
"Jadi kau adalah orang yang seperti itu? Apa tidak masalah, siapapun itu-bahkan Jongin sekalipun-kau masih tetap mau melakukannya untuk mendapatkan seorang anak? Tidak peduli siapapun mereka, kau masih akan melakukannya? Aku benar-benar tidak menyangka kau orang yang seperti ini? Im Yoo Ran, dimana harga dirimu?"
Yoo Ran terbangun dengan kejutan yang membuat nafasnya naik-turun. Dia tidak habis pikir kejadian kemarin membawanya pada mimpi buruk seperti itu. Mimpi yang memalukan, mimpi yang menakutkan. Tapi ekspresi Sehun dalam mimpinya menunjukkan kejujuran yang begitu nyata, kalimat yang Sehun ucapkan juga tampak jelas. Tapi dalam penglihatan dan pendengarannya, yang barusan itu seperti bukan mimpi.
Yoo Ran memastikan dengan melihat ruangannya sebentar.
Kertas kecil berwarna kuning menempel pada dinding, di sana tertulis beberapa catatan penting yang seharusnya tidak dia lewatkan. Lalu sekeranjang baju kotor yang tadinya berada di dekat pintu pindah ke sisi meja karena semalam Yoo Ran menendangnya dengan sekuat tenaga-sebagai pelampiasan atas tindakan bodohnya dengan Kai. Juga, beberapa perabot yang mengisi ruangannya menandakan bahwa dia benar-benar berada dikamarnya, bukan di pinggiran sungai di daerah Jinhae (Jinan) dan berhadapan dengan Sehun seperti beberapa menit yang lalu.
Yoo Ran mengerang sambil menjambak rambutnya karena menyesali apa yang terjadi kemarin. Dia juga menyayangkan keberadaan Sehun yang memergoki dirinya dan Kai dalam kondisi seperti itu. Tapi untungnya kalimat pedas yang keluar dari mulut Sehun tadi hanya ada di dalam mimpi.
Kemarin Yoo Ran kabur begitu saja tanpa menyapa Sehun, melirik Kai sebentar dengan tatapan mematikan-memberi sinyal agar Kai menutup mulutnya-sebelum membanting pintu dan menempelkan daun telinganya untuk menguping. Dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan di luar. Yoo Ran berharap Kai cukup pintar untuk tidak mengatakan apa yang terjadi dengannya kepada Sehun.
Suara Kai yang tidak begitu jelas-anehnya-terdengar biasa saja saat menyapa Sehun, dan jantung Yoo Ran tiba-tiba saja berdegup kencang, dia menjadi gugup dengan situasi yang tidak terbayangkan ini.
Yoo Ran penasaran dengan apa yang akan Sehun katakan. Tapi setelah mendengar Sehun membalas sapaan Kai dengan nada biasa dan tidak mengatakan apapun lagi, alis Yoo Ran yang lurus membentuk lengkungan karena curiga. Sehun tidak bertanya tentang situasi ini, bukankah itu aneh? Apakah Sehun tidak memiliki pemikiran yang buruk tentang situasi ini? Atau Sehun benar-benar tidak peduli padanya dan memilih untuk mengabaikannya saja? Tiba-tiba Yoo Ran merasa kecewa karena tidak ada reaksi seperti yang dipikirkannya, tapi dia juga merasa lega karena tidak dipermalukan di depannya.
Yoo Ran yang masih duduk di tempat tidur belum sepenuhnya sadar. Dia tidak percaya harus melalui hari seperti ini-setelah kejadian kemarin. Bagaimana dia harus berhadapan dengan Sehun?
Setelah beberapa menit sibuk membayangkan kejadian kemarin dan alam mimpinya yang buruk, Yoo Ran meraih ponsel di atas nakas dan melihat bahwa itu masih pukul 6 pagi. Masih cukup banyak waktu untuk bersiap dan pergi kerja. Tapi masalahnya Yoo Ran tidak ingin bertemu Kai. Dia tidak mau melihat wajahnya karena kejadian kemarin, dan setelah dipikirkan lagi memang sebagian besar adalah salahnya, kenapa juga dia harus maju lebih dulu?
Yoo Ran kembali berada dalam kebimbangan untuk membolos atau tidak.
.
.
Berjalan melewati pintu apartemen sampai ke depan lift seharusnya tidak memakan waktu banyak, tapi untuk berjalan sampai ke sana Yoo Ran harus memperkirakan waktu yang tepat agar tidak bertemu dengan Sehun. Yoo Ran bertanya-tanya apakah Sehun sudah keluar rumah dan pergi bekerja, tapi pekerjaan seorang photographer tidak pernah ditentukan oleh waktu-tidak seperti orang yang duduk di balik meja seperti dirinya. Jadi memang ada banyak kemungkinan Sehun berada di rumahnya.
