
Lana memasukkan ponsel ke dalam tas katunnya.
Baru saja ia bicara dengan Cika di telepon, sahabatnya itu bertanya apakah Lana lembur hari ini.
Cika sudah dua hari ini tinggal di rumah Lana, dan sudah dua hari juga ijin tidak masuk kerja karena wajahnya yg masih terlihat babak belur. Yah walaupun sekarang luka dan memar itu sudah tidak terlalu biru atau ungu, sudah sedikit memudar, tapi Cika masih belum percaya diri untuk bertemu orang lain.
Lana tidak menyangka Marco yg sudah hampir dua tahun menjadi pacar Cika itu berubah jadi orang toxic dan menyeramkan.
Malam setelah pesta, Cika mengetuk pintu kamar Lana hampir dini hari. Lana terkaget-kaget melihat sahabatnya itu datang hanya memakai kaos oblong dan sandal jepit, dengan tubuh dan wajah babak belur.
Lana melihat dari balkon, sebuah mobil hitam mewah terlihat putar balik lalu pergi. Cika diantar siapa, misteri itu tidak pernah terpecahkan karena Cika hanya mengatakan bertemu seorang teman yg menolongnya dari amukan Marco.
Cika juga meminta pada Lana untuk diijinkan menumpang dirumah Lana, demi keselamatan dan keamanannya. Marco pasti masih merongrong rumah Cika, toh laki-laki itu punya kunci dan akses password di sana.
Nanti kalau situasi sudah memungkinkan, Cika ingin cepat mengganti keamanan pintu rumahnya. Jadi dia tidak perlu merepoti Lana terus. Meski Lana sudah bilang berulang kali tidak apa-apa, dia malah senang tinggal berdua dengan Cika, rumahnya jadi rame.
Kembali ke masa sekarang..
Lana sedang menimbang apa sebaiknya melaporkan Marco ke polisi tapi mungkin Cika tidak akan setuju. Cika hanya ingin pergi jauh dari mantan kekasihnya itu. Menempuh jalur hukum hanya akan membuat mereka kembali bertemu.
Lana jadi sedikit kesal pada dirinya yg tidak bisa berbuat banyak untuk sahabatnya itu. Padahal saat Lana sedang ada masalah, Cika selalu ada dan membantunya.
Tin!!
Lana terlonjak kaget.
Ia sedang memikirkan siapa teman yg dimaksud Cika, seseorang yg adalah kenalan Cika yg punya mobil hitam mewah? Siapa ya.. ketika sebuah klakson berbunyi tepat di depan Lana.
Lana melihat sebuah mobil CRV putih berhenti didepannya, membatin ini kan mobil Ethan..
Benar saja,
Kaca jendela perlahan turun, Ethan menyapa dengan wajah sumringah.
"Sore neng cantik, sendirian saja nih?"
Walau heran dan sedikit terkejut, Lana mau tak mau ikut tersenyum. Ia melirik jam tangannya, pukul empat sore.
"Mau pulang neng? Ayo abang antar." goda Ethan lagi.
Lana tak menjawab. Ia masih agak syok mendapati Ethan di depan gedung MT Corporation pada jam pulang kerja seperti ini.
Sebuah klakson terdengar dari mobil di belakang Ethan. Laki-laki itu melirik spion atas dan mulai panik.
"Ayolah Lana, ini bukan tempat berhenti. Bisa-bisa mobil di belakang menabrakku karena tidak sabaran." Ethan mengendikkan kepala menyuruh Lana masuk.
Lana menahan ketawa, mengangguk lalu membuka pintu dan melompat masuk ke dalam mobil.
Detik berikutnya mobil putih Ethan melaju, tepat sebelum si empunya mobil di belakang menekan klakson lagi.
Lana hendak bertanya kenapa Ethan bisa ada di sini, lelaki itu sudah bicara duluan.
"Feeling ku cocok berarti. Tadinya kalau tidak bertemu denganmu di tempat tadi, aku mau menunggu di cafe depan MT Corporation."
Lana mengeluarkan ponsel, mengecek, tapi tidak ada pesan apapun dari Ethan.
Ethan meringis. "Aku memang sengaja tidak mengabari, semacam surprise."
Ethan menoleh memperhatikan wajah Lana, "Berhasil? Kamu suka surprise nya?"
Seharian ini di kantor, Lana melalui banyak hal yg melelahkan, kejadian tak terduga di balik pintu di ruangan Kyoya, lalu percakapan tidak menyenangkan dengan Hana, tumpukan berkas-berkas yg masih segunung, Lana sungguh lelah jiwa dan raga. Kehadiran Ethan cukup memberi hiburan bagi Lana.
