
Beberapa minggu setelah urgent meeting, Lana tidak pernah bertemu dengan sang CEO lagi.
Akhirnya dia lolos masa training dengan hasil yg cukup memuaskan, Lana kini menjadi karyawan kontrak.
Dari sepuluh karyawan training yg diterima masuk bersamaan dengan Lana, setelah evaluasi sejak urgent meeting itu hanya lima orang saja yg masih bekerja di perusahaan ini. Tiga orang lainnya dipecat dan dua lainnya mengundurkan diri.
Di luar dugaan, Pak Marcel ternyata benar-benar memenuhi janjinya pada sang CEO.
Lana tidak pernah terganggu dengan tugas-tugas konyol itu lagi karena Pak Marcel mengerjakan semuanya sendiri. Meski karena itu, Pak Marcel jadi sering marah-marah.
Yah setidaknya Lana bisa fokus dengan jobdesk nya dan tidak selalu lembur setiap hari.
Tetapi dalam hati kecil Lana, akankah jika dia sesekali lembur hingga tengah malam, ia dapat bertemu dengan Koijima Kyoya?
Lana menggelengkan kepala, apa yg ia harapkan?
Memangnya kalau bisa bertemu lagi, apa yg akan ia katakan?
Koijima Kyoya itu CEO, bisa-bisa ia malah bicara hal bodoh lagi atau melakukan hal konyol lagi, dan berakhir dipecat.
Setiap melewati Pojang Matcha di dekat rumahnya, Lana selalu merasa ada yg menonjok perutnya. CEO MT Corporation pernah makan di tempat seperti ini, dan Lana bahkan menyuguhkan pemandangan berbicara dengan ceker??
Sungguh rasanya ingin tenggelam dalam lautan kaki ayam saking malunya.
Lana kembali menginput data ke laptopnya setelah menyeruput kopi hazelnut dingin yg dibeli dari mesin minuman.
Sekarang pukul 10 pagi. Pagi yg damai karena Pak Marcel belum terlihat marah-marah hari ini.
Lana mengintip dari atas bilik, Pak Marcel di mejanya sedang menggaruk garuk kepala sambil sibuk mengetik di laptopnya.
Brak!
Rupanya doa Lana agar hari ini damai pupus sudah.
Pintu ruangan PPIC dibuka dengan kasar hingga membentur dinding dengan keras.
Masuklah sesosok pria yg Lana pikirkan selama beberapa hari ini.
Koijima Kyoya melangkah masuk dengan ekspresi siap membunuh orang.
Pak Marcel segera bangkit dari kursinya, ia kaget bukan kepalang melihat orang nomor satu MT Corporation datang langsung ke ruangannya dengan wajah menyeramkan.
Belum sempat Pak Marcel bicara, sebuah map hitam dihempaskan ke dadanya.
Tanpa siap dengan apa yg sedang terjadi, Pak Marcel luput menangkap map itu dan kertas-kertas putih dari dalam map jatuh bertebaran kemana-mana.
Lana hanya berani mengintip sedikit tanpa berani bersuara sedikitpun. Begitu juga karyawan lainnya, suasana jadi hening mencekam.
Pak Marcel yg sedang memunguti kertas-kertas yg jatuh gelagapan menjawab, "Su-sudah dua minggu ini dia tidak masuk dan tidak ada kabar."
Koijima Kyoya menghampiri Pak Marcel yg setengah jongkok di depan meja.
"Bangun." nada suaranya tajam.
Pak Marcel cepat cepat berdiri dan menghadap sang CEO.
"Anak buahmu tidak ada kabar selama dua minggu dan kau masih santai-santai saja? "
Terlihat rahang Koijima Kyoya mengeras, tampak jelas dia berusaha menahan amarah.
"Dua minggu uang perusahaan hilang sebesar dua milyar dan kau masih santai-santai saja?! "
Lana membelalak, seingat dia Theo bertugas mengurusi proyek pembangunan tower di pelabuhan Junin. Dan memang aneh tiba-tiba dia tidak masuk kerja berhari-hari.
"M-maaf Pak, saya juga sedang mencari tahu keberadaan Theo. Saya mengecek berkas-berkas yg ditinggalkan Theo tapi memang ada keanehan dengan biaya operasion-"
"Alasan klise."
Koijima Kyoya menatap lurus ke mata Pak Marcel.
"Dengar, paling lambat jam 12 siang ini, serahkan semua berkas tower pelabuhan Junin. Perinci apa saja kesalahan dan estimasi biaya keseluruhan nya. Tidak peduli bagaimana caranya, saya minta kabar terbaru dari pencuri licik itu. Semuanya jam 12 siang ini."
"B-baik Pak." Pak Marcel mencicit.
Tanpa babibu lagi, Koijima Kyoya berbalik dan meninggalkan ruangan.
Di pintu tampak dua ajudannya sedang menunggu.
Ketika sang CEO telah benar-benar menghilang, Pak Marcel melorot ke lantai dan membanting kertas-kertas yg sudah dia kumpulkan ke lantai.
"Mati aku. " ucapnya nelangsa.
Lana berkedip, masih tidak mempercayai apa yg baru saja terjadi.
Benarkah yg barusan itu Koijima Kyoya, sungguh kejam dan mengerikan sekali.
Baru kali ini Lana bertemu orang yg membuat bulu kuduknya berdiri.
...***...