Yoo Ran nekat pergi bekerja meskipun tahu akan beremu Kai di sana, meskipun dia harus secara sembunyi-sembunyi keluar dari apartemennya, pendapatannyalah yang terpenting
Yoo Ran berjalan ke balkon dan mengintip dari sana, tapi dia tidak mendapat hasil apapun, dia juga tidak mendengar apapun saat menguping dari balik tembk yang bersebelahan dengan apartmen Sehun. Yoo Ran berlari-lari kecil ke arah pintu dan menguping lagi. Kembali berjalan ke arah intercom dan mengecek bayangan yang di tangkap di luar layar, lalu kembali lagi ke pintu untuk menguping setelah tidak mendapatkan hasil.
Yoo Ran yang membungkuk di didepan pintu tiba-tiba saja berdiri tegak.
"Tunggu, kenapa aku harus merasa cemas begini? Kalau dia bertanya, katakan saja Kai habis membantuku memindahkan meja dan lemari, karena itulah penampilannya berantakan. Lalu Kai mematahkan kaki meja dan aku marah-marah. Kami berkali sebentar, karena itulah penampilanku juga kacau. Benar, seperti itu. Sepertinya bisa dijadikan alasan. Oke, Yoo Ran kau sangat pintar!"
Yoo Ran menarik nafas dan mengambil sepatu hak tinggi di rak lalu memeluknya di depan dada. Dia menarik pintunya dengan pelan sampai menimbulkan bunyi deret yang membuat Yoo Ran meringis. Sebelum dia keluar dia mengedarkan padangannya lebih dulu, lalu kepalanya menyembul keluar dari celah pintu untuk melihat kearah pintu tempat tinggal Sehun.
Setelah memastilah bahwa Sehun tidak akan keluar dengan tiba-tiba, Yoo Ran melangkahkan kakinya keluar.
Telapak kakinya yang hanya di lapisi stoking berwarna kaki menyentuh lantai yang berdebu. Dia berjinjit, lalu berlari kecil dengan konyolnya ke depan lift yang berjarak 7 meter. Dia menekan tombol berkali-kali, berdoa agar pintu lift cepat terbuka sambil kepalanya menoleh bolak-balik ke arah pintu apartemen Sehun.
Kalau dia bertemu dengan Sehun dia akan menggunakan alasan seperti yang di pikirkannya tadi, kalau dia tidak bertemu Sehun itu berarti sebuah keberuntungan untuknya.
Tapi sayangnya Yoo Ran hampir tidak pernah mengalami sebuah keberuntungan. Pendengaran Yoo Ran dan instingnya mengatakan bahwa seseorang berada di balik pintu apartemen Sehun. Yoo Ran bahkan mendengar suara derat dua benda yang saling bergesekan. Semua kalimat yang tersusun dengan rapi mendadak hilang. Yoo Ran berubah panik dan dia buru-buru berlari ke arah pintu darurat sebelum Sehun keluar.
Dari celah pintu, Yoo Ran mengintip dan melihat Sehun keluar dari pintu apartemennnya. Yoo Ran langsung bersembunyi dan menutup pintu dengan pelan sampai tidak menimbulkan bunyi yang mencurigakan.
Yoo Ran yang sembunyi di tangga darurat menyesali perbuatannya yang konyol, tapi dia terlanjur bersembunyi, akan aneh jika dia tiba-tiba keluar dari sana dan menyapa Sehun seperti hari-hari sebelumnya. Karena sudah seperti ini, sekalian saja Yoo Ran menghindari Sehun sampai dia keluar dari gedung.
Setelah menuruni tangga dan melihat Sehun keluar dari gedung, Yoo Ran bernafas lega dan memakai sepatunya sebelum mengikutiknya keluar. Tapi Yoo Ran tidak tahu bahwa ketika dia berjalan berlawanan arah, Sehun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dia melihat punggung Yoo Ran menjauh. Berjalan dengan sesekali membenarkan sepatu haknya.
"Pantas saja aku mencium bau parfumnya."
Sehun bergumam dan berpikir kapan tepatnya Yoo Ran keluar, kenapa mereka tidak berpapasan, kenapa dia hanya mencium jejak parfum Yoo Ran di depan Lift? Tapi semua pertanyaan itu tidak akan terjawab jika dia tidak bertanya, dan kalau pun dia bertanya itu hanya akan membuat Yoo Ran merasa tidak nyaman. Sehun mengabaikannya dan berbalik untuk melanjutkan perjalanannya menunju studio.