Jadi dia mengangguk, tersenyum. "Terimakasih surprise nya. Yah setidaknya hari ini tidak benar-benar bad day."
Ethan berubah serius, "Ada apa? Apa hari ini terjadi sesuatu di tempatmu bekerja? Atau kamu dimarahi Bu Yuni?" Ethan peka sekali dengan gestur Lana yg terlihat lesu dan lelah.
Lana menggeleng, "Biasalah, namanya juga kerja ikut orang. Lelah capek biasa."
Mobil berhenti di lampu merah.
"Mau tahu gimana caranya supaya ga lelah ga capek lagi?" Ethan bertanya dengan nada mencurigakan.
"Apa?"
Ethan berdehem lalu dengan sok penting ia menjawab, "Besok pagi kamu ambil kertas, kamu tulis kalau cukup sampai disini saja hubungan ini trus kasih ke Bu Yuni.."
"Tunggu.. Aku belum selesai ngomong!" Ethan berkelit dari pukulan Lana dilengannya.
Lana diam mendengarkan, siap-siap melancarkan serangan brutal lagi.
".. Setelah kamu resign, kamu ngelamar deh di PT. NaThan. Kujamin kamu akan diperlakukan sebagai pegawai istimewa. Atau kamu mau ngelamar jadi istri aku sekalian juga gak papa."
Plok,plok..
Lana memukul tanpa ampun. Rugi dia sudah sungguh-sungguh mendengarkan, ujung-ujungnya lelaki ini bercanda lagi, malah kelewatan.
Ethan tertawa sambil berkelit. Mobil sedikit oleng ke kiri ketika Ethan menancap gas karena lampu sudah berubah hijau.
Lana buru-buru duduk dengan tenang. Ia tak mau mereka kecelakaan gara-gara Ethan tidak bisa fokus menyetir.
"Tapi aku serius Lana." Ethan melirik Lana.
Gadis itu cemberut, balas melirik sadis. "Apanya?"
"Soal kamu bekerja di PT. NaThan. Kalau kamu mau.. Itu suatu kehormatan besar bagiku."
Melihat Lana diam saja, Ethan kembali ingin menggodanya. "Jangan-jangan kamu kecewa ya? Kamu kira aku serius soal yg kedua? Kalau itu aku amat sangat serius Lana."
Lana hendak memukul lagi lalu sadar mobil sedang melaju ke arah lain, bukan menuju ke rumahnya.
"Mau kemana ini?" tanya Lana, menebak rute ini menuju ke sungai Yan.
"Kita mampir sungai Yan ya? Hari ini ada festival musim bunga."
Lana mencari informasi di ponselnya dan benar saja, festival itu diadakan mulai hari ini hingga satu pekan mendatang.
"Makanya jangan kerja rodi terus, sampai ga tau ada festival." gumam Ethan bercanda.
Lana mengabaikan laki-laki itu, ia asyik memperhatikan deretan trotoar yg dihiasi ornamen-ornamen bunga indah. Mereka sudah memasuki kawasan sungai Yan. Biasanya jika tidak ada even, tidak ada hiasan di daerah ini.
Sebentar lagi mobil memasuki lokasi parkir, di sepanjang jalan cukup ramai orang-orang yg hilir mudik.
Lana turun dari mobil, memandangi gerbang besar sebagai pintu masuk yg terbuat dari kayu semi permanen. Festival Pasangan Sungai Yan, tulisan itu sangat besar menempel di bagian atas gerbang, terukir indah dihiasi ornamen dan corak bunga-bunga.
"Surprise lagi, kamu suka?" Ethan berdiri di sebelah Lana, menunjuk ke papan pintu masuk.
Lana tertawa kecil. Dia tiba-tiba didera perasaan geli melihat judul festival kali ini. Setiap tahun tema festival memang berganti-ganti, tahun ini temanya pasangan sungai Yan. Konyol sekali.
"Iya iya aku suka." Lana tersenyum.
Ethan terpesona melihat wajah Lana. "Aku juga suka." gumamnya tanpa sadar.
Lana langsung manyun.
Ethan tertawa menyadari ucapannya barusan.
"Masuk yuk."
Lana mulai melangkah. Dia sudah lama tidak datang ke festival. Seperti banyak orang lainnya, Lana juga menyukai festival karena ada banyak jajanan, pernak-pernik dan even seru.
