Between

Between
Bab 81 Pembicaraan Rahasia



Brak,


Hana menendang pintu dibelakangnya dengan sepatu heelsnya yg berharga mahal. Daun pintu terbanting menutup dengan bunyi keras.


Hana tak peduli, ia menatap nyalang laki-laki yg berdiri di hadapannya.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" cecar gadis itu galak.


"Ethan Arkam."


Ethan terlihat santai, sama sekali tidak tampak takut ataupun gentar menghadapi gestur Hana yg mengintimidasi. Ia menyunggingkan senyum, lalu berkata dengan nada ceria, "Selamat atas pertunanganmu Hana."


(percakapan antara Hana dan Ethan memakai bahasa Inggris)


Hana melotot, "Jawab pertanyaanku." desisnya menyeramkan.


Ethan malah tertawa. "Astaga Hana, apa sih yg kau takutkan dariku? Aku sama sekali tidak berniat melakukan hal buruk padamu."


"Hal buruk?" tuntut Hana kesal. "Kau bisa saja membocorkan masa lalu ku. Kau bisa saja mengadu pada para wartawan tentang hubungan kita dulu, tentang malam gelap itu. Itu hal buruk bagiku, mengerti?"


Ethan masih tertawa sarkas, ia tak habis pikir. "Apa untungnya bagiku?"


Hana mengernyit, "Para wartawan itu bersedia membayar mahal untuk sekedar gosip murahan, dan saat ini aku adalah bahan berita favorit mereka."


Ethan mencondongkan tubuhnya yg tinggi menjulang untuk menatap mata Hana lebih dekat. Laki-laki itu berbisik, "Karena itu kuucapkan selamat, nona Hana."


Hana menunjuk wajah Ethan dengan murka. "Jaga mulutmu, sebentar lagi aku adalah Nyonya Koijima. Aku bisa menghancurkan apa saja dengan nama itu."


Ethan menarik bibirnya ke atas, "Sangat menakutkan, gadis mungil seperti dirimu benar-benar membuatku takut." Nada suara Ethan terdengar mencela.


Hana merangsek maju, hampir saja tubuhnya menempel di dada Ethan.


"Aku peringatkan sekali lagi, kalau sampai ada gosip buruk tentangku, apalagi itu menyangkut kehidupanku di Amerika dulu, orang pertama yg kucari dan kuhukum adalah kau." desis Hana, menatap tajam mata Ethan.


Ethan menatap balik mata Hana. Pemandangan gadis itu yg sedang menatap bengis mendadak menjadi buram, berganti dengan tatapan penuh hasrat seorang gadis yg bersimbah keringat tengah bergerak liar diatas tubuh Ethan yg telan*jang. Kenangan lima tahun lalu berputar di depan matanya.


Gadis itu mabuk dan tanpa busana, mereka tengah memadu kasih di kompartemen Ethan. Malam panjang yg terasa nikmat, Ethan masih ingat jelas suara erangan gadis itu saat mencapai puncak kenikmatan.


Ethan mengedip, tersadar. Lalu setelah menurunkan intonasi bicara, dengan suara pelan ia berkata, "Setelah apa yg kita lalui, ternyata kamu masih belum mengenalku dengan baik."


"Bertemu denganmu adalah sebuah kesalahan." tepis Hana.


Ethan tersenyum samar. "Nikmatilah masa-masa pertunanganmu ini. Silahkan raih mimpimu untuk menjadi Nyonya Besar Koijima. Aku sama sekali tidak ada niatan menghancurkannya."


Ethan menambahkan, "Seperti yg pernah kau bilang padaku, yg kita lakukan dulu sama sekali tak ada kata cinta, murni hanya bersenang-senang belaka. Jadi jangan terlalu menganggapnya serius."


Sorot tajam mata Hana mengendur, gadis itu sepertinya mencoba untuk mempercayai Ethan.


"Apa hubunganmu dengan gadis itu?" Tiba-tiba Hana mengubah topik pembicaraan.


Gestur Ethan menegang, ia langsung siaga bagai seekor singa jantan yg teritorinya diganggu. Ia tahu siapa yg Hana maksud.


"Itu urusan pribadiku, kau tidak perlu ikut campur."


Hana mencibir. "Aku semakin penasaran, bagaimana bisa gadis biasa seperti dia dikelilingi para lelaki tampan."