.
.
Kai mendatangi meja Yoo Ran sambil membawa file dan dan bertanya, "Ran, apa kau sudah selesai menyusun katalognya? Aku harusn menyerahkannya ke atasan."
Yoo Ran yang sibuk mengetik berkata kepada teman di sebelahnya, "Na Bi, katanya padanya bahwa aku sudah menyerahkannya langsung ke atasan."
Na Bi yang mendengar itu hanya terbengong. Lalu menatap ke arah Kai yang berdiri di belakang kursi Yoo Ran dengan wajah yang sama herannya.
"Hei, kau mengabaikanku?"
"Na Bi, suruh orang itu pergi kalau urusannya sudah selesai."
"Yaa!"
Yoo Ran berdiri dari kursi dan menghampiri rekannya di meja lain saat Kai menyerukan dirinya dengan lantang. Sambil membawa selembar kertas, Yoo Ran sibuk bertanya kepada rekannya dan mengabaikan Kai yang memasang wajah kesal sekaligus tidak percaya.
Hal itu berlanjut sampai jam pulang kerja. Yoo Ran berhasil kabur tanpa sepengahuan Kai yang tadi terlihat masuk ke ruangan atasan. Rekannya sepat bertanya, apakah mereka belum berbaikan? Tapi Yoo Ran tidak menjawab dengan begitu jelas dan tanpa sebuah pernyataan, hanya melihat dari sikap keduanya, rekannya merasa yakin kalau keduanya memang belum berbaikan.
Aksi bungkam Yoo Ran tidak hanya sampai satu atau dua hari saja. Sikapnya yang kekanakan dengan mengabaikan Kai berlangsung selama dua minggu lebih-rekor baru selama hubungan pertemanan mereka.
Kai tidak mengeluhkan apapun, dia mengikuti permainan Yoo Ran yang bungkam dan selalu meminjam mulut Na Bi ketika harus berbicara dengannya. Orang-orang disekitar mereka mulai merasa tidak nyaman, tapi Kai maupun Yoo Ran mengabaikannya. Jadi selama dua minggu itu mereka tidak pernah berkomunikasi secara langsung.
"Kenapa aku seperti melihat kalian menghindar satu sama lain?"
Chanyeol bertanya saat melihat Yoo Ran menusuk kentang dengan garpu. Matanya menyipit penuh curiga tapi jejak senyum ejekan itu tidak pernah hilang.
Rasanya menyebalkan sekali melihat Chanyeol berperilaku seperti itu, tapi satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara hanyalah 'dia' (CY) jadi Yoo Ran akan mengabaikan perilaku Chanyeol kali ini.
"Aku pikir kalian sudah baikan. Ternyata belum ya?"
"Tutup mulutmu, tidak lihat aku sedang makan?"
"Tidak perlu marah-marah begitu kan?"
"Kau membuatku tidak nafsu makan."
"Bukannya itu porsi ketigamu?"
Yoo Ran meletakkan sendok dan garpunya, membuat Chanyeol dikejutkan dengan suara tubrukan kecil yang nyaring. Chanyeol meringis dan Yoo Ran kebali mengambil garbu untuk menusuk daging.
Melihat dari ekspresi Yoo Ran kali ini, Chanyeol bisa menangkap bahwa ini bukan pertengkaran biasa. Keduanya (YR dan Kai) memang sahabat baik sejak kecil, tapi baru kali ini Chanyeol melihat Yoo Ran begitu marah dengan Kai. Chanyeol heran, hanya karena Kai datang dan mabuk di tempatnya, kenapa juga Yoo Ran harus ngambek sampai berminggu-minggu?
Yoo Ran menolak pulang saat Chanyeol bersiap menutup restorannya. Para pegawai sudah pergi setelah selesai brifing, dan Yoo Ran masih duduk sendirian di sudut ruangan sambil menikmati segelas bir.
"Bukannya kau harus pulang?"
Chanyeol bertanya saat mendatangi Yoo Ran, duduk di depan mejanya dan melihat Yoo Ran menatapnya tapi seolah tidak menatapnya. Chanyeol melihat Yoo Ran sudah menghabiskan 3 gelas bir. Tapi Chanyeol tahu itu tidak akan membuat Yoo Ran mabuk.
"Hey, kau baik-baik saja kan?"
Yoo Ran mengingat seberapa keras dia menghindari Sehun semingguan ini. Dia merasa malu dengan apa yang terjadi di depan apartemen waktu itu. Sudah jelas pikiran Sehun tidak akan sepositif dugaannya. Melihat dari cara Sehun memandangnya, Sehun-setidaknya-pasti mencurigai hubungannya dengan Kai.
