamit mata Jesica mengamati pakaian atasannya yg berlumur darah dan bertanya sopan, "Apa anda baik-baik saja Pak? Apa yg terjadi? Apa perlu saya bawakan pakaian ganti dari ruangan anda?"
Ethan mengibas bagian depan kemejanya yg berwarna krem bercampur noda darah. "Tidak perlu. Aku akan ganti pakaian sendiri setelah meeting ini selesai."
Ethan mendadak tertawa, "Kau pasti tidak percaya apa yg sudah ku alami pagi ini. Bu Yuni sudah kuceritakan detilnya." Ethan melayangkan pandang ke arah Lana yg pura-pura sibuk. "Aku sudah berangkat dari rumah pukul lima pagi, dan di tengah jalan mobilku menabrak mobil yg tiba-tiba berhenti mendadak. Mobilku digebrak dan ketika aku keluar untuk memeriksa keadaan, orang itu ternyata sedang mabuk. Langsung memukuliku."
Jesica menekap mulutnya.
Ethan tertawa lagi. "Untunglah mobilku tidak separah itu, masih bisa jalan. Jadi kutinggalkan saja orang mabuk itu. Saat hampir sampai ke sini, ada lagi kejadian tak terduga yg terjadi."
"Mobilku tiba-tiba di stop. Ternyata ada tabrak lari, mereka memintaku mengantarkan korban ke rumah sakit terdekat. Gadis kecil dan ibunya. Untung saja mereka tidak terlalu parah, hanya berdarah-darah di lengan dan kepala. Sesampainya di rumah sakit gadis itu meronta tidak mau diobati. Dia memelukku erat ketika aku hendak meneleponmu untuk memberitahu aku mungkin akan terlambat. Ponselku jadi terjatuh dan pecah, mati total." Ethan menghela nafas. "Darah ini berasal dari gadis itu, yg terus memelukku tanpa henti agar mau diobati."
Lana bergumam, "Selalu sial, sejak dulu tidak berubah."
Semua orang di ruangan itu bisa mendengar suara Lana tapi Ethan hanya tertawa kecil.
Lana menatap Jesica dan berkata pelan. "Tidak perlu mengganti kuenya. Saya sudah tidak suka pie brownies apapun." Ekspresi nya datar.
Jesica jadi canggung. Lalu buru-buru pamit pergi.
Mereka melanjutkan meeting dengan jengah. Lana tidak banyak bicara, untunglah Yuni yg mengambil alih percakapan serius ttg perkembangan proyek dan kesepakatan kerjasama. Pukul setengah 12 siang mereka pamit undur diri.
Lana segera menarik tangannya ketika bersalaman dengan Ethan, yg berusaha meremas lembut tangan Lana. Lana tidak menoleh lagi meski pria itu mengantar kepergian mereka sampai pintu keluar.
...***...