Ethan tertawa mendengarnya. Ia menepuk puncak kepala Hana. "Terimakasih sudah bilang aku tampan."


Hana melotot siap tempur lagi. "Jangan lancang menyentuhku, aku tidak suka."


Ethan mengangkat alis, "Ohya? Coba katakan sekali lagi siapa yg tidak suka disentuh? Aku baru mengetahui fakta itu. Lalu dulu siapa yg selalu sa*ngean dan memper*kosaku-mmhp.."


Hana membekap mulut Ethan. Dia mendesis marah. "Aku bisa saja merobek-robek mulut lancipmu ini, kau tahu?"


Ethan menarik lepas tangan Hana dengan mudah. Ia tersenyum menyindir, "Aku tahu itu, kau benar-benar menakutkan Nyoya Koijima."


Hana mendorong keras bahu Ethan, mengacungkan jari tengah lalu berbalik menuju pintu.


"Jangan ajak aku bicara saat ada banyak orang. Aku tidak pernah mengenalmu." ancam gadis itu.


Ethan mengangguk setuju. "Oke, hiduplah dengan bahagia Nyonya Koijima. Satu pesanku, jika kau terus bersikap seperti ini, hanya perlu menunggu waktu saja kapan si CEO itu tahu sifat aslimu dan membuangmu."


Mendengar itu Hana menghentikan langkah. Ia menoleh dan menatap manik mata Ethan, tersenyum penuh kemenangan. "Sepertinya kau lupa, akulah yg membuangmu lima tahun lalu. Dan selama ini aku tidak pernah merasakan seperti apa sakitnya dibuang oleh seseorang."


Ethan menatap balik, "Hukum karma itu ada. Percayalah." ucapnya dengan nada mengancam.


Hana mendengus, menarik paksa pintu itu hingga terbuka, lalu menghilang keluar.


Ethan meninju tembok hingga terdengar bunyi DUK keras. Sial, mengapa harus bertemu gadis itu lagi sekarang, disini.


Gadis yg sempat membuat hati Ethan ragu dan berpaling dari Lana.


Lana. Ethan teringat Lana yg sendirian di ruang pesta. Ethan sudah pergi terlalu lama. Saat ini Lana pasti sedang mencarinya dengan panik.


Ethan bergegas keluar dari gudang dan menuju gedung Ballroom dengan setengah berlari.


...***...


Lana berjalan mendekat untuk meyakinkan matanya tidak salah. Sosok yg duduk di kursi bukan Ethan, melainkan Kyoya.


Laki-laki itu duduk membungkuk dengan kaki terbuka, tengah menunduk, tangannya bertumpu pada lutut. Sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menatap jalanan paving.


Lana masih tidak percaya dengan apa yg dilihatnya. Kenapa Kyoya ada disini? Jangan-jangan.. pengirim pesan di kue itu adalah Kyoya?


Langkah kaki Lana terhenti, bersamaan dengan kepala Kyoya terangkat. Mata mereka bertemu. Lana hanya berjarak satu langkah lebar saja dari tempat duduk Kyoya.


Kyoya menyunggingkan senyum, "Kau datang. Maaf sudah mengganggu waktumu."


Lana terbata-bata, "Kamu.. M-maksudku anda.. Yg mengirim.. pesan itu?"


Kyoya tersenyum geli, lalu mengangguk.


Lana mengigit bibir, ternyata benar Kyoya.


Tanpa bicara lagi, Lana langsung memutar tumit, berbalik dan hendak berjalan pergi ketika Kyoya bersuara,


"Tunggu."


Lana tidak bergerak, berdiri memunggungi Kyoya.


"Sebentar saja, kumohon." pinta laki-laki itu.


Lana menghembuskan nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugup, lalu pelan-pelan berbalik dan mendapati Kyoya yg tersenyum lagi.


Kyoya menepuk kursi disebelahnya, memberi isyarat agar Lana duduk di sana.


Dengan canggung dan tegang, Lana berjalan mendekat lalu meletakkan pantatnya hati-hati, berusaha agar tidak menyentuh lengan Kyoya saat duduk di kursi panjang yg sempit itu.


Kyoya masih membungkuk bertopang di lutut. Lana hanya bisa menatap punggung laki-laki itu. Dalam keremangan taman, cincin berkilau di jari kiri Kyoya tampak berkelip ketika laki-laki itu memutar-mutar memainkannya.