Ketika dia berusaha untuk berani mehadapi Sehun secara langsung, nyalinya yang begitu besar tiba-tiba menciut. Seperti saat Yoo Ran memutuskan untuk keluar rumah dan mendaur ulang sampah di malam hari. Dia sudah memantapkan dirinya bahwa jika dia bertemu dengan Sehun dia akan menyapanya. Tapi ketika dia sedang memilah sampah dan melihat Sehun baru pulang dari tempat kerja, Yoo Ran tanpa sadar sudah menunduk dan bersembunyi di balik deretan tempat sampah. Yoo Ran menunggu di sana selama beberapa menit sambil digigiti nyamuk karena Sehun berdiri di dekat parkiran dan mengobrol dengan tetangganya yang lain. Sampai saat itu, Yoo Ran sadar bahwa dia belum benar-benar siap bertemu dan bertatap muka dengan Sehun.
Yoo Ran mulai jarang nongkrong di balkon, dia jarang menggunakan lift dan memilih menggunakan tangga darurat. Yoo Ran juga selalu pergi lebih pagi dan pulang larut malam. Karena usaha kerasnya itu dia cukup kelelahan sampai-sampai hidupnya sudah seperti artis besar yang menghindari wartawan.
"Park, bagaimana ini? Aku malu sekali."
"Memangnya apa yang kau lakukan?" Chanyeol mengambil gelas Yoo Ran dan meminum bir dalam gelas yang sama. "Apa ini ada hubungannya dengan Kai?"
"Jangan bawa-bawa nama orang itu!"
"Sepertinya benar-benar serius."
Yoo Ran tidak membalas ucapan Chanyeol.
"Aku yang membuatmu malu seperti ini? Hey, kalian tidak mungkin kan-" Ekspresi Chnyeol tiba-tiba terlihat begitu buruk. Dia terkejut dengan pikirannya sendiri tapi dia cukup penasaran ingin tahu kebenarannya. "-kalian tidak benar-benar melakukannyakan? Kau serius tidur dengan Kai?!"
"Apa yang kau bicarakan?! Kau pikir aku sudah gila?! Pria bejat seperti itu, kau pikir aku mau melakukannya dengan dia?"
Wajah Chanyeol yang khawatir berubah ketika mendengar penyangkalan itu. Dia merasa lega karena temannya cukup waras untuk tidak melakukan hal bodoh.
"Aku mengerti kau menginginkan seorang anak, aku juga paham kau tidak mau menikah. Tapi tolong, pikirkan baik-baik."
"Kau ini bicara apa sih?"
Yoo Ran bersandar pada kursi dan mengeluarkan sebungkus rokok. Dia mengeluarkan pematik, menjepit satu batang rokok diantara bibir sebelum menyalakannya.
Chanyeol yang duduk di depannya hanya diam sambil mengamati, tapi tatapannya begitu serius, dia berpikir kapan tepatnya Yoo Ran berubah menjadi orang yang seperti ini. Wanita di depannya ini adalah orang yang sama dengan wanita yang menangis karena luka sayatan di tangannya saat SMA. Yoo Ran sudah banyak berubah.
"Kapan tepatnya kau menjadi seperti ini?"
"Menjadi apa maksudmu?" Yoo Ran meniup asap dari dalam mulutnya. Menatap Chanyeol seolah tidak peduli kalau temannya itu akan mencemoohnya lagi.
"Saat aku membiarkanmu menyentuh rokok-milikku-untuk pertama kali, itu karena aku tidak bisa menghiburmu setelah putus dengan pria bajingan seperti Taeyong. Sekarang kau terlihat seperti wanita penghuni bar yang berdiri di pinggir jalan. Apa setelah ini kau akan melambai kepada mereka dan memintanya memberimu anak?"
"Semua orang bisa berubah."
"Jadi kau akan melambaikan tangan dan menerima siapapun yang bersedia menusukmu?"
"Kau pikir aku ini wanita macam apa?" Yoo Ran menatap tajam kearah Chanyeol. Dia lalu mengambil gelas miliknya, menenggak minumannya sekali agar perasaan jengkelnya hilang. Dia lalu kembali bicara. "Tidak ada manusia yang tidak akan berubah. Cinta dan uang adalah bukti sebuah perubahan itu. Aku, kau, bukankah kita juga begitu? Aku dulu sangat menyukaimu tapi sekarang sudah tidak. Kau dulu tidak menyukai Gayoung tapi sekarang dia menjadi pacarmu. Lucu sekalikan?"
