Between

Between
Bab 33 PT. NaThan



Hoaaehmm..


Lana menguap lebar. Yuni yg duduk disebelahnya tertawa kecil.


"Kemarin habis ngapain aja hayoo? Jam segini masih ngantuk." goda Yuni, tahu bahwa kemarin Lana ada janji bertemu dengan lawan jenis.


Lana tersenyum begitu mengingat kemesraannya dan Kyoya kemarin malam, menahan agar pipinya tidak blushing.


"Ngantuk karena kita harus meeting pagi-pagi Bu." jawab Lana mengeles.


"Iya nih, mana lumayan jauh." Yuni ikut memprotes.


Wanita yg berumur lima tahun lebih tua dari Lana itu mengarahkan kemudi belok ke kanan, mengikuti instruksi dari petunjuk arah yg terpasang di dashboard mobil.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju PT. NaThan untuk mengadakan meeting bersama CEO perusahaan itu membahas proyek jembatan gantung kota Naruyama yg bermasalah.


Lana menguap lagi, kali ini sambil menutup mulutnya dengan tangan. Lana menyandarkan kepala dengan malas, kenapa meeting-nya harus pagi-pagi begini sih.


Lana jadi harus bangun lebih pagi karena Yuni mengirim pesan pada malam sebelumnya kalau perusahaan yg akan mereka datangi terletak di pinggir kota.


Lana juga datang lebih pagi ke kantor untuk mengambil dan mempersiapkan berkas-berkas, yg bahkan lebih pagi dari petugas kebersihan.


Tapi untunglah, karena mereka berangkat lebih awal jadi terhindar dari kemacetan. Jalanan lumayan lengang. Alat GPS memberitahu kalau sepuluh menit lagi mereka akan tiba di tujuan.


"Lana, semoga meeting kali ini kita bisa deal ya. Jujur saja aku kewalahan dan capek banget mengurus proyek ini. Aku tidak mengira proyek ini memiliki banyak kendala." kata Yuni, menatap ke depan fokus menyetir.


Lana mengangguk. "Benar Bu, amat sangat berat."


Lana menghela nafas panjang. "Saya juga lelah mencari pihak ketiga yg cocok. Pokoknya perusahaan kali ini harus deal! Kita sudah jauh-jauh datang ke sini, pokoknya harus deal! Titik." Lana mengepalkan tangan. Yuni juga ikut mengepalkan tangan.


"Semangat!" pekik mereka bersamaan.


...***...


Ternyata tidak semudah itu ferguso,


Saat akhirnya mereka sampai di PT. NaThan, yg adalah sebuah gedung dua lantai dengan plakat besar nama perusahaan terpasang di pintu masuk, security dengan ramah mempersilahkan mereka masuk.


Lalu setelah mengatakan mereka dari MT Corporation, seorang wanita di meja resepsionis mengantarkan Lana dan Yuni masuk ke ruangan yg berisi meja besar dengan beberapa kursi putar warna biru.


Kini Lana dan Yuni menoleh satu sama lain dan bertatapan bingung.


Mereka sedang berada di sebuah ruangan rapat kecil. Sudah hampir tiga puluh menit mereka duduk menunggu.


Lana memainkan kursi putar nya ke kanan dan ke kiri, atau sengaja memutarnya kencang untuk menghilangkan rasa bosan.


Sementara Yuni sibuk dengan ponsel, beberapa kali teleponnya berbunyi dari rekan kerjanya di PPIC yg bertanya ttg pekerjaan di kantor.


Lana merasakan ponselnya bergetar, ada pesan singkat yg masuk.


Semoga meeting hari ini lancar, I love you. (Kyoya)


Lana tersenyum, lalu mulai mengetik dan mengirim pesan balasan.


Terimakasih. Semoga pekerjaanmu juga lancar hari ini. I love you too *emoticon hati (Lana)


"Ck. Apa mereka sedang mempermainkan kita?" Tiba-tiba terdengar suara kesal Yuni.


Lana yg mau mengirim emoticon hati yg banyak untuk Kyoya jadi mengurungkan gerakannya.


Lana menoleh dan mendapati Yuni sudah tidak menelepon. Wajahnya terlihat jelas sedang kesal karena sudah lama mereka disuruh menunggu dengan tidak jelas begini.


"Aku akan bicara pada pimpinannya."


Wanita itu bangkit, merapikan setelan kerja biru toska yg dipakainya sebelum beranjak pergi.


"Enak saja main-main dengan MT Corporation. Belum tahu aku siapa." Terdengat mulutnya mengomel.


Belum sempat Yuni memegang pegangan pintu ruang rapat, pintu kaca berwarna biru tua itu terbuka. Masuklah seorang wanita bersanggul rapi memakai kemeja abu-abu dan rok panjang hitam.


Yuni yg kaget tidak sempat membuka mulut untuk mengomel, membiarkan wanita itu berjalan masuk menghampiri meja tempat Lana duduk.


Wanita itu membawa nampan berisi kue-kue kecil dan dua cangkir kopi. Meletakkannya dengan sopan ke tengah meja. Lalu membungkuk mempersilahkan Lana untuk mencicipi hidangan sederhana itu.


"Maaf, kami sudah dibuat menunggu selama TIGA PULUH MENIT, dimana Bu Jesica Judit? Kami harus segera memulai meetingnya." Yuni berjalan menghampiri wanita itu. Saking kesalnya Yuni menekankan kata tiga puluh menit dengan intonasi yg menyindir.


Lana dan Yuni bertatapan bingung.