Lana menatap sedih cincin itu. Sekarang ini dia tidak bisa berpikir jernih. Aroma khas Kyoya mentol dan sedikit greentea menyeruak membuat Lana bernostalgia tentang banyak hal. Diam-diam ia menghirup wangi itu, benar-benar rindu.


"Cincin yg cantik." ucap Lana demi menghilangkan kesunyian yg mulai terasa tidak nyaman.


Mendengar itu Kyoya langsung menghentikan gerakan tangannya yg memainkan cincin. Laki-laki itu menarik tubuhnya ke belakang, bersandar.


Kini Lana bisa melihat sisi samping Kyoya. Jantung Lana semakin tidak aman, berdegup sangat kencang. Laki-laki ini masih sama, masih sangat tampan dan menawan seperti dulu.


"Terimakasih." jawab Kyoya pelan. Namun suaranya tidak terdengar senang.


"Selamat atas pertunanganmu. Kalian sungguh serasi." Lana sungguh-sungguh saat mengucapkannya. Namun Rahang Kyoya terlihat mengeras, buku-buku jarinya juga terkepal.


"Bagaimana kabarmu?" Kyoya bertanya alih-alih menjawab. Laki-laki itu tiba-tiba menoleh, membuat Lana langsung mengalihkan matanya ke samping melihat ke arah air mancur. Entah kenapa ia tidak berani balik menatap mata Kyoya dalam jarak sedekat ini.


"Baik. Amat sangat baik." jawabnya ingin terlihat menyakinkan tapi suaranya sedikit bergetar.


Kyoya menunduk lagi, "Syukurlah kalau begitu." Laki-laki itu terdiam.


Lana menghela nafas panjang, lalu berkata, "Kalau sudah tidak ada yg perlu dibicarakan lagi, aku pergi." Ia bangkit hendak pergi tapi tangan Kyoya menahan lengannya.


"Sebentar lagi saja. Please."


Lana terpaksa duduk lagi. Menatap jemari hangat itu diatas lengannya.


"Mengapa kamu bisa datang bersama Ethan?" Walau pelan, suara Kyoya terdengar begitu jelas.


Lana mengerjap. Jadi ini yg laki-laki itu ingin tahu. Mendadak rasa marah menjalar di hati Lana.


"Kenapa, itu kan bukan urusanmu lagi aku datang bersama siapa." tukasnya.


Kyoya mengangguk. "Benar. Itu bukan urusanku lagi." dia membeo pelan.


"Apa kalian pacaran?" Tanpa menoleh, Kyoya bertanya, suaranya terdengar menuntut.


Lana memperhatikan gestur laki-laki itu berubah tegang, rahangnya kembali mengeras. Apa Kyoya marah? Tapi kan dia sudah tidak punya hak untuk marah, dia sudah bukan siapa-siapaku.


"Itu juga bukan urusan anda pak." jawab Lana sarkas. "Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni rasa penasaran anda menyangkut privasi saya. Permisi."


Lana hendak bangkit lagi tapi Kyoya sekali lagi menahannya.


"Apa kau mencintainya?"


Kyoya mencondongkan tubuh mendekat dan berkata tajam, "Aku ingin jawaban jujur Lana. Jawabanmu menentukan alasanku untuk berhenti mengganggumu."


Mereka saling tatap. Lana menelan ludah dengan susah payah. Ia melepaskan tangan Kyoya di lengannya. Lalu menunduk.


"Kyoya.." Lana terdengar sedih. "Jangan mengacaukan situasi ini. Aku tidak pantas.. dan tidak sepenting itu buatmu. Kau sudah bertunangan, cincin itu sangat cantik di jarimu. Hana juga gadis yg sangat cocok untukmu. Kalian sungguh serasi."


Kyoya tampak hendak membantah, tapi Lana menyambarnya cepat.


"Aku tidak ingin kembali ke hari-hari dimana harus menyembunyikan hubungan rahasia kita. Jawabanku tidak penting Kyoya. Kita sudah berada dijalan yg berbeda sekarang. Tidak ada lagi jalan untuk kembali."


Kyoya terdiam. Dia menunduk untuk mengurut puncak hidungnya. Lana memperhatikan gerakan Kyoya, apa laki-laki itu sedang sakit kepala? Apa laki-laki itu baik-baik saja?