Waktu seakan-akan berhenti ketika Chanyeol mendengar hal yang baru pertama kali diketahuinya. Yoo Ran tersenyum tapi tidak dengan Chanyeol. Bahkan ketika Yoo Ran menunduk untuk mengambil gelas birnya lagi, Chanyeol yang duduk di depannya masih tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Yoo Ran.
"Kau... bilang apa barusan?"
"Apa?"
"Kau, padaku, dulu?"
"Aku dulu pernah menyukaimu. Memangnya aku belum pernah bilang?"
Tatapan Yoo Ran yang terlihat biasa entah bagaimana membuat Chanyeol tidak bisa berkata-kata. Ada sesuatu yang membuat Chanyeol merasa tidak nyaman. Sudah sejak lama dia tidak merasakan itu, tapi kenapa harus sekarang?
Yoo Ran melirik Chanyeol dan kembali berkata, "Saat kau SMA, apa kau tidak sadar kalau kau begitu mencolok?"
Yoo Ran mengingat sekali lagi saat Chanyeol menggunakan seragam sekolah dan duduk di atas meja dikelilingi beberapa teman sekelas. Sinar matahari menyorot kearahnya, membuat wajahnya yang tertawa terlihat begitu menyilaukan dimata Yoo Ran.
Chanyeol adalah orang yang menyenangkan, dia pandai bergaul dengan siapapun, dia juga dicintai oleh siapapun. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat beberapa orang tersenyum, setiap gerakannya menarik perhatian banyak orang, setiap tindakannya membuat orang lain merasa segan. Seperti itulah dia, seperti itulah Chanyeol menarik perhatiannya.
Yoo Ran tidak benar-benar mencoba mendekatinya, dia tidak berusaha keras seperti temannya yang lain yang mencoba menarik perhatian Chanyeol. Yoo Ran hanya bertindak seperti teman sekelas pada umumnya, yang menjawab jika di tanya, yang bertanya jika itu perlu, yang meminta bantuan jika dia terdesak.
Yoo Ran tahu dia tidak boleh salah paham dengan kebaikan Chanyeol tapi Yoo Ran terlanjur menyukai Chanyeol. Maka dia akan terus seperti itu, diam-diam menyukainya, diam-diam mengaguminya.
Mereka sudah seperti teman sejak masa kecil, saling mengandalkan satu sama lain, dan mungkin karena itu juga beberapa teman perempuan meminta bantuan Yoo Ran agar dijodohkan dengan Chanyeol. Yoo Ran semakin merasa bahwa hubungan mereka tidak akan lebih dari kata teman. Pada kenyataannya, Yoo Ran tidak ingin membuat Chanyeol canggung dan menjauhinya secara tiba-tiba begitu Yoo Ran menyatakan cinta.
.
.
Itu adalah hari minggu seperti minggu-minggu sebelumnya. Tapi Yoo Ran yang memutuskan berdiam diri di apartemen merasa cemas. Selama tiga hari dia tidak melihat Sehun, tidak mendengar suaranya, tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sebelah apartemennya.
"Apa dia ada pekerjaan di luar kota?" Yoo Ran bergumam saat berdiri di balkon. Jarinya mengetuk-ngetuk pembatas besi sambil celingukan mencari keberadaan penghuni apartemen sebelah. Tapi dia tidak melihat tanda-tanda kehidupan. Pintu gesernya tertutup. Tanaman kaktus yang biasa di pajang Sehun di luar balkon juga tidak ada.
"Sepertinya dia memang pergi."
Yoo Ran menghela nafas panjang. Merentangkan kedua tangannya ke atas lalu kesamping untuk membuat peregangan. Yoo Ran mengambil ponsel dari saku dan langsung menghubungi Chanyeol.
Yoo Ran begitu saja memutuskan akan pergi kemana dia hari ini dan tidak ada bantahan apapun dari Chanyeol ketika Yoo Ran mengajaknya ke tempat arena latihan tinju.
Saat Chanyeol datang, Yoo Ran sudah menghabiskan waktu selama 20 menit untuk pemanasan. Dia melambaikan tangannya yang tertutup sarung tinju, tapi Chanyeol yang berjalan mendekat tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Kenapa masih berdiri di sana? cepat ganti bajumu."
Yoo Ran memerintah seperti seorang instruktur. Dia lalu menunjuk Chanyeol dan membiarkan Chanyeol memulai pemanasan begitu melihat Chanyeol muncul dengan pakaian yang berbeda. Setelah beberapa gerakan memukul dan tendangan, Yoo Ran menghentikan Chanyeol dan mengatakan siap untuk memulai satu ronde pertandingan.