Rasa lelahnya karena seharian ini berperang di kantor lenyap sudah. Lana sangat antusias.
Lana memakai seragam kerja kemeja pink pastel dan rok sepan selutut warna biru tua, tak lupa sepatu fantovel berhak tujuh senti. Sedangkan Ethan memakai kemeja putih yg dilapisi jaket bomber dan celana khaki. Ethan jarang terlihat memakai dasi.
Sepanjang sungai yg biasanya berisi meja kursi untuk duduk-duduk kini berderet toko-toko aneka jajanan dan minuman. Hampir semua toko dirubung pembeli.
Lalu ada juga toko-toko pernak-pernik. Menjual macam-macam, ada perhiasan perak, mainan, aneka topeng, hiasan kepala, kacamata dan bando lucu, serta banyak lainnya.
Sepanjang jalan, beberapa orang tampak memakai bando-bando lucu atau topeng karakter. Lana jadi ingin pakai juga. Dia berhenti di salah satu gerai.
Lana sedang mencoba jepit hitam dengan hiasan tunas bunga di atas kepala. Ethan refleks mencubit pipi Lana karena gemas melihatnya. Lana balas memasangkan bando lingkaran peri di kepala Ethan dengan berjinjit.
"Imut juga." ledek Lana, tertawa melihat wajah maskulin Ethan berpadu aneh dengan bando yg imut.
Ethan segera melepas bando itu dan mengembalikannya ke rak. Di sebelah bando hewan-hewan, Ethan melihat jepit kupu-kupu yg bisa bergoyang-goyang.
"Lana, lihat." Ethan memasang jepit itu di sisi kiri rambut Lana.
Lana bercermin. Hiasan kupu-kupu itu cantik sekali.
Ethan menoel-noel jepit di kepala Lana hingga kupu-kupu yg terbuat dari per itu bergoyang-goyang lucu.
"Kalau begitu yg ini saja Bu." Lana menunjuk jepit kupu-kupu di kepalanya, mengeluarkan dompet hendak membayar tapi Ethan lebih cepat.
Ethan menerima uang kembalian dan memasukkan kembali dompetnya ke saku belakang celana.
"Terimakasih kembali." ucap Ethan demi melihat Lana yg ngambek.
"Ganti aku yg traktir. Kamu mau apa?" tanya Lana, menunjuk ke deretan bando dan jepit.
Tapi Ethan dengan gaya anak kecil yg riang gembira, berjalan dengan melompat-lompat antusias.
"Yeeyy aku ditraktir. Mau apa yaaa.. Yeyeyeye.." Ethan pura-pura melongok ke kanan dan kiri dengan jari telunjuk di bibir, bingung pilih yg mana.
Lana mau tak mau tertawa melihat tingkah konyol Ethan.
Tak jauh dari sana, ada panggung berkanopi dan suara microfon memanggil manggil.
"Ayo-ayo silahkan kemari. Sebentar lagi even pasangan sejati sungai Yan akan segera dimulai. Bagi kamu-kamu yg merasa yakin dengan pasanganmu, silahkan mendaftar."
Ethan menatap Lana dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Aku mau kesana." tunjuk Ethan. Ia merajuk seperti anak umur lima tahun yg minta dibelikan permen ke ibunya.
"Ayo ayo, ada hadiah menarik bagi tiga pasangan yg beruntung. Apakah pasangan itu kamu? Silahkan mendaftar."
Ethan menarik tangan Lana mendekati panggung.
"What?? Ethan, lepass.."
Tapi laki-laki itu tak peduli.
"Yeyeyeye.. "
Dia malah meledek Lana.
Mereka pun sampai di depan panggung, langsung disambut oleh petugas berpakaian kelinci dengan sukaria. Seorang pria muda dengan gerak cepat menyodorkan lembaran kertas ke arah Ethan, semacam formulir pendaftaran.
Ethan langsung mengisinya tanpa bertanya pada Lana dulu.
Lana mengernyit ngeri, seumur-umur ia belum pernah ikut even apapun yg diadakan di festival. Apalagi ini even pasangan, yg benar saja Ethan..
Pelan-pelan Lana melangkah mundur hendak kabur ketika ia tak sengaja menabrak seseorang.
"M-maaf." Lana menoleh dan kaget.
Seorang pria jangkung memakai setelan jas sedang menatapnya tak percaya. Pria itu memakai topeng Masquerade sehingga setengah wajahnya tertutupi.
Tapi Lana tahu siapa laki-laki itu.
...***...
Kira-kira topengnya seperti ini ya.. 😁