Lana refleks hendak meletakkan tangan ke dahi Kyoya tapi laki-laki itu bersuara,


"Aku baik-baik saja Lana. Terimakasih." Kyoya menurunkan tangan tapi alisnya mengernyit. "Hanya sedikit pusing."


Lana menunduk, memainkan tas kecil di pangkuannya. Menyesali apa yg barusan ia lakukan. Kyoya menolak perhatian kecil darinya. Dan itu menyakitkan.


"Lana.." Kyoya tampak menimbang-nimbang, "Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Aku jadi berpikir.. jika kau tidak mencintainya, lalu mengapa kau mau datang kemari dengannya? Kau tidak benar-benar ingin melihat langsung aku bertunangan kan?"


Lana tercekat. Laki-laki ini masih mengingat sifatnya, Lana tak bisa menyembunyikan isi hatinya. Laki-laki ini sebenarnya sudah mengetahui semuanya.


"Lalu kenapa?" tantang Lana. "Aku bukannya ingin mengharap kamu kembali, tidak. Aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, kenyataan dan perbedaan nyata yg membentang diantara kita. Dan inilah jawabannya. Aku tidak mau jadi Cinderella lagi, itu sangat berat jujur saja. Tapi jika aku menahanmu, semua juga tidak mudah bagi kita. Dengan situasi ini dan semuanya. Pasti ada banyak hal yg harus dikorbankan."


Lana menepuk pelan punggung tangan Kyoya. "Ini sudah yg terbaik untuk kita, Kyoya."


Detik berikutnya Kyoya menarik tubuh Lana ke dalam pelukannya. Merengkuh gadis itu erat.


Lana berontak, tapi kekuatan Kyoya membuatnya tidak bisa melepaskan diri.


"Kyoya, kau sudah gila? Bagaimana jika ada yg melihat?" bisik Lana panik.


"Beberapa detik lagi saja, kumohon." Kyoya menelusupkan wajah ke leher Lana, menghirup aroma gadis itu yg sangat ia rindukan. Lengannya semakin erat memeluk.


Lana pun terdiam. Ia mengangkat tangan di belakang punggung laki-laki itu, lalu balas merengkuhnya erat. Lana menyandarkan wajah ke dada bidang Kyoya, menghirup dan menikmati momen ini. Rasanya sungguh nyaman dan menenangkan.


"Jangan menangis Lana." bisik Kyoya.


Lana menggeleng, "Tidak, aku tidak menangis." Namun suara Lana parau. Kyoya tersenyum sedih.


"Aku sangat merindukanmu." bisik Kyoya.


"Aku juga." Lana mengeratkan pelukannya. Sangat hangat dan lembut. Tolong hentikanlah waktu beberapa detik saja, aku ingin terus seperti ini.


Setelah beberapa waktu berlalu yg rasanya sangat singkat, Kyoya melepas tangan dan menarik diri. Lana dengan berat hati melepas pelukannya juga.


"Maafkan aku Lana."


Mereka berhadapan dengan jarak hanya sekepalan saja. Kyoya menatap manik mata Lana.


"Aku benar-benar minta maaf.. untuk semuanya. Terutama kata-kata tidak pantas yg kuucapkan pada malam itu. Aku belum meminta maaf dengan benar sejak saat itu. Aku mohon maafkan aku."


Mata Lana mulai tergenang. Dia hanya bisa mengangguk. "Aku juga.. minta maaf. Ada banyak hal yg tidak bisa kukatakan padamu. Itu bukan karena aku tidak percaya padamu Kyoya, bukan. Suatu hari aku ingin bisa menceritakan semuanya padamu."


Kyoya mengusap lembut pipi Lana yg basah oleh airmata. "Kubilang jangan menangis, dan jangan menggigit bibirmu seperti ini." Jemari Kyoya turun untuk mengusap bibir Lana yg gemetar.


"Aku bisa kehilangan akal sehat." bisik Kyoya, menatap bibir Lana yg ranum.


"Jangan." Lana berkata pelan, "Aku tidak mau Hana sedih karena aku. Dia terlihat baik, tidak sepadan denganku. Berjanjilah kau tidak akan menyakitinya."


Kyoya mendekap Lana lagi, "Anak baik." bisiknya lembut. Ia memeluk lebih erat. "Aku benar-benar merindukanmu."