Dalam hal ini, Chanyeol selalu menjadi orang yang mengalah. Dia tidak mengarahkan tinjunya, dia hanya menghindar dan menghalangi, kalau sudah seperti itu Yoo Ran akan protes dan menginjak kaki Chanyeol agar Chanyeol berlatih dengan serius. Tapi sekali Chanyeol serius, dia berhasil meninju perut Yoo Ran-dengan kekuatan yang tidak seberapa. Yoo Ran akan mengeluh, marah kepada Chanyeol dan memukulnya habis-habisan.
Tidak ada aturan main dalam pertandingan mereka, hal itu hanya dilakukan untuk menghilangkan stress. Dan itu rasanya menyenangkan karena mereka menghabiskan waktu bersama setelah hari-hari yang cukup melelahkan.
Sebenarnya Chanyeol sedang banyak pikiran karena hubungannya dengan Gayoung. Tapi dia berterimakasih karena Yoo Ran ada bersamanya meskipun sesekali dia harus mendengarkan ceramahan yang tidak mengenakkan.
Chanyeol sadar bahwa ketika mereka hampir selalu menghabiskan waktu bersama itu artinya mereka sedang menghindari satu masalah. Entah itu Chanyeol dengan pacarnya atau Yoo Ran dengan kehidupan sosialnya.
Tapi hal lain yang mengganggu pikiran Chanyeol adalah pengakuan Yoo Ran tiga hari yang lalu. Entah bagaimana itu sangat mengganggu, entah bagaimana Chanyeol merasa di tarik ke masa lalu.
Di halaman parkir di depan apartemen Yoo Ran, Chanyeol yang merasa terganggu akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Ran?"
"Hem?" Yoo Ran yang sibuk mengaduk-ngaduk tasnya hanya bergumam dan tidak terlalu menghiraukan Chanyeol. Dia sedang mengecek apakah ada barangnya yang tertinggal? Dia tadi tidak menemukan ponselnya, mungkin itu terselip di antara pakaian kotor.
"Kau mengatakan pernah menyukaiku kan?"
"Itukan sudah lama sekali."
"Sejak kapan kau menyukaiku?"
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin tahu."
"Aku juga tidak tahu, aku tidak ingat-Ah, mana sih ponselku?"
"Kenapa dulu kau tidak bilang padaku?"
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin tahu."
"Itu karena kau adalah temanku."
"Karena aku temanmu? Hanya itu? Benar karena itu?"
Yoo Ran menghentikan aktifitasnya sejenak, tapi tangannya sudah menggenggam ponselnya di dalam tas. Dia sedikit terkejut karena mendengar nada yang tidak biasanya. Saat dia mendongak, dia melihat tatapan Chanyeol yang tidak biasa mulai mengusik dirinya.
"Lalu, apa kau mau pertemanan ini berakhir hanya karena sebuah pernyataan sepihak? Itu karena aku tidak mau kita menghindar satu sama lain kalau semua tidak berjalan dengan semestinya. Kau tahu kan, hubungan yang diawali dari perteman pada akhirnya tidak akan menghasilkan apapun. Ketika kau kehilangan pacar, kau juga akan kehilangan teman."
"Itu mungkin terjadi kepada mereka, tapi belum tentu terjadi padamu."
Yoo Ran hampir terbawa suasana karena perubahan mood Chanyeol yang mendadak, tapi Yoo Ran berhasil menanganinya dengan baik. Dia tersenyum, tertawa seperti biasanya karena menganggap bahwa itu hanya obrolan mengenang masa lalu yang terkesan lucu.
"Yaa! Kau mabuk? Kenapa bicaramu aneh sekali. Ada masalah apa lagi dengan Gayoung? Masih belum baikan?"
Chanyeol mengalihkan pandangannya ke depan, meluruskan tangannya yang memegang stir kemudi, lalu menghela nafas sebelum menjawab, "Dia tidak mengangangkat panggilanku."
"Yaa! Kau-"
"Aku sudah berusaha berbaikan, tapi dia yang seperti itu. Jadi ya sudah."
"Kau mana boleh begitu. Gayeoung itu sudah cukup baik untukmu. Tidak banyak wanita sepertinya yang mau dengan pria tidak karuan sepertimu. Pokoknya kau jangan sampai benar-benar putus dengannya."
Itu adalah kalimat yang selalu Yoo Ran katakan sepanjang hari ketika Chanyeol menyinggung nama Gayoung dalam percakapan mereka. Dia benar-benar tulus mengatakannya, tidak sedikitpun dia berpikir kalau Chanyeol akan menyudahi hubungannya dengan Gayoung.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Yoo Ran bertanya saat Chanyeol menatapnya dengan serius. Membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku sedang berpikir,"
"Berpikir soal apa?"