"Jadi anda Bu Jesica?" tanya Lana. Karena selama ini beberapa kali ia hanya berkomunikasi lewat email maupun telepon saja.


Wanita yg bernama Jesica itu mengangguk. Jesica masih sangat muda, mungkin seumuran Lana. Setelan kerja yg dipakainya terlihat biasa dan raut wajahnya juga terlihat lelah tapi matanya bersinar ramah dan sopan.


"Kalau begitu menunggu apa, ayo kita mulai meetingnya." Yuni duduk di kursi dan membuka laptop.


Jesica menunjukkan gestur resah dan gelisah.


"Maaf tapi meeting hari ini bukan dengan saya. Tapi dengan Pak Ethan."


"Siapa?" ulang Lana bingung.


"Pak Ethan Arkam. Beliau adalah CEO perusahaan ini." Jesica menjawab dengan gestur yg masih menyiratkan kegelisahan.


"Tunggu." Yuni mengangkat tangan menyela. "Bukankah selama ini anda yg berkomunikasi dengan kami? Kenapa bukannya Pak Ethan sendiri yg menghubungi kami?"


Jesica menjawab dengan takut-takut. "Semua proyek dan pekerjaan di sini saya yg handle karena Pak Ethan sedang berada di luar negeri beberapa bulan ini. Beliau baru kembali kemarin malam. Jadi Pak Ethan meminta untuk meeting dengan MT Corporation pagi ini beliau yg menangani."


Yuni mengernyitkan dahi. Lalu menoleh ke Lana, "Lana, kamu tidak mencari tahu secara detail tentang perusahaan ini ya?"


Lana langsung membuka laptopnya dan menyalakannya. "M-maaf Bu, saya hanya membaca sekilas CV nya."


Yuni menghela nafas. Dia mendongak menatap Jesica dan bertanya dengan nada tegas,


"Lalu dimana Pak Ethan sekarang? Kenapa dia belum juga muncul, kami sudah menunggu setengah jam."


Jesica hendak menjawab tapi urung, lalu dia membungkukkan badan lagi dan berkata, "Saya akan segera panggilkan beliau. Mohon tunggu sebentar." Lalu wanita itu buru-buru keluar.


"Naahh.. " Lana bersuara sambil mengetuk-ngetuk layar laptopnya. Lalu membacakan apa yg tertulis disana. "Ini dia. Ethan Arkam, CEO PT. NaThan Co. sedang berada di Amerika selama tujuh bulan guna mengurus pembukaan cabang kedua. Semua urusan perusahaan di kantor utama diambil alih oleh Jesica Judit selaku Ketua Lapangan dan Perencanaan, dengan tetap dibawah pengawasan dan wewenang Ethan Arkam."


Lana menoleh ke Yuni dengan wajah memelas.


"Maaf Bu. Saya kurang teliti." katanya memohon.


Yuni menghela nafas. "Ya sudah tidak apa-apa. Lain kali bacalah pelan-pelan dan jangan tergesa-gesa."


Lana meletakkan tangan di pelipis seolah sedang hormat, "Siap bos."


Yuni tertawa kecil melihatnya. Dia lalu mulai mengeluarkan berkas-berkas dan menyalakan laptopnya. Sementara Lana juga sedang bersiap-siap.


Tapi sudah lima belas menit tidak ada siapapun yg masuk ke ruangan itu. Jesica juga tidak tampak lagi batang hidungnya.


Yuni menggebrak map hijau ke meja, membuat gelas-gelas kopi berdering bergetar.


"Apa-apaan ini! Baru kali ini aku merasa konyol dan dipermainkan seperti ini." Yuni bangkit dari kursi. "Mereka ini serius tidak sih!" omelnya kesal.


Lana juga bingung sebenarnya apa yg terjadi dengan perusahaan ini.


Kenapa sangat mengecewakan. Mereka sendiri yg janji menyuruh datang pukul tujuh untuk meeting bersama. Tapi sampai pukul delapan lewat, jangankan meeting, kejelasan ttg akan bertemu siapa saja Lana belum tahu.


Yuni berjalan lagi ke pintu dan lagi-lagi pintu itu mendadak terbuka. Muncul Jesica dengan wajah takut-takut.


"Maaf membuat anda menunggu. Pak Ethan berpesan, sebentar lagi akan datang."


Yuni berkacak pinggang. "Apa maksudmu sebentar lagi akan datang? Jadi dia tidak ada di sini?" cecarnya galak.


Jesica tampak nelangsa. "Maaf Bu. Pak Ethan sedang dalam perjalanan kemari."


Yuni berdecak sebal. "Pertemuan pertama sudah terlambat. Kan kalian sendiri yg menyuruh kami datang ke sini pukul tujuh. Seharusnya kalau memang tidak bisa ontime, janjiannya agak siang kek. Apa kamu tahu MT Corporation itu cukup jauh dari sini." Yuni mengomel seperti sedang mengomeli anak buahnya sendiri.


Jesica berkali-kali mengucap maaf dan membungkuk.


"Baik, akan kami tunggu. Saya sudah kecewa dengan perusahaan ini. Benar-benar tidak kompeten." Yuni kembali ke kursinya.


Jesica mohon ijin mengundurkan diri, lalu keluar dari pintu.


Wajah Yuni menyeramkan, baru kali ini Lana melihatnya begitu marah. Lana jadi tidak berani mengajaknya bicara. Lana mengambil satu kue mangkuk dan memakannya pelan.


Detik berganti menit, menit berganti jam. Sudah pukul sembilan dan yg namanya Pak Ethan belum muncul juga.


...***...