Lana mengangkat tangan hendak merangkul punggung Kyoya namun..


Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki bergegas mendekat. Disusul suara lantang seorang pria berseru marah.


"Hei kau! Lepaskan Lana!"


Tubuh Lana ditarik paksa ke belakang, terpisah dengan Kyoya. Seseorang merangsek maju dan mendorong Kyoya menjauh, menarik laki-laki itu untuk berdiri.


Lana refleks ikut berdiri. Lana syok, Ethan sedang mencengkeram kerah jas Kyoya tepat dibagian bawah leher.


"Apa yg sedang kau lakukan, hah? Kau adalah pria yg sudah bertunangan! Beraninya kau memeluk Lana!" cerca Ethan murka. Dia menatap bengis.


Lana panik. "Ethan, lepaskan dia! Ethan kumohon."


Tapi Ethan semakin keras dan semakin erat mencengkram. Kyoya bisa-bisa tercekik.


Rahang Kyoya mengeras, dia balik menatap mata Ethan yg mendelik marah.


Kedua laki-laki itu bergumul, Ethan merangsek maju, Kyoya bertahan.


Lalu dengan gerakan mantap dan mulus, Kyoya melepas cengkraman tangan Ethan. Tentu saja mudah baginya, Kyoya bergelar sabuk hitam karate.


Ethan terkejut Kyoya bisa terlepas dari tangannya dengan begitu mudahnya.


Ethan makin murka, ia mengangkat tangan ke udara siap melayangkan tinju.


Lana dengan sigap berdiri ditengah-tengah mereka, membentangkan tangan lebar-lebar.


"Minggir Lana," Ethan mendesis, sorot matanya menyeramkan. "Jika kau terpukul, itu bukan salahku."


Lana tak gentar, ia menggeleng keras. "Tidak, aku tidak akan bergerak seinchi pun dari sini."


"Lana menepilah, ini berbahaya." ucap Kyoya pelan, demi melihat punggung mungil Lana yg tampak tegar berusaha menengahi pertikaian mereka.


Pahadal Lana tak perlu bereaksi seperti ini, melindunginya. Kyoya sama sekali tidak takut. Ia sangat santai menghadapi kemarahan Ethan, bahkan setelah laki-laki itu mengancam akan memukulnya.


Justru yg sedang Kyoya pikirkan adalah bagaimana menahan diri agar tidak membuat Ethan terkapar dan mati, meski ia tidak sengaja karna mungkin ada momen yg membuatnya hilang kendali.


"Ethan, yg kau lihat barusan bukan apa-apa. Please.. Dengarkan aku." Lana menatap memelas. "Ada banyak orang di ruangan sana, juga para wartawan. Aku tidak ingin masalah ini menjadi besar. Tolonglah."


Ethan mendengus, "Justru mengapa.. Meski ada banyak orang di ruangan sana, juga para wartawan, kalian malah berpelukan di tempat gelap gulita seperti ini?"


Lana menatap ngeri, "Kau salah paham Ethan. Ini tidak seperti yg kau pikirkan. Percayalah padaku, please.."


Ethan menghembuskan nafas keras. Ada sesuatu pada ekspresi wajah Lana, membuat amarah Ethan sirna.


"Baik, terserah kau saja Lana. Pilihlah laki-laki itu, aku pergi." Ethan berbalik lalu berjalan menjauh.


"Ethan?" Lana panik laki-laki itu pergi begitu saja.


"Ethan tunggu." Tanpa pikir panjang Lana berlari mengejar. Setelah beberapa langkah gadis itu pun tersadar lalu menoleh. Kyoya menyunggingkan senyum pedih.


Lana tidak membalas senyuman itu. Ia berbalik dan kembali mengejar Ethan.


Setelah berlari cukup jauh karena kaki Ethan yg panjang, Lana akhirnya bisa menjejeri langkah pria itu. Ia berulang kali mencoba menjelaskan, tapi pria itu sama sekali tak mau dengar.


Kyoya menatap sosok Lana di kejauhan, angin dingin bertiup menerpa kulitnya yg panas. Hidung Kyoya berkedut. Masih menempel aroma gadis itu di jasnya. Kyoya memejamkan mata, menghirup aroma itu dalam-dalam.


Kyoya mendadak teringat, ia lupa mengatakan pada Lana, kalau hari ini gadis itu terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pesta.


...***...