"Aku berpiki kenapa dulu kau tidak pernah bilang bahwa kau suka padaku."
Topik ini lagi. "Apa gunanya?"
"Karena mungkin saja sekarang kita akan menjalani kehidupan yang berbeda."
Dahi Yoo Ran membentuk garis lengkungan. Yoo Ran merasa yakin kalau Chanyeol sedang mabuk. Untung saja mereka tidak mengalami kecelakaan saat Chanyeol sedang mengemudi. Dan polisi yang biasanya berpatroli untung saja sedang tidak sedang beroprasi. Sepertinya temannya itu memang sedang banyak pikiran. Apa ini sebuah pelarian dari semua masalahnya dengan Gayoung-agar dia (CY) tidak banyak memikirkan GaYoung lagi?
Chanyeol memiliki pikiran yang tidak masuk akal sejak mendengar pengakuan Yoo Ran yang waktu itu. Padahal Yoo Ran tidak memiliki niatan untuk merubah apapun. Yoo Ran juga hanya menganggapnya sebagai teman. Hubungan mereka tidak mungkin lebih dari itu. Yoo Ran tidak mungkin melewati batas dan menusuk Gayoung dari belakang-meskipun sempat terlintas dalam pikirannya bahwa Chanyeol bisa membantu menyelesaikan masalah yang dialaminya.
"Seharusnya waktu itu, kau mengatakannya saja." Karena mungkin aku akan mengatakan hal yang sama. "Setidaknya aku tahu, meskipun kita pada akhirnya hanya seperti ini." Setidaknya aku tahu bukan hanya aku yang merasakannya. "Apa kau tidak menyesal-saat tahu kau cukup terlambat untuk mengatakan ini?" Karena aku mungkin sedikit menyesalinya.
Untuk beberapa saat Yoo Ran tidak bisa membalas satupun kalimat dari Chanyeol. Mendadak semuanya menjadi sangat mengganggu kenyamannya, baik keberadaan Chanyeol maupun kalimat yang diucapkannya.
Apa jadinya saat Chanyeol mengungkit itu? Apa yang bisa Yoo Ran lakukan saat Chanyeol membuat celah dan menumbuhkan angan-angan kepada dirinya? Tidak ada wanita yang bisa menahan godaan semacam ini, apalagi dalam kondisi kritis. Seperti saat kau mengalami serangan jantung mendadak di pinggir jalan dan membutuhkan CPR, kau tidak pernah bisa memilih dengan siapa kau melakukan kontak fisik, kau tidak bisa memilih siapa yang akan memberikanmu nafas buatan.
"Apa kau merasa lebih baik setelah mengatakan semuanya?"
Chanyeol bertanya dan Yoo Ran masih berada diantara kenyataan dan halusinasi. Benarkan yang didepannya ini adalah Chanyeol, yang selalu mengejeknya tentang kehidupan sosialnya, yang selalu menudingnya sebagai wanita yang bodoh, yang selalu lebih memilih menghiburnya dengan dua botol soju daripada kalimat pujian?
Dengan perasaan tidak nyaman dan setelah banyak pertimbangan, Yoo Ran akhirnya bertanya "Kenapa kau menanyakan itu? Kenapa kau harus mengungkit hal itu?"
"Kau mungkin mengatakannya karena sejak dulu kau ingin melakukannya."
Dahi Yoo Ran semakin berkerut karena sebuah pernyataan sepihak dari Chanyeol. Dia ragu ketika memiliki pemikiran untuk mengakhiri percakapan ini. Semuanya sudah diluar kendali, semuanya sudah tidak masuk akal lagi.
"Sekarang, giliranku melakukan hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu. aku tidak ingin menyesalinya."
Sebuah kembang api seperti menyala terang di depan mata Yoo Ran, suara ledakannya membuat jantungnya berdentam karena sebuah kejutan, membuat telinganya berdengung, membuat dia tidak sadar menutup mata karena percikannya yang menyakitkan.
Saat Yoo Ran kembali membuka mata, dia sadar bahwa Chanyeol sudah menciumnya di bibir. Mengecup setiap sudut mulutnya, mengendus permukaan kulitnya, memaksa lidahnya untuk masuk dan mengabsen setiap deretan giginya.
Dimasa lalu, Yoo Ran mungkin akan melompat kegirangan kalau mendapat perlakuan seperti ini, tapi keadaan sekarang sudah tidak sama seperti dulu. Meskipun begitu, dulu dia juga sempat memimpikikan hal ini.
