
Lana menatap piring di hadapannya bagai tatapan seekor singa yg melihat daging. Air liur Lana sudah hampir menetes, dia benar-benar lapar.
Aroma spaghetti aglio e olio ini sangat menggugah selera. Lana sudah tidak sabar ingin cepat menyendoknya dengan garpu.
Kyoya datang mendekat sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku. Lalu duduk sambil meminta maaf pada Lana karena sudah membuatnya menunggu. Kyoya baru kembali dari toilet.
Lana tersenyum mengatakan tidak apa-apa, tetapi ternyata perutnya tidak bisa diajak kompromi. Terdengar bunyi kruuukk cukup keras.
Lana langsung tertawa salah tingkah. "Pemandangan nya sangat indah ya."
Lana menyibukkan diri menikmati langit senja di hadapannya. Mereka duduk di balkon di sebuah restoran Italia, di lantai tujuh hotel bintang lima.
Kyoya berpura-pura tidak mendengar suara aneh itu. Ia mulai memegang sendok dan garpu nya, mempersilahkan Lana makan sambil tersenyum geli.
Lana akhirnya menggulung mie itu memakai garpu, menahan malu setengah mati.
Ia melahap sebuah gulungan besar dan mendadak tersenyum bahagia. Oh, lezat sekali. Hilang sudah semua rasa malunya, tanpa babibu Lana melanjutkan makan dengan lahap.
Tidak butuh waktu lama, piring porselen itu pun kosong. Lana mendadak ingin minum soda.
Dan waktunya sangat pas, seorang pelayan berjalan di dekat meja Lana.
Lana memanggilnya dan memesan tambahan satu gelas soda.
Pelayan itu pergi dan Lana menyadari Kyoya sedang menatapnya. Rupanya lelaki itu telah menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Tiba-tiba aku ingin minum soda." Lana menjelaskan.
Rasanya dia menjadi seorang gadis kecil berumur lima tahun yg sedang minta ijin kepada ayahnya agar memperbolehkannya minum soda.
Kyoya hanya mengangguk. "Bagaimana makanannya?" Lelaki itu mengelap mulutnya dengan elegan.
Lana berbinar, "Enak sekali. Terimakasih sudah mengajakku makan di sini. Seumur hidup aku tidak akan punya keberanian pergi kesini sendiri."
Lana ingat buku menu yg berisi deretan masakan dengan nama yg sangat susah Lana ucapkan. Masakan paling murah disini seharga ratusan ribu, cukup untuk biaya makan satu bulan.
Kyoya tersenyum. "Sama-sama. Senang kamu menikmati makanannya. Cocok dengan seleramu kurasa."
Lana mengangguk. "Sangat cocok. Oh aku juga bisa memasak spageti bolognese, yah.. meskipun tidak seenak ini tapi masih layak dimakan. Cika sangat menyukai spageti buatanku."
Pelayan datang membawa pesanan Lana, menaruh gelas berisi es batu dan sekaleng cola merah di dekat Lana. Setelah Lana mengucapkan terimakasih, pelayan itu pergi dengan sopan.
"Aku tidak sabar menunggu kesempatan untuk bisa mencicipi masakan yg kamu buat."
Kyoya menatap Lana yg fokus membuka kaleng soda dan menuangnya ke gelas. Terdengar bunyi cess yg Lana rindukan. Kapan ya terakhir dia minum cola. Ditempat kerja Lana seringnya meminum kopi.
Lana mendekatkan gelas itu ke mulutnya. "Siap-siap menelepon ambulance."
Lana tertawa kecil lalu menyeruput soda di gelas. Lana meneguknya tanpa henti hingga langsung berkurang setengahnya. Lalu ber-ahh ria. Segar sekali.
Detik berikutnya gelas itu sudah raib. Berpindah ke sisi Kyoya. Lelaki itu menyodorkan gelas berisi air putih ke hadapan Lana.
"Minum ini."
Kyoya menatap Lana. Jika sudah melihat tatapan mata lelaki itu berubah menyeramkan, mau tak mau Lana terpaksa mematuhinya. Aura lelaki itu jika sudah berkehendak sangat sulit Lana tolak.
Lana meraih gelas dan mendekatkannya ke mulut.
"Habiskan." perintah Kyoya.
Dengan terpaksa Lana meneguk air putih itu hingga tandas. Lalu menaruh gelas ke meja.
Lana memegang perutnya. Rasanya perut Lana jadi kenyang karena kebanyakan air.
Kyoya tersenyum puas.
"Good girl." pujinya sambil melambai ke pelayan untuk membersihkan meja dari peralatan makan yg sudah kotor.
Kyoya memesan secangkir kopi dan kue-kue kecil untuk camilan. Saat Lana ditanya ingin memesan apa, Lana menggeleng. Dia sudah sangat kenyang, tidak ingin apa-apa lagi.
"Soda akan membuat perutmu tidak nyaman. Air putih jauh lebih bagus." Kyoya berkata.
Lana mengangguk patuh. Lalu memalingkan wajah melihat pemandangan langit yg kini berubah gelap. Indah.
Jujur saja Lana agak sedih sekarang. Sejak mengenal Kyoya, Lana baru mengetahui sifat lelaki itu yg control freak seperti ini membuat Lana sedikit tidak suka tapi dia tidak bisa berkutik.
Kyoya terbiasa mengatur perusahaan dengan cepat dan efisien. Dia terbiasa semua perintahnya dituruti. Saat bersama Lana dan ada yg tidak sesuai dengan kehendaknya, sifat bossy itu muncul.
Pelayan datang membawa kopi dan kue-kue. Setelah meletakkannya ke meja, pelayan itu pergi dengan sopan.
Kyoya menyeruput kopinya, matanya melirik Lana yg tiba-tiba memalingkan wajah dan lebih suka memandang langit.
Kyoya meletakkan cangkirnya agak keras, bunyi trek dentingan antara cangkir dan tatakan membuat Lana menoleh. Mata mereka bertemu.
"Is there something wrong?" tanya Kyoya.
Lana menggeleng tapi tidak mau menatap mata tajam itu.
"Did you become like this because of soda??" tanya Kyoya lagi.
Lana menggeleng.
"A-aku ke toilet dulu. Sepertinya karena terlalu banyak minum."
Lana bangkit dan bergegas pergi.
...***...