Di luar sangat gelap, lampu jalan berada jauh dari tempat Chanyeol memarkirkan mobilnya. Tidak satupun orang yang melewati tempat itu dan pergerakan tangan Chanyeol yang menyentuh perut dan menyingkap kaos tipis milik Yoo Ran tidak disadari oleh keduanya. Ketika tangan Chanyeol menyentuh permukaan bra yang padat, Yoo Ran terkejut ketika tahu Chanyeol menyudahi ciumannya.
Chanyeol menarik wajahnya dan menatap Yoo Ran sebelum bicara, "Bukankahkah kau belum menemukan siapapun? Apa kau mau melakukannya denganku?"
"Apa?"
Mungkin karena perubahan suasana yang mendadak, Yoo Ran menjadi seperti orang ling-lung. Dia bahkan tidak langsung paham dengan apa yang Chanyeol tawarkan padanya. Tapi kemudian dia memahami maksud dari pertanyaan itu. Apa itu artinya Chanyeol menawarkan diri sebagai penyumbang Gen seperti yang pernah Yoo Ran pikirkan?
"Memangnya aku terlihat seputus asa itu?" tanya Yoo Ran. Udara yang tadinya berwarna merah jambu menghilang begitu saja. Yoo Ran kembali pada akal sehatnya. Dia melupakan begitu saja apa yang dilakukannya 30 detik yang lalu.
"Kau senang melihatku dibakar hidup-hidup oleh Gayoung? Apa kau sebegitu bencinya berteman denganku? Kalau kau tidak mau berteman dan bertemu denganku katakan saja."
Chanyeol menarik tubuhnya, menjauh dari Yoo Ran dan duduk dengan meluruskan punggungnya.
Sama halnya seperti Yoo Ran, Chanyeol yang baru saja melecehkan Yoo Ran tidak merasa bersalah karena hal itu. Tidak ada permintaan maaf, tapi juga tidak ada makian dari Yoo Ran. Bibirnya membentuk lengkungan dan dia menatap Yoo Ran seperti ingin mengejek.
"Kalau kau melakukan hal seperti ini lagi, aku akan merusak wajahmu. Apa kau sudah lama tidak melakukannya dengan Gayoung makanya kau menjadi seperti ini? Aku akan melupakannya kali ini dan jangan pernah mengungkit masa lalu ataupun apa yang terjadi hari ini, mengerti tidak?" Yoo Ran menunggu jawab dari Chanyeol tapi Chanyeol hanya senyum-senyum seperti orang idiot. "Karena aku tidak mau kehilangan teman sepertimu, aku tidak akan mengatakan apapun lagi."
"Ternyata benar, aku tidak salah memilihmu sebagai teman."
"Omong kosong apa yang katakan itu? Sudahlah, Pergi sana!"
Yoo Ran mendorong pintu dan keluar dari mobil dengan membanting pintunya cukup keras. Tapi Chanyeol yang duduk di stir kemudi masih memiliki hal yang indin dikatakan, karena itu dia memanggil nama Yoo Ran sebelum Yoo Ran pergi.
"Kalau kau tidak menemukan siapapun. Datang saja padaku."
Kalimat itu mungkin sama artinya dengan 'kalau tidak ada pria yang mau, aku berdia melakukannya untukmu'.
"Baj**gan sesat! YAA! Kau bosan hidup?!"
Chanyeol sudah menacap gas sebelum Yoo Ran melempar batu kearah mobilnya. Wajahnya tersenyum ketika melihat Yoo Ran memberikan tinjunya dan tendangan di udara tapi kemudian wajah tersenyum itu menghilang hanya dalam hitungan detik. Meskipun Yoo Ran sudah banyak berubah, tapi Chanyeol tidak berubah sedikitpun. Dia masih tetap sama, dia masih menyukainya.
Yoo Ran tidak berhenti memaki bahkan setelah mobil Chanyeol menghilang di tikungan. Mengingat apa yang baru saja mereka lakukan, Yoo Ran merasa malu dan bedoa semoga Gayoung tidak mencukur habis rambutnya kalau sampai tahu, semoga Tuhan tidak menghukumnya karena jenis pengkhiatan kecil ini.
Helaan nafas panjang dari Yoo Ran membuat bahunya turun. Dia berdiri di depan lift, menunggu pintu besi itu terbuka karena dia tidak sabar ingin segera berendam di air hangat. Tapi dia tidak sengaja memikirkan Sehun, setiap kali dia kembali ke apartemen tatapannya selalu tertuju pada pintu apartemen Sehun.
"Kira-kira apa yang dilakukannya sekarang?"
Yoo Ran berguman, tepat ketika pintu besi itu terbuka dan sosok Sehun muncul dari dalam sana.
.
.
.
TBC